Selamat Datang di Blog Kobong Sastra Cipasung

Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Cerpen Ayu

PEREMPUAN GILA DI UJUNG SENJA

Aku ingin pulang. Senja sudah menunggu. Aku tidak ingin membuatnya terlalu lama larut dalam penantian. Aku ingin melepasnya pergi, tapi tidak bisa membiarkan rengkuhannya lepas. Dia tahu semua tentangku. Kami sama-sama menanti di ujung hari. Bedanya, dia menanti sesuatu yang pasti. Sedangkan aku, kupikir semua orang akan menertawakanku jika mereka tahu, aku sedang menanti kemustahilan yang selalu kusemogakan. Aku ingin pulang. Duduk sendiri di balkon kamar, sambil menghitung burung perkutuk yang terbang berlarian. Atau sekadar berdiam diri di sana. Membiarkan tubuhku terbuai dalam rengkuhan kemustahilan itu. Mereka pikir aku gila. Padahal, aku hanya sedang bermain-main dengan semua kenangan itu. Tidakkah mereka bisa melihat siapa yang sedang duduk di samping kananku? Adalah dia. Kemustahilan itu. Atau hanya aku yang melihatnya? Apa aku memang gila? Entahlah. Biar kurenungkan lagi. Seharian aku dikurung dalam ruang pengap. Mengenakan baju biru tanpa motif. Berteriak pada setiap dinding yang menghalangi penglihatanku. Menangis ketika menyadari bahwa aku benar-benar kesepian.
          Ceritaku masih panjang. Perempuan berseragam putih masuk ke dalam ruangan sambil membawa sesuatu yang tajam menusuk kulitku setiap kali aku berteriak-teriak kencang. Dia menyuntikkannya di leher, kadang juga di lengan kanan, kadang juga di lengan kiri. Setelah itu semuanya terasa buram. Aku terdiam seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Perempuan itu selalu membuatku terkulai lemas. Itulah mengapa aku sangat membencinya. Kadang ketika ia lengah, kutarik rambutnya yang ikal, kadang juga kupukul punggungnya dengan tangan, atau pernah sekali ketika itu aku mencakar wajahnya dengan kuku jariku yang tidak pernah lagi dipotong hingga meninggalkan bekas. Aku mengenalinya dari bekas luka cakaran di pipi kanannya. Seperti luka cakaran kucing. Tapi itu hasil cakaranku.
          “Dasar perempuan gila!” Ia melangkah pergi setelah urusannya denganku selesai. Itu adalah kalimat yang selalu ia ucapkan ketika akan melangkah keluar. Aku bahkan menghapalnya di luar kepala.
          Semua orang menganggapku gila! Tapi aku merasa tidak benar-benar gila. Aku mengenali siapa saja yang pernah kukenal sebelumnya. Aku tidak pernah menganggap bahwa boneka adalah seorang bayi yang harus digendong. Aku tidak pernah berupaya melukai diriku sendiri dengan menggigit jari ataupun pergelangan tanganku sendiri. Aku makan dengan tangan kananku. Menangis apabila aku benar-benar merasa sedih. Aku tertawa untuk hal yang lucu, meskipun itu sangat jarang terjadi. Aku melakukan semua yang dilakukan oleh orang-orang normal. Tapi mereka menganggapku gila! Bagiku, musuh terbesarku adalah tembok ruangan yang mengurungku, perempuan berseragam putih yang selalu membuatku terkulai lemas, dan orang-orang yang membuatku berada di ruangan pengap ini. Mengingat mereka kadang membuatku sulit untuk bernapas.
          Aku ingin pulang!
***
          Aku berhasil membuatnya hidup kembali. Dia hadir ketika aku menyadari bahwa aku benar-benar kesepian. Dia hadir ketika aku memanggil namanya. Ketika perempuan berseragam putih itu keluar dari ruangan.  Ketika aku sudah terkulai lemas karena perempuan itu. Ketika tembok-tembok ruangan mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Kemustahilan itu hadir ketika aku benar-benar tidak ingin sendiri.
          “Kau ingin pulang?”
          “Iya. Aku benci tempat ini”
          “Kau ingin ikut denganku ke tempat dimana kau bisa bebas dari tembok-tembok ini?”
          “Bisakah kau membawaku pulang?”
