Selamat Datang di Blog Kobong Sastra Cipasung

Tampilkan postingan dengan label kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kreatif. Tampilkan semua postingan

Diskusi Kebudayaan & Musikalisasi Puisi


Readmore

Sajak Arya Mahessa Pratama


KETIKA

Ketika sedih hanya hujan temanku
Ketika bahagia hanya matahari temanku,
Ketika bosan hanya pelangi temanku.
Ketika rindu hanya angin temanku.

Ketika kamu yang mengalami semuanya
ku akan menjadi hujan, matahari, angin dan pelangi
Agar kamu tak kesepian


KETULUSAN CINTA

Aku tahu aku hanya sebuah manusia biasa.
Aku hanya manusia yang hanya mampu mencintaimu apa adanya.
Beginilah diriku Yang mencintaimu tulus dari hati.
Beginilah diriku yang menyayangimu selalu.
Mungkin banyak pria diluar sana yang lebih dari aku.
Baik itu lebih harta ataupun lebih fisik.
Namun aku tak gentar mencintaimu layaknya romeo mencintai juliet.
Dan aku akan terus menjagamu layaknya seorang prajurit kepada rajanya.

Meskipun aku harus terluka dan tersakiti.
Hati ini telah siap seperti sebuah baja.
Karena cinta yang tulus tak mengharapkan sebuah imbalan
ataupun belas kasih.
Yang aku harapkan hanya sebuah senyuman dan takkan ada setetes
pun airmata
yang jatuh ke pipimu.
Karena disitulah rasa luka dan sakit yang mungkin baja pun
takkan mampu menahannya.
Dan disitulah penyesalan dalam hidupku jika aku melihat satu
tetes airmatamu.

Airmatamu ibarat sebuah peluru yg berkali kali menembak ke arah hatiku
Dan senyummu lah ibarat pelindung dari peluru peluru yg menembak ke hatiku.
Karena senyummu lah yang membangkitkan sejuta bunga ditaman.
Karena senyummu lah yang memunculkan sebuah pelangi yang membuat indah
taman itu.
Karena senyummu mampu membuat sejuta keindahan.
Karena kamu begitu indah dan baik.

Aku memang takut kehilanganmu.
tetapi aku lebih takut tak bisa melihatmu lagi apalagi tak bisa
melihat senyummu.
Meskipun aku tak memilikimu tetapi aku masih bisa memiliki
cintamu, cinta untukmu.
Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ku juga.


ingat janjiku selalu kan tetap mencintaimu.
Sampai terompet sangkala berbunyi dan memisahkan kita


Arya Mahessa Pratama adalah Mahasiswa Gunadarma yang sedang bergairah menulis puisi
Readmore

Sajak Saiful Anam Assyaibani


PEREMPUAN TUA DAN NASI BORAN

di pinggir malam di bawah tiang-tiang lampu trotoar
perempuan tua dan nasi boran berjejar menunggu
bayangan tubuhnya sendiri
di simpang lima jalanan yang menikung
dalam sepincuk nasi yang menggelinding
dihempas angin dan tetes waktu

selembar sapu tangan menyesap basah
keringat dan sisa percakapan embun
yang berayun di rimbun pohonan

lantas pagi seperti senja
hanya dingin dan kelam
dalam diam
seperti raut wajahmu
seperti kampungku
yang hujan
memintal debu
mengentalkan
malam
di tubuhmu
yang rapuh

tapi rindu
seperti berbisik
tentang batas dan ujung
perjalanan
karena sisa usia
terlalu berat menahan
panggul-panggul
mimpi di pundakmu
dari dan ke pangkuan
lelap.

Lamongan, 2013

 
RAHASIA ASIN TUBUHMU

kau mengingatkanku pada alkitab
saat tuhan menghentikan matahari
dan bulan dan membaginya
dalam ke dua matamu

kau mengingatkanku pada maria
ketika isa lahir di kandang domba
sementara kau mengandung seekor domba
dalam rahimmu tanpa gereja
tanpa seorang bapa

karena itulah sebabnya aku mencintaimu
seperti nuh mencintai perahunya
dan aku melayari tubuhmu
seperti khidir melayari lautan
dan menyimpan rahasia asin tubuhmu
menjadi tawar

maka izinkan aku merobek bajumu
memungut seekor domba dari rahimmu
dan kelak akan aku ajarkan kepadanya
tabir mimpi yang manusia tak sanggup
menafsirkannya

karena aku mengingatmu
seperti aku mengingat kesucian
maka ingatlah cintaku padamu
seprti cintanya adam dan hawa
muhammad dan khadijah
dan cinta ali kepada fatimah
karena aku mencintaimu
seperti zulaikha mencintai
yusuf.

Lamongan, 2013


NUBUAT

sebelum aku menjadi abu
aku adalah amsal
kidung agung gereja
kemudian menjelma gema
dari sebuah lonceng
dari sebuah menara

di sini, tuhan disalibkan
dalam bayang-bayang
dari sisa senyala lilin
di malam yang kudus

sebelum aku menjadi abu
aku adalah bilik pengakuan
penyucian dosa
dalam sujud dalam tafakur
yang luka

maka menyayilah
seperti kembala di malam natal
saat menggiring domba-domba
di penghujung desember
yang mencatatkan jejak
kelahiran yang disucikan
waktu.

