Selamat Datang di Blog Kobong Sastra Cipasung

Tampilkan postingan dengan label blog sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog sastra. Tampilkan semua postingan

Cerpen Ayu

PEREMPUAN GILA DI UJUNG SENJA

Aku ingin pulang. Senja sudah menunggu. Aku tidak ingin membuatnya terlalu lama larut dalam penantian. Aku ingin melepasnya pergi, tapi tidak bisa membiarkan rengkuhannya lepas. Dia tahu semua tentangku. Kami sama-sama menanti di ujung hari. Bedanya, dia menanti sesuatu yang pasti. Sedangkan aku, kupikir semua orang akan menertawakanku jika mereka tahu, aku sedang menanti kemustahilan yang selalu kusemogakan. Aku ingin pulang. Duduk sendiri di balkon kamar, sambil menghitung burung perkutuk yang terbang berlarian. Atau sekadar berdiam diri di sana. Membiarkan tubuhku terbuai dalam rengkuhan kemustahilan itu. Mereka pikir aku gila. Padahal, aku hanya sedang bermain-main dengan semua kenangan itu. Tidakkah mereka bisa melihat siapa yang sedang duduk di samping kananku? Adalah dia. Kemustahilan itu. Atau hanya aku yang melihatnya? Apa aku memang gila? Entahlah. Biar kurenungkan lagi. Seharian aku dikurung dalam ruang pengap. Mengenakan baju biru tanpa motif. Berteriak pada setiap dinding yang menghalangi penglihatanku. Menangis ketika menyadari bahwa aku benar-benar kesepian.
          Ceritaku masih panjang. Perempuan berseragam putih masuk ke dalam ruangan sambil membawa sesuatu yang tajam menusuk kulitku setiap kali aku berteriak-teriak kencang. Dia menyuntikkannya di leher, kadang juga di lengan kanan, kadang juga di lengan kiri. Setelah itu semuanya terasa buram. Aku terdiam seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Perempuan itu selalu membuatku terkulai lemas. Itulah mengapa aku sangat membencinya. Kadang ketika ia lengah, kutarik rambutnya yang ikal, kadang juga kupukul punggungnya dengan tangan, atau pernah sekali ketika itu aku mencakar wajahnya dengan kuku jariku yang tidak pernah lagi dipotong hingga meninggalkan bekas. Aku mengenalinya dari bekas luka cakaran di pipi kanannya. Seperti luka cakaran kucing. Tapi itu hasil cakaranku.
          “Dasar perempuan gila!” Ia melangkah pergi setelah urusannya denganku selesai. Itu adalah kalimat yang selalu ia ucapkan ketika akan melangkah keluar. Aku bahkan menghapalnya di luar kepala.
          Semua orang menganggapku gila! Tapi aku merasa tidak benar-benar gila. Aku mengenali siapa saja yang pernah kukenal sebelumnya. Aku tidak pernah menganggap bahwa boneka adalah seorang bayi yang harus digendong. Aku tidak pernah berupaya melukai diriku sendiri dengan menggigit jari ataupun pergelangan tanganku sendiri. Aku makan dengan tangan kananku. Menangis apabila aku benar-benar merasa sedih. Aku tertawa untuk hal yang lucu, meskipun itu sangat jarang terjadi. Aku melakukan semua yang dilakukan oleh orang-orang normal. Tapi mereka menganggapku gila! Bagiku, musuh terbesarku adalah tembok ruangan yang mengurungku, perempuan berseragam putih yang selalu membuatku terkulai lemas, dan orang-orang yang membuatku berada di ruangan pengap ini. Mengingat mereka kadang membuatku sulit untuk bernapas.
          Aku ingin pulang!
***
          Aku berhasil membuatnya hidup kembali. Dia hadir ketika aku menyadari bahwa aku benar-benar kesepian. Dia hadir ketika aku memanggil namanya. Ketika perempuan berseragam putih itu keluar dari ruangan.  Ketika aku sudah terkulai lemas karena perempuan itu. Ketika tembok-tembok ruangan mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Kemustahilan itu hadir ketika aku benar-benar tidak ingin sendiri.
          “Kau ingin pulang?”
          “Iya. Aku benci tempat ini”
          “Kau ingin ikut denganku ke tempat dimana kau bisa bebas dari tembok-tembok ini?”
          “Bisakah kau membawaku pulang?”
          “Aku hanya bisa membawamu pergi”
          Dia selalu mengatakan hal yang sama setiap harinya. Kau ingin pulang? Tapi entah sudah berapa lama aku di sini. Dia masih diam di samping kananku, tidak beranjak sedikitpun. Kupikir dia ingin membawaku pergi. Terkadang kami kehilangan kata-kata. Jika sudah begitu mulutku akan terkatup, dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya terdengar siulan kecil yang memenuhi seisi ruangan. Aku tidak pernah merasakan embusan napasnya.
          “Kau ingin pergi bersamaku?” Dia mulai menemukan jejak kata yang sempat hilang tadi.
          “Ke mana?”
          “Kau harus jadi sepertiku dulu agar bisa ke sana,” tandasnya lagi. Kalau sudah begitu, mulutku kembali terkatup. Aku mungkin tidak segila itu.
          “Bukankah kau ingin pergi dari tempat ini?”
          “Aku hanya ingin pulang. Ke rumahku. Bukan ke rumahmu”
          Keesokan harinya, entah jam berapa aku tidak tahu. Perempuan berseragam putih itu masuk ke ruanganku. Kali ini tidak membawa jarum suntik, tapi makanan. Ia meletakkannya di hadapanku, kemudian setelah itu ia bergegas pergi. Kelihatan buru-buru. Hingga ia lupa mengatakan kaliamat yang selalu ia ucapkan ketika hendak keluar dari ruangan ini. ‘Dasar perempuan gila!’
          Makanan itu menganggur di hadapanku. Selera makanku sudah hilang semenjak tembok-tembok ini mengurungku. Mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar gila seperti yang selalu mereka katakan. Aku ini perempuan gila. Kalau sudah begitu, terkadang juga aku menyesali semua kejadian yang sudah berlalu. Kalau bukan karena kejadian setahun yang lalu, aku mungkin masih berada di balkon kamarku. Melihat burung perkutuk saling berkejaran, atau mengucap selamat tinggal pada senja di belakang rumah. Kenangan itu kembali berkejaran.
