Tampilkan postingan dengan label kreatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kreatif. Tampilkan semua postingan
Sajak Arya Mahessa Pratama
KETIKA
Ketika sedih hanya hujan temanku
Ketika bahagia hanya matahari temanku,
Ketika bosan hanya pelangi temanku.
Ketika rindu hanya angin temanku.
Ketika kamu yang mengalami semuanya
ku akan menjadi hujan, matahari, angin dan pelangi
Agar kamu tak kesepian
KETULUSAN CINTA
Aku tahu aku hanya sebuah manusia biasa.
Aku hanya manusia yang hanya mampu mencintaimu apa adanya.
Beginilah diriku Yang mencintaimu tulus dari hati.
Beginilah diriku yang menyayangimu selalu.
Mungkin banyak pria diluar sana yang lebih dari aku.
Baik itu lebih harta ataupun lebih fisik.
Namun aku tak gentar mencintaimu layaknya romeo mencintai juliet.
Dan aku akan terus menjagamu layaknya seorang prajurit kepada rajanya.
Meskipun aku harus terluka dan tersakiti.
Hati ini telah siap seperti sebuah baja.
Karena cinta yang tulus tak mengharapkan sebuah imbalan
ataupun belas kasih.
Yang aku harapkan hanya sebuah senyuman dan takkan ada setetes
pun airmata
yang jatuh ke pipimu.
Karena disitulah rasa luka dan sakit yang mungkin baja pun
takkan mampu menahannya.
Dan disitulah penyesalan dalam hidupku jika aku melihat satu
tetes airmatamu.
Airmatamu ibarat sebuah peluru yg berkali kali menembak ke arah hatiku
Dan senyummu lah ibarat pelindung dari peluru peluru yg menembak ke hatiku.
Karena senyummu lah yang membangkitkan sejuta bunga ditaman.
Karena senyummu lah yang memunculkan sebuah pelangi yang membuat indah
taman itu.
Karena senyummu mampu membuat sejuta keindahan.
Karena kamu begitu indah dan baik.
Aku memang takut kehilanganmu.
tetapi aku lebih takut tak bisa melihatmu lagi apalagi tak bisa
melihat senyummu.
Meskipun aku tak memilikimu tetapi aku masih bisa memiliki
cintamu, cinta untukmu.
Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ku juga.
ingat janjiku selalu kan tetap mencintaimu.
Sampai terompet sangkala berbunyi dan memisahkan kita
Arya Mahessa Pratama adalah Mahasiswa Gunadarma yang sedang bergairah menulis puisi
Label:
blog sastra,
karya,
karya sastra,
karya tulis,
kreatif,
naskah,
penulis,
penyair,
puisi,
sastra,
seniman,
tulisan
Sajak Saiful Anam Assyaibani
PEREMPUAN TUA DAN NASI BORAN
di pinggir malam di bawah tiang-tiang lampu trotoar
perempuan tua dan nasi boran berjejar menunggu
bayangan tubuhnya sendiri
di simpang lima jalanan yang menikung
dalam sepincuk nasi yang menggelinding
dihempas angin dan tetes waktu
selembar sapu tangan menyesap basah
keringat dan sisa percakapan embun
yang berayun di rimbun pohonan
lantas pagi seperti senja
hanya dingin dan kelam
dalam diam
seperti raut wajahmu
seperti kampungku
yang hujan
memintal debu
mengentalkan
malam
di tubuhmu
yang rapuh
tapi rindu
seperti berbisik
tentang batas dan ujung
perjalanan
karena sisa usia
terlalu berat menahan
panggul-panggul
mimpi di pundakmu
dari dan ke pangkuan
lelap.
Lamongan, 2013
RAHASIA ASIN TUBUHMU
kau mengingatkanku pada alkitab
saat tuhan menghentikan matahari
dan bulan dan membaginya
dalam ke dua matamu
kau mengingatkanku pada maria
ketika isa lahir di kandang domba
sementara kau mengandung seekor domba
dalam rahimmu tanpa gereja
tanpa seorang bapa
karena itulah sebabnya aku mencintaimu
seperti nuh mencintai perahunya
dan aku melayari tubuhmu
seperti khidir melayari lautan
dan menyimpan rahasia asin tubuhmu
menjadi tawar
maka izinkan aku merobek bajumu
memungut seekor domba dari rahimmu
dan kelak akan aku ajarkan kepadanya
tabir mimpi yang manusia tak sanggup
menafsirkannya
karena aku mengingatmu
seperti aku mengingat kesucian
maka ingatlah cintaku padamu
seprti cintanya adam dan hawa
muhammad dan khadijah
dan cinta ali kepada fatimah
karena aku mencintaimu
seperti zulaikha mencintai
yusuf.
Lamongan, 2013
NUBUAT
sebelum aku menjadi abu
aku adalah amsal
kidung agung gereja
kemudian menjelma gema
dari sebuah lonceng
dari sebuah menara
di sini, tuhan disalibkan
dalam bayang-bayang
dari sisa senyala lilin
di malam yang kudus
sebelum aku menjadi abu
aku adalah bilik pengakuan
penyucian dosa
dalam sujud dalam tafakur
yang luka
maka menyayilah
seperti kembala di malam natal
saat menggiring domba-domba
di penghujung desember
yang mencatatkan jejak
kelahiran yang disucikan
waktu.
Lamongan, 25-12-2012
PERJALANAN DI ATAS BUKIT
aku mungkin ada di sana
di atas bukit
ketika matahari
berhenti
di atas kepalamu
sebuah perjalanan
terpaksa menjadi
rahasia kudus
tentang sebongkah kayu
yang menyeret ingatan
pada jejak-jejak
tanpa warna
di antara kelopak
bunga berduri
sementara langit senja
perlahan menyusut
mengemas keabadian
dalam riuh ramai
kesunyatan
ini perjamuan terakhir
mengulas sajak-sajak pertaubatan
dari tubuhmu yang telanjang
dan aku memasuki rumahmu
sebagai jasad yang lelah
dalam jiwa dahaga
paling purba
di bukit itu
ketika waktu terhenti
kesunyian hanyalah
bayang-bayang
dari jarak ketiadaan
yang terus mengejar
dirimu dari diriku
yang kosong
sementara
kematian hanyalah kesementaaraan
yang menuntun ke jalan pulang
sebuah kiblat
dan gerimis menghapus dahaga sajak-sajakku
menuntaskan takdirnya yang luka
saat aku berdiri di atas bukit
menyaksikan diriku sendiri
disalibkan dalam doa
air mata yang sekarat
dalam tubuhmu yang jasad
seperti seekor domba
yang kelak koyak
dikorbankan
aku akan pulang ke kampung halamanmu
dari perjalanan di atas bukit
dari tempatmu
yang tinggi.