Lamongan, 25-12-2012


PERJALANAN DI ATAS BUKIT

aku mungkin ada di sana
di atas bukit
ketika matahari
berhenti
di atas kepalamu

sebuah perjalanan
terpaksa menjadi
rahasia kudus
tentang sebongkah kayu
yang menyeret ingatan
pada jejak-jejak
tanpa warna
di antara kelopak
bunga berduri

sementara langit senja
perlahan menyusut
mengemas keabadian
dalam riuh ramai
kesunyatan

ini perjamuan terakhir
mengulas sajak-sajak pertaubatan
dari tubuhmu yang telanjang
dan aku memasuki rumahmu
sebagai jasad yang lelah
dalam jiwa dahaga
paling purba

di bukit itu
ketika waktu terhenti
kesunyian hanyalah
bayang-bayang
dari jarak ketiadaan
yang terus mengejar
dirimu dari diriku
yang kosong

sementara
kematian hanyalah kesementaaraan
yang menuntun ke jalan pulang
sebuah kiblat

dan gerimis menghapus dahaga sajak-sajakku
menuntaskan takdirnya yang luka
saat aku berdiri di atas bukit
menyaksikan diriku sendiri
disalibkan dalam doa
air mata yang sekarat
dalam tubuhmu yang jasad
seperti seekor domba
yang kelak koyak
dikorbankan

aku akan pulang ke kampung halamanmu
dari perjalanan di atas bukit
dari tempatmu
yang tinggi.

Lamongan, 09 -05-2013


Cerita Pendek Tentang Membaca Cakrawala
Pada Suatu Adegan Pementasan Teater

fragmen /1/
“siapa merobek buku bersampul bulan
purnama berwarna ungu” seru sebuah kata
dari balik huruf yang belum selesai ditenun
menjadi pintalan larik-larik puisi
mata pena seperti menyimpan tetes
gurat airmata yang hitam
hanya ia enggan menggoreskan jerit luka
ketika bayang-bayang perjalanan
pada sebuah rak buku yang tergeletak
kumal dalam setumpuk debu

“cakrawala akan sulit dituliskan” bisik
sunyi dalam hati.

fragmen /2/
MASIH SAJA AKU PANDANGI BUKU
YANG BERSERAK DI MEJA BELAJAR
SAMBIL MENERAWANG
MENATAP HAMPA MASA DEPAN
YANG SEMAKIN GEMETAR
MESKI KUTEMUKAN SAMAR CINTA
YANG TERSEMBUNYI
DI BALIK ARAH MATAAIR

“kemana timba akan menggali
sumur” tiba-tiba dadaku bergemuruh
seperti ombak, tapi aku
seperti terkubur sendiri
di bawah timbunan sekian buku
yang tak sanggup ku baca
kata demi katanya
meski agama
sejarah
teknologi
eksakta
filsafat
bahasa
dan sastra
senantiasa membuka
dirinya yang menyala.

fragmen /3/
sementara di sudut cakrawala
aku membaca ratap tangis:
“tak adakah sutradara yang datang
dan berbaik hati mengubah adegan ini
menjadi sekedar dongeng saja”

di akhir kisah
aku hanya sanggup menutup
lembaran cerita yang telah kurobek sendiri
aku tahu naskah lakon ini adalah
pementasan teater dari kurikulum
yang belum jadi;
seperti sebuah puisi
ini.

Jakarta, 27 Maret 2013



DI PERSIMPANGAN PUISI


membaca puisi dalam diri
di dalam diri
angin-angin menusuk telinga
adalah persimpangan
yang meneriaki perhentian

batu-batu mengutukku menjadi beku
seperti ruh dengan segala sadap
segala sunyi yang lapar
sepanjang sungai

setelah peristiwa itu
sungai-sungai menulis wajahku
melepasku dalam puisi
seperti kelebat seekor burung
menawarkan beribu rindu
melintas hening persimpangan

adalah perjalanan meretas jarak
pada kesederhanaan kata-kata
dan tak sanggup menyeka air
mata pada detak hati

kepada kemurnian matahari
kutengadah sebongkah jiwa
seumpama ular yang mendesis
menyelinap dalam syurga
dan menawar sebutir apel
dalam rahasia
keabadian
dalam nafas syahadat
yang tak lagi setia.

Lamongan, 2014


Saiful Anam Assyaibani Lahir di Lamongan 12 Maret 1983. Aktivitas keseniannya berada dalam Teater Roda, Kostela dan La Rose. Karya-karyanya terpublikasikan di berbagai media pusat dan daerah, seperti; Indupati, Jawa Pos, Kompas, Tempo, Republika, Bali Pos, Surya, Mimbar, Surabaya Pos, Horison, Kidung, Kalam, Sagang, Bongang, Sidogiri, Buletin Pawon, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Haluan dll.

Beberapa karyanya juga terdokumentasi secara komunal tak kurang dari 25 Antologi. Bukunya yang telah terbit adalah Syahadat Sukma, Tamasya Langit, The Lamongan Soul, dan buku pengayaan The Art of Theater.

