Selamat Datang di Blog Kobong Sastra Cipasung

Tampilkan postingan dengan label naskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label naskah. Tampilkan semua postingan

Sajak Arya Mahessa Pratama


KETIKA

Ketika sedih hanya hujan temanku
Ketika bahagia hanya matahari temanku,
Ketika bosan hanya pelangi temanku.
Ketika rindu hanya angin temanku.

Ketika kamu yang mengalami semuanya
ku akan menjadi hujan, matahari, angin dan pelangi
Agar kamu tak kesepian


KETULUSAN CINTA

Aku tahu aku hanya sebuah manusia biasa.
Aku hanya manusia yang hanya mampu mencintaimu apa adanya.
Beginilah diriku Yang mencintaimu tulus dari hati.
Beginilah diriku yang menyayangimu selalu.
Mungkin banyak pria diluar sana yang lebih dari aku.
Baik itu lebih harta ataupun lebih fisik.
Namun aku tak gentar mencintaimu layaknya romeo mencintai juliet.
Dan aku akan terus menjagamu layaknya seorang prajurit kepada rajanya.

Meskipun aku harus terluka dan tersakiti.
Hati ini telah siap seperti sebuah baja.
Karena cinta yang tulus tak mengharapkan sebuah imbalan
ataupun belas kasih.
Yang aku harapkan hanya sebuah senyuman dan takkan ada setetes
pun airmata
yang jatuh ke pipimu.
Karena disitulah rasa luka dan sakit yang mungkin baja pun
takkan mampu menahannya.
Dan disitulah penyesalan dalam hidupku jika aku melihat satu
tetes airmatamu.

Airmatamu ibarat sebuah peluru yg berkali kali menembak ke arah hatiku
Dan senyummu lah ibarat pelindung dari peluru peluru yg menembak ke hatiku.
Karena senyummu lah yang membangkitkan sejuta bunga ditaman.
Karena senyummu lah yang memunculkan sebuah pelangi yang membuat indah
taman itu.
Karena senyummu mampu membuat sejuta keindahan.
Karena kamu begitu indah dan baik.

Aku memang takut kehilanganmu.
tetapi aku lebih takut tak bisa melihatmu lagi apalagi tak bisa
melihat senyummu.
Meskipun aku tak memilikimu tetapi aku masih bisa memiliki
cintamu, cinta untukmu.
Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ku juga.


ingat janjiku selalu kan tetap mencintaimu.
Sampai terompet sangkala berbunyi dan memisahkan kita


Arya Mahessa Pratama adalah Mahasiswa Gunadarma yang sedang bergairah menulis puisi
Readmore

Sajak Dewi Nurjannah


Tersenyumlah


Tersenyumlah walau sedih
Berdirilah walau rapuh
Majulah walau sendu
melangkahlah walau pilu
Tertawalah walau menangis
Semangatlah walau meringis

Kuatkan hati meski retak
Tabahkan hati meski terdepak
Menangislah untuk bahagia
Teriaklah agar lega

Diam untuk redam amarah
Percaya untuk menerima amanah
Gapai mimpi untuk kenyataan
Raihlah cinta dalam keabadian
Rengkuhlah bintang pada rembulan
Raihlah semua kebahagiaan

Wujudkan mimpi ilahi
Mencapai ridha ilahi
Meraih mimpi sejati
Tetaplah bermimpi



Dewi Nurjannah Lahir di Pati bulan Juni1997 Pelajar SMK Annajah Kayen Pati

Readmore

Sajak Mohamad Chandra Irfan


SYAIR

kenapa peristiwa-peristiwa lama
mengekalkan luka, tanpa ada sekarat

di daun jendela
yang mulai rapuh
selendang angin pun
menghadiahkan dirimu

tapi selalu luka

jemari ini mesti tuntas
meriwayatkanmu, bahwa
sangatlah biru parasmu
sangatlah dingin kau

di jantung ini

aku tahu bahwa esok
kau tak akan datang
dengan setangkai gerbera

tapi bermalam-malam telah kutitipkan
pada seluruh purnama, segumpal sesal ini
yang berabad-abad berkarat

kau tahu
bahwa esok malam aku akan datang
membawa setangkai gerbera yang lain

tanpa ada sekarat

2012

 
PEREMPUAN BERSAYAP MATAHARI

sebab tubuhmu
yang selalu merampas kesabaranku
akhirnya tak bisa kubedakan

mana putih
dan mana ajal

sebab tubuhmu
adalah sayap matahari
sayap bagi setiap cahaya
yang mengepak di setiap puisi
yang tak mungkin bisa
kubedakan mana catatan hari-hariku
dan mana kematian paling suci

bagi sebuah pagi
dan burung-burung

tapi apa
yang selalu tersisa di matamu?
yang selalu memberi isyarat lain
sehingga sisa usiaku seperti dejavu
seperti roman yang ingin sekali kutuliskan

tentang perjumpaan kita
yang singkat itu

katamu, dengan dada gemetar
aku paham akan tubuhmu, tapi
ini malam sebentar lagi berakhir
dan sebentar lagi, tak bisa kubedakan

mana ajal dan mana putih tubuhmu 

2012


KETIADAAN

akankah kita menyimpan
senja berikutnya?

sepanjang langit marun
segala tentang matamu, raib
di layon maghrib

2012


PEREMPUAN MERAH MA'WA

tak bisa kurelakan
bahkan pada siapa pun

sebab pada kelopaknya
bibirmu menjelma merah ma'wa

jika saja taman ini milikku
maka engkau tak mungkin terlahir

dari sisa awan
dan hari-hari yang berat

maka aku pun menyebutnya:
engkaulah sajak pertama

di langit yang licin
di tangan tuhan
yang tak terbaca

kau
bibirmu
kesedihanmu

seperti kasta yang tersisa
di kematian yang terlambat

memberat
sesekali pucat
menuliskan hikayat

di langit yang licin
kau, bibirmu, kesedihanmu
seakan berhenti meneruskan
kesedihan yang lain

di tangan tuhan
yang tak terbaca

2012


TARIANMU YANG TAK PERNAH KHATAM

- tak pernah
  makrifat, di setiap
  dada para abid

I

tarianmu
lebih erotis
dari perang darah

dan kita basah mendesah
tentang nyanyian barzah

senja di garis takdirNya
seakan itulah persetubuhan kita

49 jam lebih
memahami tarianmu
kuhabiskan salam
yang tak khatam

yang kini tersisa
dengan sedikit senja
di tarianmu itu
ada yang lebih afdol

dari persetubuhan kita

II

o, aku yang
memintamu abadi

seperti musim yang selalu
makrifat, di setiap dada
di garis takdirNya

di tarianmu yang tak pernah khatam

2012 
 

BIOGRAFI SAWAH

sawah-sawah

tak menghijau
yang ada sisa igau
burung bangau

seperti abb
terbelah kukunya
basah, terlunta

di dadaku
ia menulisnya tentang
sungai hitam

tentang
tanggal-tanggal
panennya

dan kau mencipta

kampung tercinta
tanpa bahasa
dan kata-kata

semuanya kesedihan kentara

2013
 

PEMETIK HARPA

senarnya mulai menciut
tangannya berlapis kabut
di wajahnya ada angka 9 yang kusut

memuailah langit, beruban berjalan lamban
aku seperti suaranya yang memancar bulan

petikannya mengubah warna biru
menjadi tampak lebih kelabu

seperti tangannya yang melahirkan waktu
tubuh daun pun nampak tersenyum ibu

padahal orang-orang baru saja menggelar rindu
mendongengkan matanya yang palsu

maka jantungku menyepakati pada detik itu
kau datang dengan kenangan yang syarat rambu-rambu

esok aku akan datang menjelma tanganmu
dan kau hanya perlu tiga kali mengetuk palu

sebagai tanda, kita sama-sama akan berwudhu

2013


DAN ADIKKU MENGIGAU

waktu itu aku masih rajin
mengikuti sahur bersama
namun sekarang, hanya kenangan
yang kulihat. hanya itu!

setelah kini tiada
hanya gema dan suara
yang mengapung di dada

di tangan
di punggung jalan
aku mulai memahat ramadhan

mungkin dengan segala kesal
dan segala kebutuhan yang mahal

ah, ibu
pada suaramu yang syahdu
masih kuingat caramu memotong
bawang, menanak nasi, lalu
anakmu yang cikal menangis;

bu, aku ingin ibu yang menyuapi
nasinya!

03.00
setelah bulan jeda di atap
rumah kita yang sederhana
bapak pun; menggelar sajadah
mengguyurkan air wudhu
ke tiap juru rumah

begitulah caranya mencintai
rumah dan seisinya

sedangkan seseorang dan usia
senjanya, tergopoh -- adakah
ini ramadhan penghabisan?

lalu bapak dan ibu
hanya sibuk di dapur

di dapur
aku pun telanjang
seolah ibu menguliti kepalaku
dan bapak mengulek jantungku

dan adikku mengigau;
sesungguhnya, kita tengah
memersiapkan pengantar
kematian kita, masing-masing
tanpa dengan siapapun

2013


VARIASI PAGI

1.

Suatu pagi tepat setelah itu, ada langit membukakan matanya. Sebagai  manusia yang kerap tak mengenal pagi hari – maka begitu samar kulepas kembali warna pagi sejak pertama kali dihadirkan untuk menikmatinya, sejak usia dini. Kabut tak lagi kembali, seolah berlalu membawa kekalutan abadi. Tuhan, aku telah bersuci! Tak heran, garis langit seakan tua, dan memungutut jejaknya. Ada yang diam dan tak mengenal usia. Sebab kita tak lebih iri jika secangkir kopi hanya melintas dalam hati.

2.

Di depan surau, tubuhku tepat simetris pada pohon mangga. Ada keseimbangan antara kata ya dan tidak. Telingaku menoleh ke kiri, seorang cleaning service sedang memungut mimpi anak-anaknya. Ia senantiasa setia dengan lidi – yang berwindu-windu memukulnya. Ah, di surau ini tubuhku kembali pada masa silam. Waktu adalah jam yang retak, ada keramaian; namun suara sepi lebih gaduh ketimbang suara knalpot motor para pegawai negeri.

3.

Gesekan demi gesekan sapu lidi itu semakin keras. Tenanglah pak! Tanganku karam ke dalam langkahmu. Pak, anggaplah jika pagi hari itu selalu misteri, maka sejak saat ini tak lagi seperti itu. Matahari mulai menerobos langit-langit surau. Aku tidak mempersilahkanmu datang dengan sekuning ini. Aku hanya menginginkan kau tetap datang dengan volume yang sama dan biasa.

4.

Ini hari ke sekian kalinya. Setelah lama tak bersua denganmu, kopi. Kopi yang mana? Bukankah semua orang sudah seperti kopi? Tidak, kataku! Manusia itu hanya dedak kopi, ia asing bagi dirinya sendiri. Tidak perlu matematis untuk menjatuhkan vonis seperti ini, cukup kau tahu: ini hari yang sial bagi para pertapa. Sebab sial, betul atau tidak kau hanya dedak kopi?.

5.

Seorang cleaning service itu tak lagi asyik meniduri mimpinya. Ada masa depan sedang menghantui anak-anaknya. Cekung-cembung obralanmu adalah isyarat lain dari lahirnya makhluk yang bernama pagi. Tapi ingat semuanya akan menjadi bias. Kembalilah pada jalan suci, sebelum kita sama-sama bersuci kembali!

2013
 

BISMILAHHIRROHMANIRROHIM

Kubuka semua yang segala maha. Di dalam kekhusyukan ini, ada semacam tanya yang selalu mengurai langit menjadi pertapa, hujan menjadi jumawa. Tentu seisi langit mengiriskan kabar pilu dari surat dan suaraNya yang fasih. Masih kukenang tentang segala macam teror, gelisah, yang tubuhnya senantiasa mewartakan kelaliman seorang yang durhaka. "Engkakukah itu?". Tanyaku.

Kemudian aku mulai berjalan dalam genangan teror dan gelisah itu. Nasib memihakku sebagai pengembara yang dusta. Dan kenapa hanya pada langitlah kepala ini bersembah. Bumi, tak ada yang dapat dirajah, selain pasrah yang kaffah. Pukul empat belas lebih tiga puluh dua menit, atau setengah tiga lebih dua menit. Ada sosok orang tua menghampiri.

Kuingat wajahnya, namun aku lupa garis uratnya. Tapi jelas sekali dari aksen bicaranya. Menyerupai Bapakku. Sebagian tulang iganya hampir menjulur ke ruas jalan. "Ini jembatanmu berjalan, Nak", ucapnya. Sambil matanya tak pernah berkedip. Kuat memang. Ia datang sebagai orang yang tepat. Tepat di saat orang-orang mengajarkan tentang kebohongannya.

"Kenapa mesti tulang igamu, Pak?. Aku takut terjadi sesuatu pada tubuhmu". "Tidak, ini hanya bentuk kangenku padamu, Nak. Sebab, kau harus berjalan pada lahan yang sempit. Yang hanya bisa dilalui oleh ibu jari". Aku masih bertanya dalam hati, jika memang itu Bapakku. Kenapa ia sendiri tidak pernah menjelaskan, kenapa ia datang tepat hari ini. Siapa yang memberinya alamat tempat tinggalku.

Terakhir dari perjumpaan itu, Bapak mengedipkan mata kirinya. Mata kanannya, ia simpan di sakunya. Dan aku pun berbisik pada daun telinganya yang penuh dengan obrolan-obrolan kasar dan ngeri. "Pulanglah, Pak. Ibu sedang menunggu di rumah". Titip bulu mataku buat Ibu. Kini anakmu, sedang dilumat habis oleh kesepian. Ibu pasti lebih tahu tentang arti sepi dan kesepian. Dan Ibu, selalu mengajari bagaimana sepi itu adalah lafadz dari: Bismilahhirrohmanirrohim.

2013
 
Mohamad Chandra Irfan, dengan nama asli Moh. Chandra Irfan Rosyadi. Sempat juga memakai nama pena ‘Mohamad Irfan Rosyadi’, ‘Buroq Argagurnita’ dan ‘Mohamad Chandra’. Lahir di Pagerageung, Tasikmalaya, Jawa Barat. 17 April 1993. Alumni Pondok Pesantren Perguruan KH. Zainal Musthafa Sukamanah, Singaparna. Beberapa puisinya dimuat di beberapa media massa. Terhimpun juga dalam beberapa antologi bersama, antara lain: “62 Penyair Jawa Barat Terkini” (Komunitas Malaikat, 2012), “Poetry-poetry from 120 Indonesian Poets: Diverse” (Shell Publishing. 2012), “Antologi Puisi Religi Ziarah Batin” (JavakarsaMedia, Yogyakarta, 2013). Menulis puisi, esai, dan menjadi aktor teater. Mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Jurusan Seni Teater.

