Selamat Datang di Blog Kobong Sastra Cipasung

Tampilkan postingan dengan label karya sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya sastra. Tampilkan semua postingan

Cerpen Ayu

PEREMPUAN GILA DI UJUNG SENJA

Aku ingin pulang. Senja sudah menunggu. Aku tidak ingin membuatnya terlalu lama larut dalam penantian. Aku ingin melepasnya pergi, tapi tidak bisa membiarkan rengkuhannya lepas. Dia tahu semua tentangku. Kami sama-sama menanti di ujung hari. Bedanya, dia menanti sesuatu yang pasti. Sedangkan aku, kupikir semua orang akan menertawakanku jika mereka tahu, aku sedang menanti kemustahilan yang selalu kusemogakan. Aku ingin pulang. Duduk sendiri di balkon kamar, sambil menghitung burung perkutuk yang terbang berlarian. Atau sekadar berdiam diri di sana. Membiarkan tubuhku terbuai dalam rengkuhan kemustahilan itu. Mereka pikir aku gila. Padahal, aku hanya sedang bermain-main dengan semua kenangan itu. Tidakkah mereka bisa melihat siapa yang sedang duduk di samping kananku? Adalah dia. Kemustahilan itu. Atau hanya aku yang melihatnya? Apa aku memang gila? Entahlah. Biar kurenungkan lagi. Seharian aku dikurung dalam ruang pengap. Mengenakan baju biru tanpa motif. Berteriak pada setiap dinding yang menghalangi penglihatanku. Menangis ketika menyadari bahwa aku benar-benar kesepian.
          Ceritaku masih panjang. Perempuan berseragam putih masuk ke dalam ruangan sambil membawa sesuatu yang tajam menusuk kulitku setiap kali aku berteriak-teriak kencang. Dia menyuntikkannya di leher, kadang juga di lengan kanan, kadang juga di lengan kiri. Setelah itu semuanya terasa buram. Aku terdiam seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Perempuan itu selalu membuatku terkulai lemas. Itulah mengapa aku sangat membencinya. Kadang ketika ia lengah, kutarik rambutnya yang ikal, kadang juga kupukul punggungnya dengan tangan, atau pernah sekali ketika itu aku mencakar wajahnya dengan kuku jariku yang tidak pernah lagi dipotong hingga meninggalkan bekas. Aku mengenalinya dari bekas luka cakaran di pipi kanannya. Seperti luka cakaran kucing. Tapi itu hasil cakaranku.
          “Dasar perempuan gila!” Ia melangkah pergi setelah urusannya denganku selesai. Itu adalah kalimat yang selalu ia ucapkan ketika akan melangkah keluar. Aku bahkan menghapalnya di luar kepala.
          Semua orang menganggapku gila! Tapi aku merasa tidak benar-benar gila. Aku mengenali siapa saja yang pernah kukenal sebelumnya. Aku tidak pernah menganggap bahwa boneka adalah seorang bayi yang harus digendong. Aku tidak pernah berupaya melukai diriku sendiri dengan menggigit jari ataupun pergelangan tanganku sendiri. Aku makan dengan tangan kananku. Menangis apabila aku benar-benar merasa sedih. Aku tertawa untuk hal yang lucu, meskipun itu sangat jarang terjadi. Aku melakukan semua yang dilakukan oleh orang-orang normal. Tapi mereka menganggapku gila! Bagiku, musuh terbesarku adalah tembok ruangan yang mengurungku, perempuan berseragam putih yang selalu membuatku terkulai lemas, dan orang-orang yang membuatku berada di ruangan pengap ini. Mengingat mereka kadang membuatku sulit untuk bernapas.
          Aku ingin pulang!
***
          Aku berhasil membuatnya hidup kembali. Dia hadir ketika aku menyadari bahwa aku benar-benar kesepian. Dia hadir ketika aku memanggil namanya. Ketika perempuan berseragam putih itu keluar dari ruangan.  Ketika aku sudah terkulai lemas karena perempuan itu. Ketika tembok-tembok ruangan mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Kemustahilan itu hadir ketika aku benar-benar tidak ingin sendiri.
          “Kau ingin pulang?”
          “Iya. Aku benci tempat ini”
          “Kau ingin ikut denganku ke tempat dimana kau bisa bebas dari tembok-tembok ini?”
          “Bisakah kau membawaku pulang?”
          “Aku hanya bisa membawamu pergi”
          Dia selalu mengatakan hal yang sama setiap harinya. Kau ingin pulang? Tapi entah sudah berapa lama aku di sini. Dia masih diam di samping kananku, tidak beranjak sedikitpun. Kupikir dia ingin membawaku pergi. Terkadang kami kehilangan kata-kata. Jika sudah begitu mulutku akan terkatup, dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya terdengar siulan kecil yang memenuhi seisi ruangan. Aku tidak pernah merasakan embusan napasnya.
          “Kau ingin pergi bersamaku?” Dia mulai menemukan jejak kata yang sempat hilang tadi.
          “Ke mana?”
          “Kau harus jadi sepertiku dulu agar bisa ke sana,” tandasnya lagi. Kalau sudah begitu, mulutku kembali terkatup. Aku mungkin tidak segila itu.
          “Bukankah kau ingin pergi dari tempat ini?”
          “Aku hanya ingin pulang. Ke rumahku. Bukan ke rumahmu”
          Keesokan harinya, entah jam berapa aku tidak tahu. Perempuan berseragam putih itu masuk ke ruanganku. Kali ini tidak membawa jarum suntik, tapi makanan. Ia meletakkannya di hadapanku, kemudian setelah itu ia bergegas pergi. Kelihatan buru-buru. Hingga ia lupa mengatakan kaliamat yang selalu ia ucapkan ketika hendak keluar dari ruangan ini. ‘Dasar perempuan gila!’
          Makanan itu menganggur di hadapanku. Selera makanku sudah hilang semenjak tembok-tembok ini mengurungku. Mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar gila seperti yang selalu mereka katakan. Aku ini perempuan gila. Kalau sudah begitu, terkadang juga aku menyesali semua kejadian yang sudah berlalu. Kalau bukan karena kejadian setahun yang lalu, aku mungkin masih berada di balkon kamarku. Melihat burung perkutuk saling berkejaran, atau mengucap selamat tinggal pada senja di belakang rumah. Kenangan itu kembali berkejaran.
          “Kau di mana?”
          “Di rumah”
          “Aku ke sana”
          Setelah itu sambungan telpon terputus. Aku duduk di halaman belakang rumah. Sendiri. Hari sudah sore. Langit mulai jingga kemerah-merahan.
          “Kau di sini,” dia yang kutunggu sudah datang. Laki-laki yang tadi menelponku. Aku menunggunya mungkin sudah hampir setengah jam.
          “Ada apa?” Tanyaku. Mata coklatnya menatap tajam ke arahku. Aku mendapati sesuatu yang ganjil di balik itu.
          “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Penting,” ucapnya. Kulihat jakunnya bergerak ke bawah, kemudian ke atas.
          “Selama ini aku sudah salah karena tidak mengatakan semuanya dari awal. Harusnya aku tidak mengenalmu terlalu jauh, dan tidak membiarkanmu memelihara perasaan ini. Maafkan aku. Aku mungkin memiliki perasaan yang sama, tapi perasaanku terhadap ibuku jauh lebih besar,” ucapnya tanpa jeda. Kemudian berhenti sebentar untuk menarik napas panjang. Dia belum menyelesaikan kalimatnya. Sesuatu yang aneh mulai terasa di dadaku.
          “Dia memintaku menikahi Jessy,” lanjutnya. “Itu berarti kita sudah cukup sampai di sini.”
          Mendengar itu aku merasakan sesuatu bergejolak di dalam sini. Entah di mana tepatnya. Aku memalingkan wajahku darinya. Pikiranku langsung kacau. Entah ingin marah, menangis, atau pergi saja. Tapi belum selesai aku beragumen dengan perasaanku sendiri, kudengar suaranya yang khas. Laki-laki beraroma maskulin itu menyentuh bahuku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
          “Maafkan aku,” ucapnya, kemudian melangkah pergi. Aku melihat punggungnya menghilang di balik pintu.
          Setelah itu, dia bukan lagi milikku. Dia milik ibunya. Dan ibunya menyerahkannya kepada Jessy. Perempuan yang selalu menguntit kemana saja aku dan dia pergi. Penguntit itu akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan. David. Tapi hanya sebentar, mungkin beberapa menit saja. Setelah itu ia pergi untuk selama-lamanya. Laki-laki beraroma maskulin itu pergi setelah memberikan rasa sakit padaku. Sebuah tabrakan mobil tidak jauh dari rumahku mengubah skenario hidupku selanjutnya. Semenjak itu aku merasa tidak punya dunia. Rasanya lebih sakit dibanding ketika ia mengatakan kata pisah. Dan sekarang, giliranku untuk mengatakan kata pisah, ‘Selamat tinggal, David’
          Karena kejadian itu aku ada di sini. Ruangan pengap yang mengurungku. Tembok-tembok kokoh yang selalu mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Dan dia, laki-laki yang sedang duduk di sampingku, hanya aku yang bisa melihatnya. Dia adalah kemustahilan itu. Yang menyebabkan semua ini. Tapi bodohnya, justru aku menghadirkannya di ruangan pengap ini. Aku menghidupkannya lewat imajinasi.
          Pintu kembali terbuka. Perempuan berseragam putih itu masuk bersama dengan seorang wanita paruh baya. Aku mengenali wajahnya.
          “Kenapa dia masuh dikurung di sini?” Tanyanya kepada perempuan berseragam putih itu.
          “Karena dia terlalu bahaya jika dibiarkan bergabung dengan pasien lainnya,” jawab perempuan berseragam putih itu dengan tatapanya yang dingin mengarah kepadaku. Aku tidak terima ditatap seperti itu.
          Aku segera bangkit dari tempatku, lalu tanpa memberinya kesempatan untuk memberi perlawanan, aku langsung menjambak rambutnya. Dia berusaha melawan, tapi tenagaku jauh lebih kuat. Dia sedang tidak membawa alat suntik, jadi aku bisa selamat. Dia tidak bisa membuatku merasa lemas sekarang. Wanita baruh baya itu berusaha melerai. Aku tidak mempedulikannya. Rasa sakit hatiku yang sudah terlalu dalam padanya membuatku menjadi seperti orang gila. Menjambak rambut perempuan berseragam putih itu tanpa memberinya ampun, meskipun ia sudah menjerit-jerit kesakitan.
          “Sandra, sudah, nak! Sudah!” Perempuan paruh baya itu kembali mencoba untuk melerai.
          “Ibu tidak suka kamu seperti ini!” Lanjutnya lagi dengan intonasi suara yang tinggi. Aku tersentak, lalu perlahan-lahan melepaskan perempuan berseragam putih itu. Rambutnya terlihat berantakan sekarang.
          “Perempuan ini pantas mendapatkannya,” aku menunjuk ke arah perempuan berseragam putih dengan tatapan tajam.
          “Dia adalah penguntit itu, ibu,” lanjutku. Amarahku rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Ibu terlihat kaget.
          “Apa maksudmu?”
          “Kau perempuan penguntit yang selalu mengikuti ke mana saja aku dan David pergi. Kau yang membujuk ibunya David agar meninggalkan aku. Kau juga yang sudah menyebabkan aku ada di sini. Sebenarnya kau yang gila! Bukan aku!”
          Perempuan berseragam putih itu menatap tajam ke arahku. Aku bisa melihat amarahnya meluap-luap di balik sorot matanya. Aku bersiap-siap memberikan bekas luka di wajahnya untuk yang kedua kalinya. Tanganku sudah membentuk sarung tinju. Tapi ibu segera menahannya. Dia memegang tanganku, lalu memelukku erat. Dia menyalurkan kehangatannya.
          “David sudah meninggal, Sandra,” ucap ibu lembut di telingaku.
          “Aku tahu, ibu. Aku tidak gila!”
          Kemudian sosok laki-laki itu muncul dari balik punggung perempuan berseragam putih. Ia tersenyum ke arahku, lalu melambaikan tangan. Kemudian ia melangkah keluar dari ruangan. Setelah itu, aku melihat sosoknya tiba-tiba menghilang. Aku berhenti berimajinasi tentang dia.
          Setelah kejadian itu ibu membawaku pulang dari rumah sakit jiwa. Aku akhirnya meninggalkan ruangan pengap. Sore ini, aku duduk sendiri di halaman belakang rumah. Menatap senja yang memancarkan warna jingga di langit.  Aku akhirnya pulang!

