Selamat Datang di Blog Kobong Sastra Cipasung

Share |

Cerpen Ayu

PEREMPUAN GILA DI UJUNG SENJA

Aku ingin pulang. Senja sudah menunggu. Aku tidak ingin membuatnya terlalu lama larut dalam penantian. Aku ingin melepasnya pergi, tapi tidak bisa membiarkan rengkuhannya lepas. Dia tahu semua tentangku. Kami sama-sama menanti di ujung hari. Bedanya, dia menanti sesuatu yang pasti. Sedangkan aku, kupikir semua orang akan menertawakanku jika mereka tahu, aku sedang menanti kemustahilan yang selalu kusemogakan. Aku ingin pulang. Duduk sendiri di balkon kamar, sambil menghitung burung perkutuk yang terbang berlarian. Atau sekadar berdiam diri di sana. Membiarkan tubuhku terbuai dalam rengkuhan kemustahilan itu. Mereka pikir aku gila. Padahal, aku hanya sedang bermain-main dengan semua kenangan itu. Tidakkah mereka bisa melihat siapa yang sedang duduk di samping kananku? Adalah dia. Kemustahilan itu. Atau hanya aku yang melihatnya? Apa aku memang gila? Entahlah. Biar kurenungkan lagi. Seharian aku dikurung dalam ruang pengap. Mengenakan baju biru tanpa motif. Berteriak pada setiap dinding yang menghalangi penglihatanku. Menangis ketika menyadari bahwa aku benar-benar kesepian.
          Ceritaku masih panjang. Perempuan berseragam putih masuk ke dalam ruangan sambil membawa sesuatu yang tajam menusuk kulitku setiap kali aku berteriak-teriak kencang. Dia menyuntikkannya di leher, kadang juga di lengan kanan, kadang juga di lengan kiri. Setelah itu semuanya terasa buram. Aku terdiam seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Perempuan itu selalu membuatku terkulai lemas. Itulah mengapa aku sangat membencinya. Kadang ketika ia lengah, kutarik rambutnya yang ikal, kadang juga kupukul punggungnya dengan tangan, atau pernah sekali ketika itu aku mencakar wajahnya dengan kuku jariku yang tidak pernah lagi dipotong hingga meninggalkan bekas. Aku mengenalinya dari bekas luka cakaran di pipi kanannya. Seperti luka cakaran kucing. Tapi itu hasil cakaranku.
          “Dasar perempuan gila!” Ia melangkah pergi setelah urusannya denganku selesai. Itu adalah kalimat yang selalu ia ucapkan ketika akan melangkah keluar. Aku bahkan menghapalnya di luar kepala.
          Semua orang menganggapku gila! Tapi aku merasa tidak benar-benar gila. Aku mengenali siapa saja yang pernah kukenal sebelumnya. Aku tidak pernah menganggap bahwa boneka adalah seorang bayi yang harus digendong. Aku tidak pernah berupaya melukai diriku sendiri dengan menggigit jari ataupun pergelangan tanganku sendiri. Aku makan dengan tangan kananku. Menangis apabila aku benar-benar merasa sedih. Aku tertawa untuk hal yang lucu, meskipun itu sangat jarang terjadi. Aku melakukan semua yang dilakukan oleh orang-orang normal. Tapi mereka menganggapku gila! Bagiku, musuh terbesarku adalah tembok ruangan yang mengurungku, perempuan berseragam putih yang selalu membuatku terkulai lemas, dan orang-orang yang membuatku berada di ruangan pengap ini. Mengingat mereka kadang membuatku sulit untuk bernapas.
          Aku ingin pulang!
***
          Aku berhasil membuatnya hidup kembali. Dia hadir ketika aku menyadari bahwa aku benar-benar kesepian. Dia hadir ketika aku memanggil namanya. Ketika perempuan berseragam putih itu keluar dari ruangan.  Ketika aku sudah terkulai lemas karena perempuan itu. Ketika tembok-tembok ruangan mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Kemustahilan itu hadir ketika aku benar-benar tidak ingin sendiri.
          “Kau ingin pulang?”
          “Iya. Aku benci tempat ini”
          “Kau ingin ikut denganku ke tempat dimana kau bisa bebas dari tembok-tembok ini?”
          “Bisakah kau membawaku pulang?”
          “Aku hanya bisa membawamu pergi”