          “Kau di mana?”
          “Di rumah”
          “Aku ke sana”
          Setelah itu sambungan telpon terputus. Aku duduk di halaman belakang rumah. Sendiri. Hari sudah sore. Langit mulai jingga kemerah-merahan.
          “Kau di sini,” dia yang kutunggu sudah datang. Laki-laki yang tadi menelponku. Aku menunggunya mungkin sudah hampir setengah jam.
          “Ada apa?” Tanyaku. Mata coklatnya menatap tajam ke arahku. Aku mendapati sesuatu yang ganjil di balik itu.
          “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Penting,” ucapnya. Kulihat jakunnya bergerak ke bawah, kemudian ke atas.
          “Selama ini aku sudah salah karena tidak mengatakan semuanya dari awal. Harusnya aku tidak mengenalmu terlalu jauh, dan tidak membiarkanmu memelihara perasaan ini. Maafkan aku. Aku mungkin memiliki perasaan yang sama, tapi perasaanku terhadap ibuku jauh lebih besar,” ucapnya tanpa jeda. Kemudian berhenti sebentar untuk menarik napas panjang. Dia belum menyelesaikan kalimatnya. Sesuatu yang aneh mulai terasa di dadaku.
          “Dia memintaku menikahi Jessy,” lanjutnya. “Itu berarti kita sudah cukup sampai di sini.”
          Mendengar itu aku merasakan sesuatu bergejolak di dalam sini. Entah di mana tepatnya. Aku memalingkan wajahku darinya. Pikiranku langsung kacau. Entah ingin marah, menangis, atau pergi saja. Tapi belum selesai aku beragumen dengan perasaanku sendiri, kudengar suaranya yang khas. Laki-laki beraroma maskulin itu menyentuh bahuku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
          “Maafkan aku,” ucapnya, kemudian melangkah pergi. Aku melihat punggungnya menghilang di balik pintu.
          Setelah itu, dia bukan lagi milikku. Dia milik ibunya. Dan ibunya menyerahkannya kepada Jessy. Perempuan yang selalu menguntit kemana saja aku dan dia pergi. Penguntit itu akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan. David. Tapi hanya sebentar, mungkin beberapa menit saja. Setelah itu ia pergi untuk selama-lamanya. Laki-laki beraroma maskulin itu pergi setelah memberikan rasa sakit padaku. Sebuah tabrakan mobil tidak jauh dari rumahku mengubah skenario hidupku selanjutnya. Semenjak itu aku merasa tidak punya dunia. Rasanya lebih sakit dibanding ketika ia mengatakan kata pisah. Dan sekarang, giliranku untuk mengatakan kata pisah, ‘Selamat tinggal, David’
          Karena kejadian itu aku ada di sini. Ruangan pengap yang mengurungku. Tembok-tembok kokoh yang selalu mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Dan dia, laki-laki yang sedang duduk di sampingku, hanya aku yang bisa melihatnya. Dia adalah kemustahilan itu. Yang menyebabkan semua ini. Tapi bodohnya, justru aku menghadirkannya di ruangan pengap ini. Aku menghidupkannya lewat imajinasi.
          Pintu kembali terbuka. Perempuan berseragam putih itu masuk bersama dengan seorang wanita paruh baya. Aku mengenali wajahnya.
          “Kenapa dia masuh dikurung di sini?” Tanyanya kepada perempuan berseragam putih itu.
          “Karena dia terlalu bahaya jika dibiarkan bergabung dengan pasien lainnya,” jawab perempuan berseragam putih itu dengan tatapanya yang dingin mengarah kepadaku. Aku tidak terima ditatap seperti itu.
          Aku segera bangkit dari tempatku, lalu tanpa memberinya kesempatan untuk memberi perlawanan, aku langsung menjambak rambutnya. Dia berusaha melawan, tapi tenagaku jauh lebih kuat. Dia sedang tidak membawa alat suntik, jadi aku bisa selamat. Dia tidak bisa membuatku merasa lemas sekarang. Wanita baruh baya itu berusaha melerai. Aku tidak mempedulikannya. Rasa sakit hatiku yang sudah terlalu dalam padanya membuatku menjadi seperti orang gila. Menjambak rambut perempuan berseragam putih itu tanpa memberinya ampun, meskipun ia sudah menjerit-jerit kesakitan.
          “Sandra, sudah, nak! Sudah!” Perempuan paruh baya itu kembali mencoba untuk melerai.
          “Ibu tidak suka kamu seperti ini!” Lanjutnya lagi dengan intonasi suara yang tinggi. Aku tersentak, lalu perlahan-lahan melepaskan perempuan berseragam putih itu. Rambutnya terlihat berantakan sekarang.
          “Perempuan ini pantas mendapatkannya,” aku menunjuk ke arah perempuan berseragam putih dengan tatapan tajam.
          “Dia adalah penguntit itu, ibu,” lanjutku. Amarahku rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Ibu terlihat kaget.
          “Apa maksudmu?”
          “Kau perempuan penguntit yang selalu mengikuti ke mana saja aku dan David pergi. Kau yang membujuk ibunya David agar meninggalkan aku. Kau juga yang sudah menyebabkan aku ada di sini. Sebenarnya kau yang gila! Bukan aku!”
          Perempuan berseragam putih itu menatap tajam ke arahku. Aku bisa melihat amarahnya meluap-luap di balik sorot matanya. Aku bersiap-siap memberikan bekas luka di wajahnya untuk yang kedua kalinya. Tanganku sudah membentuk sarung tinju. Tapi ibu segera menahannya. Dia memegang tanganku, lalu memelukku erat. Dia menyalurkan kehangatannya.
          “David sudah meninggal, Sandra,” ucap ibu lembut di telingaku.
          “Aku tahu, ibu. Aku tidak gila!”
          Kemudian sosok laki-laki itu muncul dari balik punggung perempuan berseragam putih. Ia tersenyum ke arahku, lalu melambaikan tangan. Kemudian ia melangkah keluar dari ruangan. Setelah itu, aku melihat sosoknya tiba-tiba menghilang. Aku berhenti berimajinasi tentang dia.
          Setelah kejadian itu ibu membawaku pulang dari rumah sakit jiwa. Aku akhirnya meninggalkan ruangan pengap. Sore ini, aku duduk sendiri di halaman belakang rumah. Menatap senja yang memancarkan warna jingga di langit.  Aku akhirnya pulang!