***



Readmore

Cerpen Annisa Zahraa


PAMAYANG
Oleh: Annisa Zahraa

Banyak berita yang mengabarkannya, lewat gemerisik angin yang menjatuhkan daun-daun ketapang, atau membisikannya pada duri daun pandan yang tajam. Sore itu semua mata tertuju pada sebuah rumah-rumahan kecil yang digantungi macam-macam bunga atau makanan hasil bumi, ya benar itu dondang, jampana penuh sesaji.

Seorang pemuda dengan perawakan tinggi putih dan rapih, menggunakan kemeja lengan panjang yang ditilap sampai siku, tersenyum menatap ayahnya yang hendak berangkat. Namun sang ayah tetap acuh. Sang pemuda kira-kira berumur 24 tahun itu tak merubah rona mukanya, tetap hangat dengan barisan gigi putih yang menghiasi senyuman khas, meskipun ekspresi yang diharapkan dari raut sang ayah berbeda.

Dengan penuh pertimbangan ia memulai pembicaraan, “Aku tak mengerti mengapa ayah dari dulu hingga sekarang melakukan hal ini”, akhirnya malah kalimat itu yang keluar dari mulutnya. “Sampai kapan kau akan terus melarangku melakukan tradisi ini? Apa kau tidak bosan kotopelo (anak kecil)?” ayahnya menyudutkan. Dengan nada meyakinkan ia pun menjawab, “Aku tidak pernah bosan mengingatkan bahwa itu perbuatan musrik, bukankah mengenai usia dan rijki sudah ada yang mengatur?” ayahnya teramat geram sang anak yang ia didik sejak kecil kini jadi jerat untuk dirinya, “Apakah korban-korban yang berjatuhan belum bisa meyakinkan mu juga? Badai mengamuk dan jiwa-jiwa terenggut” sorot matanya penuh amarah. “Puluhan tahun yang lalu sebelum ayah dilahirkan ke dunia ini, tradisi ini telah ada. Mereka nenek moyang kita adalah para nelayan yang menggantungkan hidupnya dengan kemurahan laut, mereka bisa bertahan karena itu, kau pun bisa sekolah sampai ke Darut Tauhid sana karena hasil laut, tak sadarkah kau kotopelo bahwa ikan-ikan itu yang menghidupi kamu? Kamu bisa petatang-peteteng seperti sekarang ini karena siapa lagi, kalau bukan karena laut. Jadi tak pantas jika sekarang kamu melarang-larang ayahmu ini hanya untuk sekedar mengucapkan terimakasih”.

Lukman terpekur mendengar panjang lebar penjelasan sekaligus perlawanan ayahnya. “Ayah, tapi caranya yang Lukman tidak suka, berterimakasih pada laut bukan dengan cara seperti ini, mengapa daging-daging itu dilempar ke laut? Mengapa tidak diberikan saja ke tetangga kita yang kekurangan. Tapi ya sudah Lukman mau pamit dulu, maafkan Lukman ayah?”

Batinnya berkecamuk antara bimbang dan ketegasan. Ayahnya menoleh dan berlalu tanpa kata, sepertinya ia masih enggan berkata dengan anaknya. Lukman anak satu-satunya yang ia besarkan dengan keringat seolah tak bisa memahami bahwa dirinya telah tua. Ia kini tak bisa lagi menerima dalih anak muda untuk meruntuhkan sebuah adat. Apalagi kini, sejak dua tahun lalu itu masyarakat mengangkatnya jadi sesepuh. Runyam.