          Dia selalu mengatakan hal yang sama setiap harinya. Kau ingin pulang? Tapi entah sudah berapa lama aku di sini. Dia masih diam di samping kananku, tidak beranjak sedikitpun. Kupikir dia ingin membawaku pergi. Terkadang kami kehilangan kata-kata. Jika sudah begitu mulutku akan terkatup, dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya terdengar siulan kecil yang memenuhi seisi ruangan. Aku tidak pernah merasakan embusan napasnya.
          “Kau ingin pergi bersamaku?” Dia mulai menemukan jejak kata yang sempat hilang tadi.
          “Ke mana?”
          “Kau harus jadi sepertiku dulu agar bisa ke sana,” tandasnya lagi. Kalau sudah begitu, mulutku kembali terkatup. Aku mungkin tidak segila itu.
          “Bukankah kau ingin pergi dari tempat ini?”
          “Aku hanya ingin pulang. Ke rumahku. Bukan ke rumahmu”
          Keesokan harinya, entah jam berapa aku tidak tahu. Perempuan berseragam putih itu masuk ke ruanganku. Kali ini tidak membawa jarum suntik, tapi makanan. Ia meletakkannya di hadapanku, kemudian setelah itu ia bergegas pergi. Kelihatan buru-buru. Hingga ia lupa mengatakan kaliamat yang selalu ia ucapkan ketika hendak keluar dari ruangan ini. ‘Dasar perempuan gila!’
          Makanan itu menganggur di hadapanku. Selera makanku sudah hilang semenjak tembok-tembok ini mengurungku. Mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar gila seperti yang selalu mereka katakan. Aku ini perempuan gila. Kalau sudah begitu, terkadang juga aku menyesali semua kejadian yang sudah berlalu. Kalau bukan karena kejadian setahun yang lalu, aku mungkin masih berada di balkon kamarku. Melihat burung perkutuk saling berkejaran, atau mengucap selamat tinggal pada senja di belakang rumah. Kenangan itu kembali berkejaran.
          “Kau di mana?”
          “Di rumah”
          “Aku ke sana”
          Setelah itu sambungan telpon terputus. Aku duduk di halaman belakang rumah. Sendiri. Hari sudah sore. Langit mulai jingga kemerah-merahan.
          “Kau di sini,” dia yang kutunggu sudah datang. Laki-laki yang tadi menelponku. Aku menunggunya mungkin sudah hampir setengah jam.
          “Ada apa?” Tanyaku. Mata coklatnya menatap tajam ke arahku. Aku mendapati sesuatu yang ganjil di balik itu.
          “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Penting,” ucapnya. Kulihat jakunnya bergerak ke bawah, kemudian ke atas.
          “Selama ini aku sudah salah karena tidak mengatakan semuanya dari awal. Harusnya aku tidak mengenalmu terlalu jauh, dan tidak membiarkanmu memelihara perasaan ini. Maafkan aku. Aku mungkin memiliki perasaan yang sama, tapi perasaanku terhadap ibuku jauh lebih besar,” ucapnya tanpa jeda. Kemudian berhenti sebentar untuk menarik napas panjang. Dia belum menyelesaikan kalimatnya. Sesuatu yang aneh mulai terasa di dadaku.
          “Dia memintaku menikahi Jessy,” lanjutnya. “Itu berarti kita sudah cukup sampai di sini.”
          Mendengar itu aku merasakan sesuatu bergejolak di dalam sini. Entah di mana tepatnya. Aku memalingkan wajahku darinya. Pikiranku langsung kacau. Entah ingin marah, menangis, atau pergi saja. Tapi belum selesai aku beragumen dengan perasaanku sendiri, kudengar suaranya yang khas. Laki-laki beraroma maskulin itu menyentuh bahuku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
          “Maafkan aku,” ucapnya, kemudian melangkah pergi. Aku melihat punggungnya menghilang di balik pintu.