Sekarang tinggal di Jl. Diponegoro No. 20 Simo Sungelebak 16/V Karanggeneng (62254) Lamongan.
Readmore

Sajak Dewi Nurjannah


Tersenyumlah


Tersenyumlah walau sedih
Berdirilah walau rapuh
Majulah walau sendu
melangkahlah walau pilu
Tertawalah walau menangis
Semangatlah walau meringis

Kuatkan hati meski retak
Tabahkan hati meski terdepak
Menangislah untuk bahagia
Teriaklah agar lega

Diam untuk redam amarah
Percaya untuk menerima amanah
Gapai mimpi untuk kenyataan
Raihlah cinta dalam keabadian
Rengkuhlah bintang pada rembulan
Raihlah semua kebahagiaan

Wujudkan mimpi ilahi
Mencapai ridha ilahi
Meraih mimpi sejati
Tetaplah bermimpi



Dewi Nurjannah Lahir di Pati bulan Juni1997 Pelajar SMK Annajah Kayen Pati

Readmore

Sajak Lidya Rachmawati


Mantan Terindah
Oleh: Lidya Rachmawati


Dia yang masih terindah, dia yang masih terbaik
dia yang masih aku banggakan
Aku masih dapat melihat dia,
aku masih dapat mendengar suara dia
dan mungkin aku masih dapat dekat dengan dia

Namun inilah kenyataannya
kenyataan yang harus dapat aku terima
kenyataan yang tidak bisa aku pungkiri
Aku melihat dia disebrang sana bersamanya
dia tertawa, dia tersenyum terhadapnya
dia begitu bahagia kala bersama dengannya

Dia tau ada aku didekatnya
dia memberikan senyuman terhadap diriku seakan
dia mengisyaratkan telah bahagia bersamanya
dan seakan melupakanku

Benar hati ini sakit
sakit melihat dia bersamanya
namun aku harus dapat tegar
Tegar hidup tanpa dia dan
tegar hanya bisa hidup dengan bayang-bayang semu dia


Lidya Rachmawati Lahir 07 november 1994 Tengah belajar di perguruan tinggi swasta di jakarta jurusan Bahasa dan sastra Indonesia.


Twitter: @Lidyaarw
Readmore

Sajak Rifqiel 'Asyiq



Surat Untuk Langit


dalam sebuah temaram lilin yang hampir sirna
melirih nafas, hati hati sekali. lalu membuangnya lewat jendela
memeluk selimut embun
sambil menyibak ranting, berdetak desing

sekian juta detik ku menahan rindu pada alam pagi
nyatanya ini bukan rindu, hanya beku. Kelu
Ahh; tidak!!
kulayanglayangkan sebongkah tengadah
menmbus kristal megah nan mewah
mencumbui langit malam

ini malam ke berapa? . .
aku sentuh pelupuk lubukmu
untuk satu jibaku.


Cirebon, Februari 2013.

Readmore

Puisi Rifqil 'Asyiq


Izinkan Aku Panggilimu Dinda


izinkan aku panggilimu dinda, sayang, perempuan 'belah dagu'. bagiku kau adalah seutuh cantik nan anggun raga pada sudut elok bumi dengan serimpit hati putih. bukan, bukan bidadari. namun begitu aku melihatmu, mengingatkanku pada suatu hari ketika;

"pernah kau memintaku menyanyikan lagu pada malam haru
dan ku memilih melantunkan puisi pada hujan senja
aku tabu gemericiknya dengan haru
dan kau pun mengikuti dengan lugu

kau menari di atas panggung
dan ku kembali menulis puisi di atas punggung. ahh . .
bukan hanya terkadang, kita seserasi itu".

sesederhana itu saja, tetap indah ya sayang, semoga kau ingat.
tentang cerita lain;

bukankah kita memang senantiasa bercinta dengan alam?
mari sayang, dekatkan dirimu dengan air ini. tapi jangan sampai riaknya menghanyutkanmu. aku pegangi tanganmu.

beginikah percakapan kita ketika sedang marah*?
bukankah alam pun penuh dengan suara?
mari sayang, kita isi dengan nyanyian cinta dan puisi.
mari sayang, dekatkan lagi dadamu pagi bibir hatiku. namun jangan kau bawa nodanya.
bukankah dadaku hamparan warnamu, pada pelaminan hasrat bermusim. katamu.

nyatanya, padamu jua selalu kuluapkan janji. aku menambahi.
akan ku permainkan sebuah masyghul pada jelempah-jelempah luas dadamu. agar ku penuhi rindangnya dengan seutuh ta'wilku, untukmu saja. karena aku, seperti kau pernah mengulanginya bahwa; sekalipun aku tak pernah ingat bertemu denganmu, namun setiap pertemuan sungguh sulit terlupakan logikaku.

ada aku dan munajat rapat khidmat nan hikmat, sepi dan sebaris puisi disitu. dariku.

sehingga saat kau payungi puing, mendesir habis dalam pikiranku. itu indah, maha engkau pada selayak hatimu.

kini; aku suguhkan debu secangkir, dan kau menggantikanku dengan seutuh moka. itu kesukaanku, katamu.

sayang, ini bukan tentang dahaga, namun debu yang mengajari kita tentang sebuah kecil, sekecil kita. agar kerindangan hatimu semakin semai dengan seutuhmu.

Jakarta, 14 Januari 2013

***


WANITA PANTURA (yang aku ingat)


Perkenalkan, namaku
Martini. Gadis Yatim sejak umur 5 tahun
penyanyi jalanan, langganan
kopayu.. Sahabat.. Luragung Bhineka. menelusur sepanjang
Pantura Cirebon-Jakarta.