Tak ada yang salah dengan adat ini celotehnya dalam hati. Hajat laut hanya lah suatu proses syukuran massal yang di lakukan oleh masarakat pantai, khususnya masarakat nelayan seperti dirinya ini. Hajat laut yang di adakan setiap tahunnya di Pantai Pamayang sebagai ungkapan syukur. Syukuran hajat laut ini di adakan hampir setiap tahun, tepatnya pada bulan Muharram dan biasanya seluruh masarakat nelayan yang mengadakannya. Tiap-tiap bulan Syura dikampung pesisir pantai ini mengadakan pesta syukuran yang dinilai sebagian masyarakat sebagai upacara sakral.

Lukman pergi menjauh, budaya terkadang membuatnya dilema. Ada rasa semacam spiritual yang tak bisa ditinggalkan oleh masyarakat, telah mendarah daging dalam detik-detik babak kehidupan. Diturunkan secara pasti tanpa disadari. Ah, semuanya semu buatku. Antara kepercayaan dan kebudayaan. Lukman mendesah risau.

Waktu terus bergulir meskipun para pengisi waktu enggan menyadari bahwa ia baru melewatinya dengan kesia-siaan dan kehampaan. Ia menggulir-gulir matahari dari timur ke barat dengan renggang seolah sama. Sore sudah tiba lagi. Semuanya berjalan dengan terasa cepat, awan hitam menutupi gulungan-gulungan ombak. Kemudian ombak-ombak itu merangkul dan melumat awan-awan yang berarak hampir menyentuh garis fatamorgana.

Hujan badai deras, halilintar menyambar-nyambar. Suara guruh bersahut-sahutan seolah dua raksasa tengah bertengkat tentang kehidupan yang semu dan palsu. Masing-masing mempertahankan sebuah argument yang mereka bilang itu adalah kebenaran.

Ketika jampana itu pergi dihantam bah yang marah, semua gempar jika sang sesepuh pun tidak menampakan diri, entah mungkin diambil roh ombak yang keji, raib seperti angin kencang yang tiba-tiba berhenti dan kembali menampakan keramahannya, sikap manisnya, dipagi hari setelah malam malam sebelumnya berlarut-larut dalam timpaan siksa nestapa.

Lukman, menghela napas, perkataannya tak berbekas. Ayahnya telah pergi tanpa bisa memahami arti terimakasih yang sesungguhnya. Baru saja pintu terbuka, kini pintu itu telah tertutup. Pamayang, pesisir pantai selatan Tasikmalaya murung, ombak keruh menggulung-gulung kaki Lukman seolah memberi sambutan selamat datang dan ucapan pengaduan jika alam sudah rusak, jika ucapan terimakasih manusia tak tepat. Lukman seolah mendengar ada suara yang begitu keras, hingga kepalanya pening, “Bukan jampana dan kepala kerbau yang kami butuhkan, bukan sama sekali. Cukuplah manusia berterimakasih dengan menyimpan dan memelihara harta kami, alam kami. Alam laut dan pantai.”

Lukman memandang sekitar, ia saksikan alat-alat berat rupiah berjejer pongah, pasir-pasir putih menggunung bisu. Tuhan pasti memberi jawaban atas perilaku manusia ini. Desah Lukman berat, angin laut yang tak lagi bersahabat mengaburkannya. Ia mendesau dan membisikan sesuatu, “Menunggulah….”

Annisa Zahraa Mahasiswa UPI Tasikmalaya
Hanya seorang yang sedang menjadi orang lain, lalu berusaha menemukan dirinya kembali. Dikumpulan jerami sawah yang basah ia berteriak, angin tak pernah menyampaikan teriakannya, hanya pada tulisan ia bergema. Kini di UPI Tasikmalaya, sebagai mahasiswa yang biasa saja.
Readmore

Cerpen Annisa Zahraa


LAGU KEMATIAN
(Annisa Zahraa)


Aku tidak suka lagu, apalagi lagu kematian yang mendengung-dengung seperti ribuan tawon. Tapi kali ini otakku terganggu, lagu itu menyusup melalui indraku, mengalir bersama darah, melalui pembuluh menjalar ke batang otak menuju neuron.

Entah sejak kapan, aku memiliki ketajaman indra seperti ini. Ya! Aku ingat, mungkin sejak aku berjalan di koridor rumah sakit itu. Malam itu, benar aku masih ingat, malam Jumat, dan aku berlari sendiri di koridor rumah sakit tepat pukul sebelas. Rumah sakit, hanya salah satu dari sekian tempat umum, fasilitas umum. Aku mengira di sini tidak akan sesepi kuburan. Aktivitas kampus yang tak henti-henti yang membuatku terpaksa mengunjungi rumah tempat para pesakitan ini terbaring, dengan selarut ini.

Koridor-koridor tampak sepi dan gelap, maklum rumah sakit milik pemerintah ini tengah dibangun, sisi-sisi koridor disekat oleh seng. Seng itu digantungi sebuah tulisan dengan huruf besar-besar “Sedang ada pembangunan, maaf menganggu kenyamanan Anda”. Setiap pagi sepulang menginap di sini, aku membaca tulisan itu dengan jelas. Tentu saja tidak ada ketakutan sama sekali sebelum lagu-lagu itu mulai berdengung.
Aku tak habis pikir, tetanggaku yang sakit ini orang kaya. Mengapa memilih rumah sakit umum? Mengapa tidak ke rumah sakit swasta yang lebih berkelas? Bukankah ini rumah sakit untuk kaum miskin saja?

Bisa maklum setelah pemerintah meluncurkan program penjaminan kesehatan lewat BPJS nya, orang kaya (baru) berbondong pula ke rumah sakit ini, untuk mendapat pelayanan gratis. Jadi jika sekarang tengah dilakukan pembangunan, wajar saja! Uang yang diraup pemerintah lewat program asuransi ini dikembangkan dalam pembangunan-pembangunan. Untuk mendapat kualitas yang lebih baik, memang rumah sakit milik orang miskin ini perlu dibangun agar tolietnya yang lebih busuk dari mulut naga bisa sewangi taman bunga.
“Mengapa tidak di rumah sakit T?” tanyaku iseng. “Pelayanan di sana lebih bagus.” Aku ingin mengatakan, ada beberapa rumah sakit lain di kota ini, katakanlah rumah sakit T, J, dan I.

“Uang kami habis,” jawabnya. “Bunda dirawat bukan untuk satu hari dua hari,” katanya pasrah. Ya mungkin ada lebih dari satu rumah sakit di kota ini, tapi semua hanya milik orang-orang berduit, yang bisa menyewa kamar dengan ratusan bahkan jutaan per hari. Orang miskin, pas-pasan, dan orang setengah kaya selalu tidak ada tempat di sana, penuh. Kamar termurah selalu penuh. Aku pun tahu, Bunda telah tergolek selama sepuluh hari di ranjang putihnya tanpa kesadaran penuh. Bisa dibayangkan berapa juta yang habis untuk sewa kamar ini? Untuk sebuah kamar Sukapura 2, VVIP, selama sepuluh hari, Bung! Orang kaya bahkan mendadak tak mampu, apalagi si miskin, tentu saja sekarat, mati saja sebelum membayar.

Mati, mati, mati, mati, mati....

Di koridor rumah sakit malam ini, aku nyata-nyata mendengar kejanggalan. Apakah ini nyata? Sayup kudengar seseorang menangis, semakin jauh dan hilang, timbul tenggelam kembali menangis. Apakah ini suara si miskin yang tak siap membayar esok pagi? Aku mempercepat langkahku, berlari dalam bunyi debum yang kuciptakan sendiri. Bukankah ini satu-satunya cara menghibur diri? Menciptakan keramaian dalam takut yang harus kumenangkan? Sebesar apapun usaha pengusiran ini, toh tetap ada secuil asa yang mesti dibenarkan, aku aku aku merasa tidak lagi sendirian, ada seseorang dibelakang. Ah, aku sungguh tidak berani menoleh. Takut jika tiba-tiba saja, hal yang tidak diinginkan terjadi. Saat lagu-lagu kematian terdengar. Tidak, mohon jangan terdengar di sini. Tidak!
Mati, mati, mati, mati….