Readmore

Sajak Rifqiel 'Asyiq



Surat Untuk Langit


dalam sebuah temaram lilin yang hampir sirna
melirih nafas, hati hati sekali. lalu membuangnya lewat jendela
memeluk selimut embun
sambil menyibak ranting, berdetak desing

sekian juta detik ku menahan rindu pada alam pagi
nyatanya ini bukan rindu, hanya beku. Kelu
Ahh; tidak!!
kulayanglayangkan sebongkah tengadah
menmbus kristal megah nan mewah
mencumbui langit malam

ini malam ke berapa? . .
aku sentuh pelupuk lubukmu
untuk satu jibaku.


Cirebon, Februari 2013.

Readmore

Puisi Rifqil 'Asyiq


Izinkan Aku Panggilimu Dinda


izinkan aku panggilimu dinda, sayang, perempuan 'belah dagu'. bagiku kau adalah seutuh cantik nan anggun raga pada sudut elok bumi dengan serimpit hati putih. bukan, bukan bidadari. namun begitu aku melihatmu, mengingatkanku pada suatu hari ketika;

"pernah kau memintaku menyanyikan lagu pada malam haru
dan ku memilih melantunkan puisi pada hujan senja
aku tabu gemericiknya dengan haru
dan kau pun mengikuti dengan lugu

kau menari di atas panggung
dan ku kembali menulis puisi di atas punggung. ahh . .
bukan hanya terkadang, kita seserasi itu".

sesederhana itu saja, tetap indah ya sayang, semoga kau ingat.
tentang cerita lain;

bukankah kita memang senantiasa bercinta dengan alam?
mari sayang, dekatkan dirimu dengan air ini. tapi jangan sampai riaknya menghanyutkanmu. aku pegangi tanganmu.

beginikah percakapan kita ketika sedang marah*?
bukankah alam pun penuh dengan suara?
mari sayang, kita isi dengan nyanyian cinta dan puisi.
mari sayang, dekatkan lagi dadamu pagi bibir hatiku. namun jangan kau bawa nodanya.
bukankah dadaku hamparan warnamu, pada pelaminan hasrat bermusim. katamu.

nyatanya, padamu jua selalu kuluapkan janji. aku menambahi.
akan ku permainkan sebuah masyghul pada jelempah-jelempah luas dadamu. agar ku penuhi rindangnya dengan seutuh ta'wilku, untukmu saja. karena aku, seperti kau pernah mengulanginya bahwa; sekalipun aku tak pernah ingat bertemu denganmu, namun setiap pertemuan sungguh sulit terlupakan logikaku.

ada aku dan munajat rapat khidmat nan hikmat, sepi dan sebaris puisi disitu. dariku.

sehingga saat kau payungi puing, mendesir habis dalam pikiranku. itu indah, maha engkau pada selayak hatimu.

kini; aku suguhkan debu secangkir, dan kau menggantikanku dengan seutuh moka. itu kesukaanku, katamu.

sayang, ini bukan tentang dahaga, namun debu yang mengajari kita tentang sebuah kecil, sekecil kita. agar kerindangan hatimu semakin semai dengan seutuhmu.

Jakarta, 14 Januari 2013

***


WANITA PANTURA (yang aku ingat)


Perkenalkan, namaku
Martini. Gadis Yatim sejak umur 5 tahun
penyanyi jalanan, langganan
kopayu.. Sahabat.. Luragung Bhineka. menelusur sepanjang
Pantura Cirebon-Jakarta.

Ibuku pagi ini mengantri di TPA Gegesik Cirebon
mengaisi sisa makanan dari yang katanya "kaya"
bahkan berangkat pagi buta, semalam telah ada pesta.
barangkali daging kambingnya masih bersisa. tak tahu mengapa..
kalau semalaman aku tak hirup aroma parfum ibu,
pagi pagi begini ibu selalu ke TPA. cantik nian ibuku dengan malamnya,
yang aku ingat, ibu selalu pulang pagi dengan air mata.

kalau ayahku;
kata neng siti ayah di bacok karena ketahuan mencuri,
kata mang sungeb ayah kawin lagi dengan PSK dari Indramayu.
Nenek bilang, tak usah aku pusingkan ini. lupakan saja ayah bengismu!
seingatku, ayah selalu pulang dengan mata merah.
ayah pun pulang dengan bau mulut yang belakangan ini aku tahu namanya Alkohol.
selalu pulang dengan marah, kemudian tidur.

tak pernah aku dengar cerita tentang kakek.
yang pasti, nenekku setiap malam menyusuri sawah mencari bekal..
untuk berjualan rumba semanggen di Pasar Tegalgubug. katany;
agar aku tak menuruni ayah, dan ibuku.
yang aku ingat, ya begitu yang aku ingat.
untuk yang terahir, izinkan aku bertanya tentang sesuatu pada kalian
Haruskah aku menangisi ini, atau terbahak dengan gelak?


Tegalgubug, 09 Februari 2012

***


SYAHDU SANG LELAKI KECIL
(sebuah peta hidup yang sayang tak di kenang)


semalam ku coba sedikit memaksa untuk kembali
hendak memasuki kehidupan masa
dikala benarbenar kosong tanpa sama' bashar dan af'idah
sayang seribu sayang, memimpikannya pun
sangat sukar

ahirnya ada sedikit cerlang untuk satu kenang
aku coba tengok kembali taman sederhana
di belakang rumah,
tempat dimana ku ramai bermain dengan alam
masa mewarna dengan sesama
aku hanya melamun tanpa jeda

masih coba ku sayu setiap lirih dendang serenade
yang ku dengar hanya gemuruh kreta dari nun kejauhan

aku dengar kesiur melakon lambai
terisak, mendayu layu
ahh.. dulu disitu tempat aku menangis dulu
karena putus tali layanganku

tersandarlah aku di bawah pohon mahoni
melamuni kupukupu yang kian beranjak dewasa
ahh.. disini dulu tempatku sebagai kuli batubata
dengan upah 200 perak untuk 100 batubata yang terangkut
ya milik mang duloh, yang sekarang buka warung kecil.

kiranya air masih berriak
lantunanmu serasa ku dengar mengiringinya
sang perawan bersikat badan dengan kembennya
dan telanjangku berkecipuk dengan lugu tanpa malu

rimbun terselingkap syahdu menyembahkan lagu
di balik hikayah tentang sebuah basah bibirmu
ahh.. hayalku melayang menyundul pilu
walaupun aku tak pernah tahu, siapa dinda itu?..

dan hinggan kini,
saatnya mungkin aku menjemput teman hidup untuk satu kisah yang lebih nyana nyata dan nyaris sempurna.
walau jawabannya masih entah,


Cirebon, 11 Agustus 2012

***


PUISI 2,7 (baca; dua baris tujuh kata)


I. OH, NADA AUROD*

Melafal nada-nada, menyatukan rasa-rasa
Aku dan Allah.

Jakarta, 150213
*Aurod : kata jamak dari Wirid


II. CERITA ALAMKU

Pelangiku sejarah, bernyanyi;
Batas-batas lautan, mencari rindu.

Blok M, 140113


III. MABUK

suluk dewa cinta, letup
di pintu aksara

Jogja, 300113


IV. GADIS

Seperti tenggakan ikan;
izinkan, hanya aku pena'wilmu

Cirebon, 100612


V. TAHAJJUD JAHIL

Goooolll, semangat membara.
sekian kali, subuh membungkam.

Jakarta, 090113.

VI. KUBURAN MIDE**

Tanah basah membisikiku, sendiri;
Kematian memberi waktu

Cirebon, 110901
**Mide; panggilan untuk Nenek di Cirebon



Rifqil 'Asyiq, Mahasiswa dan Santri di sebuah Pesantren Cirebon
Readmore

Puisi Irham Kusuma


Jani


Dari suara-suara
Di antara langit
Dan tongkat
Disitulah
Sajakku bergeser sesenti.

Bergeser laun di atas hibu
Dan kelubung kering
Tiada henti merantai.

Biar angin gegap lelah
Seperti ketar lumbung dada
Yang bergerak.

Sebab menenggelamkan senyap
Serupa bocah
Ingin menjadi inang
Ke arah barat.

Dari kumpulan balasamina
Atau amsal bunyi
Yang ada
Dari ketiadaan
Menuliskan lagu-lagu.

2013



Sunyaruri


Bukan sekadar merekam kisah
Tentang doaku yang menancap
Tumpah bersama tajwid
Yang saling memandangi syahadat

Atau nisbahku yang berkibar
Terbang sendiri
Menentukan jati diri

Adalah ekaprawira menari
Yang menanam zaitun
Seperti hasrat kalbun
Mengitari jabal

Supaya puisi ini tak bingung
Dengan seribu kunang-kunang
Memburu semisal ke barat
Dan iringan batang rappe bait ketiga

2012



Menggoda Penyair


Mesti dengan rahasia apalagi
Yang harus aku sembunyikan.
Ini hanya sebuah angka saja
Bukankah kamu selalu menatap
Pada segala yang aku sajikan
Di antara ruang uap kopi dan
Basah kretek di ladang dengan
Puisi yang selalu berasap.

Tentang lenskap senja
Yang kamu kembalikan lagi
Kepadaku.
Selalu saja kamu memutuskan
Untuk melukis sawah
Untuk melukis ciuman
Tanpa lazuardi yang menaungi
Tanpa bulan yang menggantung.

Tentang subuh bergetar
Di pangkuan
Dan yang membuat lubang hujan
Yang bergerak ritmik
Menuju pangkal matamu.

Di sana kamu menetaskan kata
Dengan atau tidak berbahasa.
Menghitung segala ruhiyat
Sebagian musim alpukat.

Lamat-lamat kita menyecap
Acap menggugurkan daun-daun
Kamu tentu tidak merokok bukan?
Aku bakar bulan yang menggantung
Kamu siapkan lauk-pauk
: biar kita sama-sama jatuh cinta?

2013

 
* Tiga puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 13 Januari 2013



Di Gede Bage


Di seberang yang tua ini
jalan masih panjang
masih kutebas kalimat-kalimat
yang meretas tumpah berserakan.

Entah mengapa,
seribu langkah yang kuyakini
dan doa-doa di malam ini
seakan menjadi mimpiku yang panjang.

Mengakar sampai ke hulu
menggenang di tumpah hujan malam
Gede Bage.

Hanya ada dua kelokan puisi
panjangnya ke Cikapundung
di punggungku
ia membungkuk.

Aku berdiri
memandang jauh lurus
ada empat jalan
bahwa cinta tak tertapak jaraknya.

Dan anak-anak membawa kencringan
serupa kasih
yang ia bawa pulang
sebelum adiknya menangis
sebelum isya menjatuhkan air mata.

2012



Gerimis Di Tubuhku


Lambat membawa kesejukan
menghanyutkan tubuhku
pada genangan hujan bulan september di timur
disusunlah semua kepingan yang mencabuti semua waktu
lorong-lorong sempit, lalu berkedip dalam debu
bertaruh semua
tenaga, air mata
menjadi sungai di tengah bulu kuduk ku
untuk memandikan bayi tahun ini.

Di pohon-pohon kenanga
pasir di tengah takdir
pulau-pulau bernama baru
mungkin terlalu cepat kita terlahir
seperti hidup dalam pongah-pongah semacam liar
yang berdesir.

Tapi, tak juga kita menghangus
dibakar api hati
tergolak di subur mata air
yang kita injak sebagai cuaca basah
sampai jejak menjadi perdu
hutan
angin
air, semua disetubuhi waktu.

2012


* Dua puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 28 oktober 2012

Irham Kusuma (17thn), lahir di Bandung. Banyak bekerja untuk menulis dan melukis. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan buku antologi puisi bersama. Saat ini masih berstatus sebagai Pelajar.
Readmore

Upaya Pemberontakan Seorang Penyair


Oleh: Zulkifli Songyanan

Judul Buku: Tulisan pada Tembok
Penulis: Acep Zamzam Noor
Penerbit: Komodo Books
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-602-91-3710-1
Ukuran: 14,5 x 20,5 cm; 108 hlm
  
Kepenyairan Acep Zamzam Noor (AZN) membentang sejak awal 1980-an hingga hari ini. Dalam rentang waktu lebih dari tiga puluh tahun itu, sekitar 10 kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia telah lahir dari tangan AZN (i). Ditandai dengan Tamparlah Mukaku! (1982), secara tematik AZN muda mengawali kepenyairannya dengan menulis sajak-sajak ketuhanan (sufisme). Namun biarpun begitu, kumpulan puisi pertama AZN yang menghimpun 50 puisi itu, bicara juga ihwal keterasingan manusia, panorama alam, juga cinta dalam pengertiannya yang terbatas. Periode 1980-an merupakan periode yang subur bagi sajak-sajak ketuhanan. Dan bersama Emha Ainun Nadjib serta Ahmadun Yosi Herfanda (dua penyair yang juga menulis sajak-sajak ketuhanan), Harry Aveling menyebut AZN sebagai generasi kedua penulis Indonesia yang muncul di masa Orde Baru(ii).

Sebagai penulis yang tumbuh di masa Orde Baru, keputusan AZN untuk menulis sajak sosial bisa dibilang terlambat. Tentunya, hal itu bukan persoalan besar. Sebab bagi penyair, tema apapun yang ditulis, akan mempunyai makna jika ditunjang dengan kepekaan mengolah rasa (feeling) serta kemampuan memelihara bahasa. Dan bagi AZN sendiri, keputusannya untuk tidak menulis sajak sosial di awal kepenyairannya, lebih berhubungan dengan masalah teknis ketimbang masalah selera. "AZN menjanjikan akan menulis sajak sosial apabila telah menemukan bahasa" ungkap Beni Setia (iii).

Kini, 30 tahun setelah kelahiran Tamparlah Mukaku!, AZN telah tumbuh menjadi penyair dewasa, penyair mandiri: penyair yang telah menemukan bahasanya sendiri.

***

Tulisan pada Tembok menghimpun 87 puisi yang ditulis AZN antara tahun 1979-1989. Dalam catatan pembukanya, AZN menyebutkan bahwa sebagian besar puisi dalam antologi ini pernah dimuat dalam antologi lain, koran, majalah, dan jurnal. Sementara sebagian  lainnya belum dipublikasikan sama sekali. Sejumlah puisi yang dihimpun dalam antologi ini telah mengalami perubahan: huruf, kata, frasa, serta judul, namun tidak sampai mengganggu isi, bentuk, maupun suasana keseluruhan. Bagi saya sebagai pembaca, buku ini menjadi menarik justru lantaran perubahan itu.