Lamongan, 09 -05-2013
Cerita Pendek Tentang Membaca Cakrawala
Pada Suatu Adegan Pementasan Teater
fragmen /1/
“siapa merobek buku bersampul bulan
purnama berwarna ungu” seru sebuah kata
dari balik huruf yang belum selesai ditenun
menjadi pintalan larik-larik puisi
mata pena seperti menyimpan tetes
gurat airmata yang hitam
hanya ia enggan menggoreskan jerit luka
ketika bayang-bayang perjalanan
pada sebuah rak buku yang tergeletak
kumal dalam setumpuk debu
“cakrawala akan sulit dituliskan” bisik
sunyi dalam hati.
fragmen /2/
MASIH SAJA AKU PANDANGI BUKU
YANG BERSERAK DI MEJA BELAJAR
SAMBIL MENERAWANG
MENATAP HAMPA MASA DEPAN
YANG SEMAKIN GEMETAR
MESKI KUTEMUKAN SAMAR CINTA
YANG TERSEMBUNYI
DI BALIK ARAH MATAAIR
“kemana timba akan menggali
sumur” tiba-tiba dadaku bergemuruh
seperti ombak, tapi aku
seperti terkubur sendiri
di bawah timbunan sekian buku
yang tak sanggup ku baca
kata demi katanya
meski agama
sejarah
teknologi
eksakta
filsafat
bahasa
dan sastra
senantiasa membuka
dirinya yang menyala.
fragmen /3/
sementara di sudut cakrawala
aku membaca ratap tangis:
“tak adakah sutradara yang datang
dan berbaik hati mengubah adegan ini
menjadi sekedar dongeng saja”
di akhir kisah
aku hanya sanggup menutup
lembaran cerita yang telah kurobek sendiri
aku tahu naskah lakon ini adalah
pementasan teater dari kurikulum
yang belum jadi;
seperti sebuah puisi
ini.
Jakarta, 27 Maret 2013
DI PERSIMPANGAN PUISI
membaca puisi dalam diri
di dalam diri
angin-angin menusuk telinga
adalah persimpangan
yang meneriaki perhentian
batu-batu mengutukku menjadi beku
seperti ruh dengan segala sadap
segala sunyi yang lapar
sepanjang sungai
setelah peristiwa itu
sungai-sungai menulis wajahku
melepasku dalam puisi
seperti kelebat seekor burung
menawarkan beribu rindu
melintas hening persimpangan
adalah perjalanan meretas jarak
pada kesederhanaan kata-kata
dan tak sanggup menyeka air
mata pada detak hati
kepada kemurnian matahari
kutengadah sebongkah jiwa
seumpama ular yang mendesis
menyelinap dalam syurga
dan menawar sebutir apel
dalam rahasia
keabadian
dalam nafas syahadat
yang tak lagi setia.
Lamongan, 2014
Saiful Anam Assyaibani Lahir di Lamongan 12 Maret 1983. Aktivitas keseniannya berada dalam Teater Roda, Kostela dan La Rose. Karya-karyanya terpublikasikan di berbagai media pusat dan daerah, seperti; Indupati, Jawa Pos, Kompas, Tempo, Republika, Bali Pos, Surya, Mimbar, Surabaya Pos, Horison, Kidung, Kalam, Sagang, Bongang, Sidogiri, Buletin Pawon, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Haluan dll.
Beberapa karyanya juga terdokumentasi secara komunal tak kurang dari 25 Antologi. Bukunya yang telah terbit adalah Syahadat Sukma, Tamasya Langit, The Lamongan Soul, dan buku pengayaan The Art of Theater.
Sekarang tinggal di Jl. Diponegoro No. 20 Simo Sungelebak 16/V Karanggeneng (62254) Lamongan.
Sajak Dewi Nurjannah
Tersenyumlah
Tersenyumlah walau sedih
Berdirilah walau rapuh
Majulah walau sendu
melangkahlah walau pilu
Tertawalah walau menangis
Semangatlah walau meringis
Kuatkan hati meski retak
Tabahkan hati meski terdepak
Menangislah untuk bahagia
Teriaklah agar lega
Diam untuk redam amarah
Percaya untuk menerima amanah
Gapai mimpi untuk kenyataan
Raihlah cinta dalam keabadian
Rengkuhlah bintang pada rembulan
Raihlah semua kebahagiaan
Wujudkan mimpi ilahi
Mencapai ridha ilahi
Meraih mimpi sejati
Tetaplah bermimpi
Dewi Nurjannah Lahir di Pati bulan Juni1997 Pelajar SMK Annajah Kayen Pati
Label:
blog sastra,
karya,
karya sastra,
karya tulis,
kreatif,
kumpulan,
naskah,
penulis,
penyair,
puisi,
sajak,
sastra,
tulisan
Sajak Lidya Rachmawati
Mantan Terindah
Oleh: Lidya Rachmawati
Dia yang masih terindah, dia yang masih terbaik
dia yang masih aku banggakan
Aku masih dapat melihat dia,
aku masih dapat mendengar suara dia
dan mungkin aku masih dapat dekat dengan dia
Namun inilah kenyataannya
kenyataan yang harus dapat aku terima
kenyataan yang tidak bisa aku pungkiri
Aku melihat dia disebrang sana bersamanya
dia tertawa, dia tersenyum terhadapnya
dia begitu bahagia kala bersama dengannya
Dia tau ada aku didekatnya
dia memberikan senyuman terhadap diriku seakan
dia mengisyaratkan telah bahagia bersamanya
dan seakan melupakanku
Benar hati ini sakit
sakit melihat dia bersamanya
namun aku harus dapat tegar
Tegar hidup tanpa dia dan
tegar hanya bisa hidup dengan bayang-bayang semu dia
Lidya Rachmawati Lahir 07 november 1994 Tengah belajar di perguruan tinggi swasta di jakarta jurusan Bahasa dan sastra Indonesia.