Kamar yang kutuju masih jauh, harus melewati satu koridor lurus, lalu belok kiri, sampai diruang wasrey, dan belok kiri lagi, baru sampai. Baiklah, tarik nafas dan kendalikan pikiran, itu yang kuperintahkan! Aku berusaha memfokuskan diriku pada hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian, sebanyak mungkin kubaca ayat-ayat yang bisa menenangkanku.

Mati, mati, mati…

Semakin jelas nyanyian bercampur tangisan itu, semakin dekat. Aku ingin-ingin-ingin berlari, sekecang-kencangnya. Sampai saat hasrat inginku begitu memuncak, aku tak bisa menggerakkan kedua kakiku. Kaku. Seseorang entah berwujud apa, menepuk pundakku, menyibak bulu kuduk, mendekat ke telinga, menyusup ke relungnya, lalu membisikkan tepat di gendangnya.

“Siapa kau?” teriakku memberanikan diri. “Pergi dan jangan ganggu hidupku.”

Dia, terkekeh, rupanya seorang perempuan.

“Siapa kau? Pergi!” bentakku.

Dia yang terkekeh kemudian sunyi terdiam. Apa pula ini? Aku merasakan dingin luar biasa pada kedua telingaku. Orang tua mengatakan rasa dingin ini terjadi jika sesuatu yang luar biasa berada di dekat kita. Apa pula ini? Aku masih berdiri tepat ditengah koridor saat lagi-lagi terdengar perempuan menangis tersedu, menyayat, mengucapkan nama-nama yang tak kukenal, lalu sumpah serapah pada pemerintah dan dendam kesumat.

“Siapa kau?” ulangku lebih tegar, tentu saja aku memenangkan pertarungan. Mungkin dia pasien yang sedang kesakitan dan menyebutkan nama-nama orang yang dicintainya. Ataukah dia siapa? Mengapa dia berani mengucap serapah pada pemerintah, mungkin dia seorang caleg gagal, atau politisi kekurangan modal? Lalu dendam kesumat itu ia tujukan pada siapa? Mengapa ia menghujat?

“Kau bedebah, kau…,” ucapnya keras sekali, lalu terkekeh, sebentar-sebentar diselingi tangisan. Aku? Aku melihat diriku, mengapa aku? Apakah “kau” yang dimaksud dia adalah aku. Mengapa? Dosa apa aku? Aku hanya seorang mahasiswa kere, yang menutupi luka kehidupan sehari-hari dengan cerita-cerita yang kukirim ke media-media, walau tanpa imbalan sama sekali. Mungkin media yang kukirimi cerita-cerita ini, sama kerenya!

“Cerita apalagi yang sedang kau rangkai? Kebohongan macam apalagi yang sedang kau hidangkan!” suatu hari seorang teman menginterogasiku keras. Aku jelas tidak berbohong, aku mendengar sebuah lagu kematian. Aku tidak dusta, aku mendengar. Indraku sudah tak normal, aku mendengar setiap hari, orang-orang mati dengan sengaja, orang-orang di bunuh, membunuh, saling bunuh, bahkan membunuh dirinya. Betapa murahnya sebuah nyawa? Sedang banyak rumah sakit sangat mahal harus dibayar untuk menyelamatkan satu nyawa. Mengapa tidak ditukar saja, yang bosan hidup bertukar nyawa dengan yang sedang berjuang untuk hidup?

“Aku tidak berbohong, aku mendengar lagu kematian, setiap hari.”

“Mana ada, aku tak mendengar!” sanggah temanku.

Malam ini adalah puncaknya, dikoridor ini, aku mendengar nyanyian itu, jelas dari mulut seorang perempuan, yang memanggilku bedebah. Seinci pun aku tak ijinkan dia memanggilku begitu. Aku mahasiswa yang sehari-hari menulis untuk menutup luka kehidupan, mengapa harus “bedebah”. Apa salahku? Apa karena aku menyebut media itu kere, rumah sakit ini kere, pemerintah juga kere, terus saja kuras keringat tukang becak?

“Aku bukan bedebah!” teriakku.

Mati, mati….

Suaraku mati, perempuan itu datang tepat di hadapanku. Menunjukkan dirinya, betapa terperanjatnya, dadaku berdebar. Perempuan itu tersenyum dalam kesedihan yang kuyakini, itu tak dapat disembunyikan. Orang yang aku kutengok, orang yang biasa aku temani malam-malamnya untuk menjaga cairan infus tidak habis masuk ke pembuluh ditangannya, orang itu.

“Bunda…” kataku tercekat. Tanpa bicara kita berjalan beriringan menuju kamarnya. Aku masih tak mengerti mengapa saat itu aku tak lagi mempersoalkan infus yang tiada menemaninya, mengapa dia begitu kuat sehat, dan bisa berjalan di tengah malam?

Hujan kecil masih turun, dingin, aku tak melihat langit cerah. Awan hitam bergumul, sebentar lagi pasti hujan semakin deras, pasti semakin deras. Aku telah sampai dipintu kamar sukapura 2, no kamar B. Kudengar tangisan dari dalam, tangisan siapa lagi ini. Siapa?
Mati.


Annisa Zahraa Hanya seorang yang sedang menjadi orang lain, lalu berusaha menemukan dirinya kembali. Dikumpulan jerami sawah yang basah, ia berteriak pada tulisan di UPI Tasikmalaya, sebagai mahasiswa yang biasa saja.
Readmore

Sajak Arya Mahessa Pratama


KETIKA

Ketika sedih hanya hujan temanku
Ketika bahagia hanya matahari temanku,
Ketika bosan hanya pelangi temanku.
Ketika rindu hanya angin temanku.

Ketika kamu yang mengalami semuanya
ku akan menjadi hujan, matahari, angin dan pelangi
Agar kamu tak kesepian


KETULUSAN CINTA

Aku tahu aku hanya sebuah manusia biasa.
Aku hanya manusia yang hanya mampu mencintaimu apa adanya.
Beginilah diriku Yang mencintaimu tulus dari hati.
Beginilah diriku yang menyayangimu selalu.
Mungkin banyak pria diluar sana yang lebih dari aku.
Baik itu lebih harta ataupun lebih fisik.
Namun aku tak gentar mencintaimu layaknya romeo mencintai juliet.
Dan aku akan terus menjagamu layaknya seorang prajurit kepada rajanya.

Meskipun aku harus terluka dan tersakiti.
Hati ini telah siap seperti sebuah baja.
Karena cinta yang tulus tak mengharapkan sebuah imbalan
ataupun belas kasih.
Yang aku harapkan hanya sebuah senyuman dan takkan ada setetes
pun airmata
yang jatuh ke pipimu.
Karena disitulah rasa luka dan sakit yang mungkin baja pun
takkan mampu menahannya.
Dan disitulah penyesalan dalam hidupku jika aku melihat satu
tetes airmatamu.

Airmatamu ibarat sebuah peluru yg berkali kali menembak ke arah hatiku
Dan senyummu lah ibarat pelindung dari peluru peluru yg menembak ke hatiku.
Karena senyummu lah yang membangkitkan sejuta bunga ditaman.
Karena senyummu lah yang memunculkan sebuah pelangi yang membuat indah
taman itu.
Karena senyummu mampu membuat sejuta keindahan.
Karena kamu begitu indah dan baik.