Mengubah atau merombak puisi yang sebelumnya pernah termaktub dalam sejumlah buku, koran, maupun jurnal, bukanlah perkara baru dalam kesusastraan Indonesia. Sejumlah nama besar, seperti Chairil Anwar dan Afrizal Malna (untuk menyebut dua nama) tercatat pernah melakukan perombakan dalam puisi-puisinya. Dari fenomena demikian, pembaca memiliki hak untuk menilai apakah puisi-puisi yang sudah dirombak adalah puisi baru, atau sekedar apologi dari puisi sebelumnya yang dinilai belum matang dan memiliki cela? Apapun penilaian itu, puisi yang dirombak sudah dihadirkan penyair ke tengah pembaca. Dan dengan begitu, puisi-puisi tersebut telah menjadi milik khalayak yang patut diapresiasi, bagaimanapun caranya.
   
Secara filosofis, tulisan pada tembok (dalam pengertian yang sebenarnya) bisa diartikan sebagai sarana untuk berontak terhadap hal-hal yang dianggap mapan. Grafiti serta jenis tulisan/coretan lain pada tembok, umumnya mengisyaratkan ekspresi ketidakpuasan terhadap suatu hal yang sifatnya personal maupun komunal. Beranjak dari asumsi tersebut, saya menduga bahwa keputusan AZN menjadikan Tulisan pada Tembok sebagai judul kumpulan antologi puisi terbarunya, didasari oleh kehendak AZN untuk berontak terhadap karyanya sendiri. Dalam esainya "Sekitar Proses Kreatif Saya"(iv), AZN menyatakan ketidakpuasannya terhadap kumpulan puisi pertamanya. Ketidakpuasan AZN tidak semata karena cetakan bukunya yang jelek dan banyak kesalahan. Lebih jauh, AZN merasa dirinya belum mendapatkan pencapaian berarti dari kumpulan puisi pertamanya itu.

Pencapaian yang dimaksud AZN adalah pencapaian berbahasa, pencapaian untuk menaklukan kata-kata. Gaya ucap AZN di awal kepenyairannya, masih dipengaruhi gaya ucap para penyair pendahulunya. Pula, apa yang dituliskan AZN saat itu umumnya masih bersifat artifisial: puisi yang dituliskannya masih berkutat di wilayah permukaan dan belum sampai pada ungkapan simbolik yang lebih sublim maknanya.
   
Dalam "Mengapa Selalu Kutulis Sajak" (1982:10) misalnya, AZN mengawali puisinya dengan bait berikut:
   
Mengapa selalu kutulis sajak/Apabila kerinduan tiba-tiba menyerbuku/Mengapa harus sajak, Tuhanku, mengapa harus ia/Yang mampu kupersembahkan kepadaMu//
   
Apa yang dituliskan AZN di atas, memperlihatkan batasan antara aku-lirik sebagai makhluk dengan Engkau-lirik sebagai Khalik. Gaya ucap demikian, tentunya malah menutup kemungkinan lain yang mesti diperoleh pembaca seusai membaca sebuah puisi. Simak bait "Mengapa Selalu Kutulis Sajak" (2011, 29) berikut:
   
Mengapa selalu kutulis sajak/Apabila kerinduan tiba-tiba menyerbuku/Mengapa harus sajak, kekasihku, mengapa harus ia/Yang mampu kupersembahkan kepadamu//

Pada bait di atas, aku-lirik terlihat lebih dewasa. Aku-lirik telah sampai pada suatu maqam di mana persoalan transenden pada wilayah tata bahasa, tidak selamanya mesti disikapi secara normatif. Dengan demikian, penafsiran terhadap sebuah puisi relijius, tidak melulu berujung pada hubungan antara Tuhan dan hamba. Pada puisi di atas, unsur ambiguitas menemukan relevansinya. Dengan kata lain, meminjam ungkapan Beni Setia, ada tarikan ketuhanan dan kewanitaan, yang bisa ditafsirkan pembaca.

Selain urusan batiniah (urusan makna), urusan lahiriah pada Tulisan pada Tembok kiranya cukup penting juga untuk diapresiasi. Pada dua antologi sebelumnya (Jalan Menuju Rumahmu dan Menjadi Penyair Lagi), puisi-puisi AZN umumnya hadir dengan tipografi melebar ke samping dan larik-larik yang cenderung prosais. Sementara dalam antologi terbarunya, AZN terlihat sangat tertib dalam mempertimbangkan struktur rancang bangun puisi: tipografi puisi menjadi lebih ramping dan efektifitas gaya ucap, unsur rima serta pola kwatrin yang perlahan mulai ditinggalkan penyair angkatan 80-an, malah tampak dominan dalam kumpulan puisi AZN.

Ketika lembar hari luruh/Kabutmu jatuh/Mengaca di bukit-bukit jauh//Gerimis yang turun/Firmanmu yang ngungun/Kudengar lembut mengalun (Lanskap, hal: 36)

   
Tulisan pada Tembok tidak sepenuhnya terhindar dari keberadaan puisi-puisi prosais. Beberapa puisi masih memperlihatkan gejala demikian, termasuk puisi yang menjadi judul antologi ini, "Tulisan pada Tembok" (hal: 65)

Semuanya belum juga menepi. Kapal-kapal di samudera/Pesawat-pesawat di udara, panser-panser di jalanan/Di medan-medan pertikaian. Dan abad-abad yang bergulir/Tahun-tahun yang mengalir, musim-musim yang anyir/Entah kapan berakhir. "Dilarang kencing!" seekor anjing/Menyalak pada dunia. Langit nampak masih membara/Hujan bom di mana-mana. Terdengar tangis bayi/Jerit para pengungsi. Tak henti-henti -/Bukankah seratus Hadiah Nobel telah diobral/Dan seribu perundingan digelar? Tapi di manakah/Perdamaian? Masih adakah perdamaian itu? Semuanya/Belum mau menepi, belum mau melabuhkan diri//
   
   
Puisi yang sebelumnya terhimpun dalam jurnal Perang, Kata dan Rupa (Komunitas Salihara, 2009) itu, mungkin satu-satunya puisi dalam antologi terbaru AZN yang secara tegas bicara (protes) soal tema sosial. Sementara puisi-puisi lainnya, selain bicara soal ketuhanan dan cinta dalam pengertiannya yang luas, juga bicara soal sikap AZN dalam memaknai puisi sebagai pilihan hidupnya.

Seandainya sebuah kutukan/Maka kuterima ia sebagai kutukan/Akan kujalani dengan penuh ketulusan/Seandainya sebuah peleburan/Telah lama kurelakan seluruh hidupku/Menjadi sekedar debu di bawah telapak kakimu// (Mengapa Selalu Kutulis Sajak: hal 29).

Tema apa pun yang ditulis, juga panjang-pendeknya larik dan baris sebuah puisi, pada akhirnya tidak bermakna apa-apa jika berangkat dari ruang hampa. Puisi AZN tentu bukan puisi yang berangkat dari ruang demikian. Ada ruh kata-kata yang senantiasa terpancar dari puisi-puisinya. Dan Tulisan pada Tembok menjadi penting untuk dibaca, tidak semata lantaran kita akan menemukan benang merah 30 tahun kepenyairan AZN di dalamnya. Lebih dari itu, melalui buku kumpulan puisi dengan sampul yang menarik ini, AZN telah membuktikan bahwa puisi yang terus dihidupi, senantiasa memiliki tenaga untuk menggetarkan "suara lain" di dalam kesadaran manusia. *


(i) Tamparlah Mukaku! (1982), Aku Kini Doa (1986), Kasidah Sunyi (1989), Dari Kota Hujan (1996), Di Luar Kata (1996), Di Atas Umbria (1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (2001), Jalan Menuju Rumahmu (2004), Menjadi Penyair Lagi (2007), dan Tulisan pada Tembok (2011).
(ii) Lihat: Harry Aveling, Rahasia Membutuhkan Kata (2003): 162-163.
(iii) Tulisan pada Tembok (2011:2).
(iv) Lihat: kumpulan esai Acep Zamzam Noor, Puisi dan Bulu Kuduk (2011) hal:254-273.



Zulkifli Songyanan, lahir di Tasikmalaya 02 Juni 1990. Menulis puisi dan esai. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra dan Sanggar Sastra Tasik. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata (MPP), Universitas Pendidikan Indonesia.
Readmore

Sajak Gunawan Suryana


Seperti Pak Dirman


Seperti apapun dirinya, batu
Taktergoyahkan
Masa depan larut dengan bumbu perjalanan
Dibasuh pesan langit senyum sejuk itu
Yang jatuh seperti titik hujan  menyentuh bumi

Dan meski di atas tandu
Layaknya pesakitan, semangatnya
Seperti apapun dirinya, batu
Taktergoyahkan

Semula itulah yang sama, kukira
Pada dada mereka yang tersemat
Perunggu emas perak yang mengangkat
Bukan otot-otot lelah yang tetap tegar
Bersemangat mengantar langkahmu
Menuju menang secara ksatria

Tapi tiada,
Cukup syair-syair hari ini
memperingatinya
Takmemukul mati melumat habis
Tegasnya hanya angin lewat

Pak, ajari aku kokang senjata
Supaya kata-kata jadi peluru
Bisikan aku cara buat molotov
Maka mahir berteriak lantang
Menyanyikan bait-bait napalm
Yang taksekadar menembus
Tapi melebur benci jadi kasih

Braga, 2012



Ponsel Multifungsi


Ada telepon menjadi tape recorder, jadi cerita pada sebuah pertemuan, keindahan sebuah perjalanan

Ada cerita dari seseorang dan persahabatan

Dituliskannya dengan rasa sakit dan ia takpedulikan

Pencariannya tentang kusam baju tapi sesuatu yang searti dengan ketulusan
tanpa tanya

Untuk sebuah ingatan
Delapan kepenatan

Cijagra, 2012



Kelomang
: K. Ibrahim


terkapar di musim sunyi
di mana, kemana untuk berirama
berjalan di kesunyian
dan seumpama kelomang itu
jadilah kenyataannya seperti terlihat kini
mungkin takpunya misi
selayak kapak yang digenggam sang nabi
salahkan siapa yang sedang mencari
salahkan masa lalu dan cara berteman
apa yang harus dibayar?
akan seperti apa selanjutnya terserah
coretan itu sekadar kecantikan yang bisu

Cipagalo, 2012



Pada Sebuah Pameran


Pada Sebuah Pameran
Miskin sebuah nama
Dan mencuat angkuh selurus langkah badak

Aku hanya bisa menjadi lensa
Di balik muramnya pencarian
Yang tidak menginginkan tujuh orang itu
Berjuang sia-sia selurus langkah selurus jiwa
Untuk sebuah kehendak merdeka
Di gedung yang sama
Mungkin tidak sama, tapi di mana’kah kita?
Kita tidak dalam sebuah vakansi

Katanya kita bersama-sama
Ternyata tidak, kita sedang terpecah belah

Diponegoro, 2012


 
Pada Sebuah Pelaminan


Yang enggan menunggu lama, sebuah celah
Seperti yang diingatkan, selalu diingatkan
Bahwa menuju ke sana tidaklah semudah itu
Sekali lagi, sedang menjadi lensa
Menarik kesunyian-kesunyian
Menjadi cerita di pagi yang mulai tiba terik
Jangan diganggu

Arcamanik, 2012


 
Ditahan Tahan


Heuyeuh wae jiga kieu, ungal-ungal
Keur pideukeuteun ka ujungna
Sok hayang
Mangkaning keur nikmat-nikmatna
Lalajo

Braga, 2012


 
Bisakah kau meyakinkan aku?
:Tri Utami
Kau pernah bilang, aku akan kecewa
Kita berbatasan untuk suatu yang hujan
Aku rasa jika diyakinkan, aku bisa, aku mau
Menjadikan hutan dan hamparan rerumput
Makna yang kau baca dari suka-suka sikapku
Padamu. Dengan nakal dan malu-malu
Tapi bisakah kau meyakinkan aku?

Meragu telah menjadi bagian keseharian
Rutinitas tubuhku saat memandangi indah
Biru lautan, terjal perbukitan
Bisakah kau meyakinkan aku?
Aku ingin pelukan
Dan harum bau tubuhmu
Supaya aku merasa damai
Dalam kesunyian bersamamu

Progo-Merdeka-Kordon, 2012


 
Braga, Rabu yang Lainnya


Biru dari sebuah tanya dan perangai
Lidah kelu untuk sebuah keinginan
Menorehkan huruf-huruf yang mengerti
Bahwa manusia perlu untuk keintimannya
Memeluk satu pesan yang sama
Bahwa manusia itu sendirian


Cibeureum, 2012


 
Komedi Isi Kantor


Perangai, menuliskan sajak tentang sisi,
Isi, lagi potret jalan pintas dan berliku
Sepanjang bisa kau lihat, jika kau perduli
Rambut terurai, pecah ombak
Batu karang masih menyanyikan kelu
Perjalanan dalam khusuk kerja tanpa pena
Bukan pula sangkur prajurit dan cangkul tani
Sepeda motor, flashdisk dan senyum
Senjata pamungkas relaksasi hati: ikhlas
Mungkin bukan sajak, sebuah prosa
Atau hanya cerita biasa, bukan picisan
Hanya cerita biasa
Perjalanan dalam khusuk
kerja tanpa pena

Viaduct, 2012


Jenazah


Masih terlelap?
Mari segerakan bersujud
Sebelum kau disegerakan

Cibangkong, 2012




Gunawan Suryana, lahir 23 Mei 1978
Alamat   : Komp. Sapta Taruna PU Blok C 199 Bandung  40287
Telepon  : 022-7530436
No 087821605002/ 087825820280

Tempat Bergiat :
1. Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat
2. Asian African Reading Club
3. Forum Lingkar Pena Bandung
4. Majelis Sastra Bandung
5. STIA LAN BANDUNG
Readmore

Sajak Najla Anissa Fatin



KAU DAN HUJAN

Aku masih menyimpan rinai itu dalam lemari kacaku,
yang kita curi ketika hujan terakhir turun kebumi, hari itu.
“simpan dan perlihatkan ketika teman-temannya datang menjenguk,”
ucapmu sebelum berlalu

Kau tau, aku masih ingat bagaimana ia memborbadir hari itu?
lalu kita tertawa dibawah keladi tua
Tntu saja, karna ia kusimpan brsama rinai yang kian menua

saat kau ucap sampai brtmu lagi .
kau tau, aku memluknya hingga nafasnya trsngal

ketika kau ucap bayangku tlah kau bingkai pada senja,
dan kau brjanji akan membagi bayangmu yang kau bingkai pada fajar,
aku akan menunggu bersama hujan!
ah, bodoh sekali.
aku tak mampu menympan rindu pada bising rintik

dan hari ini, sang teman mnjenguknya kembali.
seprti biasa aku mmbawanya keluar lagi,
dan biarkan ia brcengkrama lagi
sampai temannya berucap akan kembali, kuharap mereka mebawamu ikut serta

padang, Mei 2012

Najla Anissa Fatin, Mahasiswi sejarah UNP, sedang giat berkegiatan di Unit Kegiatan Kesenian UNP sebagai koordinator sastra. karyanya pernah terbit dalam buku ontologi oase 2 dan hanya 5
Readmore