Ibuku pagi ini mengantri di TPA Gegesik Cirebon
mengaisi sisa makanan dari yang katanya "kaya"
bahkan berangkat pagi buta, semalam telah ada pesta.
barangkali daging kambingnya masih bersisa. tak tahu mengapa..
kalau semalaman aku tak hirup aroma parfum ibu,
pagi pagi begini ibu selalu ke TPA. cantik nian ibuku dengan malamnya,
yang aku ingat, ibu selalu pulang pagi dengan air mata.

kalau ayahku;
kata neng siti ayah di bacok karena ketahuan mencuri,
kata mang sungeb ayah kawin lagi dengan PSK dari Indramayu.
Nenek bilang, tak usah aku pusingkan ini. lupakan saja ayah bengismu!
seingatku, ayah selalu pulang dengan mata merah.
ayah pun pulang dengan bau mulut yang belakangan ini aku tahu namanya Alkohol.
selalu pulang dengan marah, kemudian tidur.

tak pernah aku dengar cerita tentang kakek.
yang pasti, nenekku setiap malam menyusuri sawah mencari bekal..
untuk berjualan rumba semanggen di Pasar Tegalgubug. katany;
agar aku tak menuruni ayah, dan ibuku.
yang aku ingat, ya begitu yang aku ingat.
untuk yang terahir, izinkan aku bertanya tentang sesuatu pada kalian
Haruskah aku menangisi ini, atau terbahak dengan gelak?


Tegalgubug, 09 Februari 2012

***


SYAHDU SANG LELAKI KECIL
(sebuah peta hidup yang sayang tak di kenang)


semalam ku coba sedikit memaksa untuk kembali
hendak memasuki kehidupan masa
dikala benarbenar kosong tanpa sama' bashar dan af'idah
sayang seribu sayang, memimpikannya pun
sangat sukar

ahirnya ada sedikit cerlang untuk satu kenang
aku coba tengok kembali taman sederhana
di belakang rumah,
tempat dimana ku ramai bermain dengan alam
masa mewarna dengan sesama
aku hanya melamun tanpa jeda

masih coba ku sayu setiap lirih dendang serenade
yang ku dengar hanya gemuruh kreta dari nun kejauhan

aku dengar kesiur melakon lambai
terisak, mendayu layu
ahh.. dulu disitu tempat aku menangis dulu
karena putus tali layanganku

tersandarlah aku di bawah pohon mahoni
melamuni kupukupu yang kian beranjak dewasa
ahh.. disini dulu tempatku sebagai kuli batubata
dengan upah 200 perak untuk 100 batubata yang terangkut
ya milik mang duloh, yang sekarang buka warung kecil.

kiranya air masih berriak
lantunanmu serasa ku dengar mengiringinya
sang perawan bersikat badan dengan kembennya
dan telanjangku berkecipuk dengan lugu tanpa malu

rimbun terselingkap syahdu menyembahkan lagu
di balik hikayah tentang sebuah basah bibirmu
ahh.. hayalku melayang menyundul pilu
walaupun aku tak pernah tahu, siapa dinda itu?..

dan hinggan kini,
saatnya mungkin aku menjemput teman hidup untuk satu kisah yang lebih nyana nyata dan nyaris sempurna.
walau jawabannya masih entah,


Cirebon, 11 Agustus 2012

***


PUISI 2,7 (baca; dua baris tujuh kata)


I. OH, NADA AUROD*

Melafal nada-nada, menyatukan rasa-rasa
Aku dan Allah.

Jakarta, 150213
*Aurod : kata jamak dari Wirid


II. CERITA ALAMKU

Pelangiku sejarah, bernyanyi;
Batas-batas lautan, mencari rindu.

Blok M, 140113


III. MABUK

suluk dewa cinta, letup
di pintu aksara

Jogja, 300113


IV. GADIS

Seperti tenggakan ikan;
izinkan, hanya aku pena'wilmu

Cirebon, 100612


V. TAHAJJUD JAHIL

Goooolll, semangat membara.
sekian kali, subuh membungkam.

Jakarta, 090113.

VI. KUBURAN MIDE**

Tanah basah membisikiku, sendiri;
Kematian memberi waktu

Cirebon, 110901
**Mide; panggilan untuk Nenek di Cirebon



Rifqil 'Asyiq, Mahasiswa dan Santri di sebuah Pesantren Cirebon
Readmore

Puisi Irham Kusuma


Jani


Dari suara-suara
Di antara langit
Dan tongkat
Disitulah
Sajakku bergeser sesenti.

Bergeser laun di atas hibu
Dan kelubung kering
Tiada henti merantai.

Biar angin gegap lelah
Seperti ketar lumbung dada
Yang bergerak.

Sebab menenggelamkan senyap
Serupa bocah
Ingin menjadi inang
Ke arah barat.

Dari kumpulan balasamina
Atau amsal bunyi
Yang ada
Dari ketiadaan
Menuliskan lagu-lagu.