Twitter: @Lidyaarw
Label:
blog sastra,
cinta,
karya sastra,
karya tulis,
kreatif,
kumpulan,
penulis,
penyair,
puisi,
sajak,
sastra,
seniman,
tulisan
Sajak Rifqiel 'Asyiq
Surat Untuk Langit
dalam sebuah temaram lilin yang hampir sirna
melirih nafas, hati hati sekali. lalu membuangnya lewat jendela
memeluk selimut embun
sambil menyibak ranting, berdetak desing
sekian juta detik ku menahan rindu pada alam pagi
nyatanya ini bukan rindu, hanya beku. Kelu
Ahh; tidak!!
kulayanglayangkan sebongkah tengadah
menmbus kristal megah nan mewah
mencumbui langit malam
ini malam ke berapa? . .
aku sentuh pelupuk lubukmu
untuk satu jibaku.
Cirebon, Februari 2013.
Label:
blog sastra,
buku,
cinta,
cipasung,
karya sastra,
karya tulis,
Komunitas Azan,
kreatif,
kumpulan,
lomba,
naskah,
penulis,
penyair,
puisi,
sajak,
sastra,
seniman,
tulisan
Puisi Rifqil 'Asyiq
Izinkan Aku Panggilimu Dinda
izinkan aku panggilimu dinda, sayang, perempuan 'belah dagu'. bagiku kau adalah seutuh cantik nan anggun raga pada sudut elok bumi dengan serimpit hati putih. bukan, bukan bidadari. namun begitu aku melihatmu, mengingatkanku pada suatu hari ketika;
"pernah kau memintaku menyanyikan lagu pada malam haru
dan ku memilih melantunkan puisi pada hujan senja
aku tabu gemericiknya dengan haru
dan kau pun mengikuti dengan lugu
kau menari di atas panggung
dan ku kembali menulis puisi di atas punggung. ahh . .
bukan hanya terkadang, kita seserasi itu".
sesederhana itu saja, tetap indah ya sayang, semoga kau ingat.
tentang cerita lain;
bukankah kita memang senantiasa bercinta dengan alam?
mari sayang, dekatkan dirimu dengan air ini. tapi jangan sampai riaknya menghanyutkanmu. aku pegangi tanganmu.
beginikah percakapan kita ketika sedang marah*?
bukankah alam pun penuh dengan suara?
mari sayang, kita isi dengan nyanyian cinta dan puisi.
mari sayang, dekatkan lagi dadamu pagi bibir hatiku. namun jangan kau bawa nodanya.
bukankah dadaku hamparan warnamu, pada pelaminan hasrat bermusim. katamu.
nyatanya, padamu jua selalu kuluapkan janji. aku menambahi.
akan ku permainkan sebuah masyghul pada jelempah-jelempah luas dadamu. agar ku penuhi rindangnya dengan seutuh ta'wilku, untukmu saja. karena aku, seperti kau pernah mengulanginya bahwa; sekalipun aku tak pernah ingat bertemu denganmu, namun setiap pertemuan sungguh sulit terlupakan logikaku.
ada aku dan munajat rapat khidmat nan hikmat, sepi dan sebaris puisi disitu. dariku.
sehingga saat kau payungi puing, mendesir habis dalam pikiranku. itu indah, maha engkau pada selayak hatimu.
kini; aku suguhkan debu secangkir, dan kau menggantikanku dengan seutuh moka. itu kesukaanku, katamu.
sayang, ini bukan tentang dahaga, namun debu yang mengajari kita tentang sebuah kecil, sekecil kita. agar kerindangan hatimu semakin semai dengan seutuhmu.
Jakarta, 14 Januari 2013
***
WANITA PANTURA (yang aku ingat)
Perkenalkan, namaku
Martini. Gadis Yatim sejak umur 5 tahun
penyanyi jalanan, langganan
kopayu.. Sahabat.. Luragung Bhineka. menelusur sepanjang
Pantura Cirebon-Jakarta.
Ibuku pagi ini mengantri di TPA Gegesik Cirebon
mengaisi sisa makanan dari yang katanya "kaya"
bahkan berangkat pagi buta, semalam telah ada pesta.
barangkali daging kambingnya masih bersisa. tak tahu mengapa..
kalau semalaman aku tak hirup aroma parfum ibu,
pagi pagi begini ibu selalu ke TPA. cantik nian ibuku dengan malamnya,
yang aku ingat, ibu selalu pulang pagi dengan air mata.
kalau ayahku;
kata neng siti ayah di bacok karena ketahuan mencuri,
kata mang sungeb ayah kawin lagi dengan PSK dari Indramayu.
Nenek bilang, tak usah aku pusingkan ini. lupakan saja ayah bengismu!
seingatku, ayah selalu pulang dengan mata merah.
ayah pun pulang dengan bau mulut yang belakangan ini aku tahu namanya Alkohol.
selalu pulang dengan marah, kemudian tidur.
tak pernah aku dengar cerita tentang kakek.
yang pasti, nenekku setiap malam menyusuri sawah mencari bekal..
untuk berjualan rumba semanggen di Pasar Tegalgubug. katany;
agar aku tak menuruni ayah, dan ibuku.
yang aku ingat, ya begitu yang aku ingat.
untuk yang terahir, izinkan aku bertanya tentang sesuatu pada kalian
Haruskah aku menangisi ini, atau terbahak dengan gelak?