          “Aku hanya bisa membawamu pergi”
          Dia selalu mengatakan hal yang sama setiap harinya. Kau ingin pulang? Tapi entah sudah berapa lama aku di sini. Dia masih diam di samping kananku, tidak beranjak sedikitpun. Kupikir dia ingin membawaku pergi. Terkadang kami kehilangan kata-kata. Jika sudah begitu mulutku akan terkatup, dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya terdengar siulan kecil yang memenuhi seisi ruangan. Aku tidak pernah merasakan embusan napasnya.
          “Kau ingin pergi bersamaku?” Dia mulai menemukan jejak kata yang sempat hilang tadi.
          “Ke mana?”
          “Kau harus jadi sepertiku dulu agar bisa ke sana,” tandasnya lagi. Kalau sudah begitu, mulutku kembali terkatup. Aku mungkin tidak segila itu.
          “Bukankah kau ingin pergi dari tempat ini?”
          “Aku hanya ingin pulang. Ke rumahku. Bukan ke rumahmu”
          Keesokan harinya, entah jam berapa aku tidak tahu. Perempuan berseragam putih itu masuk ke ruanganku. Kali ini tidak membawa jarum suntik, tapi makanan. Ia meletakkannya di hadapanku, kemudian setelah itu ia bergegas pergi. Kelihatan buru-buru. Hingga ia lupa mengatakan kaliamat yang selalu ia ucapkan ketika hendak keluar dari ruangan ini. ‘Dasar perempuan gila!’
          Makanan itu menganggur di hadapanku. Selera makanku sudah hilang semenjak tembok-tembok ini mengurungku. Mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar gila seperti yang selalu mereka katakan. Aku ini perempuan gila. Kalau sudah begitu, terkadang juga aku menyesali semua kejadian yang sudah berlalu. Kalau bukan karena kejadian setahun yang lalu, aku mungkin masih berada di balkon kamarku. Melihat burung perkutuk saling berkejaran, atau mengucap selamat tinggal pada senja di belakang rumah. Kenangan itu kembali berkejaran.
          “Kau di mana?”
          “Di rumah”
          “Aku ke sana”
          Setelah itu sambungan telpon terputus. Aku duduk di halaman belakang rumah. Sendiri. Hari sudah sore. Langit mulai jingga kemerah-merahan.
          “Kau di sini,” dia yang kutunggu sudah datang. Laki-laki yang tadi menelponku. Aku menunggunya mungkin sudah hampir setengah jam.
          “Ada apa?” Tanyaku. Mata coklatnya menatap tajam ke arahku. Aku mendapati sesuatu yang ganjil di balik itu.
          “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Penting,” ucapnya. Kulihat jakunnya bergerak ke bawah, kemudian ke atas.
          “Selama ini aku sudah salah karena tidak mengatakan semuanya dari awal. Harusnya aku tidak mengenalmu terlalu jauh, dan tidak membiarkanmu memelihara perasaan ini. Maafkan aku. Aku mungkin memiliki perasaan yang sama, tapi perasaanku terhadap ibuku jauh lebih besar,” ucapnya tanpa jeda. Kemudian berhenti sebentar untuk menarik napas panjang. Dia belum menyelesaikan kalimatnya. Sesuatu yang aneh mulai terasa di dadaku.
          “Dia memintaku menikahi Jessy,” lanjutnya. “Itu berarti kita sudah cukup sampai di sini.”
          Mendengar itu aku merasakan sesuatu bergejolak di dalam sini. Entah di mana tepatnya. Aku memalingkan wajahku darinya. Pikiranku langsung kacau. Entah ingin marah, menangis, atau pergi saja. Tapi belum selesai aku beragumen dengan perasaanku sendiri, kudengar suaranya yang khas. Laki-laki beraroma maskulin itu menyentuh bahuku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
          “Maafkan aku,” ucapnya, kemudian melangkah pergi. Aku melihat punggungnya menghilang di balik pintu.