***



Readmore

Cerpen Annisa Zahraa


PAMAYANG
Oleh: Annisa Zahraa

Banyak berita yang mengabarkannya, lewat gemerisik angin yang menjatuhkan daun-daun ketapang, atau membisikannya pada duri daun pandan yang tajam. Sore itu semua mata tertuju pada sebuah rumah-rumahan kecil yang digantungi macam-macam bunga atau makanan hasil bumi, ya benar itu dondang, jampana penuh sesaji.

Seorang pemuda dengan perawakan tinggi putih dan rapih, menggunakan kemeja lengan panjang yang ditilap sampai siku, tersenyum menatap ayahnya yang hendak berangkat. Namun sang ayah tetap acuh. Sang pemuda kira-kira berumur 24 tahun itu tak merubah rona mukanya, tetap hangat dengan barisan gigi putih yang menghiasi senyuman khas, meskipun ekspresi yang diharapkan dari raut sang ayah berbeda.

Dengan penuh pertimbangan ia memulai pembicaraan, “Aku tak mengerti mengapa ayah dari dulu hingga sekarang melakukan hal ini”, akhirnya malah kalimat itu yang keluar dari mulutnya. “Sampai kapan kau akan terus melarangku melakukan tradisi ini? Apa kau tidak bosan kotopelo (anak kecil)?” ayahnya menyudutkan. Dengan nada meyakinkan ia pun menjawab, “Aku tidak pernah bosan mengingatkan bahwa itu perbuatan musrik, bukankah mengenai usia dan rijki sudah ada yang mengatur?” ayahnya teramat geram sang anak yang ia didik sejak kecil kini jadi jerat untuk dirinya, “Apakah korban-korban yang berjatuhan belum bisa meyakinkan mu juga? Badai mengamuk dan jiwa-jiwa terenggut” sorot matanya penuh amarah. “Puluhan tahun yang lalu sebelum ayah dilahirkan ke dunia ini, tradisi ini telah ada. Mereka nenek moyang kita adalah para nelayan yang menggantungkan hidupnya dengan kemurahan laut, mereka bisa bertahan karena itu, kau pun bisa sekolah sampai ke Darut Tauhid sana karena hasil laut, tak sadarkah kau kotopelo bahwa ikan-ikan itu yang menghidupi kamu? Kamu bisa petatang-peteteng seperti sekarang ini karena siapa lagi, kalau bukan karena laut. Jadi tak pantas jika sekarang kamu melarang-larang ayahmu ini hanya untuk sekedar mengucapkan terimakasih”.

Lukman terpekur mendengar panjang lebar penjelasan sekaligus perlawanan ayahnya. “Ayah, tapi caranya yang Lukman tidak suka, berterimakasih pada laut bukan dengan cara seperti ini, mengapa daging-daging itu dilempar ke laut? Mengapa tidak diberikan saja ke tetangga kita yang kekurangan. Tapi ya sudah Lukman mau pamit dulu, maafkan Lukman ayah?”

Batinnya berkecamuk antara bimbang dan ketegasan. Ayahnya menoleh dan berlalu tanpa kata, sepertinya ia masih enggan berkata dengan anaknya. Lukman anak satu-satunya yang ia besarkan dengan keringat seolah tak bisa memahami bahwa dirinya telah tua. Ia kini tak bisa lagi menerima dalih anak muda untuk meruntuhkan sebuah adat. Apalagi kini, sejak dua tahun lalu itu masyarakat mengangkatnya jadi sesepuh. Runyam.

Tak ada yang salah dengan adat ini celotehnya dalam hati. Hajat laut hanya lah suatu proses syukuran massal yang di lakukan oleh masarakat pantai, khususnya masarakat nelayan seperti dirinya ini. Hajat laut yang di adakan setiap tahunnya di Pantai Pamayang sebagai ungkapan syukur. Syukuran hajat laut ini di adakan hampir setiap tahun, tepatnya pada bulan Muharram dan biasanya seluruh masarakat nelayan yang mengadakannya. Tiap-tiap bulan Syura dikampung pesisir pantai ini mengadakan pesta syukuran yang dinilai sebagian masyarakat sebagai upacara sakral.

Lukman pergi menjauh, budaya terkadang membuatnya dilema. Ada rasa semacam spiritual yang tak bisa ditinggalkan oleh masyarakat, telah mendarah daging dalam detik-detik babak kehidupan. Diturunkan secara pasti tanpa disadari. Ah, semuanya semu buatku. Antara kepercayaan dan kebudayaan. Lukman mendesah risau.

Waktu terus bergulir meskipun para pengisi waktu enggan menyadari bahwa ia baru melewatinya dengan kesia-siaan dan kehampaan. Ia menggulir-gulir matahari dari timur ke barat dengan renggang seolah sama. Sore sudah tiba lagi. Semuanya berjalan dengan terasa cepat, awan hitam menutupi gulungan-gulungan ombak. Kemudian ombak-ombak itu merangkul dan melumat awan-awan yang berarak hampir menyentuh garis fatamorgana.

Hujan badai deras, halilintar menyambar-nyambar. Suara guruh bersahut-sahutan seolah dua raksasa tengah bertengkat tentang kehidupan yang semu dan palsu. Masing-masing mempertahankan sebuah argument yang mereka bilang itu adalah kebenaran.

Ketika jampana itu pergi dihantam bah yang marah, semua gempar jika sang sesepuh pun tidak menampakan diri, entah mungkin diambil roh ombak yang keji, raib seperti angin kencang yang tiba-tiba berhenti dan kembali menampakan keramahannya, sikap manisnya, dipagi hari setelah malam malam sebelumnya berlarut-larut dalam timpaan siksa nestapa.

Lukman, menghela napas, perkataannya tak berbekas. Ayahnya telah pergi tanpa bisa memahami arti terimakasih yang sesungguhnya. Baru saja pintu terbuka, kini pintu itu telah tertutup. Pamayang, pesisir pantai selatan Tasikmalaya murung, ombak keruh menggulung-gulung kaki Lukman seolah memberi sambutan selamat datang dan ucapan pengaduan jika alam sudah rusak, jika ucapan terimakasih manusia tak tepat. Lukman seolah mendengar ada suara yang begitu keras, hingga kepalanya pening, “Bukan jampana dan kepala kerbau yang kami butuhkan, bukan sama sekali. Cukuplah manusia berterimakasih dengan menyimpan dan memelihara harta kami, alam kami. Alam laut dan pantai.”

Lukman memandang sekitar, ia saksikan alat-alat berat rupiah berjejer pongah, pasir-pasir putih menggunung bisu. Tuhan pasti memberi jawaban atas perilaku manusia ini. Desah Lukman berat, angin laut yang tak lagi bersahabat mengaburkannya. Ia mendesau dan membisikan sesuatu, “Menunggulah….”