Aku memang takut kehilanganmu.
tetapi aku lebih takut tak bisa melihatmu lagi apalagi tak bisa
melihat senyummu.
Meskipun aku tak memilikimu tetapi aku masih bisa memiliki
cintamu, cinta untukmu.
Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ku juga.


ingat janjiku selalu kan tetap mencintaimu.
Sampai terompet sangkala berbunyi dan memisahkan kita


Arya Mahessa Pratama adalah Mahasiswa Gunadarma yang sedang bergairah menulis puisi
Readmore

Sajak Dewi Nurjannah


Tersenyumlah


Tersenyumlah walau sedih
Berdirilah walau rapuh
Majulah walau sendu
melangkahlah walau pilu
Tertawalah walau menangis
Semangatlah walau meringis

Kuatkan hati meski retak
Tabahkan hati meski terdepak
Menangislah untuk bahagia
Teriaklah agar lega

Diam untuk redam amarah
Percaya untuk menerima amanah
Gapai mimpi untuk kenyataan
Raihlah cinta dalam keabadian
Rengkuhlah bintang pada rembulan
Raihlah semua kebahagiaan

Wujudkan mimpi ilahi
Mencapai ridha ilahi
Meraih mimpi sejati
Tetaplah bermimpi



Dewi Nurjannah Lahir di Pati bulan Juni1997 Pelajar SMK Annajah Kayen Pati

Readmore

Sajak Mohamad Chandra Irfan


SYAIR

kenapa peristiwa-peristiwa lama
mengekalkan luka, tanpa ada sekarat

di daun jendela
yang mulai rapuh
selendang angin pun
menghadiahkan dirimu

tapi selalu luka

jemari ini mesti tuntas
meriwayatkanmu, bahwa
sangatlah biru parasmu
sangatlah dingin kau

di jantung ini

aku tahu bahwa esok
kau tak akan datang
dengan setangkai gerbera

tapi bermalam-malam telah kutitipkan
pada seluruh purnama, segumpal sesal ini
yang berabad-abad berkarat

kau tahu
bahwa esok malam aku akan datang
membawa setangkai gerbera yang lain

tanpa ada sekarat

2012

 
PEREMPUAN BERSAYAP MATAHARI

sebab tubuhmu
yang selalu merampas kesabaranku
akhirnya tak bisa kubedakan

mana putih
dan mana ajal

sebab tubuhmu
adalah sayap matahari
sayap bagi setiap cahaya
yang mengepak di setiap puisi
yang tak mungkin bisa
kubedakan mana catatan hari-hariku
dan mana kematian paling suci

bagi sebuah pagi
dan burung-burung

tapi apa
yang selalu tersisa di matamu?
yang selalu memberi isyarat lain
sehingga sisa usiaku seperti dejavu
seperti roman yang ingin sekali kutuliskan

tentang perjumpaan kita
yang singkat itu

katamu, dengan dada gemetar
aku paham akan tubuhmu, tapi
ini malam sebentar lagi berakhir
dan sebentar lagi, tak bisa kubedakan

mana ajal dan mana putih tubuhmu 

2012


KETIADAAN

akankah kita menyimpan
senja berikutnya?

sepanjang langit marun
segala tentang matamu, raib
di layon maghrib

2012


PEREMPUAN MERAH MA'WA

tak bisa kurelakan
bahkan pada siapa pun

sebab pada kelopaknya
bibirmu menjelma merah ma'wa

jika saja taman ini milikku
maka engkau tak mungkin terlahir

dari sisa awan
dan hari-hari yang berat

maka aku pun menyebutnya:
engkaulah sajak pertama

di langit yang licin
di tangan tuhan
yang tak terbaca

kau
bibirmu
kesedihanmu

seperti kasta yang tersisa
di kematian yang terlambat

memberat
sesekali pucat
menuliskan hikayat

di langit yang licin
kau, bibirmu, kesedihanmu
seakan berhenti meneruskan
kesedihan yang lain

di tangan tuhan
yang tak terbaca

2012


TARIANMU YANG TAK PERNAH KHATAM

- tak pernah
  makrifat, di setiap
  dada para abid

I

tarianmu
lebih erotis
dari perang darah

dan kita basah mendesah
tentang nyanyian barzah

senja di garis takdirNya
seakan itulah persetubuhan kita

49 jam lebih
memahami tarianmu
kuhabiskan salam
yang tak khatam

yang kini tersisa
dengan sedikit senja
di tarianmu itu
ada yang lebih afdol

dari persetubuhan kita

II

o, aku yang
memintamu abadi

seperti musim yang selalu
makrifat, di setiap dada
di garis takdirNya

di tarianmu yang tak pernah khatam

2012 
 

BIOGRAFI SAWAH

sawah-sawah

tak menghijau
yang ada sisa igau
burung bangau

seperti abb
terbelah kukunya
basah, terlunta

di dadaku
ia menulisnya tentang
sungai hitam

tentang
tanggal-tanggal
panennya

dan kau mencipta

kampung tercinta
tanpa bahasa
dan kata-kata

semuanya kesedihan kentara

2013
 

PEMETIK HARPA

senarnya mulai menciut
tangannya berlapis kabut
di wajahnya ada angka 9 yang kusut

memuailah langit, beruban berjalan lamban
aku seperti suaranya yang memancar bulan

petikannya mengubah warna biru
menjadi tampak lebih kelabu

seperti tangannya yang melahirkan waktu
tubuh daun pun nampak tersenyum ibu

padahal orang-orang baru saja menggelar rindu
mendongengkan matanya yang palsu

maka jantungku menyepakati pada detik itu
kau datang dengan kenangan yang syarat rambu-rambu

esok aku akan datang menjelma tanganmu
dan kau hanya perlu tiga kali mengetuk palu

sebagai tanda, kita sama-sama akan berwudhu

2013


DAN ADIKKU MENGIGAU

waktu itu aku masih rajin
mengikuti sahur bersama
namun sekarang, hanya kenangan
yang kulihat. hanya itu!

setelah kini tiada
hanya gema dan suara
yang mengapung di dada

di tangan
di punggung jalan
aku mulai memahat ramadhan

mungkin dengan segala kesal
dan segala kebutuhan yang mahal

ah, ibu
pada suaramu yang syahdu
masih kuingat caramu memotong
bawang, menanak nasi, lalu
anakmu yang cikal menangis;

bu, aku ingin ibu yang menyuapi
nasinya!

03.00
setelah bulan jeda di atap
rumah kita yang sederhana
bapak pun; menggelar sajadah
mengguyurkan air wudhu
ke tiap juru rumah

begitulah caranya mencintai
rumah dan seisinya

sedangkan seseorang dan usia
senjanya, tergopoh -- adakah
ini ramadhan penghabisan?

lalu bapak dan ibu
hanya sibuk di dapur

di dapur
aku pun telanjang
seolah ibu menguliti kepalaku
dan bapak mengulek jantungku

dan adikku mengigau;
sesungguhnya, kita tengah
memersiapkan pengantar
kematian kita, masing-masing
tanpa dengan siapapun

2013


VARIASI PAGI

1.

Suatu pagi tepat setelah itu, ada langit membukakan matanya. Sebagai  manusia yang kerap tak mengenal pagi hari – maka begitu samar kulepas kembali warna pagi sejak pertama kali dihadirkan untuk menikmatinya, sejak usia dini. Kabut tak lagi kembali, seolah berlalu membawa kekalutan abadi. Tuhan, aku telah bersuci! Tak heran, garis langit seakan tua, dan memungutut jejaknya. Ada yang diam dan tak mengenal usia. Sebab kita tak lebih iri jika secangkir kopi hanya melintas dalam hati.

2.

Di depan surau, tubuhku tepat simetris pada pohon mangga. Ada keseimbangan antara kata ya dan tidak. Telingaku menoleh ke kiri, seorang cleaning service sedang memungut mimpi anak-anaknya. Ia senantiasa setia dengan lidi – yang berwindu-windu memukulnya. Ah, di surau ini tubuhku kembali pada masa silam. Waktu adalah jam yang retak, ada keramaian; namun suara sepi lebih gaduh ketimbang suara knalpot motor para pegawai negeri.

3.

Gesekan demi gesekan sapu lidi itu semakin keras. Tenanglah pak! Tanganku karam ke dalam langkahmu. Pak, anggaplah jika pagi hari itu selalu misteri, maka sejak saat ini tak lagi seperti itu. Matahari mulai menerobos langit-langit surau. Aku tidak mempersilahkanmu datang dengan sekuning ini. Aku hanya menginginkan kau tetap datang dengan volume yang sama dan biasa.

4.