Sajak Yopih Suprapta


1) Untuk

Untuk mu,
Seribu malam aku terbang di langit kelam
Sombong
Menebar cahaya yang senyana tak berbinar
Menyangka diri ku bintang

Untuk ku,
Satu malam kau mengundang awan lebam
Mengkristal memantul bayang
Cermin, lupa ku gunakan

Untuk mu,
Berkacalah aku pada kebenaran
Nyatalah sejatinya aku bukan bintang
Jelaslah jelas
Terlihat di tubuh beku itu
Benarlah benar
Seperti dulu cermin ku gambarkan
Aku hanyalah debu,
Segumpal sampah udara

Untuk ku,
Pasrahlah sudah,
Sekuntum bunga malam ku telah menemukan teleskopnya yang hilang

Untuk kita,
Aku melayang-layang di kegelapan
Kau memekar memandang bintang
Tiadalah lagi setitik kekaguman


--------------------


2) Rindu Ini

Rindu ini
Siapalah yang mengerti
Ketika berevolusi menjadi adiksi
Mengaburkan benteng norma dan religi
Mungkin hanya akan terhenti oleh hati mati
Akan terbunuh hanya oleh tombak-tombak benci

Rindu ini
Siapalah yang mengerti
Aku hanyalah manusia
Setelah kata
Lalu suara
Selanjutnya adalah jiwa dan raga nyata
Diantara khayal bayang dan setan menari
Memerangi intimidasi sepi

Rindu ini
Siapalah yang mengerti
Tinggalah kini perih sugesti
Tinggalah kini sensasi nyeri
Tinggalah kini elegi sunyi
Tinggalah kini imajinasi dari mimpi
Dalam kalbu yang terhipnotis seperti wujud cinta sejati
Dala oase alibi fatamorgana cinta suci

Rindu ini
Siapalah yang mengerti
Seindah-indahnya, ketika harus di akhiri


Yopih Suprapta, Lahir di Bogor 30 September 1986
Readmore

Sajak Zulkarnain


“Dua Pilihan”


Di penghujung malam
Dengan hembusan khas yang tanpa aku duga
 Angin sempat memberikan dua hal yang harus aku pilih
“Terima kasih atau maafkan aku”

Sebuah pertanyaan dengan dua pilihan
Telah mengalahkan sebagian waktu untuk berfikir

Dalam perjalanan menentukan jawaban
Aku berkeinginan agar tidak ada pilihan
Tapi, kenyataanlah yang mengharuskan aku untuk memilih

Aku bukanlah orang yang tidak pandai berterima kasih,
Aku bukanlah orang yang gampang melupakan kebaikan-kebaikan,
Semua hal yang diberikan kepadaku, aku terima dengan senyum dan tidak melepaskan sebuah ucapan “terima kasih”
Selama ini, aku belajar untuk menghargai pemberian-pemberian dengan kata-kata terima kasih

Belum kujuwab dengan menentukan sebuah pilihan
Di penghujung malam yang lain
Angin menanyakan lagi satu hal yang sangat penting tentang sebuah status,
 “apakah kamu telah kembali kepadanya?”

Seperti berada di tengah-tengah stepa
Aku melihat betapa angin bertiup sangat cepat
Dan menerbangkan semua yang bisa ia terbangkan
Ke dalam jurang waktu yang sangat gelap
Angin yang tiba-tiba mengundang awan pekat mengandung hujan, tanpa ada yang bisa menghalanginya
Saat jawaban yang ku lontarkan “Iya, aku telah kembali”

Semua terjadi dengan sendirinya
Dan berlahan-lahan, terhendus hembus aroma kebencian yang sangat menyengat
Dan Waktu seolah berhenti

Dari ruang yang tak terukur dalam hatiku
Aku ucapkan “maafkan aku”



Zulkarnain, MI & MTS ALIYAH di AMBON, belum sampai Naik kelas 2 ALIYAH, Pindah Ke Tasik. Alamat Di tasik, Kp. Panembong, Desa Manggung Jaya, kec Rajapolah, Kab Tasikmalaya

Readmore

Tuhan Telah Pensiun

Oleh: Shafwan Nizar


Dahulu, kabarnya tuhan pernah dibunuh, tapi tak mati
tuhan hanya dipensiunkan lalu manusia bersayembara

berebut mencatat dosa sesamanya menjadi pemutus, hakim pemberi hukuman
Surga atau neraka bergantung pada seutas titah bernama kuasa

inikah perayaan


Pekanbaru, 11 Mei 2010

***


Kotaku dan Suara-Suara


kami tak lagi mampu turun kejalan
Hanya disini, menggeram bahasa hingga bisa berkepal keris
segera runtuhlah hasrat buas itu
agar dinding tak lagi bertelinga
dan lambai lidah
tak lagi menjadi api bagi picing mata yang terus
menerus membelenggu kebenaran.


INI rupa kecil kesadaran itu
yang tak sudi kemerdekaannya direnggut manut
oleh manis ujung telunjuk
oleh pedaya kesenangan semu
oleh ulah para lukah.


tunggu kami tumpahkan pekik
Karena kami jemu, berjinak-jinak dengan KEBODOHAN.



Bagansiapiapi 02102010



Shafwan Nizar, Lahir di Bagansiapiapi Tanggal 31 Agustus 1979, Pekerjaan PNS, Alamat di Pekanbaru Jl. Cemara Kipas II 79
Readmore

Potongan Mimpi

Oleh: Putu Gede Pradipta


apakah kau potongan mimpi
yang berdebar dalam sanubari
dan selalu lihai membujukku
agar lekas menunaikan segala

2012


Menunggu


setelah malam tanpa henti
meruntuhkan bunyi hujan
disetiap pagi muncul matahari
berwarna abu

dan kita selalu dalam keadaan meragu
selalu betah untuk menungggu
entah apa itu

2012


Elegi Suatu Pagi


sesuatu yang lesu dilepas jemari hujan
matahari letih mengangkat wajah perlahan

2012


Sepotong Sepi


hanya ada sepi, sepi, dan sepi
yang menyala di ujung putih
runcing kuku hujan

begitu demam dan bergetarnya
menghantam tanah, dahan
hingga rumah-rumah

dibuatnya setiap benda
yang ia jumpai pertama
alangkah sendu bernyanyi

dan siapapun mendengar
lekas masuk ia ke dalam
lubuk mimpi

lalu akan bernyanyi sendiri
juga tertawa sendiri
sesudahnya menangis sendiri

2012


Bagai Patung


lebih diam
dan lebih dalam
lebih suntuk tepejam

kau nampak bagai patung
tanpa gerak
tanpa bunyi
utuh dalam semadi

tubuh kakumu
yang bisu
berpangku itu
memancar getar
ribuan isyarat samar

namun selalu mataku
yang tajam
yang menyala terang
yang menembus gelap
dan menampung jutaan cahaya
juga sebatas mampu

luput menterjemahkan
bahasamu

2012


Menerkamu


di balik wajah itu
entah sedalam apa
yang jauh tersembunyi

dan aku telah juga
tenggelam melampaui
apapun untuk hanya
agar dapat menemuimu

agar dapat melihatmu
melengkungkan senyum
di bibir tipismu itu

2012



Putu Gede Pradipta, tinggal di Denpasar. Karya puisinya lebih banyak dipublikasikan di media cyber.
Readmore

Puisi Tanpa Judul

 Oleh: Dwi Larasati


Tujuh belas ribu lebih banyaknya

Membentang

Kecil, sedang, dan membesar

Menghijau, menguning, menghitam

Terhampar dari sebuah kilatan biru di atas sana

Disebuah negeri sejuta impian

Impian-impian indah anak tercinta

Tentang negeri indah yang kaya

Tentang negeri yang damai tanpa perselesihan antar kaumnya

Tentang persatuan ribuan perbedaan

Dibumi yang terbentang panjang

Di tenggara asia

Di zamrud khatulistiwa

Sebuah perdamaian dirindukan

Sebuah ketenangan dibutuhkan

Sebuah kejujuran gentar dipertanyakan

Tapi sebuah persatuan akan selalu dinomorsatukan

Diatas segalanya

Seperti namanya INDONESIA





 2012


Dwi Larasati: 17 years old, SMAN 3 Malang, beginer
Readmore

Pada Sebuah Kamar

Oleh: Putu Gede Pradipta

Telah berjam-jam
waktu mengurung

Tubuh maha kecilku
kian sungguh terhukum

Terdiam kaku
sekelam palung

***


Bunga Kamboja 

Oleh: Putu Gede Pradipta

Tumbanglah aku
yang pasti mati ini

Sebelum pagi turun
merebah bentuk nyeri

Menggusuri sabda
cahaya panas matahari

***


Requiem Sebuah Puisi 

Oleh: Putu Gede Pradipta

Teruntuk kamu
sang pemilik puisi

Kembalilah kata
kedalam rahim ibu

Agar semua tahu
sebabnya terlahirkan

***


Yang Sepi Yang Hilang 

Oleh: Putu Gede Pradipta

Melaju dan menjauh
menuju tikungan jalan
untuk kemudian hilang

Langkah-langkah kaki
panjang pun yang pendek
mengukur segenap arah

Sebelum datang sepi
menitis larik puisi
tanpa sekerat bunyi

***

Putu Gede Pradipta menetap di Denpasar, karya puisinya tersebar di media online dan lolos kurasi TSI 4.
Readmore

Malam Selepas Hujan

Oleh: Putu Gede Pradipta

tak ada yg lebih tepi
ketimbang sebuah malam
selepas hujan
meratap seorang diri

laju kendaraan lenyap
dan jalan menggigil
bulan diselimuti mendung
angin menghembus pelan

terasa
resahku meninggi

2011


Setangkup Malam

Oleh: Putu Gede Pradipta

setangkup malam
terus menggelepar
lihai menjalar
mengincar wajah bulan

2011


Rembulan di Matamu

Oleh: Putu Gede Pradipta

masih erat kusimpan
begitu dengan ikhlasnya
sebuah kisah tentang
sepasang matamu itu

rembulan terbiasa
terbit disana

2011


Pagi Meretak

Oleh: Putu Gede Pradipta

pagi meretak
ribuan cahaya tanggal
masuk ke mulut daun

2011

***

Putu Gede Pradipta, menetap di Denpasar, karya puisinya tersebar di media online dan lolos kurasi TSI 4
Readmore

Ketika Masehi Tak Lagi Bernyanyi

Oleh: Dadan Buldan

Ketika masehi tak lagi bernyanyi
di atas kepalamu langit terbelah dan pecahlah biru-biru yang terbentang bak samudera
bumi muntahkan apa yang ia kandung
kosonglah ia dari segalanya

setelahnya
orang-orang di arak ke laut yang mati
demi jumpai Tuhan
jadilah seekor anjing yang ta'at

suka-ria dan gembira menari-nari cha cha cha ketika kanan tangan itu menggenggam kitab yang di catat
terbitlah seutas cahaya
di kedua sisi bibirnya
bintang berserakan

langit malam terlukiskan
sementara keluarga dan sanak-kerabat menunggunya di gerbang 'illiyyin
masuklah di sambut sapa dan salam keromantisan

***

Dadan Buldan lahir di karawang, di kec, Rawamerta. pada tgl 31 maret 1993,
aktif di Organisasi Oi Rawamerta,
Readmore

Naskah Drama - Feses

Feses

Teks :
Riyadhus Shalihin


SINOPSIS

Selamat datang di wahana feses !
di mana segala kebutuhan yang berakhir menjadi tinja begitu menggebu – gebu, begitu menggairahkan !
mereka menjadi bisnis, menjadi komoditi, menjadi penyakit, menjadi iklan, menjadi produk dan menjadi apa saja !

Tinja tidak mengenal kaya, miskin. Pengusaha, presiden, pejabat, gembel ataupun konglomerat.

Tinja menelanjangi status, pangkat, harkat dan martabat.

Mereka sama – sama bermuara di closet, menjadi tinja.

hanya tarif, tempat, ruang, kualitas dan jenis makanan nya saja yang berbeda, namun essensi kerakusan sama saja, mereka tak memandang apakah perut ustadz, perut agamawan, perut pejabat, atau perut pengemis.

Bahkan kini Tinja Hewan begitu serupa.

Ataukah perilaku manusia yang menyerupai tinja hewan

Namun pada akhirnya

semua mengalami sensasi yang sama, klimaks yang sama.

Rekreasi yang Sama.

Rekreasi Tinja

Mari – mari kita telusuri isi perut dan hasil – hasilnya.

DRAMATIC PERSONAE :

BOS

1. Uta – Makan.

4 PELAYAN RESTORAN

Enak.

Enek.

Enok.

Enik.

3 OLAHRAGAWAN

Jantan.

Jantung.

Jantra.

2 PASIEN RUMAH SAKIT

Pram.

Pascam.

2 SUSTER RUMAH SAKIT

Nn. Asloy.

Nn. Gebloy.

DOKTER

Dr. Encok Supangkat.

CO – AS

De Rahma Malu – Malu.

4 ORANG MENTERI NEGARA

Sukaduit.

Sukapantat.

Sukamabuk.

Sukakawin.

RASUL & PARA SANTRI / ROMBONGAN KASIDAHAN

Sang Rasul.

4 GEMBEL RESTORAN

Kimul.

Legi.

Jumi.

Kelum.

3 PASIEN SAKIT JIWA

Cuplu.

Gerpul.

Werwer.