Annisa Zahraa Mahasiswa UPI Tasikmalaya
Hanya seorang yang sedang menjadi orang lain, lalu berusaha menemukan dirinya kembali. Dikumpulan jerami sawah yang basah ia berteriak, angin tak pernah menyampaikan teriakannya, hanya pada tulisan ia bergema. Kini di UPI Tasikmalaya, sebagai mahasiswa yang biasa saja.
Readmore

Sajak Arya Mahessa Pratama


KETIKA

Ketika sedih hanya hujan temanku
Ketika bahagia hanya matahari temanku,
Ketika bosan hanya pelangi temanku.
Ketika rindu hanya angin temanku.

Ketika kamu yang mengalami semuanya
ku akan menjadi hujan, matahari, angin dan pelangi
Agar kamu tak kesepian


KETULUSAN CINTA

Aku tahu aku hanya sebuah manusia biasa.
Aku hanya manusia yang hanya mampu mencintaimu apa adanya.
Beginilah diriku Yang mencintaimu tulus dari hati.
Beginilah diriku yang menyayangimu selalu.
Mungkin banyak pria diluar sana yang lebih dari aku.
Baik itu lebih harta ataupun lebih fisik.
Namun aku tak gentar mencintaimu layaknya romeo mencintai juliet.
Dan aku akan terus menjagamu layaknya seorang prajurit kepada rajanya.

Meskipun aku harus terluka dan tersakiti.
Hati ini telah siap seperti sebuah baja.
Karena cinta yang tulus tak mengharapkan sebuah imbalan
ataupun belas kasih.
Yang aku harapkan hanya sebuah senyuman dan takkan ada setetes
pun airmata
yang jatuh ke pipimu.
Karena disitulah rasa luka dan sakit yang mungkin baja pun
takkan mampu menahannya.
Dan disitulah penyesalan dalam hidupku jika aku melihat satu
tetes airmatamu.

Airmatamu ibarat sebuah peluru yg berkali kali menembak ke arah hatiku
Dan senyummu lah ibarat pelindung dari peluru peluru yg menembak ke hatiku.
Karena senyummu lah yang membangkitkan sejuta bunga ditaman.
Karena senyummu lah yang memunculkan sebuah pelangi yang membuat indah
taman itu.
Karena senyummu mampu membuat sejuta keindahan.
Karena kamu begitu indah dan baik.

Aku memang takut kehilanganmu.
tetapi aku lebih takut tak bisa melihatmu lagi apalagi tak bisa
melihat senyummu.
Meskipun aku tak memilikimu tetapi aku masih bisa memiliki
cintamu, cinta untukmu.
Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ku juga.


ingat janjiku selalu kan tetap mencintaimu.
Sampai terompet sangkala berbunyi dan memisahkan kita


Arya Mahessa Pratama adalah Mahasiswa Gunadarma yang sedang bergairah menulis puisi
Readmore

Sajak Saiful Anam Assyaibani


PEREMPUAN TUA DAN NASI BORAN

di pinggir malam di bawah tiang-tiang lampu trotoar
perempuan tua dan nasi boran berjejar menunggu
bayangan tubuhnya sendiri
di simpang lima jalanan yang menikung
dalam sepincuk nasi yang menggelinding
dihempas angin dan tetes waktu

selembar sapu tangan menyesap basah
keringat dan sisa percakapan embun
yang berayun di rimbun pohonan

lantas pagi seperti senja
hanya dingin dan kelam
dalam diam
seperti raut wajahmu
seperti kampungku
yang hujan
memintal debu
mengentalkan
malam
di tubuhmu
yang rapuh

tapi rindu
seperti berbisik
tentang batas dan ujung
perjalanan
karena sisa usia
terlalu berat menahan
panggul-panggul
mimpi di pundakmu
dari dan ke pangkuan
lelap.

Lamongan, 2013

 
RAHASIA ASIN TUBUHMU

kau mengingatkanku pada alkitab
saat tuhan menghentikan matahari
dan bulan dan membaginya
dalam ke dua matamu

kau mengingatkanku pada maria
ketika isa lahir di kandang domba
sementara kau mengandung seekor domba
dalam rahimmu tanpa gereja
tanpa seorang bapa

karena itulah sebabnya aku mencintaimu
seperti nuh mencintai perahunya
dan aku melayari tubuhmu
seperti khidir melayari lautan
dan menyimpan rahasia asin tubuhmu
menjadi tawar

maka izinkan aku merobek bajumu
memungut seekor domba dari rahimmu
dan kelak akan aku ajarkan kepadanya
tabir mimpi yang manusia tak sanggup
menafsirkannya

karena aku mengingatmu
seperti aku mengingat kesucian
maka ingatlah cintaku padamu
seprti cintanya adam dan hawa
muhammad dan khadijah
dan cinta ali kepada fatimah
karena aku mencintaimu
seperti zulaikha mencintai
yusuf.

Lamongan, 2013


NUBUAT

sebelum aku menjadi abu
aku adalah amsal
kidung agung gereja
kemudian menjelma gema
dari sebuah lonceng
dari sebuah menara

di sini, tuhan disalibkan
dalam bayang-bayang
dari sisa senyala lilin
di malam yang kudus

sebelum aku menjadi abu
aku adalah bilik pengakuan
penyucian dosa
dalam sujud dalam tafakur
yang luka

maka menyayilah
seperti kembala di malam natal
saat menggiring domba-domba
di penghujung desember
yang mencatatkan jejak
kelahiran yang disucikan
waktu.

Lamongan, 25-12-2012


PERJALANAN DI ATAS BUKIT

aku mungkin ada di sana
di atas bukit
ketika matahari
berhenti
di atas kepalamu

sebuah perjalanan
terpaksa menjadi
rahasia kudus
tentang sebongkah kayu
yang menyeret ingatan
pada jejak-jejak
tanpa warna
di antara kelopak
bunga berduri

sementara langit senja
perlahan menyusut
mengemas keabadian
dalam riuh ramai
kesunyatan

ini perjamuan terakhir
mengulas sajak-sajak pertaubatan
dari tubuhmu yang telanjang
dan aku memasuki rumahmu
sebagai jasad yang lelah
dalam jiwa dahaga
paling purba

di bukit itu
ketika waktu terhenti
kesunyian hanyalah
bayang-bayang
dari jarak ketiadaan
yang terus mengejar
dirimu dari diriku
yang kosong

sementara
kematian hanyalah kesementaaraan
yang menuntun ke jalan pulang
sebuah kiblat

dan gerimis menghapus dahaga sajak-sajakku
menuntaskan takdirnya yang luka
saat aku berdiri di atas bukit
menyaksikan diriku sendiri
disalibkan dalam doa
air mata yang sekarat
dalam tubuhmu yang jasad
seperti seekor domba
yang kelak koyak
dikorbankan

aku akan pulang ke kampung halamanmu
dari perjalanan di atas bukit
dari tempatmu
yang tinggi.