Ini hari ke sekian kalinya. Setelah lama tak bersua denganmu, kopi. Kopi yang mana? Bukankah semua orang sudah seperti kopi? Tidak, kataku! Manusia itu hanya dedak kopi, ia asing bagi dirinya sendiri. Tidak perlu matematis untuk menjatuhkan vonis seperti ini, cukup kau tahu: ini hari yang sial bagi para pertapa. Sebab sial, betul atau tidak kau hanya dedak kopi?.

5.

Seorang cleaning service itu tak lagi asyik meniduri mimpinya. Ada masa depan sedang menghantui anak-anaknya. Cekung-cembung obralanmu adalah isyarat lain dari lahirnya makhluk yang bernama pagi. Tapi ingat semuanya akan menjadi bias. Kembalilah pada jalan suci, sebelum kita sama-sama bersuci kembali!

2013
 

BISMILAHHIRROHMANIRROHIM

Kubuka semua yang segala maha. Di dalam kekhusyukan ini, ada semacam tanya yang selalu mengurai langit menjadi pertapa, hujan menjadi jumawa. Tentu seisi langit mengiriskan kabar pilu dari surat dan suaraNya yang fasih. Masih kukenang tentang segala macam teror, gelisah, yang tubuhnya senantiasa mewartakan kelaliman seorang yang durhaka. "Engkakukah itu?". Tanyaku.

Kemudian aku mulai berjalan dalam genangan teror dan gelisah itu. Nasib memihakku sebagai pengembara yang dusta. Dan kenapa hanya pada langitlah kepala ini bersembah. Bumi, tak ada yang dapat dirajah, selain pasrah yang kaffah. Pukul empat belas lebih tiga puluh dua menit, atau setengah tiga lebih dua menit. Ada sosok orang tua menghampiri.

Kuingat wajahnya, namun aku lupa garis uratnya. Tapi jelas sekali dari aksen bicaranya. Menyerupai Bapakku. Sebagian tulang iganya hampir menjulur ke ruas jalan. "Ini jembatanmu berjalan, Nak", ucapnya. Sambil matanya tak pernah berkedip. Kuat memang. Ia datang sebagai orang yang tepat. Tepat di saat orang-orang mengajarkan tentang kebohongannya.

"Kenapa mesti tulang igamu, Pak?. Aku takut terjadi sesuatu pada tubuhmu". "Tidak, ini hanya bentuk kangenku padamu, Nak. Sebab, kau harus berjalan pada lahan yang sempit. Yang hanya bisa dilalui oleh ibu jari". Aku masih bertanya dalam hati, jika memang itu Bapakku. Kenapa ia sendiri tidak pernah menjelaskan, kenapa ia datang tepat hari ini. Siapa yang memberinya alamat tempat tinggalku.

Terakhir dari perjumpaan itu, Bapak mengedipkan mata kirinya. Mata kanannya, ia simpan di sakunya. Dan aku pun berbisik pada daun telinganya yang penuh dengan obrolan-obrolan kasar dan ngeri. "Pulanglah, Pak. Ibu sedang menunggu di rumah". Titip bulu mataku buat Ibu. Kini anakmu, sedang dilumat habis oleh kesepian. Ibu pasti lebih tahu tentang arti sepi dan kesepian. Dan Ibu, selalu mengajari bagaimana sepi itu adalah lafadz dari: Bismilahhirrohmanirrohim.

2013
 
Mohamad Chandra Irfan, dengan nama asli Moh. Chandra Irfan Rosyadi. Sempat juga memakai nama pena ‘Mohamad Irfan Rosyadi’, ‘Buroq Argagurnita’ dan ‘Mohamad Chandra’. Lahir di Pagerageung, Tasikmalaya, Jawa Barat. 17 April 1993. Alumni Pondok Pesantren Perguruan KH. Zainal Musthafa Sukamanah, Singaparna. Beberapa puisinya dimuat di beberapa media massa. Terhimpun juga dalam beberapa antologi bersama, antara lain: “62 Penyair Jawa Barat Terkini” (Komunitas Malaikat, 2012), “Poetry-poetry from 120 Indonesian Poets: Diverse” (Shell Publishing. 2012), “Antologi Puisi Religi Ziarah Batin” (JavakarsaMedia, Yogyakarta, 2013). Menulis puisi, esai, dan menjadi aktor teater. Mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Jurusan Seni Teater.

Readmore

Sajak Sonny H. Sayangbati


Rumahku
Oleh: Sonny H. Sayangbati
"Pria yang bijaksana, yang membangun rumahnya di atas batu."



Rumahku,
kubangun dia dari batu
yang kuambil dari gunung
kujejerkan dengan perekat
tanah liat bercampur lahar

Kisi-kisi dan sotohnya
kubuat dari kayu aras pilihan
atapnya dari ijuk hutan
satu demi satu kususun
sampai jadi
sebuah rumah
sederhana

Suatu hari
kupanggil penduduk kampung
kuundang mereka
bersantap malam
dengan cahaya api unggun
duduk berkeliling
dan kukatakan sesuatu
ini rumahku namun kosong
sudilah kiranya handai taulan
memberiku seorang gadis
untuk kujadikan kekasih selamanya
agar rumahku ramai dan bersemarak

Aku berikrar malam itu:
"Berilah kiranya saat ini kesempatan,
aku orang asing di sini,
ingin menetap dalam rumahku di sini."

Tua-tua kampung mendengar,
katanya:

"Hai orang asing kami akan memberimu
seorang wanita yang cocok buatmu, jagalah dia
bangunlah rumah tanggamu di atas batu gunung kami,
kasihi dia seperti kami mengasihimu".

07 Mei 2013



Dua Gelas di Atas meja
Oleh: Sonny H. Sayangbati

Ada dua gelas di atas meja
setiap pagi tersedu
yang satu air teh melati manis panas
dan yang lain kopi hitam pekat panas

Jika senja tiba
dua gelas itu masih ada
tetap panas dan manis

Pada peraduan malam
yang manis dan panas
saling mengulum dan berpagut
dalam selimut hati
membara

06 Mei 2013


Sonny H. Sayangbati Kelahiran 14 Desember, tinggal di Jakarta dan suka menulis dan membaca puisi-puisi, puisi2nya terbit di media cetak dan media online, aktif menulis puisi di beberapa group puisi, pages, blog pribadi, halaman puisinya adalah Info For Us


Readmore

Sajak Lidya Rachmawati


Mantan Terindah
Oleh: Lidya Rachmawati


Dia yang masih terindah, dia yang masih terbaik
dia yang masih aku banggakan
Aku masih dapat melihat dia,
aku masih dapat mendengar suara dia
dan mungkin aku masih dapat dekat dengan dia

Namun inilah kenyataannya
kenyataan yang harus dapat aku terima
kenyataan yang tidak bisa aku pungkiri
Aku melihat dia disebrang sana bersamanya
dia tertawa, dia tersenyum terhadapnya
dia begitu bahagia kala bersama dengannya

Dia tau ada aku didekatnya
dia memberikan senyuman terhadap diriku seakan
dia mengisyaratkan telah bahagia bersamanya
dan seakan melupakanku

Benar hati ini sakit
sakit melihat dia bersamanya
namun aku harus dapat tegar
Tegar hidup tanpa dia dan
tegar hanya bisa hidup dengan bayang-bayang semu dia


Lidya Rachmawati Lahir 07 november 1994 Tengah belajar di perguruan tinggi swasta di jakarta jurusan Bahasa dan sastra Indonesia.


Twitter: @Lidyaarw
Readmore

Sajak Rifqiel 'Asyiq



Surat Untuk Langit


dalam sebuah temaram lilin yang hampir sirna
melirih nafas, hati hati sekali. lalu membuangnya lewat jendela
memeluk selimut embun
sambil menyibak ranting, berdetak desing

sekian juta detik ku menahan rindu pada alam pagi
nyatanya ini bukan rindu, hanya beku. Kelu
Ahh; tidak!!
kulayanglayangkan sebongkah tengadah
menmbus kristal megah nan mewah
mencumbui langit malam

ini malam ke berapa? . .
aku sentuh pelupuk lubukmu
untuk satu jibaku.


Cirebon, Februari 2013.