A

( TERDENGAR SUARA DESANG DESING KATEL YANG BERSAHUTAN, RICUH DAN RIUH SUASANA MASAK MEMASAK SEPERTI KEGADUHAN DI SEBUAH DAPUR )

( PIRING – PIRING TERDENGAR SALING TERLEMPAR, GEMERINCING SENDOK / GARPU TERDENGAR BERJATUHAN )

( BOTOL, GELAS – GELAS DAN BARANG PECAH BELAH LAINNYA TERDENGAR SALING BERPECAHAN SEHINGGA MENCIPTAKAN SUASANA GADUH YANG BEGITU MENYAYAT )

( LALU TIBA – TIBA SESOROT LAMPU TERTUJU KE TENGAH PANGGUNG )

( TERLIHAT SESEORANG YANG SEDANG TERDUDUK DI ATAS SEBUAH CLOSET, DENGAN ALAS KARPET BERTULISKAN “ WELCOME “ )

( SUARA RICUH PERKAKAS DAPUR MULAI MENGHILANG PERLAHAN )

( KINI TERDENGAR SAUT EFEK – EFEK FEEDBACK GITAR YANG BEGITU NOISE DAN KERING, TANPA VOKAL )

( TAMPAK SEORANG BERTUBUH SUBUR DAN TAMBUN, BERPENAMPILAN NECIS DAN ELIT TERDUDUK DI ATAS CLOSET, MEMAKAI KEMEJA SATIN BERWARNA PUTIH DENGAN GARIS – GARIS YANG TAMPAK ELEGAN DENGAN DIPADU PADANKAN BERSAMA DASI, JAM ROLEX EMAS, PANTOFEL YANG MENAWAN DAN JUGA CELANA KATUN YANG BEGITU MEWAH )

( TAMPAK DIA TENGAH MEMBACA KORAN SEMBARI MENGUNYAH ROTI YANG DIA GENGGAM DI TANGAN KIRI, TAMPAK ROTI TERSEBUT BERUKURAN TIDAK WAJAR, ANEH, BEGITU BESAR TIDAK TERKIRA )

( SEMENTARA ITU LAMPU YANG LAIN TIBA – TIBA MENYINARI SISI PANGGUNG YANG LAIN, TERLETAK DI KANAN NAMUN AGAK KE BELAKANG )

( SOROT LAMPU ITU MENUNJUKAN SEBUAH TABEL PENAMPANG BERUKURAN BESAR YANG MENAMPILKAN GAMBAR “ ANATOMI BAGIAN DALAM PERUT MANUSIA “ SEPERTI YANG BIASA KITA LIHAT DALAM PELAJARAN – PELAJARAN BIOLOGI, LENGKAP DENGAN PENUNJUK – PENUNJUK BERSERTA NAMA NYA MASING – MASING )

( DI ATAS TABEL PENAMPANG TERSEBUT TAMPAK BERGELANTUNGAN BERBAGAI MACAM DAGING – DAGING YANG DIIKAT / DITALIKAN SEDEMIKIAN RUPA, DI ANTARANYA KITA DAPAT MELIHAT BERBAGAI MACAM DAGING SEGAR SEPERTI KIKIL SAPI, JANTUNG AYAM, PAHA KAMBING, USUS AYAM, LIDAH SAPI, EMEPEDU SAPI JUGA ATI AMPELA )

( SEDANGKAN DI SAMPING BAWAH NYA TERDAPAT MEJA KECIL BERLACI SATU SEPERTI YANG BIASA KITA LIHAT DI KLINIK – KLINIK KESEHATAN )

( LAMPU MASIH SAJA MENERANGI KE DUA OBJEK TERSEBUT )

( SESEORANG YANG TERDUDUK DI CLOSET TERSEBUT MULAI MENYINGKAPKAN BELAHAN KORAN YANG SEDANG DIBACANYA, DAN KITA PUN DAPAT MELIHAT WAJAHNYA )

( TERNYATA RAUT WAJAHNYA MENGINGATKAN KITA KEPADA SANG DIKTATOR JERMAN “ ADOLF HITLER “ , NAMUN TAMPAKNYA DALAM VERSI YANG LEBIH JENAKA DENGAN EAR PHONE UKURAN JUMBO YANG TERPASANG MENUTUP KE DUA TELINGANYA, KACAMATA BULAT KLASIK DENGAN RANTAI YANG TERGANTUNG DI TELINGA, TAMPAK PULA KUMISNYA TANGGUNG BERTENGGER DI BAWAH HIDUNG, BELAHAN RAMBUTNYA PUN SUNGGUH LICIN DAN DATAR MENYAPU DAHI )

( DIA TERBATUK – BATUK, MELUDAH DAN BERDAHAK )

( SUARA FEEDBACK EFEK GITAR MULAI MENGHILANG PERLAHAN )

( DIA TERSEDAK AKIBAT MENGUNYAH ROTI JUMBO YANG BERJEJALAN DI MULUTNYA, DIA MENGUNYAH DENGAN BEGITU TERBURU – BURU JUGA RAKUS, SEMBARI SESEKALI MELIHAT – LIHAT KE ARAH JAM TANGAN SEAKAN – AKAN SEDANG DIBURU SESUATU )

( KINI DIA MULAI TERTAWA – TAWA TIDAK JELAS )

( LALU TERDENGARLAH ALUNAN MUSIK WALTZ YANG BEGITU SYAHDU MEMENUHI AREA RUANG PERTUNJUKAN )

( DARI ARAH KANAN PANGGUNG KELUAR 4 ORANG YANG MEMAKAI BAJU – BAJU ALA PELAYAN RESTORAN EROPA NAMUN DENGAN RUPA WAJAH YANG MENGINGATKAN KITA PADA MAKE – UP SENI PANTOMIM )

( KE 4 ORANG TERSEBUT BERGERAK MEMAKAI SEPATU RODA, BEGITU ELEGAN DENGAN MEMBAWA NAMPAN ALUMUNIUM TERTUTUP, LALU PERLAHAN MEREKA MENGHILANG KE ARAH KIRI PANGGUNG )

( BERSAMAAN DENGAN MENGHILANGNYA KE 4 PELAYAN TERSEBUT, MUNCULAH DARI ARAH KIRI PANGGUNG 3 ORANG OLAHRAGAWAN SEPEDA YANG SUNGGUH SEGAR BUGAR DAN TAMPAK BEGITU ATLETIS, NAMUN SELAIN MEMAKAI BAJU LATEX KETAT ALA PEMBALAP SEPEDA, MEREKA BERTIGA PUN TERLIHAT MEMAKAI TOPI PET ALA SUTRADARA YANG MENGINGATKAN KITA PADA SOSOK DRAMAWAN PUTU WIJAYA )

( SEPEDA MEREKA BEGITU MEWAH DAN MENAWAN NAMUN SEKALIGUS UNIK KARENA TERTERA DI STIKER SEPEDA MEREKA SEGARIS MERK BERTULISKAN “ POLY – TIK “ DENGAN WARNA MERAH MENYALA BEGITU MENCOLOK, KEMUDIAN MEREKA BERPUTAR MENGITARI CLOSET TERSEBUT )

( MEREKA BERCANDA - CANDA DALAM KEBISUAN, SEMBARI SESEKALI MEMINUM MINUMAN KESEHATAN YANG TERSEDIA DI TIANG SEPEDA MEREKA )

( LALU MEREKA PUN PERLAHAN MENGHILANG MENUJU ARAH KANAN PANGGUNG )

( TIBA – TIBA TERDENGAR SUARA SIRINE AMBULAN YANG BEGITU MEMEKAKKAN TELINGA, MUSIK WALTZ MENGHILANG )

( LAMPU LALU TERTUJU PADA ARAH TENGAH, TEPAT BELAKANG PANGGUNG )

( MUNCUL 2 KERANDA TIDUR PASIEN RUMAH SAKIT YANG MEMILIKI RODA, MELEWATI SET PINTU GANDA YANG MENGINGATKAN KITA PADA PINTU BAR – BAR KLASIK DI ERA BERJAYANYA KOBOI – KOBOI AMERIKA, DENGAN PENANDA KUNO YANG TERBUAT DARI KAYU DI ATASNYA BERTULISKAN “ EAT IS NUMBER 1 “ )

( TERLIHAT 2 PASIEN YANG BEGITU KESAKITAN MEMEGANGI PERUT MEREKA, DENGAN BUSANA PIYAMA YANG LEBIH MEMVISUALKAN SOSOK NARAPIDANA PENJARA DARIPADA PASIEN RUMAH SAKIT )

( TAMPAK MEREKA MENGGUNAKAN MAKE UP BERLEBIHAN YANG LEBIH MENGINGATKAN KITA PADA SOSOK VAMPIR ATAUPUN ZOMBIE )

( TERLIHAT JUGA DI BELAKANG MEREKA 2 SOSOK SUSTER YANG MENDORONG KERANDA PASIEN DENGAN MEMAKAI BAJU ALA SUSTER, DENGAN TOPI BAYI YANG BERTENGGER DI KEPALA MEREKA )

( TAMPAK MEREKA MEMAKAI HOT PANTS YANG SUNGGUH - SUNGGUH MENGGAIRAHKAN, SEMENTARA MUKA MEREKA TAMPAK KOCAK DENGAN MAKE – UP ALA BADUT – BADUT YANG BIASA KITA JUMPAI DI TAMAN HIBURAN BALITA )

( 2 SUSTER TERSEBUT TAMPAK TIDAK MENGINDAHKAN KESAKITAN KE DUA KLIENNYA YANG TAMPAK SUNGGUH – SUNGGUH INGIN CEPAT SEGERA DI BAWA KE RUANG PENYEMBUHAN, MEREKA BEGITU ASYIKNYA BERCAKAP - CAKAP, BERGUNJING DAN BERGOSIP SEMBARI SANTAI MEMBAWA KERANDA TERSEBUT, NAMUN PERLAHAN – LAHAN MEREKA PUN MENGHILANG KE ARAH KIRI PANGGUNG )

( SUARA SIRENE RUMAH SAKIT MENGHILANG )

( PANGGUNG PUN SEPI KEMBALI, DAN LAMPU KEMBALI MENYOROT KEPADA SOSOK ORANG YANG SEDANG TERDUDUK DI ATAS CLOSET )

( TAMPAK DIA KINI TELAH MENYELESAIKAN HAJATNYA, ROTI JUMBO TERSEBUT PUN TELAH HABIS DITELANNYA, KINI WAJAHNYA MENUNJUKAN EKSPRESI RAUT LEGA NAMUN AMAT MENJIJIKAN )

( KINI DIA MELIPAT KORANNYA LALU DIA PILIN SEHINGGA MENJADI BULAT MENGECIL, LALU DIA LEMPARKAN DENGAN PAKSA KE ARAH DALAM CLOSET )

( DENGAN MENGGOYANG – GOYANGKAN KACAMATA BULATNYA DIA MELIHAT KE ARAH DALAM CLOSET, TAMPAK DIA MENJADI CEMAS DAN KETAKUTAN )

( LALU TIBA – TIBA DIA MENJERIT DENGAN BEGITU KETAKUTAN )

BOS UTA MA - KAN : Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhgrkkkkhhhhhhh !!!!!!!

( LALU TIBA – TIBA DARI ARAH KANAN, KIRI, DAN BELAKANG PANGGUNG MUNCUL 4 ORANG PELAYAN BERSEPATU RODA MEMBAWA NAMPAN ALUMUNIUM TANPA PENUTUP DENGAN TISSUE TOILET DI ATASNYA )

( MEREKA MENGELILINGI CLOSET MEMBENTUK POSISI MELINGKAR YANG SEIMBANG )

( MEREKA KEMUDIAN MENYODORKAN NAMPAN BERISI TISSUE TOILET TEPAT DI DEPAN WAJAH SOSOK YANG BERTERIAK, SOSOK YANG BERTERIAK PUN PERLAHAN TENANG DAN KINI MALAH TAMPAK MENJADI BEGITU BERNAFSU )

( KEMUDIAN DIA MENGAMBIL SATU PERSATU TISSUE TIOLET TERSEBUT, ADA YANG DIBAWANYA DENGAN HALUS NAMUN ADA PULA YANG DIA SABET DENGAN KASAR)

( TERLIHAT 4 ORANG PELAYAN RESTORAN PERLAHAN MUNDUR NAMUN TETAP BERADA DI DEKAT PRIA TERSEBUT HANYA JARAKNYA SAJA YANG AGAK MUNDUR )

( TAMPAK DIA MENJADI TERLIHAT MENJIJIKAN DENGAN TISUE TOILET YANG TERGULUNG DI LEHER, DI KEPALA, DI TANGAN JUGA DI BADAN, TELINGA BAHKAN CELANA )

( DIA MULAI MEMUJA – MUJA TISSUE TERSEBUT DAN DIA MULAI TERTAWA DENGAN SANGAT SENANG, MULAI TERTAWA TIDAK TERKENDALI, KESETANAN, MENJERIT PUAS TIDAK TERKONTROL )

( LAMPU BLACK OUT PERLAHAN )

B

( TERDENGAR SUARA MUSIK HOUSE DISKO YANG BEGITU SYAHDU SEKALIGUS SEKSI )

( LAMPU PERLAHAN – LAHAN KEMBALI TERTUJU KE ARAH CLOSET )

( TAMPAK SESEORANG YANG SEDANG BERTAPA DI ATAS CLOSET )

( DIA BERTAPA DENGAN KHUSYU SEAKAN – AKAN SEORANG SIDDHARTA GAUTAMA, DENGAN POSISI YANG BEGITU KHIDMAT, NAMUN TERNYATA KITA DAPAT MELIHAT KEPALANYA MANGGUT – MANGGUT DENGAN NIKMAT MENGIKUTI ALUNAN MUSIK HOUSE DISKO, EAR PHONE JUMBO PUN TERLIHAT MENUTUPI DUA BELAH TELINGANYA )

( LAMPU PERLAHAN MENERANGI RUANG DI MANA TERDAPAT TABEL PENAMPANG ANATOMI BAGIAN DALAM PERUT )

( DARI BAGIAN KANAN BELAKANG PANGGUNG MUNCULAH DUA SOSOK )

( YANG SATU ADALAH DOKTER PERLENTE LENGKAP DENGAN JAS KEBANGGAANNYA, NAMUN TAS DINASNYA TAMPAK WARNA – WARNI DAN BEGITU CERAH CERIA SEPERTI TAS –TAS ANAK TK, KUMISNYA SENDIRI BAPLANG MEMANJANG KE SAMPING MENGINGATKAN KITA PADA SOSOK PAK RADEN AHLI PENDONGENG ITU, RAMBUTNYA GONDRONG RANCUNG KE ATAS SEPERTI EINSTEIN YANG MENJELMA MENJADI ANAK PUNK, SEPATUNYA SENDIRI MENGINGATKAN KITA PADA MASKOT RESTORAN MC DONALD )

( SOSOK YANG SATU LAGI ADALAH SEORANG WANITA MUDA, PINTAR DAN BERMASA DEPAN CERAH, CO – AS BEGITULAH BIASA DUNIA KEDOKTERAN MENYEBUTNYA )

( TAMPAK DIA MEMAKAI BAJU JUGA JAS KHAS DOKTER NAMUN DENGAN ROK MINI BERUMBAI – RUMBAI ALA HAWAI YANG BEGITU SENSUAL, DAN BELAHAN DADA YANG AGAK SEDIKIT TERBUKA, NAKAL JUGA MENGGODA )

( CO – AS TAMPAK MEMBAWA NAMPAN ALUMUNIUM YANG PENUH DENGAN BERMACAM – MACAM OBAT – OBATAN RUMAH SAKIT, BUKU – BUKU RESEP, DAN BERMACAM SUNTIKAN JUGA ALAT KHAS RUMAH SAKIT LAINNYA, LALU DIA TARUH NAMPAN TERSEBUT DI ATAS LEMARI KECIL )

( DOKTER TAMPAK BEGITU CEMAS, SIBUK, DAN ANTUSIAS, TAMPAK MEREKA SEPERTI BERDISKUSI, SEMENTARA CO – AS HANYA MANGGUT – MANGGUT SAJA PERTANDA SETUJU )

( LALU DOKTER PUN TERGUGAH PERHATIANNYA PADA SOSOK YANG SEDANG MANGGUT – MANGGUT NIKMAT DI ATAS CLOSET )

( DIA PUN MENGHAMPIRI, LALU SEPERTI MENGAJAK BERCAKAP DAN MENUNJUK – NUNJUK KE ARAH TABEL PENAMPANG ANATOMI )

( NAMUN SOSOK TERSEBUT TIDAK MEMPERDULIKANNYA )

( AKHIRNYA DOKTER PUN KESAL, DIA PUN MENEKAN TUAS PEMBANJUR TINJA )

( TERDENGAR SUARA SEPERTI AIR BAH / BANJIR BESAR MEMENUHI RUANGAN )

( SOSOK YANG SEDANG BERTAPA, TERKAGET DAN TERSADARKAN SEPERTI TERBANGUN DARI SEBUAH MIMPI INDAH, DIA TAMPAK BEGITU KESAL )

( MUSIK HOUSE DISKO MENGHILANG )

( DIA CABUT KE DUA EAR PHONE YANG BERTENGGER DI TELINGANYA, LALU DIA MELIHAT SOSOK DOKTER YANG MENYEBALKAN BERDIRI DI SAMPINGNYA)

BOS UTA MA - KAN : Kurang ajar, kau kemeja pocong ! ketek amoniak ! nafas antibiotik !