2013



Sunyaruri


Bukan sekadar merekam kisah
Tentang doaku yang menancap
Tumpah bersama tajwid
Yang saling memandangi syahadat

Atau nisbahku yang berkibar
Terbang sendiri
Menentukan jati diri

Adalah ekaprawira menari
Yang menanam zaitun
Seperti hasrat kalbun
Mengitari jabal

Supaya puisi ini tak bingung
Dengan seribu kunang-kunang
Memburu semisal ke barat
Dan iringan batang rappe bait ketiga

2012



Menggoda Penyair


Mesti dengan rahasia apalagi
Yang harus aku sembunyikan.
Ini hanya sebuah angka saja
Bukankah kamu selalu menatap
Pada segala yang aku sajikan
Di antara ruang uap kopi dan
Basah kretek di ladang dengan
Puisi yang selalu berasap.

Tentang lenskap senja
Yang kamu kembalikan lagi
Kepadaku.
Selalu saja kamu memutuskan
Untuk melukis sawah
Untuk melukis ciuman
Tanpa lazuardi yang menaungi
Tanpa bulan yang menggantung.

Tentang subuh bergetar
Di pangkuan
Dan yang membuat lubang hujan
Yang bergerak ritmik
Menuju pangkal matamu.

Di sana kamu menetaskan kata
Dengan atau tidak berbahasa.
Menghitung segala ruhiyat
Sebagian musim alpukat.

Lamat-lamat kita menyecap
Acap menggugurkan daun-daun
Kamu tentu tidak merokok bukan?
Aku bakar bulan yang menggantung
Kamu siapkan lauk-pauk
: biar kita sama-sama jatuh cinta?

2013

 
* Tiga puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 13 Januari 2013



Di Gede Bage


Di seberang yang tua ini
jalan masih panjang
masih kutebas kalimat-kalimat
yang meretas tumpah berserakan.

Entah mengapa,
seribu langkah yang kuyakini
dan doa-doa di malam ini
seakan menjadi mimpiku yang panjang.

Mengakar sampai ke hulu
menggenang di tumpah hujan malam
Gede Bage.

Hanya ada dua kelokan puisi
panjangnya ke Cikapundung
di punggungku
ia membungkuk.

Aku berdiri
memandang jauh lurus
ada empat jalan
bahwa cinta tak tertapak jaraknya.

Dan anak-anak membawa kencringan
serupa kasih
yang ia bawa pulang
sebelum adiknya menangis
sebelum isya menjatuhkan air mata.

2012



Gerimis Di Tubuhku


Lambat membawa kesejukan
menghanyutkan tubuhku
pada genangan hujan bulan september di timur
disusunlah semua kepingan yang mencabuti semua waktu
lorong-lorong sempit, lalu berkedip dalam debu
bertaruh semua
tenaga, air mata
menjadi sungai di tengah bulu kuduk ku
untuk memandikan bayi tahun ini.

Di pohon-pohon kenanga
pasir di tengah takdir
pulau-pulau bernama baru
mungkin terlalu cepat kita terlahir
seperti hidup dalam pongah-pongah semacam liar
yang berdesir.

Tapi, tak juga kita menghangus
dibakar api hati
tergolak di subur mata air
yang kita injak sebagai cuaca basah
sampai jejak menjadi perdu
hutan
angin
air, semua disetubuhi waktu.

2012


* Dua puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 28 oktober 2012

Irham Kusuma (17thn), lahir di Bandung. Banyak bekerja untuk menulis dan melukis. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan buku antologi puisi bersama. Saat ini masih berstatus sebagai Pelajar.
Readmore

Sajak Muhammad Rain


Kukirim Karam Laut Kuhidang

Oleh: Muhammad Rain


ombak api puisiku dari suara angin laut menari
mentari memuisi dengan perca awan putih di saat senja
menyelam ke dasar paling dalam mencipta kata
kapal layar menuju samudera
imaji pasir putih kukeruk jadi gedung
tiang-tiang tongkang menyusur kilo mil
tempat ikan-ikan kuganyang dengan jaring
kirimi jarak antara pulau dan keluasan

semburat mega mendung badai kuundang
sesiap tamu oleng kompas terhempas
luka tak kukenal tenang hanya bikin mati rasa
laju hidupku sumpal segala rayu angin mati
sebab dunia bukan penjara bukan suara sekedar
perahu nyanyian perahan kesepian di tepi pantai hidup
rela demi rela tanah basah darah tersirap
wangi kuhidang kehidupan bagi sanak sebangsa
sebab dalam dunia kata-kata
nyawa pun merdeka dari sekedar makna pengukungnya
kukirim karam laut kuhidang
membakar api sia-sia jaman kudera
lantang meneriakkan merdeka!

Banda Aceh 16 November 2012

Muhammad Rain, Penulis Puisi sekaligus Dosen dari Aceh, Ia Merupakan Satu dari Sekian Orang Muda yang Mencintai Sastra Sekaligus Mempelajari Sastra dengan Serius Lewat Pendidikan Formal Maupun Nonformal.
Readmore

Sajak Gunawan Suryana


Seperti Pak Dirman


Seperti apapun dirinya, batu
Taktergoyahkan
Masa depan larut dengan bumbu perjalanan
Dibasuh pesan langit senyum sejuk itu
Yang jatuh seperti titik hujan  menyentuh bumi

Dan meski di atas tandu
Layaknya pesakitan, semangatnya
Seperti apapun dirinya, batu
Taktergoyahkan

Semula itulah yang sama, kukira
Pada dada mereka yang tersemat
Perunggu emas perak yang mengangkat
Bukan otot-otot lelah yang tetap tegar
Bersemangat mengantar langkahmu
Menuju menang secara ksatria