Readmore

Puisi Rifqil 'Asyiq


Izinkan Aku Panggilimu Dinda


izinkan aku panggilimu dinda, sayang, perempuan 'belah dagu'. bagiku kau adalah seutuh cantik nan anggun raga pada sudut elok bumi dengan serimpit hati putih. bukan, bukan bidadari. namun begitu aku melihatmu, mengingatkanku pada suatu hari ketika;

"pernah kau memintaku menyanyikan lagu pada malam haru
dan ku memilih melantunkan puisi pada hujan senja
aku tabu gemericiknya dengan haru
dan kau pun mengikuti dengan lugu

kau menari di atas panggung
dan ku kembali menulis puisi di atas punggung. ahh . .
bukan hanya terkadang, kita seserasi itu".

sesederhana itu saja, tetap indah ya sayang, semoga kau ingat.
tentang cerita lain;

bukankah kita memang senantiasa bercinta dengan alam?
mari sayang, dekatkan dirimu dengan air ini. tapi jangan sampai riaknya menghanyutkanmu. aku pegangi tanganmu.

beginikah percakapan kita ketika sedang marah*?
bukankah alam pun penuh dengan suara?
mari sayang, kita isi dengan nyanyian cinta dan puisi.
mari sayang, dekatkan lagi dadamu pagi bibir hatiku. namun jangan kau bawa nodanya.
bukankah dadaku hamparan warnamu, pada pelaminan hasrat bermusim. katamu.

nyatanya, padamu jua selalu kuluapkan janji. aku menambahi.
akan ku permainkan sebuah masyghul pada jelempah-jelempah luas dadamu. agar ku penuhi rindangnya dengan seutuh ta'wilku, untukmu saja. karena aku, seperti kau pernah mengulanginya bahwa; sekalipun aku tak pernah ingat bertemu denganmu, namun setiap pertemuan sungguh sulit terlupakan logikaku.

ada aku dan munajat rapat khidmat nan hikmat, sepi dan sebaris puisi disitu. dariku.

sehingga saat kau payungi puing, mendesir habis dalam pikiranku. itu indah, maha engkau pada selayak hatimu.

kini; aku suguhkan debu secangkir, dan kau menggantikanku dengan seutuh moka. itu kesukaanku, katamu.

sayang, ini bukan tentang dahaga, namun debu yang mengajari kita tentang sebuah kecil, sekecil kita. agar kerindangan hatimu semakin semai dengan seutuhmu.

Jakarta, 14 Januari 2013

***


WANITA PANTURA (yang aku ingat)


Perkenalkan, namaku
Martini. Gadis Yatim sejak umur 5 tahun
penyanyi jalanan, langganan
kopayu.. Sahabat.. Luragung Bhineka. menelusur sepanjang
Pantura Cirebon-Jakarta.

Ibuku pagi ini mengantri di TPA Gegesik Cirebon
mengaisi sisa makanan dari yang katanya "kaya"
bahkan berangkat pagi buta, semalam telah ada pesta.
barangkali daging kambingnya masih bersisa. tak tahu mengapa..
kalau semalaman aku tak hirup aroma parfum ibu,
pagi pagi begini ibu selalu ke TPA. cantik nian ibuku dengan malamnya,
yang aku ingat, ibu selalu pulang pagi dengan air mata.

kalau ayahku;
kata neng siti ayah di bacok karena ketahuan mencuri,
kata mang sungeb ayah kawin lagi dengan PSK dari Indramayu.
Nenek bilang, tak usah aku pusingkan ini. lupakan saja ayah bengismu!
seingatku, ayah selalu pulang dengan mata merah.
ayah pun pulang dengan bau mulut yang belakangan ini aku tahu namanya Alkohol.
selalu pulang dengan marah, kemudian tidur.

tak pernah aku dengar cerita tentang kakek.
yang pasti, nenekku setiap malam menyusuri sawah mencari bekal..
untuk berjualan rumba semanggen di Pasar Tegalgubug. katany;
agar aku tak menuruni ayah, dan ibuku.
yang aku ingat, ya begitu yang aku ingat.
untuk yang terahir, izinkan aku bertanya tentang sesuatu pada kalian
Haruskah aku menangisi ini, atau terbahak dengan gelak?


Tegalgubug, 09 Februari 2012

***


SYAHDU SANG LELAKI KECIL
(sebuah peta hidup yang sayang tak di kenang)


semalam ku coba sedikit memaksa untuk kembali
hendak memasuki kehidupan masa
dikala benarbenar kosong tanpa sama' bashar dan af'idah
sayang seribu sayang, memimpikannya pun
sangat sukar

ahirnya ada sedikit cerlang untuk satu kenang
aku coba tengok kembali taman sederhana
di belakang rumah,
tempat dimana ku ramai bermain dengan alam
masa mewarna dengan sesama
aku hanya melamun tanpa jeda

masih coba ku sayu setiap lirih dendang serenade
yang ku dengar hanya gemuruh kreta dari nun kejauhan

aku dengar kesiur melakon lambai
terisak, mendayu layu
ahh.. dulu disitu tempat aku menangis dulu
karena putus tali layanganku

tersandarlah aku di bawah pohon mahoni
melamuni kupukupu yang kian beranjak dewasa
ahh.. disini dulu tempatku sebagai kuli batubata
dengan upah 200 perak untuk 100 batubata yang terangkut
ya milik mang duloh, yang sekarang buka warung kecil.

kiranya air masih berriak
lantunanmu serasa ku dengar mengiringinya
sang perawan bersikat badan dengan kembennya
dan telanjangku berkecipuk dengan lugu tanpa malu

rimbun terselingkap syahdu menyembahkan lagu
di balik hikayah tentang sebuah basah bibirmu
ahh.. hayalku melayang menyundul pilu
walaupun aku tak pernah tahu, siapa dinda itu?..

dan hinggan kini,
saatnya mungkin aku menjemput teman hidup untuk satu kisah yang lebih nyana nyata dan nyaris sempurna.
walau jawabannya masih entah,


Cirebon, 11 Agustus 2012

***


PUISI 2,7 (baca; dua baris tujuh kata)


I. OH, NADA AUROD*

Melafal nada-nada, menyatukan rasa-rasa
Aku dan Allah.

Jakarta, 150213
*Aurod : kata jamak dari Wirid


II. CERITA ALAMKU

Pelangiku sejarah, bernyanyi;
Batas-batas lautan, mencari rindu.

Blok M, 140113


III. MABUK

suluk dewa cinta, letup
di pintu aksara

Jogja, 300113


IV. GADIS

Seperti tenggakan ikan;
izinkan, hanya aku pena'wilmu

Cirebon, 100612


V. TAHAJJUD JAHIL

Goooolll, semangat membara.
sekian kali, subuh membungkam.

Jakarta, 090113.

VI. KUBURAN MIDE**

Tanah basah membisikiku, sendiri;
Kematian memberi waktu

Cirebon, 110901
**Mide; panggilan untuk Nenek di Cirebon



Rifqil 'Asyiq, Mahasiswa dan Santri di sebuah Pesantren Cirebon
Readmore

Puisi Irham Kusuma


Jani


Dari suara-suara
Di antara langit
Dan tongkat
Disitulah
Sajakku bergeser sesenti.

Bergeser laun di atas hibu
Dan kelubung kering
Tiada henti merantai.

Biar angin gegap lelah
Seperti ketar lumbung dada
Yang bergerak.

Sebab menenggelamkan senyap
Serupa bocah
Ingin menjadi inang
Ke arah barat.

Dari kumpulan balasamina
Atau amsal bunyi
Yang ada
Dari ketiadaan
Menuliskan lagu-lagu.

2013



Sunyaruri


Bukan sekadar merekam kisah
Tentang doaku yang menancap
Tumpah bersama tajwid
Yang saling memandangi syahadat

Atau nisbahku yang berkibar
Terbang sendiri
Menentukan jati diri

Adalah ekaprawira menari
Yang menanam zaitun
Seperti hasrat kalbun
Mengitari jabal

Supaya puisi ini tak bingung
Dengan seribu kunang-kunang
Memburu semisal ke barat
Dan iringan batang rappe bait ketiga

2012



Menggoda Penyair


Mesti dengan rahasia apalagi
Yang harus aku sembunyikan.
Ini hanya sebuah angka saja
Bukankah kamu selalu menatap
Pada segala yang aku sajikan
Di antara ruang uap kopi dan
Basah kretek di ladang dengan
Puisi yang selalu berasap.