DR. ENCOK : Hahahahahha ! Apa yang sedang kau lakukan mister ? itukah kantor barumu ? ( MENUNJUK KE ARAH CLOSET, SEMBARI MENDELIK JIJIK )

menghitung inflasi rupiah kah ? atau mencoba melarikan uang Negara, atau ( MENEBAK – NEBAK KONYOL ) …. Menimbun emas Negara ?

BOS UTA MA - KAN : Bukan urusanmu lidah salep, urus saja feses dan uterus. Negara bagianku, perut rakyat aku yang mengatur !

DR.ENCOK : Jangan bersilat Pak Presiden, akhir – akhir ini aku mengamati banyak sekali rakyat yang terserang diare, muntaber bahkan ada pula sebagian dari mereka yang terserang busung lapar..

BOS UTA MA - KAN : Walah ! Yang penting mereka masih lancar BAB…

( LALU DOKTER TAMPAK SINIS DAN BERANG BERJALAN MENUJU ARAH BELAKANG CLOSET, DIA KEMUDIAN MENDONGAKKAN KEPALA BOS DAN MEMPERLIHATKAN WAJAHNYA KE ARAH TEMPAT DUDUK PENONTON )

DR.ENCOK : Bangsat, kau musang berdasi. Lihatlah para rakyat mengaduh ! mereka tersiksa ! tidak tahu kapan mereka akan menjumpai kembali sepiring nasi.

Mereka bingung apakah pagi ini mereka akan makan namun pada esok pagi mereka mati ! karena busuknya beras yang ditimbun berhari – hari

BOS UTA MA - KAN : Sebegitukah, dok ? kan ada Raskin toh, aku sudah menyerahkan kepada para menteri , menteri per – perutan orang miskin, itu adalah tugasnya dok !

( TAMPAK DOKTER MENJADI BEGITU KESAL,DIA JAMBAK RAMBUT BOS DENGAN BEGITU KASAR)

( BOS KESAKITAN DAN DOKTER PUN MENJADI SENANG, NAMUN PADA AKHIRNYA DOKTER MELEPASKAN JANGGUTANNYA KARENA NURANINYA MERASA KASIHAN )

( NAMUN BOS TETAP KESAKITAN, WAJAHNYA MENGARAH PADA LUBANG CLOSET, DOKTER PUN MENJADI HERAN LALU DIA PUN TERGERAK PENASARAN MENCOBA MELIHAT KE ARAH DALAM LUBANG TERSEBUT )

( TIBA – TIBA TERDENGAR SUARA MUNCRAT TINJA YANG BEGITU DAHSYAT )

( BOS KEMBALI MENJERIT KESAKITAN )

BOS UTA MA – KAN : Waduhhhhhhh………

( DOKTER PENASARAN, DIA MENGAMBIL SEBUAH SENTER MINI DARI DALAM SAKU KERJANYA, LALU DENGAN PERLAHAN DIA MENCOBA MENYENTER / MENYINARI BAGIAN DALAM LUBANG KAKUS TERSEBUT )

DR. ENCOK : Idihhh….

( TAMPAK DOKTER MENDELIK DENGAN JIJIK SEMBARI MENUTUP HIDUNG DAN MENJAUHI POSISI CLOSET )

( NAMUN DENGAN CEPAT TANGAN BOS MENARIK JAS DOKTER DAN DIA MERINGIS BERTANYA )

BOS UTAMA – KAN : Ada apa dok ? apakah ada yang salah dengan “ ini “ ?

( SEMBARI MENYENTERI LUBANG KAKUS )

DR.ENCOK : ini penyakit… ! begitu merah, begitu anyir dan berlendir…

( BOS PUN MENJADI LESU DAN AKHIRNYA DIA PUN MELEPASKAN GENGGAMANNYA PADA JAS DOKTER TERSEBUT )

( TERLIHAT DIA BEGITU DEPRESI, DOKTER MENJAUHI DAN MENDEKATI KEMBALI TABEL PENAMPANG )

BOS UTA MA – KAN : Dok, tidak adakah solusi untuk “ ini “ ?

( MENDENGAR KATA SOLUSI TIBA – TIBA DOKTER MENJADI BEGITU BERSEMANGAT )

DR. ENCOK : Aha, untuk segala kebobrokan mengenai kesehatan, untuk itulah aku berguna.. dan eksis di dunia, penyakit adalah sahabat sejatiku.. kematian adalah kekasihku…

( TIBA – TIBA TERDENGAR ALUNAN MUSIK YANG BIASA KITA DENGAR PADA SAAT PRESENTASI PRODUK –PRODUK IKLAN DI TELEVISI )

( TAMPAK DOKTER MENJADI BEGITU AKTIF DAN CEKATAN )

DR. ENCOK : Rahma..

RAHMA : Ya, dok ?

( DOKTER MENDELIK DENGAN CENTIL KE ARAH CO – AS TERSEBUT )

DR. ENCOK : Emmmm… Rahma, tolong bawakan aku penunjuk besi..

RAHMA : Baik dok..

( RAHMA KEMUDIAN MENYODORKAN NAMPAN YANG SEDARI TADI TERSIMPAN DI ATAS LEMARI KECIL )

RAHMA : Silahkan dok ..

( DOKTER MENGAMBIL PENUNJUK BESI DI ATAS NAMPAN )

DR. ENCOK : Aha, Terimakasih Rahma…

( KEMUDIAN DENGAN GAYA ELEGAN YANG KENES DAN KEMAYU DOKTER MENCOBA MENJELASKAN PERIHAL PENAMPANG BAGAN TERSEBUT )

( SETIAP KALI DOKTER AKAN MENUNJUKAN BAGIAN – BAGIAN TABEL PENAMPANG, MAKA AKAN TERLIHAT GARIS LASER MERAH YANG IKUT MEMPERJELAS BAGIAN YANG HENDAK DIJELASKAN )

DR. ENCOK : Lihatlah Dok, Mari perhatikan ! aku dapat dengan cepat menemukan diagnosis .. perihal masalah mengenai feses mu yang berdarah tersebut…

( TAMPAK DOKTER MENCOBA – COBA MENELAAH ANATOMI PERUT TERSEBUT, DIA MENGAMAT – NGAMATI DENGAN BEGITU JELI )

( MUSIK PRESENTASI PRODUK MENGHILANG )

DR. ENCOK : Rahma, tolong kacamataku…

( RAHMA MEMBERIKAN KACAMATA YANG ADA DI ATAS NAMPAN )

DR. ENCOK : Terimakasih.. rahma

( RAHMA KEMBALI PADA POSISI DI SAMPING LEMARI KECIL )

( DOKTER KEMBALI MENGAMATI TABEL, SEMBARI SESEKALI MENGGOYANG – GOYANGKAN KACAMATANYA )

DR. ENCOK : Hemmm….. Ya… Ya….

BOS UTA – MAKAN : Jelaskan Dok… cepat jelaskan !

DR. ENCOK : Baiklah, em… kita akan mulai dari utara,

( MENUNJUKAN BAGIAN ATAS TABEL PENAMPANG )

emmmmm…… Aha… Lihatlah di bagian ini banyak sekali terjadi pertikaian, kumpulan organ yang berada di dalamnya ingin sekali membebaskan diri dari kontrol organ pusat, namun pusat tidak menyetujui referendum organ utara, hingga terjadilah pertikaian dan pertempuran besar – besaran… Banyak sekali darah yang bercucuran di daerah ini…

BOS UTA – MAKAN : Lalu… apa sebabnya “ Tinja “ ku menjadi berdarah ? Kenapa dok ?

( TERLIHAT DOKTER MENJELASKAN DENGAN BEGITU TENANG )

DR.ENCOK : Sabar Pak presiden.. Tenanglah dulu.. penjelasanku belum selesai, saluran pencernaanmu memang benar – benar telah rusak.. tidak hanya bagian utara saja yang mengalami kerusakan…

( TIBA – TIBA BOS MENJADI SANGAT KALAP )

BOS UTA – MAKAN : Aku tidak peduli dengan penjelasanmu yang berbelit – belit itu ! aku tidak peduli dengan bagian utara, selatan ataupun barat daya ! jelaskan saja kepadaku mengapa Tinjaku berdarah .. !

( DOKTER PERLAHAN – LAHAN BERJALAN KE ARAH CLOSET )

( LALU KETIKA SAMPAI DI BELAKANG CLOSET, KEMUDIAN DOKTER MENARIK KERAH KEMEJA BOS LALU DIA TARIK HINGGA BOS PUN TERLEPAS DAN TERJATUH DARI POSISI DUDUKNYA DI CLOSET )

( CEPAT – CEPAT BOS MENUTUP CELANANYA NAMUN TERLAMBAT HINGGA DIA HANYA SEMPAT MEMAKAI CELANA DALAM NYA SAJA )

( TAMPAK CELANA DALAMNYA BERWARNA PUTIH, PERLAHAN – LAHAN KITA DAPAT MELIHAT DI BAGIAN LUBANG PANTAT CELANA DALAMNYA MENAMPAKKAN WARNA MERAH BERCAMPUR KUNING DALAM SATU KESATUAN WARNA YANG MENJIJIKAN )

( TERLIHAT BOS BERUSAHA MEMAKAI CELANA KATUNNYA )

DR. ENCOK : Sudah… sudah biarkan … tidak usah ditutup ! biar rakyat melihat hasil kekejamanmu… buasnya pemerintahanmu…

( POSISI BOS PUN PASRAH TERSUNGKUR TERJONGKOK DENGAN MENYEDIHKAN )

DR. ENCOK : Heh, cunguk ! Lihat itu… Lihat itu…. Perhatikan tolol…

( MENGARAHKAN BOS AGAR MELIHAT TABEL PENAMPANG )

( DOKTER MENJANGGUT KEPALA BOS KE BELAKANG, HINGGA BOS MEGAP – MEGAP SULIT UNTUK BERNAFAS )

DR. ENCOK : Seluruh daerah… berdarah… ! semuanya luluh lantak oleh pertikaian, pembantaian… ! atas segala yang kau makan, atas segala yang kau berikan di perutmu yang busuk ini !

BOS UTA MA - KAN : Aku hanya makan saja dok, hanya menutupi rasa laparku…

DR. ENCOK : Kera Negara…. !!!

BOS UTA MA – KAN : Baik … baik dok, baik.. jelaskan lagi padaku mengenai daerah yang lain…

( DOKTER PUN MELEPASKAN JAMBAKAN DI KEPALA BOS )

( TAMPAK BOS TAKUT JUGA MALU, PERLAHAN – LAHAN DIA MERANGKAK MUNDUR MENUJU TEMPAT DUDUK TOILET, BERUSAHA AGAR TINJA YANG MENEMPEL DI CELANA DALAM PUTIHNYA TIDAK TERLIHAT, NAMUN TETAP SAJA AKHIRNYA DAPAT TERLIHAT JUGA OLEH PARA PENONTON )

( DOKTER MENGIBAS – NGIBAS DAN MENGELAP – NGELAP TANGANNYA DENGAN KAIN YANG DIBERIKAN OLEH RAHMA )

DR.ENCOK : Perhatikan ! bagaimana berbagai daerah organ di perutmu ini, tidak mendapatkan subsidi.. secara adil ! mereka membabi buta saling bertikai antara organ yang satu dan organ lainnya ! cukup aneh bukan… mereka akhirnya saling membantai, menyakiti demi jatah makan yang tidak tersalurkan secara merata…

( BOS TERLIHAT MENGUSAP NGUSAP DAN MEMPERHATIKAN PERUTNYA )

BOS UTA MA - KAN : Solusi, dok… emm..eh bukan..eh ah… Apa ada obatnya ?

DR. ENCOK : Ha ha.. ha… tentu.. tentu Bos, tentu… saja ada.. Emm Rahma..

RAHMA : Ya Dok ?

DR.ENCOK : Coba di tempat penyimpanan medis, kau carikan Obat “ mencretus presidensius “ dan “ melekbek elitus”.

RAHMA : Ah baik dok…

( RAHMA KEMUDIAN MENCARI OBAT DI LACI LEMARI KECIL YANG BERADA DI SAMPINGNYA SEDARI TADI, TERLIHAT ROK MINI YANG DIKENAKANNYA AGAK TERANGKAT AKIBAT POSISI JONGKOK )

( DOKTER LALU MELIRIK DAN MEMANDANG PENUH HASRAT )

DR.ENCOK : Uuuuuuhhh….. marcio segaro perfecto, espanyola bandidas.. !

( RAHMA PURA - PURA MALU DAN BERUSAHA MENURUN – NURUN KAN ROK MININYA, MESKIPUN SEBENARNYA SIA – SIA KARENA ROK TERSEBUT SANGAT MINI DAN KETAT )

BOS UTA MA – KAN : bagaimana dok..

( TERLIHAT AGAK KESAL )

DR. ENCOK : Ya tenang dok, penyakit anda ini.. dapat ditangani..