Tapi tiada,
Cukup syair-syair hari ini
memperingatinya
Takmemukul mati melumat habis
Tegasnya hanya angin lewat

Pak, ajari aku kokang senjata
Supaya kata-kata jadi peluru
Bisikan aku cara buat molotov
Maka mahir berteriak lantang
Menyanyikan bait-bait napalm
Yang taksekadar menembus
Tapi melebur benci jadi kasih

Braga, 2012



Ponsel Multifungsi


Ada telepon menjadi tape recorder, jadi cerita pada sebuah pertemuan, keindahan sebuah perjalanan

Ada cerita dari seseorang dan persahabatan

Dituliskannya dengan rasa sakit dan ia takpedulikan

Pencariannya tentang kusam baju tapi sesuatu yang searti dengan ketulusan
tanpa tanya

Untuk sebuah ingatan
Delapan kepenatan

Cijagra, 2012



Kelomang
: K. Ibrahim


terkapar di musim sunyi
di mana, kemana untuk berirama
berjalan di kesunyian
dan seumpama kelomang itu
jadilah kenyataannya seperti terlihat kini
mungkin takpunya misi
selayak kapak yang digenggam sang nabi
salahkan siapa yang sedang mencari
salahkan masa lalu dan cara berteman
apa yang harus dibayar?
akan seperti apa selanjutnya terserah
coretan itu sekadar kecantikan yang bisu

Cipagalo, 2012



Pada Sebuah Pameran


Pada Sebuah Pameran
Miskin sebuah nama
Dan mencuat angkuh selurus langkah badak

Aku hanya bisa menjadi lensa
Di balik muramnya pencarian
Yang tidak menginginkan tujuh orang itu
Berjuang sia-sia selurus langkah selurus jiwa
Untuk sebuah kehendak merdeka
Di gedung yang sama
Mungkin tidak sama, tapi di mana’kah kita?
Kita tidak dalam sebuah vakansi

Katanya kita bersama-sama
Ternyata tidak, kita sedang terpecah belah

Diponegoro, 2012


 
Pada Sebuah Pelaminan


Yang enggan menunggu lama, sebuah celah
Seperti yang diingatkan, selalu diingatkan
Bahwa menuju ke sana tidaklah semudah itu
Sekali lagi, sedang menjadi lensa
Menarik kesunyian-kesunyian
Menjadi cerita di pagi yang mulai tiba terik
Jangan diganggu

Arcamanik, 2012


 
Ditahan Tahan


Heuyeuh wae jiga kieu, ungal-ungal
Keur pideukeuteun ka ujungna
Sok hayang
Mangkaning keur nikmat-nikmatna
Lalajo

Braga, 2012


 
Bisakah kau meyakinkan aku?
:Tri Utami
Kau pernah bilang, aku akan kecewa
Kita berbatasan untuk suatu yang hujan
Aku rasa jika diyakinkan, aku bisa, aku mau
Menjadikan hutan dan hamparan rerumput
Makna yang kau baca dari suka-suka sikapku
Padamu. Dengan nakal dan malu-malu
Tapi bisakah kau meyakinkan aku?

Meragu telah menjadi bagian keseharian
Rutinitas tubuhku saat memandangi indah
Biru lautan, terjal perbukitan
Bisakah kau meyakinkan aku?
Aku ingin pelukan
Dan harum bau tubuhmu
Supaya aku merasa damai
Dalam kesunyian bersamamu

Progo-Merdeka-Kordon, 2012


 
Braga, Rabu yang Lainnya


Biru dari sebuah tanya dan perangai
Lidah kelu untuk sebuah keinginan
Menorehkan huruf-huruf yang mengerti
Bahwa manusia perlu untuk keintimannya
Memeluk satu pesan yang sama
Bahwa manusia itu sendirian


Cibeureum, 2012


 
Komedi Isi Kantor


Perangai, menuliskan sajak tentang sisi,
Isi, lagi potret jalan pintas dan berliku
Sepanjang bisa kau lihat, jika kau perduli
Rambut terurai, pecah ombak
Batu karang masih menyanyikan kelu
Perjalanan dalam khusuk kerja tanpa pena
Bukan pula sangkur prajurit dan cangkul tani
Sepeda motor, flashdisk dan senyum
Senjata pamungkas relaksasi hati: ikhlas
Mungkin bukan sajak, sebuah prosa
Atau hanya cerita biasa, bukan picisan
Hanya cerita biasa
Perjalanan dalam khusuk
kerja tanpa pena

Viaduct, 2012


Jenazah


Masih terlelap?
Mari segerakan bersujud
Sebelum kau disegerakan

Cibangkong, 2012




Gunawan Suryana, lahir 23 Mei 1978
Alamat   : Komp. Sapta Taruna PU Blok C 199 Bandung  40287
Telepon  : 022-7530436
No 087821605002/ 087825820280

Tempat Bergiat :
1. Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat
2. Asian African Reading Club
3. Forum Lingkar Pena Bandung
4. Majelis Sastra Bandung
5. STIA LAN BANDUNG
Readmore

Sajak Anggara


Biang - Biang



Hampir mati rasanya
Berlari, berjalan, sampai akhirnya merangkak
Kini aku terbujur kaku
Tak ada yang peduli

Kenapa kau tetap menyalahkanku?
Apa sebenarnya maumu?