          Setelah itu, dia bukan lagi milikku. Dia milik ibunya. Dan ibunya menyerahkannya kepada Jessy. Perempuan yang selalu menguntit kemana saja aku dan dia pergi. Penguntit itu akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan. David. Tapi hanya sebentar, mungkin beberapa menit saja. Setelah itu ia pergi untuk selama-lamanya. Laki-laki beraroma maskulin itu pergi setelah memberikan rasa sakit padaku. Sebuah tabrakan mobil tidak jauh dari rumahku mengubah skenario hidupku selanjutnya. Semenjak itu aku merasa tidak punya dunia. Rasanya lebih sakit dibanding ketika ia mengatakan kata pisah. Dan sekarang, giliranku untuk mengatakan kata pisah, ‘Selamat tinggal, David’
          Karena kejadian itu aku ada di sini. Ruangan pengap yang mengurungku. Tembok-tembok kokoh yang selalu mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Dan dia, laki-laki yang sedang duduk di sampingku, hanya aku yang bisa melihatnya. Dia adalah kemustahilan itu. Yang menyebabkan semua ini. Tapi bodohnya, justru aku menghadirkannya di ruangan pengap ini. Aku menghidupkannya lewat imajinasi.
          Pintu kembali terbuka. Perempuan berseragam putih itu masuk bersama dengan seorang wanita paruh baya. Aku mengenali wajahnya.
          “Kenapa dia masuh dikurung di sini?” Tanyanya kepada perempuan berseragam putih itu.
          “Karena dia terlalu bahaya jika dibiarkan bergabung dengan pasien lainnya,” jawab perempuan berseragam putih itu dengan tatapanya yang dingin mengarah kepadaku. Aku tidak terima ditatap seperti itu.
          Aku segera bangkit dari tempatku, lalu tanpa memberinya kesempatan untuk memberi perlawanan, aku langsung menjambak rambutnya. Dia berusaha melawan, tapi tenagaku jauh lebih kuat. Dia sedang tidak membawa alat suntik, jadi aku bisa selamat. Dia tidak bisa membuatku merasa lemas sekarang. Wanita baruh baya itu berusaha melerai. Aku tidak mempedulikannya. Rasa sakit hatiku yang sudah terlalu dalam padanya membuatku menjadi seperti orang gila. Menjambak rambut perempuan berseragam putih itu tanpa memberinya ampun, meskipun ia sudah menjerit-jerit kesakitan.
          “Sandra, sudah, nak! Sudah!” Perempuan paruh baya itu kembali mencoba untuk melerai.
          “Ibu tidak suka kamu seperti ini!” Lanjutnya lagi dengan intonasi suara yang tinggi. Aku tersentak, lalu perlahan-lahan melepaskan perempuan berseragam putih itu. Rambutnya terlihat berantakan sekarang.
          “Perempuan ini pantas mendapatkannya,” aku menunjuk ke arah perempuan berseragam putih dengan tatapan tajam.
          “Dia adalah penguntit itu, ibu,” lanjutku. Amarahku rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Ibu terlihat kaget.
          “Apa maksudmu?”
          “Kau perempuan penguntit yang selalu mengikuti ke mana saja aku dan David pergi. Kau yang membujuk ibunya David agar meninggalkan aku. Kau juga yang sudah menyebabkan aku ada di sini. Sebenarnya kau yang gila! Bukan aku!”
          Perempuan berseragam putih itu menatap tajam ke arahku. Aku bisa melihat amarahnya meluap-luap di balik sorot matanya. Aku bersiap-siap memberikan bekas luka di wajahnya untuk yang kedua kalinya. Tanganku sudah membentuk sarung tinju. Tapi ibu segera menahannya. Dia memegang tanganku, lalu memelukku erat. Dia menyalurkan kehangatannya.
          “David sudah meninggal, Sandra,” ucap ibu lembut di telingaku.
          “Aku tahu, ibu. Aku tidak gila!”
          Kemudian sosok laki-laki itu muncul dari balik punggung perempuan berseragam putih. Ia tersenyum ke arahku, lalu melambaikan tangan. Kemudian ia melangkah keluar dari ruangan. Setelah itu, aku melihat sosoknya tiba-tiba menghilang. Aku berhenti berimajinasi tentang dia.
          Setelah kejadian itu ibu membawaku pulang dari rumah sakit jiwa. Aku akhirnya meninggalkan ruangan pengap. Sore ini, aku duduk sendiri di halaman belakang rumah. Menatap senja yang memancarkan warna jingga di langit.  Aku akhirnya pulang!