Tegalgubug, 09 Februari 2012
***
SYAHDU SANG LELAKI KECIL
(sebuah peta hidup yang sayang tak di kenang)
semalam ku coba sedikit memaksa untuk kembali
hendak memasuki kehidupan masa
dikala benarbenar kosong tanpa sama' bashar dan af'idah
sayang seribu sayang, memimpikannya pun
sangat sukar
ahirnya ada sedikit cerlang untuk satu kenang
aku coba tengok kembali taman sederhana
di belakang rumah,
tempat dimana ku ramai bermain dengan alam
masa mewarna dengan sesama
aku hanya melamun tanpa jeda
masih coba ku sayu setiap lirih dendang serenade
yang ku dengar hanya gemuruh kreta dari nun kejauhan
aku dengar kesiur melakon lambai
terisak, mendayu layu
ahh.. dulu disitu tempat aku menangis dulu
karena putus tali layanganku
tersandarlah aku di bawah pohon mahoni
melamuni kupukupu yang kian beranjak dewasa
ahh.. disini dulu tempatku sebagai kuli batubata
dengan upah 200 perak untuk 100 batubata yang terangkut
ya milik mang duloh, yang sekarang buka warung kecil.
kiranya air masih berriak
lantunanmu serasa ku dengar mengiringinya
sang perawan bersikat badan dengan kembennya
dan telanjangku berkecipuk dengan lugu tanpa malu
rimbun terselingkap syahdu menyembahkan lagu
di balik hikayah tentang sebuah basah bibirmu
ahh.. hayalku melayang menyundul pilu
walaupun aku tak pernah tahu, siapa dinda itu?..
dan hinggan kini,
saatnya mungkin aku menjemput teman hidup untuk satu kisah yang lebih nyana nyata dan nyaris sempurna.
walau jawabannya masih entah,
Cirebon, 11 Agustus 2012
***
PUISI 2,7 (baca; dua baris tujuh kata)
I. OH, NADA AUROD*
Melafal nada-nada, menyatukan rasa-rasa
Aku dan Allah.
Jakarta, 150213
*Aurod : kata jamak dari Wirid
II. CERITA ALAMKU
Pelangiku sejarah, bernyanyi;
Batas-batas lautan, mencari rindu.
Blok M, 140113
III. MABUK
suluk dewa cinta, letup
di pintu aksara
Jogja, 300113
IV. GADIS
Seperti tenggakan ikan;
izinkan, hanya aku pena'wilmu
Cirebon, 100612
V. TAHAJJUD JAHIL
Goooolll, semangat membara.
sekian kali, subuh membungkam.
Jakarta, 090113.
VI. KUBURAN MIDE**
Tanah basah membisikiku, sendiri;
Kematian memberi waktu
Cirebon, 110901
**Mide; panggilan untuk Nenek di Cirebon
Rifqil 'Asyiq, Mahasiswa dan Santri di sebuah Pesantren Cirebon
Label:
blog sastra,
buku,
cinta,
karya sastra,
karya tulis,
kreatif,
kumpulan,
naskah,
penulis,
penyair,
puisi,
romantis,
sajak,
seniman,
tulisan
Puisi Irham Kusuma
Jani
Dari suara-suara
Di antara langit
Dan tongkat
Disitulah
Sajakku bergeser sesenti.
Bergeser laun di atas hibu
Dan kelubung kering
Tiada henti merantai.
Biar angin gegap lelah
Seperti ketar lumbung dada
Yang bergerak.
Sebab menenggelamkan senyap
Serupa bocah
Ingin menjadi inang
Ke arah barat.
Dari kumpulan balasamina
Atau amsal bunyi
Yang ada
Dari ketiadaan
Menuliskan lagu-lagu.
2013
Sunyaruri
Bukan sekadar merekam kisah
Tentang doaku yang menancap
Tumpah bersama tajwid
Yang saling memandangi syahadat
Atau nisbahku yang berkibar
Terbang sendiri
Menentukan jati diri
Adalah ekaprawira menari
Yang menanam zaitun
Seperti hasrat kalbun
Mengitari jabal
Supaya puisi ini tak bingung
Dengan seribu kunang-kunang
Memburu semisal ke barat
Dan iringan batang rappe bait ketiga
2012
Menggoda Penyair
Mesti dengan rahasia apalagi
Yang harus aku sembunyikan.
Ini hanya sebuah angka saja
Bukankah kamu selalu menatap
Pada segala yang aku sajikan
Di antara ruang uap kopi dan
Basah kretek di ladang dengan
Puisi yang selalu berasap.
Tentang lenskap senja
Yang kamu kembalikan lagi
Kepadaku.
Selalu saja kamu memutuskan
Untuk melukis sawah
Untuk melukis ciuman
Tanpa lazuardi yang menaungi
Tanpa bulan yang menggantung.
Tentang subuh bergetar
Di pangkuan
Dan yang membuat lubang hujan
Yang bergerak ritmik
Menuju pangkal matamu.
Di sana kamu menetaskan kata
Dengan atau tidak berbahasa.
Menghitung segala ruhiyat
Sebagian musim alpukat.
Lamat-lamat kita menyecap
Acap menggugurkan daun-daun
Kamu tentu tidak merokok bukan?
Aku bakar bulan yang menggantung
Kamu siapkan lauk-pauk
: biar kita sama-sama jatuh cinta?
2013
* Tiga puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 13 Januari 2013
Di Gede Bage
Di seberang yang tua ini
jalan masih panjang
masih kutebas kalimat-kalimat
yang meretas tumpah berserakan.
Entah mengapa,
seribu langkah yang kuyakini
dan doa-doa di malam ini
seakan menjadi mimpiku yang panjang.
Mengakar sampai ke hulu
menggenang di tumpah hujan malam
Gede Bage.
Hanya ada dua kelokan puisi
panjangnya ke Cikapundung
di punggungku
ia membungkuk.
Aku berdiri
memandang jauh lurus
ada empat jalan
bahwa cinta tak tertapak jaraknya.
Dan anak-anak membawa kencringan
serupa kasih
yang ia bawa pulang
sebelum adiknya menangis
sebelum isya menjatuhkan air mata.
2012
Gerimis Di Tubuhku
Lambat membawa kesejukan
menghanyutkan tubuhku
pada genangan hujan bulan september di timur
disusunlah semua kepingan yang mencabuti semua waktu
lorong-lorong sempit, lalu berkedip dalam debu
bertaruh semua
tenaga, air mata
menjadi sungai di tengah bulu kuduk ku
untuk memandikan bayi tahun ini.
Di pohon-pohon kenanga
pasir di tengah takdir
pulau-pulau bernama baru
mungkin terlalu cepat kita terlahir
seperti hidup dalam pongah-pongah semacam liar
yang berdesir.
Tapi, tak juga kita menghangus
dibakar api hati
tergolak di subur mata air
yang kita injak sebagai cuaca basah
sampai jejak menjadi perdu
hutan
angin
air, semua disetubuhi waktu.
2012
* Dua puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 28 oktober 2012
Irham
Kusuma (17thn), lahir di Bandung. Banyak bekerja untuk menulis dan melukis.
Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan buku antologi puisi
bersama. Saat ini masih berstatus sebagai Pelajar.
Label:
blog sastra,
buku,
karya sastra,
karya tulis,
kreatif,
kumpulan,
naskah,
penulis,
penyair,
puisi,
romantis,
sajak,
sastra,
seniman,
tulisan
Sajak Muhammad Rain
Kukirim Karam Laut Kuhidang
Oleh: Muhammad Rain
ombak api puisiku dari suara angin laut menari
mentari memuisi dengan perca awan putih di saat senja
menyelam ke dasar paling dalam mencipta kata
kapal layar menuju samudera
imaji pasir putih kukeruk jadi gedung
tiang-tiang tongkang menyusur kilo mil
tempat ikan-ikan kuganyang dengan jaring
kirimi jarak antara pulau dan keluasan
semburat mega mendung badai kuundang
sesiap tamu oleng kompas terhempas
luka tak kukenal tenang hanya bikin mati rasa
laju hidupku sumpal segala rayu angin mati
sebab dunia bukan penjara bukan suara sekedar
perahu nyanyian perahan kesepian di tepi pantai hidup
rela demi rela tanah basah darah tersirap
wangi kuhidang kehidupan bagi sanak sebangsa
sebab dalam dunia kata-kata
nyawa pun merdeka dari sekedar makna pengukungnya
kukirim karam laut kuhidang
membakar api sia-sia jaman kudera
lantang meneriakkan merdeka!
Banda Aceh 16 November 2012
Muhammad Rain, Penulis Puisi sekaligus Dosen dari Aceh, Ia Merupakan Satu dari Sekian Orang Muda yang
Mencintai Sastra Sekaligus Mempelajari Sastra dengan Serius Lewat
Pendidikan Formal Maupun Nonformal.
Label:
blog sastra,
buku,
gallery,
karya sastra,
karya tulis,
kreatif,
kumpulan,
penulis,
penyair,
puisi,
romantis,
sajak,
sastra,
tulisan
Sajak Gunawan Suryana
Seperti Pak Dirman
Seperti apapun dirinya, batu
Taktergoyahkan
Masa depan larut dengan bumbu perjalanan
Dibasuh pesan langit senyum sejuk itu
Yang jatuh seperti titik hujan menyentuh bumi
Dan meski di atas tandu
Layaknya pesakitan, semangatnya
Seperti apapun dirinya, batu
Taktergoyahkan
Semula itulah yang sama, kukira
Pada dada mereka yang tersemat
Perunggu emas perak yang mengangkat
Bukan otot-otot lelah yang tetap tegar
Bersemangat mengantar langkahmu
Menuju menang secara ksatria
Tapi tiada,
Cukup syair-syair hari ini
memperingatinya
Takmemukul mati melumat habis
Tegasnya hanya angin lewat
Pak, ajari aku kokang senjata
Supaya kata-kata jadi peluru
Bisikan aku cara buat molotov
Maka mahir berteriak lantang
Menyanyikan bait-bait napalm
Yang taksekadar menembus
Tapi melebur benci jadi kasih
Braga, 2012
Ponsel Multifungsi
Ada telepon menjadi tape recorder, jadi cerita pada sebuah pertemuan, keindahan sebuah perjalanan
Ada cerita dari seseorang dan persahabatan
Dituliskannya dengan rasa sakit dan ia takpedulikan
Pencariannya tentang kusam baju tapi sesuatu yang searti dengan ketulusan
tanpa tanya
Untuk sebuah ingatan
Delapan kepenatan
Cijagra, 2012
Kelomang
: K. Ibrahim
terkapar di musim sunyi
di mana, kemana untuk berirama
berjalan di kesunyian
dan seumpama kelomang itu
jadilah kenyataannya seperti terlihat kini
mungkin takpunya misi
selayak kapak yang digenggam sang nabi
salahkan siapa yang sedang mencari
salahkan masa lalu dan cara berteman
apa yang harus dibayar?
akan seperti apa selanjutnya terserah
coretan itu sekadar kecantikan yang bisu
Cipagalo, 2012
Pada Sebuah Pameran
Pada Sebuah Pameran
Miskin sebuah nama
Dan mencuat angkuh selurus langkah badak
Aku hanya bisa menjadi lensa
Di balik muramnya pencarian
Yang tidak menginginkan tujuh orang itu
Berjuang sia-sia selurus langkah selurus jiwa
Untuk sebuah kehendak merdeka
Di gedung yang sama
Mungkin tidak sama, tapi di mana’kah kita?
Kita tidak dalam sebuah vakansi
Katanya kita bersama-sama
Ternyata tidak, kita sedang terpecah belah
Diponegoro, 2012
Pada Sebuah Pelaminan
Yang enggan menunggu lama, sebuah celah
Seperti yang diingatkan, selalu diingatkan
Bahwa menuju ke sana tidaklah semudah itu
Sekali lagi, sedang menjadi lensa
Menarik kesunyian-kesunyian
Menjadi cerita di pagi yang mulai tiba terik
Jangan diganggu
Arcamanik, 2012
Ditahan Tahan
Heuyeuh wae jiga kieu, ungal-ungal
Keur pideukeuteun ka ujungna
Sok hayang
Mangkaning keur nikmat-nikmatna
Lalajo
Braga, 2012
Bisakah kau meyakinkan aku?
:Tri Utami
Kau pernah bilang, aku akan kecewa
Kita berbatasan untuk suatu yang hujan
Aku rasa jika diyakinkan, aku bisa, aku mau
Menjadikan hutan dan hamparan rerumput
Makna yang kau baca dari suka-suka sikapku
Padamu. Dengan nakal dan malu-malu
Tapi bisakah kau meyakinkan aku?
Meragu telah menjadi bagian keseharian
Rutinitas tubuhku saat memandangi indah
Biru lautan, terjal perbukitan
Bisakah kau meyakinkan aku?