Kau menempatkanku dalam nista
Hingga mereka berkata, akulah biangnya



***



Entah


Memahamimu,
Tak akan pernah cukup waktuku
Kau datang,kemudian pergi
Kau datang lagi, kemudian hilang diantara gelap

Pelangi itu berubah menjadi gumpalan awan hitam

Hempaskan tawa
Kutatap jauh kesana
Langit itu tak seindah dulu

Kau tetap berlalu
Maaf, kali ini aku tak berharap kau datang kembali
Karena rasa untukmu telah kuhempaskan jauh

Sekarang kita biarkan
Kau dengan jalanmu
Aku dengan jalanku

***
Readmore

Sajak Zulkarnain


“Dua Pilihan”


Di penghujung malam
Dengan hembusan khas yang tanpa aku duga
 Angin sempat memberikan dua hal yang harus aku pilih
“Terima kasih atau maafkan aku”

Sebuah pertanyaan dengan dua pilihan
Telah mengalahkan sebagian waktu untuk berfikir

Dalam perjalanan menentukan jawaban
Aku berkeinginan agar tidak ada pilihan
Tapi, kenyataanlah yang mengharuskan aku untuk memilih

Aku bukanlah orang yang tidak pandai berterima kasih,
Aku bukanlah orang yang gampang melupakan kebaikan-kebaikan,
Semua hal yang diberikan kepadaku, aku terima dengan senyum dan tidak melepaskan sebuah ucapan “terima kasih”
Selama ini, aku belajar untuk menghargai pemberian-pemberian dengan kata-kata terima kasih

Belum kujuwab dengan menentukan sebuah pilihan
Di penghujung malam yang lain
Angin menanyakan lagi satu hal yang sangat penting tentang sebuah status,
 “apakah kamu telah kembali kepadanya?”

Seperti berada di tengah-tengah stepa
Aku melihat betapa angin bertiup sangat cepat
Dan menerbangkan semua yang bisa ia terbangkan
Ke dalam jurang waktu yang sangat gelap
Angin yang tiba-tiba mengundang awan pekat mengandung hujan, tanpa ada yang bisa menghalanginya
Saat jawaban yang ku lontarkan “Iya, aku telah kembali”

Semua terjadi dengan sendirinya
Dan berlahan-lahan, terhendus hembus aroma kebencian yang sangat menyengat
Dan Waktu seolah berhenti

Dari ruang yang tak terukur dalam hatiku
Aku ucapkan “maafkan aku”



Zulkarnain, MI & MTS ALIYAH di AMBON, belum sampai Naik kelas 2 ALIYAH, Pindah Ke Tasik. Alamat Di tasik, Kp. Panembong, Desa Manggung Jaya, kec Rajapolah, Kab Tasikmalaya

Readmore

Tuhan Telah Pensiun

Oleh: Shafwan Nizar


Dahulu, kabarnya tuhan pernah dibunuh, tapi tak mati
tuhan hanya dipensiunkan lalu manusia bersayembara

berebut mencatat dosa sesamanya menjadi pemutus, hakim pemberi hukuman
Surga atau neraka bergantung pada seutas titah bernama kuasa

inikah perayaan


Pekanbaru, 11 Mei 2010

***


Kotaku dan Suara-Suara


kami tak lagi mampu turun kejalan
Hanya disini, menggeram bahasa hingga bisa berkepal keris
segera runtuhlah hasrat buas itu
agar dinding tak lagi bertelinga
dan lambai lidah
tak lagi menjadi api bagi picing mata yang terus
menerus membelenggu kebenaran.


INI rupa kecil kesadaran itu
yang tak sudi kemerdekaannya direnggut manut
oleh manis ujung telunjuk
oleh pedaya kesenangan semu
oleh ulah para lukah.


tunggu kami tumpahkan pekik
Karena kami jemu, berjinak-jinak dengan KEBODOHAN.



Bagansiapiapi 02102010



Shafwan Nizar, Lahir di Bagansiapiapi Tanggal 31 Agustus 1979, Pekerjaan PNS, Alamat di Pekanbaru Jl. Cemara Kipas II 79
Readmore

Topeng

 Oleh: Rifqil 'Asyiq


Baginda Topeng sudah lama terlahir di dunia

Paduka Topeng sudah tua menari di nestapa

Nyai Topeng sudah sepuh bersinar di Belia

Raja Topeng bak puisi berulang irama

Topeng,

Topeng ini

Topeng itu.

Topeng Merah seharga satu bangku SMA

Topeng kuning seharga Lapindo yang menganga

Topeng biru mulai bersimpuh darah

Topeng Hijau sudah jarang megah, bahkan pecah.

disini topeng, disana topeng.

amuk-amuknya memaksa mem*m*k, memimik dan memomok.

mendengusi topeng yang kian krempeng.

jujur ajur

tak jujur tersungkur.

kadang mengalah untuk kalah

kadang melawan musuh jengah.

dan,

Topeng sudah menjadi wajahnya.

wajah-wajah para hati srigala

bahkan hatinya pun adalah topeng.

Topeng, kini . .

menutup mimik

menutup momok.



Cirebon, 11.25_26.11.2011


Rifqil 'Asyiq, Santri sebuah pesantren di Cirebon
Readmore

Aku Ingin Bulan Itu Purnama

Oleh: Yara


Aku ingin bulan itu kembali purnama,
karena sinarnya yang penuh akan membawaku
pada cinta yang utuh.