Lamongan, 09 -05-2013


Cerita Pendek Tentang Membaca Cakrawala
Pada Suatu Adegan Pementasan Teater

fragmen /1/
“siapa merobek buku bersampul bulan
purnama berwarna ungu” seru sebuah kata
dari balik huruf yang belum selesai ditenun
menjadi pintalan larik-larik puisi
mata pena seperti menyimpan tetes
gurat airmata yang hitam
hanya ia enggan menggoreskan jerit luka
ketika bayang-bayang perjalanan
pada sebuah rak buku yang tergeletak
kumal dalam setumpuk debu

“cakrawala akan sulit dituliskan” bisik
sunyi dalam hati.

fragmen /2/
MASIH SAJA AKU PANDANGI BUKU
YANG BERSERAK DI MEJA BELAJAR
SAMBIL MENERAWANG
MENATAP HAMPA MASA DEPAN
YANG SEMAKIN GEMETAR
MESKI KUTEMUKAN SAMAR CINTA
YANG TERSEMBUNYI
DI BALIK ARAH MATAAIR

“kemana timba akan menggali
sumur” tiba-tiba dadaku bergemuruh
seperti ombak, tapi aku
seperti terkubur sendiri
di bawah timbunan sekian buku
yang tak sanggup ku baca
kata demi katanya
meski agama
sejarah
teknologi
eksakta
filsafat
bahasa
dan sastra
senantiasa membuka
dirinya yang menyala.

fragmen /3/
sementara di sudut cakrawala
aku membaca ratap tangis:
“tak adakah sutradara yang datang
dan berbaik hati mengubah adegan ini
menjadi sekedar dongeng saja”

di akhir kisah
aku hanya sanggup menutup
lembaran cerita yang telah kurobek sendiri
aku tahu naskah lakon ini adalah
pementasan teater dari kurikulum
yang belum jadi;
seperti sebuah puisi
ini.

Jakarta, 27 Maret 2013



DI PERSIMPANGAN PUISI


membaca puisi dalam diri
di dalam diri
angin-angin menusuk telinga
adalah persimpangan
yang meneriaki perhentian

batu-batu mengutukku menjadi beku
seperti ruh dengan segala sadap
segala sunyi yang lapar
sepanjang sungai

setelah peristiwa itu
sungai-sungai menulis wajahku
melepasku dalam puisi
seperti kelebat seekor burung
menawarkan beribu rindu
melintas hening persimpangan

adalah perjalanan meretas jarak
pada kesederhanaan kata-kata
dan tak sanggup menyeka air
mata pada detak hati

kepada kemurnian matahari
kutengadah sebongkah jiwa
seumpama ular yang mendesis
menyelinap dalam syurga
dan menawar sebutir apel
dalam rahasia
keabadian
dalam nafas syahadat
yang tak lagi setia.

Lamongan, 2014


Saiful Anam Assyaibani Lahir di Lamongan 12 Maret 1983. Aktivitas keseniannya berada dalam Teater Roda, Kostela dan La Rose. Karya-karyanya terpublikasikan di berbagai media pusat dan daerah, seperti; Indupati, Jawa Pos, Kompas, Tempo, Republika, Bali Pos, Surya, Mimbar, Surabaya Pos, Horison, Kidung, Kalam, Sagang, Bongang, Sidogiri, Buletin Pawon, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Haluan dll.

Beberapa karyanya juga terdokumentasi secara komunal tak kurang dari 25 Antologi. Bukunya yang telah terbit adalah Syahadat Sukma, Tamasya Langit, The Lamongan Soul, dan buku pengayaan The Art of Theater.

Sekarang tinggal di Jl. Diponegoro No. 20 Simo Sungelebak 16/V Karanggeneng (62254) Lamongan.
Readmore

Sajak Rahmat Ramadhan

 2 Tahun Lalu

indahnya hari-hari
bahagia tak terhitung jari
kamu 2 tahun lalu
kita bersama cepat berlalu

walau hanya seumur hujan kemarau
rasanya bagaikan letusan krakatau
hidupku penuh warna-warni pelangi jingga
kamu buat aku bahagia tak hingga

bicara bahagia bukan cinta
menatap mesra bukan dusta
mulut bisa bohong merata
tapi hati itu sejujurnya kata

aku luka atau aku cinta

aku sendu atau aku rindu

dulu itu sesingkat kata sayang
membawa buaian mesra menguap melayang

mungkin ada remedial antara kita
atau hanya berhayal seminus nilai sastra

sejujurnya dingin nya hujan
buat kita berteduh ketika berjalan
berbagi dan memberi hati
saling menjaga dan membatasi hati
harus kita ulangi
atau cukup sampai disini

seandainya suatu saat kamu membaca ini
ini siksa ku setiap beranjak menuju sunyi

adakah kamu sama
merasakan kita yang lama
atau hanya aku yang selalu sama

2 tahun lalu
Readmore

Sajak Dewi Nurjannah


Tersenyumlah


Tersenyumlah walau sedih
Berdirilah walau rapuh
Majulah walau sendu
melangkahlah walau pilu
Tertawalah walau menangis
Semangatlah walau meringis

Kuatkan hati meski retak
Tabahkan hati meski terdepak
Menangislah untuk bahagia
Teriaklah agar lega

Diam untuk redam amarah
Percaya untuk menerima amanah
Gapai mimpi untuk kenyataan
Raihlah cinta dalam keabadian
Rengkuhlah bintang pada rembulan
Raihlah semua kebahagiaan

Wujudkan mimpi ilahi
Mencapai ridha ilahi
Meraih mimpi sejati
Tetaplah bermimpi



Dewi Nurjannah Lahir di Pati bulan Juni1997 Pelajar SMK Annajah Kayen Pati

Readmore

Sajak Sonny H. Sayangbati


Rumahku
Oleh: Sonny H. Sayangbati
"Pria yang bijaksana, yang membangun rumahnya di atas batu."