Aku ingin pelukan
Dan harum bau tubuhmu
Supaya aku merasa damai
Dalam kesunyian bersamamu
Progo-Merdeka-Kordon, 2012
Braga, Rabu yang Lainnya
Biru dari sebuah tanya dan perangai
Lidah kelu untuk sebuah keinginan
Menorehkan huruf-huruf yang mengerti
Bahwa manusia perlu untuk keintimannya
Memeluk satu pesan yang sama
Bahwa manusia itu sendirian
Cibeureum, 2012
Komedi Isi Kantor
Perangai, menuliskan sajak tentang sisi,
Isi, lagi potret jalan pintas dan berliku
Sepanjang bisa kau lihat, jika kau perduli
Rambut terurai, pecah ombak
Batu karang masih menyanyikan kelu
Perjalanan dalam khusuk kerja tanpa pena
Bukan pula sangkur prajurit dan cangkul tani
Sepeda motor, flashdisk dan senyum
Senjata pamungkas relaksasi hati: ikhlas
Mungkin bukan sajak, sebuah prosa
Atau hanya cerita biasa, bukan picisan
Hanya cerita biasa
Perjalanan dalam khusuk
kerja tanpa pena
Viaduct, 2012
Jenazah
Masih terlelap?
Mari segerakan bersujud
Sebelum kau disegerakan
Cibangkong, 2012
Gunawan Suryana, lahir 23 Mei 1978
Alamat : Komp. Sapta Taruna PU Blok C 199 Bandung 40287
Telepon : 022-7530436
No 087821605002/ 087825820280
Tempat Bergiat :
1. Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat
2. Asian African Reading Club
3. Forum Lingkar Pena Bandung
4. Majelis Sastra Bandung
5. STIA LAN BANDUNG
Label:
blog sastra,
buku,
gallery,
karya sastra,
karya tulis,
kreatif,
lukisan,
naskah,
penyair,
puisi sarabunis mubarok,
realis,
sajak,
sastra
Sajak Anggara
Biang - Biang
Hampir mati rasanya
Berlari, berjalan, sampai akhirnya merangkak
Kini aku terbujur kaku
Tak ada yang peduli
Kenapa kau tetap menyalahkanku?
Apa sebenarnya maumu?
Kau menempatkanku dalam nista
Hingga mereka berkata, akulah biangnya
***
Entah
Memahamimu,
Tak akan pernah cukup waktuku
Kau datang,kemudian pergi
Kau datang lagi, kemudian hilang diantara gelap
Pelangi itu berubah menjadi gumpalan awan hitam
Hempaskan tawa
Kutatap jauh kesana
Langit itu tak seindah dulu
Kau tetap berlalu
Maaf, kali ini aku tak berharap kau datang kembali
Karena rasa untukmu telah kuhempaskan jauh
Sekarang kita biarkan
Kau dengan jalanmu
Aku dengan jalanku
***
Sajak Zulkarnain
“Dua Pilihan”
Di penghujung malam
Dengan hembusan khas yang tanpa aku duga
Angin sempat memberikan dua hal yang harus aku pilih
“Terima kasih atau maafkan aku”
Sebuah pertanyaan dengan dua pilihan
Telah mengalahkan sebagian waktu untuk berfikir
Dalam perjalanan menentukan jawaban
Aku berkeinginan agar tidak ada pilihan
Tapi, kenyataanlah yang mengharuskan aku untuk memilih
Aku bukanlah orang yang tidak pandai berterima kasih,
Aku bukanlah orang yang gampang melupakan kebaikan-kebaikan,
Semua hal yang diberikan kepadaku, aku terima dengan senyum dan tidak melepaskan sebuah ucapan “terima kasih”
Selama ini, aku belajar untuk menghargai pemberian-pemberian dengan kata-kata terima kasih
Belum kujuwab dengan menentukan sebuah pilihan
Di penghujung malam yang lain
Angin menanyakan lagi satu hal yang sangat penting tentang sebuah status,
“apakah kamu telah kembali kepadanya?”
Seperti berada di tengah-tengah stepa
Aku melihat betapa angin bertiup sangat cepat
Dan menerbangkan semua yang bisa ia terbangkan
Ke dalam jurang waktu yang sangat gelap
Angin yang tiba-tiba mengundang awan pekat mengandung hujan, tanpa ada yang bisa menghalanginya
Saat jawaban yang ku lontarkan “Iya, aku telah kembali”
Semua terjadi dengan sendirinya
Dan berlahan-lahan, terhendus hembus aroma kebencian yang sangat menyengat
Dan Waktu seolah berhenti
Dari ruang yang tak terukur dalam hatiku
Aku ucapkan “maafkan aku”
Zulkarnain, MI & MTS ALIYAH di AMBON, belum sampai Naik kelas 2 ALIYAH, Pindah Ke Tasik. Alamat Di tasik, Kp. Panembong, Desa Manggung Jaya, kec Rajapolah, Kab Tasikmalaya
Tuhan Telah Pensiun
Oleh: Shafwan Nizar
Dahulu, kabarnya tuhan pernah dibunuh, tapi tak mati
tuhan hanya dipensiunkan lalu manusia bersayembara
berebut mencatat dosa sesamanya menjadi pemutus, hakim pemberi hukuman
Surga atau neraka bergantung pada seutas titah bernama kuasa
inikah perayaan
Pekanbaru, 11 Mei 2010
***
Kotaku dan Suara-Suara
kami tak lagi mampu turun kejalan
Hanya disini, menggeram bahasa hingga bisa berkepal keris
segera runtuhlah hasrat buas itu
agar dinding tak lagi bertelinga
dan lambai lidah
tak lagi menjadi api bagi picing mata yang terus
menerus membelenggu kebenaran.
INI rupa kecil kesadaran itu
yang tak sudi kemerdekaannya direnggut manut
oleh manis ujung telunjuk
oleh pedaya kesenangan semu
oleh ulah para lukah.
tunggu kami tumpahkan pekik
Karena kami jemu, berjinak-jinak dengan KEBODOHAN.
Bagansiapiapi 02102010
Shafwan Nizar, Lahir di Bagansiapiapi Tanggal 31 Agustus 1979, Pekerjaan PNS, Alamat di Pekanbaru Jl. Cemara Kipas II 79
Dahulu, kabarnya tuhan pernah dibunuh, tapi tak mati
tuhan hanya dipensiunkan lalu manusia bersayembara
berebut mencatat dosa sesamanya menjadi pemutus, hakim pemberi hukuman
Surga atau neraka bergantung pada seutas titah bernama kuasa
inikah perayaan
Pekanbaru, 11 Mei 2010
***
Kotaku dan Suara-Suara
kami tak lagi mampu turun kejalan
Hanya disini, menggeram bahasa hingga bisa berkepal keris
segera runtuhlah hasrat buas itu
agar dinding tak lagi bertelinga
dan lambai lidah
tak lagi menjadi api bagi picing mata yang terus
menerus membelenggu kebenaran.