Bintang itu bukan telah menyilaukan mataku,
tapi juga telah menusuk jantungku.

Purnama itu akan kembali menyejukan mataku dan
mengobati luka di jantungku


2012

Yara, Ibu Rumah Tangga
Readmore

Puisi Tanpa Judul

 Oleh: Dwi Larasati


Tujuh belas ribu lebih banyaknya

Membentang

Kecil, sedang, dan membesar

Menghijau, menguning, menghitam

Terhampar dari sebuah kilatan biru di atas sana

Disebuah negeri sejuta impian

Impian-impian indah anak tercinta

Tentang negeri indah yang kaya

Tentang negeri yang damai tanpa perselesihan antar kaumnya

Tentang persatuan ribuan perbedaan

Dibumi yang terbentang panjang

Di tenggara asia

Di zamrud khatulistiwa

Sebuah perdamaian dirindukan

Sebuah ketenangan dibutuhkan

Sebuah kejujuran gentar dipertanyakan

Tapi sebuah persatuan akan selalu dinomorsatukan

Diatas segalanya

Seperti namanya INDONESIA





 2012


Dwi Larasati: 17 years old, SMAN 3 Malang, beginer
Readmore

Bunga

Oleh: Putu Gede Pradipta
 
Mahkotanya bermekaran bahasa
Bakal buahnya kepangkal surga
Bila musim ini mengetuk hatinya
Satu-persatu anak tergelincir lahir

***

Daun

Sepatutnya ia bukanlah pengeja sajak
Sekedar pengulum cahaya dan embun
Yang tiap kali terbentur di suatu pagi
Sebelum lepas ke badan-badan udara

***

Batang

Kokoh serupa menantang apa saja
Sederas candu alirkan air di dalam
Tempat jiwa terperam paling aman
Dan ragam kata tumbuh memuncak

***

Biji

Pelukan kami di celah rahim
Tak segera menjadikan awal
Biarlah kurenungkan isi jiwa
Agar tercapai bentuk mantra


I Putu Gede Pradipta lahir 18 Desember 1988 dan menetap di Denpasar. Ebook puisinya berjudul Sekumpulan Puisi I Gede Putu Pradipta (Evolitera, 2010)
Readmore

Pada Sebuah Kamar

Oleh: Putu Gede Pradipta

Telah berjam-jam
waktu mengurung

Tubuh maha kecilku
kian sungguh terhukum

Terdiam kaku
sekelam palung

***


Bunga Kamboja 

Oleh: Putu Gede Pradipta

Tumbanglah aku
yang pasti mati ini

Sebelum pagi turun
merebah bentuk nyeri

Menggusuri sabda
cahaya panas matahari

***


Requiem Sebuah Puisi 

Oleh: Putu Gede Pradipta

Teruntuk kamu
sang pemilik puisi

Kembalilah kata
kedalam rahim ibu

Agar semua tahu
sebabnya terlahirkan

***


Yang Sepi Yang Hilang 

Oleh: Putu Gede Pradipta

Melaju dan menjauh
menuju tikungan jalan
untuk kemudian hilang

Langkah-langkah kaki
panjang pun yang pendek
mengukur segenap arah

Sebelum datang sepi
menitis larik puisi
tanpa sekerat bunyi

***

Putu Gede Pradipta menetap di Denpasar, karya puisinya tersebar di media online dan lolos kurasi TSI 4.
Readmore

Malam Selepas Hujan

Oleh: Putu Gede Pradipta

tak ada yg lebih tepi
ketimbang sebuah malam
selepas hujan
meratap seorang diri

laju kendaraan lenyap
dan jalan menggigil
bulan diselimuti mendung
angin menghembus pelan

terasa
resahku meninggi

2011


Setangkup Malam

Oleh: Putu Gede Pradipta

setangkup malam
terus menggelepar
lihai menjalar
mengincar wajah bulan

2011


Rembulan di Matamu

Oleh: Putu Gede Pradipta

masih erat kusimpan
begitu dengan ikhlasnya
sebuah kisah tentang
sepasang matamu itu

rembulan terbiasa
terbit disana

2011


Pagi Meretak

Oleh: Putu Gede Pradipta

pagi meretak
ribuan cahaya tanggal
masuk ke mulut daun

2011

***

Putu Gede Pradipta, menetap di Denpasar, karya puisinya tersebar di media online dan lolos kurasi TSI 4
Readmore

Ironi Hari

Oleh: Nur Roso

Mentari menampakan diri,
dan gelap pun menguap,
perlahan,
bersama embun terhirup mentari dalam sekejap,

tertinggal bulir-bulir mutiara bening di pucuk pucuk dedaunan yang menari-nari,
dibelai semilir angin pagi,
menyejukan hati,

alunan kicau burung yang merdu,
ayam jantan berkokok gagah, menggugah,,
bangunlah !
dari mimpi yang membuai mata terlalu mesra,
hingga terlupa,
membuka jendela hati
menghadap kehadirat ilahi..

pada kenyataan yang tak secerah mentari pagi
tentang mimpi di malam penuh melodi sepi,
tak slalu memberi arti tentang hari ini

***

Nur Roso Lahir di Banyumas, 5 Februari 1991 Pendidikan SMK
Readmore
Next Next




 

Copyright @ 2011 By. KSC