( BOS TERLIHAT MENGUSAP – NGUSAP PERUT NYA DAN KEMBALI CEMAS )

( LALU TIBA – TIBA TERDENGAR DERING TELEPON GENGGAM )

DR. ENCOK : Ah Ya, Halo …, Ya saya sendiri Encok Supangkat…

DR. ENCOK : Kedutaan Amerika, hah !

( TERLIHAR RAUT MUKA DOKTER YANG TERKEJUT, NAMUN SETELAH BEBERAPA LAMA DIA MENYIMAK PERCAKAPAN DI BALIK TELEPON TERSEBUT, LAMBAT LAUN RAUT MUKANYA MENJADI SUMRINGAH BERGEMBIRA )

DR.ENCOK : Ha ha ha, gampang sekali mister, di Indonesia memang gudangnya berbagai penyakit, anda beruntung menghubungi orang yang tepat… ! anda mau apa ? penyakit tidak peduli rakyat ! menelan uang rakyat ! atau memperbudak rakyat…. ! Ha.. Apa ? Bukan yang seperti itu… ah, Ya Lalu….

RAHMA : Dok ini obatnya sudah saya temukan..

DR.ENCOK : Ah Mister tunggu dulu sebentar..

( MENYIMPANGKAN TELEPON GENGGAMNYA SEMENTARA )

DR. ENCOK : Rahma, kau alihkan separuh obat tersebut.. jangan kau berikan obat itu seluruhnya…

RAHMA : Ah Baik Dok…

( RAHMA LALU MEMBUKA KEMBALI LACI TERSEBUT DAN MENCARI 2 BOTOL KOSONG, LALU MASING – MASING OBAT TADI DIA TUANGKAN KE DALAMNYA )

DR.ENCOK : Ah ya mister sam, lalu bagaimana… Hemm …HA,Penyakit seperti itu !… hahaha …yakin anda ?… itu gampang sekali… Ya, Ya, Ya…. Coba sebutkan penyakit apa saja tadi saya kurang jelas mendengarnya….

( DOKTER MENGAMBIL SEBUAH NOTA DI DALAM SAKU JASNYA JUGA BULPEN BOXY, SEMBARI TELEPON GENGGAM DIA KEPIT DENGAN LEHERNYA )

DR.ENCOK : Rahma bagaimana ?

RAHMA : Sedikit lagi dok…

DR. ENCOK : Ok… ( KEPADA RAHMA, SEMBARI MENUNJUK MACHO )

Ya apa saja.. Keracunan makanan, Keracunan Minyak plastik, Muntaber, Cacingan.. HAH ! Jejengkoleun… diare… kudas, budug, Kurap, Panu !

( MENGUCAPKAN DENGAN SOK – SOK DI INGGRIS IN )

Itu penyakit orang miskin semua, mister sem…., Hah ..

( KEMBALI BERBICARA DENGAN NORMAL )

ya terserah anda sajalah … Hem, Lalu… Ehm.. Kemudian, Ah Ya.. Ya…

RAHMA : Sudah Selesai Dok..

( DOKTER MEMBERI KODE DENGAN TANGAN YANG BERARTI TUNGGU SEBENTAR, LALU RAHMA PUN MENGANGGUK )

BOS UTA – MAKAN : Bagaimana Dok ?

( TAMPAK BOS BEGITU SEDIH MENANYAKANNYA )

( DOKTER MENGACUHKAN, TETAP SIBUK DENGAN PERCAKAPANNYA BERSAMA ORANG KEDUTAAN AMERIKA )

DR. ENCOK : Kalau aku boleh tau mister sem, penyakit menjijikan itu semua digunakan untuk apa ? apakah di Amerika sekarang sedang Tren penyakit Budug..

( TIBA – TIBA DOKTER MENJADI SANGAT TERKEJUT DAN MARAH )

HAH ! untuk membasmi rakyat palestina, anda benar – benar biadab ! benar – benar tidak manusiawi ! .. aku tidak akan me…..

( NAMUN TIBA – TIBA DOKTER TERHENTI MARAHNYA. DAN SEPERTI MENDENGAR SESUATU YANG SANGAT MENGGEMBIRAKAN, DIA MENJADI CERAH – CERIA BAHKAN TERTAWA – TAWA JUMAWA )

Ah, ya… siap – siap… baik mister, baik – baik

( KINI GERAK – GERIKNYA MENJADI BEGITU PENURUT, KETAKUTAN JUGA HORMAT )

Ah Ya, esok hari penyakit – penyakit itu sudah sampai di Amerika.. Ah Ya Bagaimana Mister ? Nomer Rekening saya ? … Ahaha… Apa Perlu Mister…

Ah.. Ya , Baik… mungkin asisten saya yang akan memberitahunya mister…

Ya.. dia yang mengatur segala urusan administrasi saya .. Ah Iya.. Iya begitulah Profesionalitas…

( MENDEKATI RAHMA, MEMBERIKAN TELEPON GENGGAM )

DR. ENCOK : Beritahukan nomer rekeningku..

DR. ENCOK : Kemarikan Obat – Obat itu…

( RAHMA MEMBERIKAN NAMPAN TERSEBUT KE DOKTER, LALU DOKTER MEMBAWANYA KE ARAH CLOSET BOS )

( TAMPAK RAHMA BERCAKAP – CAKAP DI TELEPON GENGGAM SEMBARI BERBISIK )

( DOKTER MENGELILINGI CLOSET BEBERAPA SAAT )

BOS UTA – MAKAN : Proyek besar ya dok ?

DR. ENCOK : Perutmu besar !! Seperti keledai bodoh saja kau ! lagak – lagak mu seperti rahib suci, yang tak pernah menarik sampingan dana di sana – sini..

( TAMPAK BOS MENJADI MALU, MEMANDANG KE PERUTNYA YANG BUNCIT SESAAT, KEMUDIAN MENCOBA MENGALIHKAN PERHATIAN PEMBICARAAN )

BOS UTA – MAKAN : Eh, itu Obatku…

( MENUNJUK KE ARAH NAMPAN )

( BOS MENJADI SUMRINGAH, KEMUDIAN DENGAN CEPAT DIA MENCOBA MENGAMBIL OBAT TERSEBUT, NAMUN MELESET KARENA DOKTER MENGECOHNYA DAN TERJATUHLAH BOS DI CLOSETNYA SENDIRI )

DR. ENCOK : Jangan terburu – buru pa, apa kau tidak ingin mengetahui indikasi pemakaiannya terlebih dahulu.. atau kau memang ingin mati keracunan ?

BOS UTA MA – KAN : Ah Baik dok..

( TIBA –TIBA DOKTER BERSERU DENGAN CENTIL )

DR. ENCOK : Berarti Double ya bayarnya pa, bayar obat, bayar diagnosis juga dengan resep – resepnya…

( TIBA – TIBA TERDENGAR BUNYI SIRENE RUMAH SAKIT YANG BEGITU KENCANG )

C

( DARI TENGAH BELAKANG PANGGUNG, TEPATNYA DARI BALIK DAUN PINTU BAR KOBOY MUNCULAH 2 KERANDA PASIEN DENGAN 2 ORANG SUSTER )

( DI BAWAH MASING – MASING KASUR KERANDA TERSEBUT TAMPAK 2 ORANG SAKIT JIWA YANG MERANGKAK – RANGKAK DAN MENGINTAI DENGAN MATA YANG BEGITU LAPAR, DAN 1 PASIEN SAKIT JIWA LAGI BERGELANTUNGAN DI SALAH SATU KASUR KERANDA TERSEBUT )

( TAMPAK KE TIGA PASIEN SAKIT JIWA TERSEBUT MEMAKAI FLANEL SOBEK – SOBEK DENGAN POTONGAN RAMBUT YANG DIKEPANG DENGAN GENIT, NAMUN DIPADUKAN BERSAMA CELANA RUMBAI ALA KOTEKA PENDUDUK PEDALAMAN PAPUA )

( POSISI MEREKA MENYEBAR, SALAH SATU KERANDA KE SISI KANAN, SATUNYA LAGI KE SISI YANG BERLAINAN, SEHINGGA TAMPAK LAH CLOSET TERSEBUT SEPERTI DIAPIT OLEH 2 KERANDA )

( TIBA – TIBA SALAH SATU PASIEN MENJERIT )

PRAM : Waduhhhhh….. Mati Aku…. Waduhhh……..

( MEMEGANGI PERUTNYA DAN MENGERANG )

( TAMPAK PARA PASIEN SAKIT JIWA TIDAK MEMPERDULIKAN HAL TERSEBUT, MEREKA HANYA CELINGAK – CELINGUK MENEBAR PANDANG KE SEKITAR RUANGAN )

( NAMUN YANG LEBIH MENGHERANAN ADALAH KE DUA SUSTER TERSEBUT TAMPAK TIDAK MEMPERDULIKAN, MEREKA MALAH SIBUK BERGOSIP DAN SALAH SATU DARI MEREKA TAMPAK ASIK SENDIRI MEMAINKAN HAND PHONE BLACK BERRY ABAL – ABAL SEMBARI SESEKALI IKUT MENIMPALI GUNJINGAN KAWANNYA )

( SALAH SATU SUSTER TERSEBUT ADA YANG BERASAL DARI DAERAH SUNDA, SATU LAGI ASLI KELAHIRAN KOTA JAKARTA )

NN. ASLOY : Bloy kau tahu tidak, Aa Ma’ul itu loh… satpam klinik UGD, kalau dilihat – lihat itu mirip vokalisnya The Kolang – Kaling’s tau..

NN.GEBLOY : Mata tih ?

NN.ASLOY : Ih cuco deh.. bloy, masa dia ngirim tanda “ colek “ coba di pesbuk akyu… ih A Ma’ul genit juga ya…

NN.GEBLOY : Hah ? Elo kali yang genit..

NN.ASLOY : Bloy, tapi tadi siang tuh dia minta aku PIN BB.. biar kita bisa BBM - an katanya, tapi takut aku bloy… takut…. takut kebakaran ah main BBM - man mah, apalagi dia kan suka ngeroko…

( MUKA NN.GEBLOY SESAAT TAMPAK KESAL NAMUN AKHIRNYA DIA TIDAK PERDULI KEMBALI )

NN.GEBLOY : Oh Gitu Ya….

NN.ASLOY : Heran deh, ko ada ya orang yang suka pacaran di Pom Bensin..

( PASIEN YANG TADI MENJERIT KESAKITAN KEMBALI )

PRAM : Waduhhhh… Ahhhh….

( PASIEN YANG SATUNYA LAGI MENIMPALI DENGAN JERITAN YANG BERTERIAK – TERIAK NAMUN DENGAN POSISI SAMA MEMEGANGI PERUTNYA )

PASCAM : Ahhhh…… Sakit….. Ahhhh

( BOS MELIHAT MEREKA DENGAN PANDANGAN NYINYIR )

BOS UTA MA – KAN : Kenapa mereka dok…

( SUDAH TIDAK MEMEGANGI NAMPAN DAN OBAT – OBAT UNTUK BOS SUDAH ADA DI SAKU JASNYA )

DR. ENCOK : Sama bos..

BOS UTA MA – KAN : Maksudmu ?

DR.ENCOK : Ya sama bodoh ! mereka semua adalah pasien inap kelas ekonomi ! yang tidur dan menginap di bangsal – bangsal juga halaman rumah sakit ! kalau tidak karena keracunan makanan, ya karena sudah seminggu tidak makan !

( PARA PASIEN MENJERIT KEMBALI, KALI INI MENGHENTAK – HENTAK KASUR DAN BERGULING – GULING DENGAN KESAKITAN )

PRAM : Bangsat, Ahh…. Sakit…. Ahh… !!

PASCAM : Ahhh…. Ahhhh…. Sakit, Sakit…. !!

( KALI INI KE DUA SUSTER TERSEBUT TERSADAR DAN MEREKA CEPAT – CEPAT SIGAP SEGERA MENDORONG KERANDA TERSEBUT KE ARAH KIRI PANGGUNG )

( TAMPAK PARA PASIEN TERUS MENJERIT – JERIT SEMBARI TERUS BERGULING – GULING KESAKITAN )

( KETIKA SUSTER DAN PASIEN TERSEBUT MENGHILANG, TERTINGGAL LAH 3 ORANG PASIEN SAKIT JIWA YANG DIAM – DIAM KINI MULAI MERAYAP DAN MENDEKATI ARAH CLOSET TEMPAT BOS DUDUK )

( 2 PASIEN SAKIT JIWA LANGSUNG MENUJU KE ARAH BOS, SEMENTARA 1 PASIEN LAINNYA TANPA TERLIHAT BERSEMBUNYI DI BELAKANG CLOSET )

( TERLIHAT 2 PASIEN SAKIT JIWA MENGENDUS – NGENDUS DAN MENCIUMI CLOSET TERSEBUT, BOS MENJADI KETAKUTAN )

BOS UTA MA – KAN : Mereka ini siapa dok ?

DR. ENCOK : Pasien sakit jiwa.. Rakyatmu juga..

BOS UTA MA – KAN : Mengerikan sekali mereka…

DR. ENCOK : Ya.. Se “ mengerikan “ kebijakan pangan mu…

BOS UTA MA – KAN : Apa yang menyebabakan mereka hingga menjadi tidak waras seperti ini

DR. ENCOK : Mereka korban oknum stafmu..

( BOS MENJADI BINGUNG DAN BERTANYA DENGAN GELAGAPAN )

BOS UTA MA – KAN : Emmm euh.. euh maksudku… Dok . Euh… perbuatan apakah yang sedemikian tega menyebabkan manusia hingga menjadi gila ?

DR. ENCOK : pembagian sembako ! mereka menunggu berhari – hari di kantor kelurahan, namun hingga seminggu kemudian mereka tetap tidak mendapatkan apa – apa meski hanya sebungkus Indomie, sementara anak anak mereka sudah menangis – nangis menanti ayah mereka membawa nasi atau apapun juga yang dapat mengisi perut kemplang mereka…

( BOS KEMUDIAN MEMBALIK BADAN KE ARAH BERLAINAN TAMPAK DIA MENJADI BEGITU TERPUKUL, SHOCK JUGA SEDIH )

( NAMUN KETIKA BERBALIK TERSEBUT DIA BERTEMU PANDANG KEMBALI DENGAN PARA PASIEN SAKIT JIWA TERSEBUT YANG SEDANG MENGENDUS – NGENDUS DAN MENJILATI TOILET, BOS MENJADI KEMBALI TAKUT NAMUN KINI BERCAMPUR DENGAN RASA KASIHAN JUGA KEPRIHATINAN YANG MENDALAM )

( TELEPON GENGGAM BERDERING KEMBALI )

( PARA PASIEN SAKIT JIWA MULAI BERTINDAK LIAR, MEREKA MULAI MENJILATI DAN MENJELAJAHI TUBUH DOKTER )

( TELEPON TERUS BERDERING )

BOS UTA MA - KAN : Dok Tolong aku…

DR. ENCOK : Ha.. ha kau ketakutan oleh rakyatmu sendiri ! rakyat yang memilihmu.. rakyat yang mengelu – ngelukan namamu ! yang dengan bangga memakai baju tipis bergambar wajahmu yang tolol itu !