INI rupa kecil kesadaran itu
yang tak sudi kemerdekaannya direnggut manut
oleh manis ujung telunjuk
oleh pedaya kesenangan semu
oleh ulah para lukah.
tunggu kami tumpahkan pekik
Karena kami jemu, berjinak-jinak dengan KEBODOHAN.
Bagansiapiapi 02102010
Shafwan Nizar, Lahir di Bagansiapiapi Tanggal 31 Agustus 1979, Pekerjaan PNS, Alamat di Pekanbaru Jl. Cemara Kipas II 79
Label:
blog sastra,
karya sastra,
karya tulis,
kreatif,
lomba,
naskah,
penulis,
penyair,
puisi,
sajak,
sastra
Topeng
Oleh: Rifqil 'Asyiq
Baginda Topeng sudah lama terlahir di dunia
Paduka Topeng sudah tua menari di nestapa
Nyai Topeng sudah sepuh bersinar di Belia
Raja Topeng bak puisi berulang irama
Topeng,
Topeng ini
Topeng itu.
Topeng Merah seharga satu bangku SMA
Topeng kuning seharga Lapindo yang menganga
Topeng biru mulai bersimpuh darah
Topeng Hijau sudah jarang megah, bahkan pecah.
disini topeng, disana topeng.
amuk-amuknya memaksa mem*m*k, memimik dan memomok.
mendengusi topeng yang kian krempeng.
jujur ajur
tak jujur tersungkur.
kadang mengalah untuk kalah
kadang melawan musuh jengah.
dan,
Topeng sudah menjadi wajahnya.
wajah-wajah para hati srigala
bahkan hatinya pun adalah topeng.
Topeng, kini . .
menutup mimik
menutup momok.
Cirebon, 11.25_26.11.2011
Rifqil 'Asyiq, Santri sebuah pesantren di Cirebon
Baginda Topeng sudah lama terlahir di dunia
Paduka Topeng sudah tua menari di nestapa
Nyai Topeng sudah sepuh bersinar di Belia
Raja Topeng bak puisi berulang irama
Topeng,
Topeng ini
Topeng itu.
Topeng Merah seharga satu bangku SMA
Topeng kuning seharga Lapindo yang menganga
Topeng biru mulai bersimpuh darah
Topeng Hijau sudah jarang megah, bahkan pecah.
disini topeng, disana topeng.
amuk-amuknya memaksa mem*m*k, memimik dan memomok.
mendengusi topeng yang kian krempeng.
jujur ajur
tak jujur tersungkur.
kadang mengalah untuk kalah
kadang melawan musuh jengah.
dan,
Topeng sudah menjadi wajahnya.
wajah-wajah para hati srigala
bahkan hatinya pun adalah topeng.
Topeng, kini . .
menutup mimik
menutup momok.
Cirebon, 11.25_26.11.2011
Rifqil 'Asyiq, Santri sebuah pesantren di Cirebon
Aku Ingin Bulan Itu Purnama
Puisi Tanpa Judul
Oleh: Dwi Larasati
Tujuh belas ribu lebih banyaknya
Membentang
Kecil, sedang, dan membesar
Menghijau, menguning, menghitam
Terhampar dari sebuah kilatan biru di atas sana
Disebuah negeri sejuta impian
Impian-impian indah anak tercinta
Tentang negeri indah yang kaya
Tentang negeri yang damai tanpa perselesihan antar kaumnya
Tentang persatuan ribuan perbedaan
Dibumi yang terbentang panjang
Di tenggara asia
Di zamrud khatulistiwa
Sebuah perdamaian dirindukan
Sebuah ketenangan dibutuhkan
Sebuah kejujuran gentar dipertanyakan
Tapi sebuah persatuan akan selalu dinomorsatukan
Diatas segalanya
Seperti namanya INDONESIA
2012
Dwi Larasati: 17 years old, SMAN 3 Malang, beginer
Tujuh belas ribu lebih banyaknya
Membentang
Kecil, sedang, dan membesar
Menghijau, menguning, menghitam
Terhampar dari sebuah kilatan biru di atas sana
Disebuah negeri sejuta impian
Impian-impian indah anak tercinta
Tentang negeri indah yang kaya
Tentang negeri yang damai tanpa perselesihan antar kaumnya
Tentang persatuan ribuan perbedaan
Dibumi yang terbentang panjang
Di tenggara asia
Di zamrud khatulistiwa
Sebuah perdamaian dirindukan
Sebuah ketenangan dibutuhkan
Sebuah kejujuran gentar dipertanyakan
Tapi sebuah persatuan akan selalu dinomorsatukan
Diatas segalanya
Seperti namanya INDONESIA
2012
Dwi Larasati: 17 years old, SMAN 3 Malang, beginer
Bunga
Oleh: Putu Gede Pradipta
Mahkotanya bermekaran bahasa
Bakal buahnya kepangkal surga
Bila musim ini mengetuk hatinya
Satu-persatu anak tergelincir lahir
***
Daun
Sepatutnya ia bukanlah pengeja sajak
Sekedar pengulum cahaya dan embun
Yang tiap kali terbentur di suatu pagi
Sebelum lepas ke badan-badan udara
***
Batang
Kokoh serupa menantang apa saja
Sederas candu alirkan air di dalam
Tempat jiwa terperam paling aman
Dan ragam kata tumbuh memuncak
***
Biji
Pelukan kami di celah rahim
Tak segera menjadikan awal
Biarlah kurenungkan isi jiwa
Agar tercapai bentuk mantra
Mahkotanya bermekaran bahasa
Bakal buahnya kepangkal surga
Bila musim ini mengetuk hatinya
Satu-persatu anak tergelincir lahir
***
Daun
Sepatutnya ia bukanlah pengeja sajak
Sekedar pengulum cahaya dan embun
Yang tiap kali terbentur di suatu pagi
Sebelum lepas ke badan-badan udara
***
Batang
Kokoh serupa menantang apa saja
Sederas candu alirkan air di dalam
Tempat jiwa terperam paling aman
Dan ragam kata tumbuh memuncak
***
Biji
Pelukan kami di celah rahim
Tak segera menjadikan awal
Biarlah kurenungkan isi jiwa
Agar tercapai bentuk mantra
I
Putu Gede Pradipta lahir 18 Desember 1988 dan menetap di Denpasar.