          Setelah itu, dia bukan lagi milikku. Dia milik ibunya. Dan ibunya menyerahkannya kepada Jessy. Perempuan yang selalu menguntit kemana saja aku dan dia pergi. Penguntit itu akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan. David. Tapi hanya sebentar, mungkin beberapa menit saja. Setelah itu ia pergi untuk selama-lamanya. Laki-laki beraroma maskulin itu pergi setelah memberikan rasa sakit padaku. Sebuah tabrakan mobil tidak jauh dari rumahku mengubah skenario hidupku selanjutnya. Semenjak itu aku merasa tidak punya dunia. Rasanya lebih sakit dibanding ketika ia mengatakan kata pisah. Dan sekarang, giliranku untuk mengatakan kata pisah, ‘Selamat tinggal, David’
          Karena kejadian itu aku ada di sini. Ruangan pengap yang mengurungku. Tembok-tembok kokoh yang selalu mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Dan dia, laki-laki yang sedang duduk di sampingku, hanya aku yang bisa melihatnya. Dia adalah kemustahilan itu. Yang menyebabkan semua ini. Tapi bodohnya, justru aku menghadirkannya di ruangan pengap ini. Aku menghidupkannya lewat imajinasi.
          Pintu kembali terbuka. Perempuan berseragam putih itu masuk bersama dengan seorang wanita paruh baya. Aku mengenali wajahnya.
          “Kenapa dia masuh dikurung di sini?” Tanyanya kepada perempuan berseragam putih itu.
          “Karena dia terlalu bahaya jika dibiarkan bergabung dengan pasien lainnya,” jawab perempuan berseragam putih itu dengan tatapanya yang dingin mengarah kepadaku. Aku tidak terima ditatap seperti itu.
          Aku segera bangkit dari tempatku, lalu tanpa memberinya kesempatan untuk memberi perlawanan, aku langsung menjambak rambutnya. Dia berusaha melawan, tapi tenagaku jauh lebih kuat. Dia sedang tidak membawa alat suntik, jadi aku bisa selamat. Dia tidak bisa membuatku merasa lemas sekarang. Wanita baruh baya itu berusaha melerai. Aku tidak mempedulikannya. Rasa sakit hatiku yang sudah terlalu dalam padanya membuatku menjadi seperti orang gila. Menjambak rambut perempuan berseragam putih itu tanpa memberinya ampun, meskipun ia sudah menjerit-jerit kesakitan.
          “Sandra, sudah, nak! Sudah!” Perempuan paruh baya itu kembali mencoba untuk melerai.
          “Ibu tidak suka kamu seperti ini!” Lanjutnya lagi dengan intonasi suara yang tinggi. Aku tersentak, lalu perlahan-lahan melepaskan perempuan berseragam putih itu. Rambutnya terlihat berantakan sekarang.
          “Perempuan ini pantas mendapatkannya,” aku menunjuk ke arah perempuan berseragam putih dengan tatapan tajam.
          “Dia adalah penguntit itu, ibu,” lanjutku. Amarahku rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Ibu terlihat kaget.
          “Apa maksudmu?”
          “Kau perempuan penguntit yang selalu mengikuti ke mana saja aku dan David pergi. Kau yang membujuk ibunya David agar meninggalkan aku. Kau juga yang sudah menyebabkan aku ada di sini. Sebenarnya kau yang gila! Bukan aku!”
          Perempuan berseragam putih itu menatap tajam ke arahku. Aku bisa melihat amarahnya meluap-luap di balik sorot matanya. Aku bersiap-siap memberikan bekas luka di wajahnya untuk yang kedua kalinya. Tanganku sudah membentuk sarung tinju. Tapi ibu segera menahannya. Dia memegang tanganku, lalu memelukku erat. Dia menyalurkan kehangatannya.
          “David sudah meninggal, Sandra,” ucap ibu lembut di telingaku.
          “Aku tahu, ibu. Aku tidak gila!”
          Kemudian sosok laki-laki itu muncul dari balik punggung perempuan berseragam putih. Ia tersenyum ke arahku, lalu melambaikan tangan. Kemudian ia melangkah keluar dari ruangan. Setelah itu, aku melihat sosoknya tiba-tiba menghilang. Aku berhenti berimajinasi tentang dia.
          Setelah kejadian itu ibu membawaku pulang dari rumah sakit jiwa. Aku akhirnya meninggalkan ruangan pengap. Sore ini, aku duduk sendiri di halaman belakang rumah. Menatap senja yang memancarkan warna jingga di langit.  Aku akhirnya pulang!

***



Readmore
Next
 

Copyright @ 2011 By. KSC