***



Readmore

Cerpen Saiful Anam Assyaibani


LORONG DOA
Cerpen: Saiful Anam Assyaibani


                Senja nampak mengelam. Di ujung laut, matahari berada pada batas air dan langit, seperti hari mulai redup langitpun redup dengan segurat bianglala. Semacam lambaian sayup-sayup sebuah surau dengan panggilan syair dan takbir melesatkan aku pada jejak menuju Tuhan.
                Di sudut Kampung para Nelayan itu; sebuah mushollah sederhana bersebelahan dengan laut serasa begitu tenang dalam dada. Suatu kecintaan yang selalu mengalir sepanjang ujung sepanjang perjalanan.
                Selepas mushollah aku kembali kepada laut; menyusuri jejak dan langkah pada pasir putih, seperti perahu-perahu tertambat akan dermaga akupun tertambat akan keindahan alam maha indah, konon Khidir pernah mengujar hakikat rahasia kehidupan akan Musa lantas semayam di luas segala samudra itu. Dan siapa ingin beroleh berkah laduni maka harus ajeg dalam sholawat dan salam, wasila dan doa yang selalu lapar untuk dipanjatkan.
                Hari beranjak kelam-malam yang menggetarkan-gelap yang selalu magis akan gulir waktu. Masih ada kehidupan dipenghujung malam. 
                Tanpa sadar aku mengenggam butiran pasir putih lantas kutaburkan pada perjamuan angin dengan mata tertutup. 
***
                Rumah itu menghadap ke arah laut. Sepi sekali, hanya beberapa kawanan anjing tampak berseliweran di halaman rumah itu. Mataku menangkapnya lamat-lamat dari jarak yang tak begitu jauh. Selintas kemudian seorang perempuan keluar dari rumah itu dengan selembar daun berjejar menampung makanan bagi anjing-anjing yang lapar.
Sepertinya hal itu sudah menjadi kebiasaannya, terlihat dari beberapa anjing yang lantas mengikuti langkah perlahan perempuan itu di belakangnya. ‘persahabatan yang tak lazim’. Gumamku. Tapi bagaimana mungkin aku tidak terusik akan romansa yang tak biasa aku menemukannya. Mataku tak pernah lepas menangkap setiap desir peristiwa yang bermain-main dalam akal dan anganku, aku coba mendekati mereka bahkan sangat dekat, mencoba mencari jawab dalam celah-celah sepi.
“Selamat malam” aku menyapanya seringan angin meniup malam yang menjadikan dingin. Seperti perempuan itu hanya menemukan aku dalam desing suara saja, Dia terlihat lebih menikmati memberi makan seekor anjing dengan menaruh makanan di tangannya yang indah daripada memuliakan seorang tamu.
“Assalamu’alaikum” aku coba mengulang sapaku, tapi sedikitpun perempuan itu seolah tak merasakan kehadiranku. 
“Maaf, aku datang sebagai anjing yang berpijak dikegelapan purna, dan aku mencari jejakku di bulan pada hijrah pada tubir mi’raj menemu surga di dadamu” Tiba-tiba anjing-anjing itu melesat begitu saja, menuju goa karang yang terkikis ombak; tempat mereka mengistirahkan jiwanya pada malam. Dadaku berdegup kencang tapi tak kumengerti adanya. 
“Biarkan hanya sunyi dalam keheningan jiwaku, seperti denting doa tak kumengerti, sunyilah menandaskan detik air mata di tetes waktu” perempuan itu menundukkan pandangannya dariku lantas meneteskan airmata dalam doa. Entahlah peristiwa apa yang sedang terjadi di hadapanku ini, aku tidak berani menebaknya. 