Tentang lenskap senja
Yang kamu kembalikan lagi
Kepadaku.
Selalu saja kamu memutuskan
Untuk melukis sawah
Untuk melukis ciuman
Tanpa lazuardi yang menaungi
Tanpa bulan yang menggantung.

Tentang subuh bergetar
Di pangkuan
Dan yang membuat lubang hujan
Yang bergerak ritmik
Menuju pangkal matamu.

Di sana kamu menetaskan kata
Dengan atau tidak berbahasa.
Menghitung segala ruhiyat
Sebagian musim alpukat.

Lamat-lamat kita menyecap
Acap menggugurkan daun-daun
Kamu tentu tidak merokok bukan?
Aku bakar bulan yang menggantung
Kamu siapkan lauk-pauk
: biar kita sama-sama jatuh cinta?

2013

 
* Tiga puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 13 Januari 2013



Di Gede Bage


Di seberang yang tua ini
jalan masih panjang
masih kutebas kalimat-kalimat
yang meretas tumpah berserakan.

Entah mengapa,
seribu langkah yang kuyakini
dan doa-doa di malam ini
seakan menjadi mimpiku yang panjang.

Mengakar sampai ke hulu
menggenang di tumpah hujan malam
Gede Bage.

Hanya ada dua kelokan puisi
panjangnya ke Cikapundung
di punggungku
ia membungkuk.

Aku berdiri
memandang jauh lurus
ada empat jalan
bahwa cinta tak tertapak jaraknya.

Dan anak-anak membawa kencringan
serupa kasih
yang ia bawa pulang
sebelum adiknya menangis
sebelum isya menjatuhkan air mata.

2012



Gerimis Di Tubuhku


Lambat membawa kesejukan
menghanyutkan tubuhku
pada genangan hujan bulan september di timur
disusunlah semua kepingan yang mencabuti semua waktu
lorong-lorong sempit, lalu berkedip dalam debu
bertaruh semua
tenaga, air mata
menjadi sungai di tengah bulu kuduk ku
untuk memandikan bayi tahun ini.

Di pohon-pohon kenanga
pasir di tengah takdir
pulau-pulau bernama baru
mungkin terlalu cepat kita terlahir
seperti hidup dalam pongah-pongah semacam liar
yang berdesir.

Tapi, tak juga kita menghangus
dibakar api hati
tergolak di subur mata air
yang kita injak sebagai cuaca basah
sampai jejak menjadi perdu
hutan
angin
air, semua disetubuhi waktu.

2012


* Dua puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 28 oktober 2012

Irham Kusuma (17thn), lahir di Bandung. Banyak bekerja untuk menulis dan melukis. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan buku antologi puisi bersama. Saat ini masih berstatus sebagai Pelajar.
Readmore

Sajak Twitter Hanif


Karya ini adalah syair balada dalam status twitter yang dibatasi maksimal 140 karakter,  @flash_poem

Mistikus Cinta


Oleh: Hanif


Bercerita dengan cara tak biasa,
menyentuh hati lewat kata
bermakna, berteriak dan tetap
mempesona

Rintik hujan menawarkan cerita manis
sebelum tidur..membawa kembali
kenangan orang-orang terkasih..dan
membuka luka lama yang masih perih

Lewat satu purnama kulantunkan
serenade dengan petikan dawai gitarku
tepat di bawah jendela kamarmu..meski
kau tak pasti menerima cintaku

Bagiku kau adalah bintang di malam tak
berawan penunjuk arah kemana kaki
berjalan kasat mata tapi sulit
kuraih namun hati enggan beralih

Menunggumu di posko banjir..panik dan
galau seketika hadir..hatiku terlanjur
hanyut pada bayangmu..ku ungsikan
seluruh cintaku padamu

Kau warnai hidupku lebih dari tujuh warna
pelangi bermimpi kita sepasang penari
kugamit pinggangmu berputar menembus
ruang dan waktu

Bulan bulat penuh tertusuk ilalang..aku
berpeluh kau menggelinjang..malam
masih panjang bibir merah
menantang embun menetes pagi
menjelang

Cinta ini terasa hambar..kau tak
menawarkan keceriaan meski
kecantikan tak pudar kita bukan
sepasang merpati aku tak janji
sehidup semati

Selamat jalan dara manis tak ada lagi bahu
dan tissu kala kau menangis tegar dan capai
masa depan cerah tetap cantik dan terus
merekah

Selamat pagi semesta bening
awal hari mata air baru bagi semangat
mengering
tunas muda buat hati layu
awal bahagia untuk akhir yang pilu

***
Readmore

Sajak Irham Kusuma




Phtalocyan

Oleh : Irham Kusuma

Ketebalan angin menyikat api
pelukis wanita ini menggulung
malam tembakau cokelat.
Aku butuh tulang rusukku
itu dilukisanmu.Lukisan susu,
tumbuh tanpa satu ibu.Sepersusuan.

Kalau ku tak perlu selendang
belajar rengut, berdendang
mendalami suara timbre, atau notasi
atau sasar.membilahlah kanvas
kalau ku tutup selendang tak berdebu.

di pusat kegelisahan gemulai tari kuasku
dari lirih, gemulaimu dari bongkah patung.

sebab di samping kita, putih nanar.
aku perlu pewarna, dengan segala hormat
tenggelam ke kanvas cakrawala; katamu suci.
di samping kita, sudah aku niatkan
hanyut mewarnai tanah di darahmu.

-Galeri 212-


***


Egaliter

Oleh : Irham Kusuma

Anggaplah aku sebagaimana kau suka
menjadi wanita atau
aku tak berharap juga pria.

Dadaku terjepit, bunyi panjang
dan harum panggung berselip.
Masalah adalah sebuah perapian
berunggun jantung yang tepi dipilih.

Di antara hujan sempit
aku menentukan permainan
bertukar peran, seperti teriakan
bagi drama yang engkau ciptakan.

Air tanah mengintailah
dalam nomer-nomer revolusi
kesedihan langit jumat
dari mitos sebelum janus telah berputar
kembali ke para pendahulu.

Dan aku akan menuliskan doa mu, neng.
rambut panjangmu seperti sebuah jalan
yang aku kenali,
dimana aku akan bertanya
(meski kau tak menganggap sebagai wanita).

Teater CCL, 2012


***


Khoackk !

Oleh : Irham Kusuma

Langit ini dingin
semua dosa aku peluk
biar panas tubuhku ini
di jilat bagai lidah api.

Di balik selimutmu
aku menunggu
seorang anak akan memberi tisu
hidungku merah mencium bau ludah.

“Jangan khawatir,
  jaman sekarang,
  jaman ingusan.”

2012


***


Pada Suatu Makam I

Oleh : Irham Kusuma

Sepertinya telah menjadi doa
bagi setiap perjumpaan
dengan teriakan ringkik punggung
penziarah.seolah setiap langkah
menjadi jejak nubuat ;
langit berbekas kepanikan ruh
dari apa yang kita rumuskan
pada pertanyaan.karena jalan dan bunyi
telah ditanamkan dalam tubuh kita.

2012


***


Pada Suatu Makam II

Oleh : Irham Kusuma

Duduk di padang jemala
Kaki-kanan kumerah
Dihisap waktu yang jongkok
Tapi tidak juga terkorupsi
Laki-kiriku, nisan.

2012

Irham Kusuma » Masih menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah kejuruan di Kota Bandung. Puisinya pernah dimuat media seperti,Pikiran Rakyat "Khazanah"; Radar Bekasi; Jejak; Buletin Patriot ; koranbogor.com ; radarseni.com, dan beberapa buku antologi puisi bersama.Puisinya menjadi yang terbaik dari lomba yang diadakan oleh salah satu penerbit di kota Lampung (NBC) pada tahun 2012.
Readmore
Next Next




 

Copyright @ 2011 By. KSC