Ebook puisinya berjudul Sekumpulan Puisi I Gede Putu Pradipta
(Evolitera, 2010)
Pada Sebuah Kamar
Oleh: Putu Gede Pradipta
Telah berjam-jam
waktu mengurung
Tubuh maha kecilku
kian sungguh terhukum
Terdiam kaku
sekelam palung
***
Bunga Kamboja
Oleh: Putu Gede Pradipta
Tumbanglah aku
yang pasti mati ini
Sebelum pagi turun
merebah bentuk nyeri
Menggusuri sabda
cahaya panas matahari
***
Requiem Sebuah Puisi
Oleh: Putu Gede Pradipta
Teruntuk kamu
sang pemilik puisi
Kembalilah kata
kedalam rahim ibu
Agar semua tahu
sebabnya terlahirkan
***
Yang Sepi Yang Hilang
Oleh: Putu Gede Pradipta
Melaju dan menjauh
menuju tikungan jalan
untuk kemudian hilang
Langkah-langkah kaki
panjang pun yang pendek
mengukur segenap arah
Sebelum datang sepi
menitis larik puisi
tanpa sekerat bunyi
***
Putu Gede Pradipta menetap di Denpasar, karya puisinya tersebar di media online dan lolos kurasi TSI 4.
Telah berjam-jam
waktu mengurung
Tubuh maha kecilku
kian sungguh terhukum
Terdiam kaku
sekelam palung
***
Bunga Kamboja
Oleh: Putu Gede Pradipta
Tumbanglah aku
yang pasti mati ini
Sebelum pagi turun
merebah bentuk nyeri
Menggusuri sabda
cahaya panas matahari
***
Requiem Sebuah Puisi
Oleh: Putu Gede Pradipta
Teruntuk kamu
sang pemilik puisi
Kembalilah kata
kedalam rahim ibu
Agar semua tahu
sebabnya terlahirkan
***
Yang Sepi Yang Hilang
Oleh: Putu Gede Pradipta
Melaju dan menjauh
menuju tikungan jalan
untuk kemudian hilang
Langkah-langkah kaki
panjang pun yang pendek
mengukur segenap arah
Sebelum datang sepi
menitis larik puisi
tanpa sekerat bunyi
***
Putu Gede Pradipta menetap di Denpasar, karya puisinya tersebar di media online dan lolos kurasi TSI 4.
Malam Selepas Hujan
Oleh: Putu Gede Pradipta
tak ada yg lebih tepi
ketimbang sebuah malam
selepas hujan
meratap seorang diri
laju kendaraan lenyap
dan jalan menggigil
bulan diselimuti mendung
angin menghembus pelan
terasa
resahku meninggi
2011
Setangkup Malam
Oleh: Putu Gede Pradipta
setangkup malam
terus menggelepar
lihai menjalar
mengincar wajah bulan
2011
Rembulan di Matamu
Oleh: Putu Gede Pradipta
masih erat kusimpan
begitu dengan ikhlasnya
sebuah kisah tentang
sepasang matamu itu
rembulan terbiasa
terbit disana
2011
Pagi Meretak
Oleh: Putu Gede Pradipta
pagi meretak
ribuan cahaya tanggal
masuk ke mulut daun
2011
***
Putu Gede Pradipta, menetap di Denpasar, karya puisinya tersebar di media online dan lolos kurasi TSI 4
tak ada yg lebih tepi
ketimbang sebuah malam
selepas hujan
meratap seorang diri
laju kendaraan lenyap
dan jalan menggigil
bulan diselimuti mendung
angin menghembus pelan
terasa
resahku meninggi
2011
Setangkup Malam
Oleh: Putu Gede Pradipta
setangkup malam
terus menggelepar
lihai menjalar
mengincar wajah bulan
2011
Rembulan di Matamu
Oleh: Putu Gede Pradipta
masih erat kusimpan
begitu dengan ikhlasnya
sebuah kisah tentang
sepasang matamu itu
rembulan terbiasa
terbit disana
2011
Pagi Meretak
Oleh: Putu Gede Pradipta
pagi meretak
ribuan cahaya tanggal
masuk ke mulut daun
2011
***
Putu Gede Pradipta, menetap di Denpasar, karya puisinya tersebar di media online dan lolos kurasi TSI 4
Ironi Hari
Oleh: Nur Roso
Mentari menampakan diri,
dan gelap pun menguap,
perlahan,
bersama embun terhirup mentari dalam sekejap,
tertinggal bulir-bulir mutiara bening di pucuk pucuk dedaunan yang menari-nari,
dibelai semilir angin pagi,
menyejukan hati,
alunan kicau burung yang merdu,
ayam jantan berkokok gagah, menggugah,,
bangunlah !
dari mimpi yang membuai mata terlalu mesra,
hingga terlupa,
membuka jendela hati
menghadap kehadirat ilahi..
pada kenyataan yang tak secerah mentari pagi
tentang mimpi di malam penuh melodi sepi,
tak slalu memberi arti tentang hari ini
***
Nur Roso Lahir di Banyumas, 5 Februari 1991 Pendidikan SMK
Mentari menampakan diri,
dan gelap pun menguap,
perlahan,
bersama embun terhirup mentari dalam sekejap,
tertinggal bulir-bulir mutiara bening di pucuk pucuk dedaunan yang menari-nari,
dibelai semilir angin pagi,
menyejukan hati,
alunan kicau burung yang merdu,
ayam jantan berkokok gagah, menggugah,,
bangunlah !
dari mimpi yang membuai mata terlalu mesra,
hingga terlupa,
membuka jendela hati
menghadap kehadirat ilahi..
pada kenyataan yang tak secerah mentari pagi
tentang mimpi di malam penuh melodi sepi,
tak slalu memberi arti tentang hari ini
***
Nur Roso Lahir di Banyumas, 5 Februari 1991 Pendidikan SMK
Langganan:
Postingan (Atom)