“Sekalipun aku tak pernah menerima tamu laki-laki malam hari, pulanglah kembalilah besok pagi!” 
“Maaf, aku tidak mengerti maksud anda”
“Akulah pelacur”
“Apa?!”
“Ya, akulah pelacur yang merindu surga” 
Aku diam sesaat, mencoba menguasai badai dalam dada. Aku tidak pernah menyangka bahwa perempuan yang ada di hadapanku sekarang adalah perempuan sinting yang beberapa tahun lalu diasingkan oleh warga “Kampung Nelayan” karena ketidakwarasannya. Seperti yang sering dibicarakan banyak warga ‘dia perempuan sinting yang ingin masuk surga dengan jalan pintas dengan berteman anjing dan selalu berharap menjadi seorang pelacur’. Ah, aku semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya ada dalam benak perempuan itu; jika memang opini warga itu benar adanya. Bukankah anjing dan pelacur adalah sama-sama mahluk najis, lantas jalan pintas mana yang akan membawanya menuju surga. Atau memang benar adanya bahwa perempuan ini memang benar-benar sinting. Tapi?.
“Apa yang merubahmu serta merta menjadi beku?” sentak perempuan itu melumerkan anganku. 
“Entahlah!” jawabku.
“Selain kedatanganmu malam ini sama sekali tidak aku harapkan, tanpa kamu sadari kamu telah mengganjal langkahmu sendiri untuk menuju surga”
“Sungguh aku tidak mengerti. Tapi apa yang telah aku lakukan hingga aku harus tertatih menuju surga? Sementara kamu sedari tadi hanya berteman anjing dan aku hendak bersilaturrahmi padamu, apa aku salah”. 
“Tidakkah kamu pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah bersabda barang siapa yang memutus harapan orang yang datang kepadamu maka Allah akan memutus harapannya pada hari kiamat dan tidak akan masuk surga. Benar apa yang kamu ucapkan bahwa aku sedari tadi hanya berteman anjing. Ya, anjing-anjing itulah yang datang ke gubuk ini setiap malam dan berharap akulah satu-satunya orang yang mau menyediakan makan bagi dia dan engkau tiba-tiba datang dan memutus harapan anjing-anjing yang kelaparan itu di hadapanku”.
“Tapi dia hanya seekor anjing” sergahku
“Meskipun dia hanya seekor anjing. Bukankah Allah tidak menciptakan suatu makhluk dengan kesiaan”
“Baiklah jika anjing adalah jalanmu menuju surga, sungguh aku mintak maaf”
“Maaf untuk apa”
“Untuk diri sendiri yang datang tanpa rupa dan bentuk, maaf untuk diri sendiri yang datang tanpa jelma tanpa cahaya dalam ketakberjasadanmu; juga anjing yang meleburkanmu dalam tafsir hijabku, juga maaf untuk keterjebakanku yang nian absurd menamaimu” 
“Sampaikan maaf itu pada lapis langit, jelmakan rintik hujan yang melebur segala kata yang membingkis risalah magis kalbu, biar segala keheningan mengantarmu-mengantarku akan surga”. 
Perempuan itu lantas masuk ke dalam rumahnya. Ah, mungkin rumah itu lebih pantas disebut gubuk karena memang tidak pantas disebut rumah. Dan aku kembali menepi pada pantai.   
Malam selaksa jauh mengantarku akan suatu yang tak pernah terduga sebelumnya. Embun serasa menyusup pada sunyi secara pelahan, daun-daun menampung angin yang semakin risuk meluruhkan waktu.
                Waktu seakan demikian singkat, aku tak tidur sedetikpun malam ini, tak terasa hari telah berganti sementara aku masih terpaku berdiri di tepi laut sebagimana hari-hari kemarin, tapi hari ini serasa lain. Aku selalu berpikir tentang apa yang aku alami malam ini, tentang kawanan anjing dan perempuan yang mengaku pelacur itu, juga pertemuanku yang secara tiba-tiba dengan mereka dan aku menamaiku sebagai anjing.
                Dari kejauhan diam-diam aku selalu pandangi gubuk itu. Ya, gubuk seorang perempuan yang saat ini masih bermain-main dalam realitas pikiranku.
***
                Hampir setiap fajar aku berdiri di tepi pantai menghadap ke arah timur menyongsong matahari terbit, menyongsong keindahan yang menggetarkan batin. Aku kembali membuka hari dalam Bismillah dalam mata yang sejenak terpejamkan akan taqdir perjalanan hari-hariku. 
                Fajar ini dalam sujud panjangku, aku seolah menandaskan keyakinanku bahwa orang-orang yang berjiwa muthma’innah-lah yang akan mendapat kemuliaan. Tapi sejak malam saat aku bertemu dengan perempuan yang mengaku pelacur itu, seolah Ia talah mencuri sebagian ketenanganku dan mungkin aku tidak akan pernah merasa tenang jika tak mengambilnya kembali dari jiwa perempuan itu.
Matahari sepenggalah, burung-burung kembali mengitari laut dan juga para nelayan mulai memaknai hari diteriknya cahaya matahari di tengah derasnya gelombang. Ah, aku kembali teringat ucapan perempuan itu ‘Sekalipun aku tak pernah menerima tamu laki-laki malam hari, pulanglah kembalilah besok pagi!’. Demi waktu aku pun telah bersumpah akan menemukan kembali ketenangan hidupku seperti sebelum aku bertemu dengan perempuan itu.