Rumahku,
kubangun dia dari batu
yang kuambil dari gunung
kujejerkan dengan perekat
tanah liat bercampur lahar

Kisi-kisi dan sotohnya
kubuat dari kayu aras pilihan
atapnya dari ijuk hutan
satu demi satu kususun
sampai jadi
sebuah rumah
sederhana

Suatu hari
kupanggil penduduk kampung
kuundang mereka
bersantap malam
dengan cahaya api unggun
duduk berkeliling
dan kukatakan sesuatu
ini rumahku namun kosong
sudilah kiranya handai taulan
memberiku seorang gadis
untuk kujadikan kekasih selamanya
agar rumahku ramai dan bersemarak

Aku berikrar malam itu:
"Berilah kiranya saat ini kesempatan,
aku orang asing di sini,
ingin menetap dalam rumahku di sini."

Tua-tua kampung mendengar,
katanya:

"Hai orang asing kami akan memberimu
seorang wanita yang cocok buatmu, jagalah dia
bangunlah rumah tanggamu di atas batu gunung kami,
kasihi dia seperti kami mengasihimu".

07 Mei 2013



Dua Gelas di Atas meja
Oleh: Sonny H. Sayangbati

Ada dua gelas di atas meja
setiap pagi tersedu
yang satu air teh melati manis panas
dan yang lain kopi hitam pekat panas

Jika senja tiba
dua gelas itu masih ada
tetap panas dan manis

Pada peraduan malam
yang manis dan panas
saling mengulum dan berpagut
dalam selimut hati
membara

06 Mei 2013


Sonny H. Sayangbati Kelahiran 14 Desember, tinggal di Jakarta dan suka menulis dan membaca puisi-puisi, puisi2nya terbit di media cetak dan media online, aktif menulis puisi di beberapa group puisi, pages, blog pribadi, halaman puisinya adalah Info For Us


Readmore

Sajak Trimi Sarianti


Pilihan

Oleh Trimi Sarianti


Saat kegelapan jadi pilihan
Penuh bahagia menikmati dosa
Menghina dan menantang karma
Hilang otak dan akal
Kau cintai kenikmatan terlarang

Tapi
Kau biarkan tubuhmu menderita
Sebagai media penerima siksa
Yang perlahan tapi pasti kau terima



Trimi Sarianti Penulis pemula yg mencintai kata dan mengagungkan kalimat sastra
Readmore

Sajak Lidya Rachmawati


Mantan Terindah
Oleh: Lidya Rachmawati


Dia yang masih terindah, dia yang masih terbaik
dia yang masih aku banggakan
Aku masih dapat melihat dia,
aku masih dapat mendengar suara dia
dan mungkin aku masih dapat dekat dengan dia

Namun inilah kenyataannya
kenyataan yang harus dapat aku terima
kenyataan yang tidak bisa aku pungkiri
Aku melihat dia disebrang sana bersamanya
dia tertawa, dia tersenyum terhadapnya
dia begitu bahagia kala bersama dengannya

Dia tau ada aku didekatnya
dia memberikan senyuman terhadap diriku seakan
dia mengisyaratkan telah bahagia bersamanya
dan seakan melupakanku

Benar hati ini sakit
sakit melihat dia bersamanya
namun aku harus dapat tegar
Tegar hidup tanpa dia dan
tegar hanya bisa hidup dengan bayang-bayang semu dia


Lidya Rachmawati Lahir 07 november 1994 Tengah belajar di perguruan tinggi swasta di jakarta jurusan Bahasa dan sastra Indonesia.


Twitter: @Lidyaarw
Readmore

Sajak Rifqiel 'Asyiq



Surat Untuk Langit


dalam sebuah temaram lilin yang hampir sirna
melirih nafas, hati hati sekali. lalu membuangnya lewat jendela
memeluk selimut embun
sambil menyibak ranting, berdetak desing

sekian juta detik ku menahan rindu pada alam pagi
nyatanya ini bukan rindu, hanya beku. Kelu
Ahh; tidak!!
kulayanglayangkan sebongkah tengadah
menmbus kristal megah nan mewah
mencumbui langit malam

ini malam ke berapa? . .
aku sentuh pelupuk lubukmu
untuk satu jibaku.


Cirebon, Februari 2013.

Readmore

Puisi Rifqil 'Asyiq


Izinkan Aku Panggilimu Dinda


izinkan aku panggilimu dinda, sayang, perempuan 'belah dagu'. bagiku kau adalah seutuh cantik nan anggun raga pada sudut elok bumi dengan serimpit hati putih. bukan, bukan bidadari. namun begitu aku melihatmu, mengingatkanku pada suatu hari ketika;

"pernah kau memintaku menyanyikan lagu pada malam haru
dan ku memilih melantunkan puisi pada hujan senja
aku tabu gemericiknya dengan haru
dan kau pun mengikuti dengan lugu

kau menari di atas panggung
dan ku kembali menulis puisi di atas punggung. ahh . .
bukan hanya terkadang, kita seserasi itu".

sesederhana itu saja, tetap indah ya sayang, semoga kau ingat.
tentang cerita lain;

bukankah kita memang senantiasa bercinta dengan alam?
mari sayang, dekatkan dirimu dengan air ini. tapi jangan sampai riaknya menghanyutkanmu. aku pegangi tanganmu.

beginikah percakapan kita ketika sedang marah*?
bukankah alam pun penuh dengan suara?
mari sayang, kita isi dengan nyanyian cinta dan puisi.
mari sayang, dekatkan lagi dadamu pagi bibir hatiku. namun jangan kau bawa nodanya.
bukankah dadaku hamparan warnamu, pada pelaminan hasrat bermusim. katamu.

nyatanya, padamu jua selalu kuluapkan janji. aku menambahi.
akan ku permainkan sebuah masyghul pada jelempah-jelempah luas dadamu. agar ku penuhi rindangnya dengan seutuh ta'wilku, untukmu saja. karena aku, seperti kau pernah mengulanginya bahwa; sekalipun aku tak pernah ingat bertemu denganmu, namun setiap pertemuan sungguh sulit terlupakan logikaku.

ada aku dan munajat rapat khidmat nan hikmat, sepi dan sebaris puisi disitu. dariku.

sehingga saat kau payungi puing, mendesir habis dalam pikiranku. itu indah, maha engkau pada selayak hatimu.

kini; aku suguhkan debu secangkir, dan kau menggantikanku dengan seutuh moka. itu kesukaanku, katamu.

sayang, ini bukan tentang dahaga, namun debu yang mengajari kita tentang sebuah kecil, sekecil kita. agar kerindangan hatimu semakin semai dengan seutuhmu.

