Selamat Datang di Blog Kobong Sastra Cipasung

Share |

Cerpen Annisa Zahraa


PAMAYANG
Oleh: Annisa Zahraa

Banyak berita yang mengabarkannya, lewat gemerisik angin yang menjatuhkan daun-daun ketapang, atau membisikannya pada duri daun pandan yang tajam. Sore itu semua mata tertuju pada sebuah rumah-rumahan kecil yang digantungi macam-macam bunga atau makanan hasil bumi, ya benar itu dondang, jampana penuh sesaji.

Seorang pemuda dengan perawakan tinggi putih dan rapih, menggunakan kemeja lengan panjang yang ditilap sampai siku, tersenyum menatap ayahnya yang hendak berangkat. Namun sang ayah tetap acuh. Sang pemuda kira-kira berumur 24 tahun itu tak merubah rona mukanya, tetap hangat dengan barisan gigi putih yang menghiasi senyuman khas, meskipun ekspresi yang diharapkan dari raut sang ayah berbeda.

Dengan penuh pertimbangan ia memulai pembicaraan, “Aku tak mengerti mengapa ayah dari dulu hingga sekarang melakukan hal ini”, akhirnya malah kalimat itu yang keluar dari mulutnya. “Sampai kapan kau akan terus melarangku melakukan tradisi ini? Apa kau tidak bosan kotopelo (anak kecil)?” ayahnya menyudutkan. Dengan nada meyakinkan ia pun menjawab, “Aku tidak pernah bosan mengingatkan bahwa itu perbuatan musrik, bukankah mengenai usia dan rijki sudah ada yang mengatur?” ayahnya teramat geram sang anak yang ia didik sejak kecil kini jadi jerat untuk dirinya, “Apakah korban-korban yang berjatuhan belum bisa meyakinkan mu juga? Badai mengamuk dan jiwa-jiwa terenggut” sorot matanya penuh amarah. “Puluhan tahun yang lalu sebelum ayah dilahirkan ke dunia ini, tradisi ini telah ada. Mereka nenek moyang kita adalah para nelayan yang menggantungkan hidupnya dengan kemurahan laut, mereka bisa bertahan karena itu, kau pun bisa sekolah sampai ke Darut Tauhid sana karena hasil laut, tak sadarkah kau kotopelo bahwa ikan-ikan itu yang menghidupi kamu? Kamu bisa petatang-peteteng seperti sekarang ini karena siapa lagi, kalau bukan karena laut. Jadi tak pantas jika sekarang kamu melarang-larang ayahmu ini hanya untuk sekedar mengucapkan terimakasih”.

Lukman terpekur mendengar panjang lebar penjelasan sekaligus perlawanan ayahnya. “Ayah, tapi caranya yang Lukman tidak suka, berterimakasih pada laut bukan dengan cara seperti ini, mengapa daging-daging itu dilempar ke laut? Mengapa tidak diberikan saja ke tetangga kita yang kekurangan. Tapi ya sudah Lukman mau pamit dulu, maafkan Lukman ayah?”

Batinnya berkecamuk antara bimbang dan ketegasan. Ayahnya menoleh dan berlalu tanpa kata, sepertinya ia masih enggan berkata dengan anaknya. Lukman anak satu-satunya yang ia besarkan dengan keringat seolah tak bisa memahami bahwa dirinya telah tua. Ia kini tak bisa lagi menerima dalih anak muda untuk meruntuhkan sebuah adat. Apalagi kini, sejak dua tahun lalu itu masyarakat mengangkatnya jadi sesepuh. Runyam.

Tak ada yang salah dengan adat ini celotehnya dalam hati. Hajat laut hanya lah suatu proses syukuran massal yang di lakukan oleh masarakat pantai, khususnya masarakat nelayan seperti dirinya ini. Hajat laut yang di adakan setiap tahunnya di Pantai Pamayang sebagai ungkapan syukur. Syukuran hajat laut ini di adakan hampir setiap tahun, tepatnya pada bulan Muharram dan biasanya seluruh masarakat nelayan yang mengadakannya. Tiap-tiap bulan Syura dikampung pesisir pantai ini mengadakan pesta syukuran yang dinilai sebagian masyarakat sebagai upacara sakral.

Lukman pergi menjauh, budaya terkadang membuatnya dilema. Ada rasa semacam spiritual yang tak bisa ditinggalkan oleh masyarakat, telah mendarah daging dalam detik-detik babak kehidupan. Diturunkan secara pasti tanpa disadari. Ah, semuanya semu buatku. Antara kepercayaan dan kebudayaan. Lukman mendesah risau.

Waktu terus bergulir meskipun para pengisi waktu enggan menyadari bahwa ia baru melewatinya dengan kesia-siaan dan kehampaan. Ia menggulir-gulir matahari dari timur ke barat dengan renggang seolah sama. Sore sudah tiba lagi. Semuanya berjalan dengan terasa cepat, awan hitam menutupi gulungan-gulungan ombak. Kemudian ombak-ombak itu merangkul dan melumat awan-awan yang berarak hampir menyentuh garis fatamorgana.

Hujan badai deras, halilintar menyambar-nyambar. Suara guruh bersahut-sahutan seolah dua raksasa tengah bertengkat tentang kehidupan yang semu dan palsu. Masing-masing mempertahankan sebuah argument yang mereka bilang itu adalah kebenaran.

Ketika jampana itu pergi dihantam bah yang marah, semua gempar jika sang sesepuh pun tidak menampakan diri, entah mungkin diambil roh ombak yang keji, raib seperti angin kencang yang tiba-tiba berhenti dan kembali menampakan keramahannya, sikap manisnya, dipagi hari setelah malam malam sebelumnya berlarut-larut dalam timpaan siksa nestapa.

Lukman, menghela napas, perkataannya tak berbekas. Ayahnya telah pergi tanpa bisa memahami arti terimakasih yang sesungguhnya. Baru saja pintu terbuka, kini pintu itu telah tertutup. Pamayang, pesisir pantai selatan Tasikmalaya murung, ombak keruh menggulung-gulung kaki Lukman seolah memberi sambutan selamat datang dan ucapan pengaduan jika alam sudah rusak, jika ucapan terimakasih manusia tak tepat. Lukman seolah mendengar ada suara yang begitu keras, hingga kepalanya pening, “Bukan jampana dan kepala kerbau yang kami butuhkan, bukan sama sekali. Cukuplah manusia berterimakasih dengan menyimpan dan memelihara harta kami, alam kami. Alam laut dan pantai.”

Lukman memandang sekitar, ia saksikan alat-alat berat rupiah berjejer pongah, pasir-pasir putih menggunung bisu. Tuhan pasti memberi jawaban atas perilaku manusia ini. Desah Lukman berat, angin laut yang tak lagi bersahabat mengaburkannya. Ia mendesau dan membisikan sesuatu, “Menunggulah….”

Annisa Zahraa Mahasiswa UPI Tasikmalaya
Hanya seorang yang sedang menjadi orang lain, lalu berusaha menemukan dirinya kembali. Dikumpulan jerami sawah yang basah ia berteriak, angin tak pernah menyampaikan teriakannya, hanya pada tulisan ia bergema. Kini di UPI Tasikmalaya, sebagai mahasiswa yang biasa saja.
Readmore
Next
 

Copyright @ 2011 By. KSC