***
                Aku kembali menatap lekat rumah yang selalu sepi itu, berharap dapat menemukan kembali perempuan semalam. Aku menunggu hingga fajar menjelang, tapi nihil. 
                Tujuh atau mungkin delapan ekor anjing tiba-tiba menjelma di hadapanku, matanya nyalang seakan berharap sesuatu padaku namun sulit untuk aku terjemahkan. Dalam hati aku berkata sendiri ‘andai akulah orang yang diharapkan kawanan anjing itu maka apa pun yang tergurat dalam benaknya aku akan berusaha mewujudkannya; semata-mata untuk tidak memutus harapan akan keberadaannya di hadapaku saat ini’. 
                Tiba-tiba kawanan anjing itu lenyap ke dasar jiwaku bersamaan dengan kilatan cahaya yang kemilaunya menghentak tak terhingga. Tubuhku bergetar hebat menerimanya hingga aku tak sadarkan diri akan siapa aku yang sesungguhnya. Seakan-akan aku telah lenyap entah kemana dan aku seolah bukanlah aku yang sesungguhnya dan keinginan untuk mencari perempuan itu semakin kuat bak gelombang tak terbendung.
                Aku mencari perempuan itu di segala penjuru mata angin dan tak tahu jua adanya, sampai batas akhirnya aku terhenti di selembar daun kering bekas tadah makananan anjing tempat perempuan itu memberi harapan bagi anjing-anjing yang kelaparan. Aku menjilatinya dalam munajah dalam cinta yang luar biasa nikmatnya sampai-sampai aku ekstase.“duh, Tuhan dimana pelacur yang memberi ketenangan pada anjing-anjing yang kelaparan”.
***
                Aku kembali ke tepi pantai menyaksikan ribuan burung mengitari lautan maha luas, angin mengantar gulungan ombak menerpa kakiku; aku basah jiwa raga, kudesiskan kesangsianku pada angin yang membawa bianglala yang mulai menggambar langit. Aku berdiri terpanah menangkap matahari tenggelam dan aku pun tenggelam dalam bongkahan karang yang terkikis ombak dalam tafakur, tunduk dan sujud. 
                Dalam sujud panjangku; seorang lelaki tak ku kenal dalam tubuh penuh cahaya berujar salam lantas menuntun langkahku dalam Bismillah.
                “Aku akan mengajakmu dalam perjalanan panjang”
                “Kemana?”
                “Menuju doamu, menuju kesempurnaan iman. Bukankah itu yang selalu kau panjatkan, ketika engkau berdiri di tepi laut saat matahari mulai tenggelam?”
                “Apakah Kau…?”
                “Jangan bertanya apa-apa padaku. Karena aku hanyalah jawaban dari kesabaran, tawakal dan keikhlasanmu dalam menjalani hidup. Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal padamu: 
                jangan biarkan hatimu larut dalam kesedihan
                                dan menyesal atas sesuatu kegagalan
                jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan
                                perbanyaklah berdzikir dan berdoa kepada Allah
                jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah
                bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah
                jangan mempunyai musuh
                                kecuali dengan iblis atau syetan
                sering-seringlah engkau bangun di penghujung malam
                                istighfarlah engkau kepada Allah
                                dan perbanyaklah bershalawat kepada Nabi
                selalu ingat akan saat kematian
                                sadarlah bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara
                maafkan orang lain yang berbuat salah kepadamu jangan dendam
                                dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan
                jangan benci kepada orang yang membencimu
                jangan sombong
                ringankan beban orang lain
                                dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan
                jangan melukai hati orang
                jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama
                waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan
                jangan lari dari kenyataan hidup
                yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan
                                dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan
                jangan bahagia di atas penderitaan orang
                                dan jangan kaya dengan memiskinkan orang lain
                yakinlah bahwa Allah akan meminta pertangungjawaban bagi setiap hambanya
                                di akhirat kelak tentang apa yang telah dilakukannya selama di dunia”.  
Laki-laki itu lantas menghilang seperti nyala lilin tertiup angin, dan aku tak pernah benar-benar kembali dalam sujud panjangku. Aku telah lenyap.**



















Saiful Anam Assyaibani, Penulis dan Guru di Lamongan
Readmore

Diskusi Kebudayaan & Musikalisasi Puisi


Readmore
Next Next




 

Copyright @ 2011 By. KSC