Jakarta, 14 Januari 2013

***


WANITA PANTURA (yang aku ingat)


Perkenalkan, namaku
Martini. Gadis Yatim sejak umur 5 tahun
penyanyi jalanan, langganan
kopayu.. Sahabat.. Luragung Bhineka. menelusur sepanjang
Pantura Cirebon-Jakarta.

Ibuku pagi ini mengantri di TPA Gegesik Cirebon
mengaisi sisa makanan dari yang katanya "kaya"
bahkan berangkat pagi buta, semalam telah ada pesta.
barangkali daging kambingnya masih bersisa. tak tahu mengapa..
kalau semalaman aku tak hirup aroma parfum ibu,
pagi pagi begini ibu selalu ke TPA. cantik nian ibuku dengan malamnya,
yang aku ingat, ibu selalu pulang pagi dengan air mata.

kalau ayahku;
kata neng siti ayah di bacok karena ketahuan mencuri,
kata mang sungeb ayah kawin lagi dengan PSK dari Indramayu.
Nenek bilang, tak usah aku pusingkan ini. lupakan saja ayah bengismu!
seingatku, ayah selalu pulang dengan mata merah.
ayah pun pulang dengan bau mulut yang belakangan ini aku tahu namanya Alkohol.
selalu pulang dengan marah, kemudian tidur.

tak pernah aku dengar cerita tentang kakek.
yang pasti, nenekku setiap malam menyusuri sawah mencari bekal..
untuk berjualan rumba semanggen di Pasar Tegalgubug. katany;
agar aku tak menuruni ayah, dan ibuku.
yang aku ingat, ya begitu yang aku ingat.
untuk yang terahir, izinkan aku bertanya tentang sesuatu pada kalian
Haruskah aku menangisi ini, atau terbahak dengan gelak?


Tegalgubug, 09 Februari 2012

***


SYAHDU SANG LELAKI KECIL
(sebuah peta hidup yang sayang tak di kenang)


semalam ku coba sedikit memaksa untuk kembali
hendak memasuki kehidupan masa
dikala benarbenar kosong tanpa sama' bashar dan af'idah
sayang seribu sayang, memimpikannya pun
sangat sukar

ahirnya ada sedikit cerlang untuk satu kenang
aku coba tengok kembali taman sederhana
di belakang rumah,
tempat dimana ku ramai bermain dengan alam
masa mewarna dengan sesama
aku hanya melamun tanpa jeda

masih coba ku sayu setiap lirih dendang serenade
yang ku dengar hanya gemuruh kreta dari nun kejauhan

aku dengar kesiur melakon lambai
terisak, mendayu layu
ahh.. dulu disitu tempat aku menangis dulu
karena putus tali layanganku

tersandarlah aku di bawah pohon mahoni
melamuni kupukupu yang kian beranjak dewasa
ahh.. disini dulu tempatku sebagai kuli batubata
dengan upah 200 perak untuk 100 batubata yang terangkut
ya milik mang duloh, yang sekarang buka warung kecil.

kiranya air masih berriak
lantunanmu serasa ku dengar mengiringinya
sang perawan bersikat badan dengan kembennya
dan telanjangku berkecipuk dengan lugu tanpa malu

rimbun terselingkap syahdu menyembahkan lagu
di balik hikayah tentang sebuah basah bibirmu
ahh.. hayalku melayang menyundul pilu
walaupun aku tak pernah tahu, siapa dinda itu?..

dan hinggan kini,
saatnya mungkin aku menjemput teman hidup untuk satu kisah yang lebih nyana nyata dan nyaris sempurna.
walau jawabannya masih entah,


Cirebon, 11 Agustus 2012

***


PUISI 2,7 (baca; dua baris tujuh kata)


I. OH, NADA AUROD*

Melafal nada-nada, menyatukan rasa-rasa
Aku dan Allah.

Jakarta, 150213
*Aurod : kata jamak dari Wirid


II. CERITA ALAMKU

Pelangiku sejarah, bernyanyi;
Batas-batas lautan, mencari rindu.

Blok M, 140113


III. MABUK

suluk dewa cinta, letup
di pintu aksara

Jogja, 300113


IV. GADIS

Seperti tenggakan ikan;
izinkan, hanya aku pena'wilmu

Cirebon, 100612


V. TAHAJJUD JAHIL

Goooolll, semangat membara.
sekian kali, subuh membungkam.

Jakarta, 090113.

VI. KUBURAN MIDE**

Tanah basah membisikiku, sendiri;
Kematian memberi waktu

Cirebon, 110901
**Mide; panggilan untuk Nenek di Cirebon



Rifqil 'Asyiq, Mahasiswa dan Santri di sebuah Pesantren Cirebon
Readmore

Puisi Irham Kusuma


Jani


Dari suara-suara
Di antara langit
Dan tongkat
Disitulah
Sajakku bergeser sesenti.

Bergeser laun di atas hibu
Dan kelubung kering
Tiada henti merantai.

Biar angin gegap lelah
Seperti ketar lumbung dada
Yang bergerak.

Sebab menenggelamkan senyap
Serupa bocah
Ingin menjadi inang
Ke arah barat.

Dari kumpulan balasamina
Atau amsal bunyi
Yang ada
Dari ketiadaan
Menuliskan lagu-lagu.

2013



Sunyaruri


Bukan sekadar merekam kisah
Tentang doaku yang menancap
Tumpah bersama tajwid
Yang saling memandangi syahadat

Atau nisbahku yang berkibar
Terbang sendiri
Menentukan jati diri

Adalah ekaprawira menari
Yang menanam zaitun
Seperti hasrat kalbun
Mengitari jabal

Supaya puisi ini tak bingung
Dengan seribu kunang-kunang
Memburu semisal ke barat
Dan iringan batang rappe bait ketiga

2012



Menggoda Penyair


Mesti dengan rahasia apalagi
Yang harus aku sembunyikan.
Ini hanya sebuah angka saja
Bukankah kamu selalu menatap
Pada segala yang aku sajikan
Di antara ruang uap kopi dan
Basah kretek di ladang dengan
Puisi yang selalu berasap.

Tentang lenskap senja
Yang kamu kembalikan lagi
Kepadaku.
Selalu saja kamu memutuskan
Untuk melukis sawah
Untuk melukis ciuman
Tanpa lazuardi yang menaungi
Tanpa bulan yang menggantung.

Tentang subuh bergetar
Di pangkuan
Dan yang membuat lubang hujan
Yang bergerak ritmik
Menuju pangkal matamu.

Di sana kamu menetaskan kata
Dengan atau tidak berbahasa.
Menghitung segala ruhiyat
Sebagian musim alpukat.

Lamat-lamat kita menyecap
Acap menggugurkan daun-daun
Kamu tentu tidak merokok bukan?
Aku bakar bulan yang menggantung
Kamu siapkan lauk-pauk
: biar kita sama-sama jatuh cinta?

2013

 
* Tiga puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 13 Januari 2013



Di Gede Bage


Di seberang yang tua ini
jalan masih panjang
masih kutebas kalimat-kalimat
yang meretas tumpah berserakan.

Entah mengapa,
seribu langkah yang kuyakini
dan doa-doa di malam ini
seakan menjadi mimpiku yang panjang.

Mengakar sampai ke hulu
menggenang di tumpah hujan malam
Gede Bage.

Hanya ada dua kelokan puisi
panjangnya ke Cikapundung
di punggungku
ia membungkuk.

Aku berdiri
memandang jauh lurus
ada empat jalan
bahwa cinta tak tertapak jaraknya.

Dan anak-anak membawa kencringan
serupa kasih
yang ia bawa pulang
sebelum adiknya menangis
sebelum isya menjatuhkan air mata.

2012



Gerimis Di Tubuhku


Lambat membawa kesejukan
menghanyutkan tubuhku
pada genangan hujan bulan september di timur
disusunlah semua kepingan yang mencabuti semua waktu
lorong-lorong sempit, lalu berkedip dalam debu
bertaruh semua
tenaga, air mata
menjadi sungai di tengah bulu kuduk ku
untuk memandikan bayi tahun ini.

Di pohon-pohon kenanga
pasir di tengah takdir
pulau-pulau bernama baru
mungkin terlalu cepat kita terlahir
seperti hidup dalam pongah-pongah semacam liar
yang berdesir.

Tapi, tak juga kita menghangus
dibakar api hati
tergolak di subur mata air
yang kita injak sebagai cuaca basah
sampai jejak menjadi perdu
hutan
angin
air, semua disetubuhi waktu.

2012


* Dua puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 28 oktober 2012

Irham Kusuma (17thn), lahir di Bandung. Banyak bekerja untuk menulis dan melukis. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan buku antologi puisi bersama. Saat ini masih berstatus sebagai Pelajar.
Readmore

Sajak Irham Kusuma




Phtalocyan

Oleh : Irham Kusuma

Ketebalan angin menyikat api
pelukis wanita ini menggulung
malam tembakau cokelat.
Aku butuh tulang rusukku
itu dilukisanmu.Lukisan susu,
tumbuh tanpa satu ibu.Sepersusuan.

Kalau ku tak perlu selendang
belajar rengut, berdendang
mendalami suara timbre, atau notasi
atau sasar.membilahlah kanvas
kalau ku tutup selendang tak berdebu.

di pusat kegelisahan gemulai tari kuasku
dari lirih, gemulaimu dari bongkah patung.

sebab di samping kita, putih nanar.
aku perlu pewarna, dengan segala hormat
tenggelam ke kanvas cakrawala; katamu suci.
di samping kita, sudah aku niatkan
hanyut mewarnai tanah di darahmu.

-Galeri 212-


***


Egaliter

Oleh : Irham Kusuma

Anggaplah aku sebagaimana kau suka
menjadi wanita atau
aku tak berharap juga pria.

Dadaku terjepit, bunyi panjang
dan harum panggung berselip.
Masalah adalah sebuah perapian
berunggun jantung yang tepi dipilih.

Di antara hujan sempit
aku menentukan permainan
bertukar peran, seperti teriakan
bagi drama yang engkau ciptakan.

Air tanah mengintailah
dalam nomer-nomer revolusi
kesedihan langit jumat
dari mitos sebelum janus telah berputar
kembali ke para pendahulu.

Dan aku akan menuliskan doa mu, neng.
rambut panjangmu seperti sebuah jalan
yang aku kenali,
dimana aku akan bertanya
(meski kau tak menganggap sebagai wanita).

Teater CCL, 2012


***


Khoackk !

Oleh : Irham Kusuma

Langit ini dingin
semua dosa aku peluk
biar panas tubuhku ini
di jilat bagai lidah api.

Di balik selimutmu
aku menunggu
seorang anak akan memberi tisu
hidungku merah mencium bau ludah.

“Jangan khawatir,
  jaman sekarang,
  jaman ingusan.”

2012


***


Pada Suatu Makam I

Oleh : Irham Kusuma

Sepertinya telah menjadi doa
bagi setiap perjumpaan
dengan teriakan ringkik punggung
penziarah.seolah setiap langkah
menjadi jejak nubuat ;
langit berbekas kepanikan ruh
dari apa yang kita rumuskan
pada pertanyaan.karena jalan dan bunyi
telah ditanamkan dalam tubuh kita.

2012


***


Pada Suatu Makam II

Oleh : Irham Kusuma

Duduk di padang jemala
Kaki-kanan kumerah
Dihisap waktu yang jongkok
Tapi tidak juga terkorupsi
Laki-kiriku, nisan.

2012

Irham Kusuma » Masih menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah kejuruan di Kota Bandung. Puisinya pernah dimuat media seperti,Pikiran Rakyat "Khazanah"; Radar Bekasi; Jejak; Buletin Patriot ; koranbogor.com ; radarseni.com, dan beberapa buku antologi puisi bersama.Puisinya menjadi yang terbaik dari lomba yang diadakan oleh salah satu penerbit di kota Lampung (NBC) pada tahun 2012.
Readmore

Sajak Adnan


Kerinduanku Membuncah



seperti di sergap seribu tentara sejuta senjata

Mengigil di tengah siang,
tenggelam di tengah petang
Jauhkan secangkir risau,
atau berikan sedikit gula tanpa parau

Aaah.. wajahmu mendekurpun aku bergidik,
bagai musuh yang hendak dibidik
Bibirmu lentik,
kukumu antik..

tapi, kusuka bola matamu laksana bulan di tengah senja
sayu,
tapi indah,
tapiku suka..

Tunjukkan senyummu niscaya malaikat tangkupkan sayapnya,
Tunjukan tawamu nicaya akan ada agama baru di dunia ini
Tunjukanlah dirimu nicaya itu pasti terjadi

Kulanjutkan menulis ini yang tertunda, dan aku terhenti-henti
Karnaku sastrawan gagal, bukan
Karna kau terlalu menawan jika hanya sekedar kata melukisnya


Readmore
Next Next




 

Copyright @ 2011 By. KSC