( TELEPON BERDERING SEMAKIN KERAS )

RAHMA : Dok, sepertinya dari kedutaan amerika lagi…

DR. ENCOK : Ah Ya, sebentar.. tahan sebentar..

( RAHMA MENGANGKAT TELEPON TERSEBUT, BUNYI BERDERING BERHENTI, LALU RAHMA BERBICARA DENGAN PELAN BERSAMA HAND PHONE TERSEBUT )

DR. ENCOK : Ha Ha Ha … nikmati bos, nikmati… mereka lah yang melanggengkan nafsumu agar dapat menduduki closet tersebut…

( BOS BERTERIAK KETAKUTAN )

BOS UTA MA – KAN : Dok Tolong aku…

DR. ENCOK : Hi Hi Hi… Em.. Ah… sebentar…..

( DOKTER KEMUDIAN MELIHAT KE ATAS SEKITAR PANGGUNG, DI MANA BERGELANTUNGAN BERBAGAI MACAM DAGING – DAGING )

( LALU DOKTER MENGAMBIL SALAH SATU KIKIL SAPI DAN DIA LEMPARKAN KIKIL TERSEBUT JAUH – JAUH KE ARAH LUAR KIRI PANGGGUNG )

( SALAH SATU GEMBEL LALU MELIHAT DAN MENGEJARNYA BAGAI ANJING LAPAR )

( LALU DOKTER MEMBERI ISYARAT PADA RAHMA UNTUK MEMBERIKAN HAND PHONENYA )

( DOKTER MENERIMA HANDPHONE )

DR. ENCOK : Ah ya maaf pa… ada sedikit masalah kecil.. ya jadi bagaimana kelanjutannya pa.. ah… langsung malam ini saja, sangat genting sekali rupanya ya pa… ? serangan gerilyawan ! HA ? APA ? HAMAS..

( DOKTER BINGUNG TIDAK MENGERTI APA ITU “ HAMAS “, LALU DIA BERTANYA KE RAHMA SEMBARI MENGAPIT SESAAT HAND PHONE MILIKNYA )

DR. ENCOK : Hamas itu apa de ?

( RAHMA LALU BERFIKIR SEBENTAR, LALU MENJAWAB DENGAN POLOS )

RAHMA : Teroris pa…

( DOKTER MENGANGGUK MENGERTI DAN MEMBERI TANDA TERIMA KASIH, LALU DIA BERBICARA KEMBALI DENGAN LAWAN BICARANYA NAMUN KALI INI DENGAN NADA SANGAT MEYAKINKAN )

DR. ENCOK : Saya secara pribadi setuju sekali, hemmm.. ya … mereka memang harus diberantas…. Ya, oh… wah… seru sekali ya pa… hem ya.. oh, wah….

( LALU DOKTER MEMBERI ISYARAT PADA RAHMA UNTUK SEGERA PERGI DARI RUANGAN TERSEBUT )

( BOS TAMPAK MASIH KETAKUTAN KARENA MASIH ADA SATU GEMBEL YANG MENJILATI DAN MENJELAJAHI TUBUHNYA )

( BOS BEGITU MEMELAS AGAR DITOLONG )

BOS UTA – MAKAN : Dok…

( DOKTER SEGERA MENGAMBIL KEMBALI SALAH SATU DAGING YANG BERGELANTUNGAN, KINI TAMPAK PAHA KAMBING YANG DIAMBILNYA )

( LALU DOKTER MENGGIRING PAHA KAMBING TERSEBUT, SEMBARI BERGEGAS KELUAR PANGGUNG DAN TETAP BERBICARA DENGAN HAND PHONE )

( DOKTER MELEMPAR DAGING TERSEBUT )

( GEMBEL YANG TERSISA LANGSUNG MENGEJAR DAGING TERSEBUT )

( DOKTER PUN MASIH TERUS BERCAKAP DENGAN HAND PHONE DAN KETIKA HENDAK MELEWATI CLOSET MENUJU ARAH KELUAR PANGGUNG, BOS MENARIK JASNYA )

BOS UTA MA – KAN : Dok Obat buat ini dok ( MENUNJUK KE LUBANG KAKUS ) … penya….

( TANPA BERBICARA DENGAN BOS, DOKTER LANGSUNG MENGELUARKAN BOTOL OBAT, LALU DIA JEJALKAN BOTOL TERSEBUT DI MULUT BOS, SEDANGKAN OBAT – OBATAN LAIN YANG TERSIMPAN DI PLASTIK – PLASTIK DI HAMBURKANNYA DI SEKITAR CLOSET, ADA YANG JATUH BERSERAKAN DI SEKITAR KARPET ADA PULA YANG MASUK KE DALAM LUBANG KAKUS )

(BOS MEGAP – MEGAP SULIT BERNAFAS AKIBAT BOTOL OBAT YANG DIJEJALKAN DI MULUTNYA)

( DOKTER KELUAR DENGAN TERUS SIBUK BERBICARA, LAMBAT LAUN SUARANYA MENGHILANG MENJAUH DARI ARENA PERTUNJUKAN )

( TIBA – TIBA MELONCATLAH SEORANG PASIEN SAKIT JIWA BERNAMA CUPLU YANG SEDARI TADI BERSEMBUNYI DI BELAKANG CLOSET, DIA LANGSUNG BERJONGKOK DI ATAS TEMPAT PENYIMPANAN AIR UNTUK MEMBANJUR TINJA )

( DIA LANGSUNG TERTAWA – TAWA TIDAK WAJAR )

( BOS LANGSUNG TAMPAK KAGET DAN SEGERA MELIHAT KE ATAS DI BELAKANGNYA, SEHINGGA DIA TIDAK SEMPAT UNTUK MEMBUKA BOTOL YANG TERSUMBAT DI MULUTUNYA )

( CUPLU MELIHAT ITU, DIA TAMPAK KASIHAN LALU DIA TARIK BOTOL TESEBUT, NAMUN BEGITU SETELAH DITARIK BOS PUN SEGERA TERSADAR DAN DENGAN SEGERA DIA TARIK KEMBALI OBAT TERSEBUT DARI TANGAN CUPLU )

( CUPLU KEMBALI TERTAWA – TAWA )

BOS UTA – MAKAN : Siapa kau ?

CUPLU : Ha… Ha…. Ha… begitu kejamkah kau mencampakkan dan melupakkan fans yang begitu setia mendukungmu…..

( BOS TERLIHAT BINGUNG )

CUPLU : Ha… Ha… Ha, Ingatanmu begitu tipis… setipis rambumu…

( SEMBARI MENARIK SALAH SATU HELAI RAMBUT BOS DARI ATAS )

( BOS TERSINGGUNG )

CUPLU : Mungkin kau akan ingat dengan ini…

( KEMUDIAN CUPLU DENGAN SEGERA MEMBUKA FLANEL LUSUHNYA DIA BUKA KANCING TERSEBUT SATU PERSATU DENGAN CEPAT, KEMUDIAN DIA RENTANGKAN LEBAR – LEBAR KEMEJA TERSEBUT SEPERTI LAGAK SUPERMAN HENDAK BERUBAH WUJUD MENJADI SUPER HERO )

( TAMPAKLAH DENGAN JELAS SEBUAH KAOS TIPIS DI DALAMNYA, BERWARNA PINK NORAK TERANG MENYALA DENGAN GAMBAR WAJAH “ BOS UTA MA - KAN “, TAMPAK SEDANG TERSENYUM SEMBARI MENGEDIPKAN MATANYA BEGITU GENIT DAN TAMPAK PENUH KASIH, SEMENTARA ITU DI BAWAHNYA ADA SEBUAH SLOGAN BERTULISKAN “ PILIHLAH UTA – MAKAN ! DIJAMIN SEJAHTERA DUNIA AKHIRAT ! “

( KINI BOS TERINGAT NAMUN LANGSUNG DIA MENJADI RESAH JUGA MALU )

CUPLU : Ha.. Ha lihatlah bung… mukamu begitu simpatik dan penuh empati

( MELIHAT KE ARAH BAJUNYA )

( BOS MEMALINGKAN MUKANYA MALU )

( CUPLU MEMBALIKAN KEMBALI PUNDAK BOS AGAR TETAP MELIHAT KEPADA DIRINYA )

CUPLU : Kau sudah ingat siapa aku.. ?

( CUPLU BERKATA DENGAN SANGAT LEMBUT )

( NAMUN BOS MENGIBAS – NGIBASKAN TANGANNYA KECIL KETAKUTAN, MENUNJUKAN TANDA TIDAK TAHU )

CUPLU : Ha… Ha… Sudah ingatkah kau…. Ingat HAH….. !

( KINI CUPLU YANG SEDARI TADI HANYA BERCANDA – CANDA MENJADI MARAH SEKETIKA , SEPERTI MELUAPKAN SELURUH GEJOLAK AMUK YANG SUDAH DITAHAN BERATUS – RATUS TAHUN )

( CUPLU MENARIK KERAH BOS DARI ATAS CLOSET , DIDEKATKANNYA MUKA BOS DENGAN MUKA NYA )

CUPLU : Aku Cuplu ! yang mengibarkan – ngibarkan bendera bergambar wajahmu di setap konvoi kampanye…

Aku cuplu ! yang memprovokasi para rakyat, tukang beca, pedagang pasar, Penjual bakso, tukang ojek, untuk ramai – ramai memilihmu…

Aku Cuplu ! yang berada di garis paling depan saat ada kerusuhan dengan massa dari partai lain…

Perkenalkan namaku… Cuplu .. Cuplu… Keparat… !

( MENARIK PAKSA SALAH SATU TANGAN BOS )

( BOS KINI MENGANGGUK – NGANGGUK PERTANDA MENGENAL CUPLU, BOS TAMPAK BENAR – BENAR KETAKUTAN SEKALIGUS MALU, NAMUN SUDAH TELAMBAT KINI CUPLU SEDANG BERADA DI PUNCAK KEMARAHANNYA )

( CUPLU KINI MENGGENGGAM LEHER KERAH KEMEJA BOS DENGAN KEDUA TANGANNYA, SEMBARI MENGGOYANG – GOYANGKANNYA PENUH LUAPAN EMOSI )

CUPLU : Anak – anakku gantung diri langit rumah karena tidak kuat menahan lapar, istriku pergi kabur. Entah kemana…..

( KINI CUPLU MULAI MENANGIS )

CUPLU : Bangsat… bangsat

( CUPLU MELEPASKAN GENGAMANNYA PADA KERAH KEMEJA BOS )

CUPLU : Istriku lari dengan calon anakku yang masih berada di perutnya… istriku lari.. istriku lari.. istriku lari lalu kawin lagi… lari lalu kawin… lari lalu kawin.. kawin… win.. win – win solution..

( LALU CUPLU MENURUNI CLOSET, PERLAHAN CUPLU MELIHAT – LIHAT KE SEKITAR MENEBAR PANDANG DENGAN TATAPAN KOSONG TANPA ARTI )

( PERLAHAN – LAHAN CUPLU MENYANYIKAN LAGU ANAK KECIL NAMUN DIA MENYANYIKANNYA DENGAN SANGAT MENYAYAT, MEMBUAT TERENYUH SIAPAPUN YANG MENDENGARNYA )

CUPLU : Aku Cinta rupiah, karena aku anak Indonesia.. Hahaha….

( CUPLU KINI MULAI BERPUTAR DI SEKITAR CLOSET )

CUPLU : Aku Cinta rupiah, karena aku anak Indonesia.. Hahaha…., karena aku anak pa menteri… karena…. Karena

( MELIHAT KE ARAH BOS LALU MENCUBIT PIPI BOS DENGAN GEMAS )

CUPLU : Karena ku sayang kamu, Ahahhhhaha Ha ha ha ha…..

CUPLU : Aku cinta indonesia.. karena aku cinta rupiah…. Karena .. keripik singkong, karena keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.. karena… karena…. karena…

( MELIHAT KE ARAH BOS LALU KINI MENCUBIT PAYUDARA BOS DENGAN GEMAS )

CUPLU : Aha ha ha ha…. HA ha.. ha … ha …

( BOS KINI TAMPAK KETAKUTAN NAMUN LEBIH DENGAN RAUT YANG SEDIH JUGA PRIHATIN )

( TIBA – TIBA DARI ARAH BELAKANG PANGGUNG, MUNCUL KEMBALI 2 ORANG SUSTER NAMUN KINI MEREKA TAMPAK TERGESA – GESA SEPERTI MENCARI – CARI SESUATU )

( TAMPAK MEREKA MEMBAWA SEBUAH KURSI RODA RUMAH SAKIT )

NN. ASLOY : Tah… Tah itu… itu si Cuplu

NN. ABLOY : Ya benar sloy… ayo cepat kita amankan..

( SEGERA KE 2 SUSTER TERSEBUT MENDEKATI CUPLU YANG SEDANG LONCAT – LONCATAN TAK KARUAN )

( DENGAN CEPAT DAN SIGAP KE DUA SUSTER TERSEBUT BERHASIL MENGAMANKAN CUPLU, DAN LANGSUNG MEREKA BANTING DENGAN KASAR KE TEMPAT DUDUK KURSI RODA )

( CUPLU MASIH SAJA BERNYANYI – NYANYI DAN BERUSAHA MELONCAT – LONCAT SEPERTI ANAK KECIL, DIA TIDAK MEMPERDULIKAN DENGAN KEHADIRAN KEDUA SUSTER YANG SEDANG MEMEGANGINYA DENGAN KASAR )

NN. ASLOY : Bloy, coba atuh disuntik aja…

NN.GEBLOY : Ah ya….

( TAMPAK NN. GEBLOY MENCARI – CARI SESUATU DI TAS MEDIS BERUKURAN KECIL YANG DIBAWANYA )

( LALU DIA MENGELUARKAN SUNTIKAN DAN BOTOL CAIRAN SUNTIK YANG TAMPAK SANGAT BESAR SEKALI )

NN. ASLOY : Waduh gede banget bloy… cairan suntik buat apa nyah… edan kitu badag…

( LALU NN.GEBLOY MENARIK CAIRAN SUNTIK TERSEBUT, DIA TARIK DAN SEDOT KUAT – KUAT AGAR MASUK DALAM JUMLAH BANYAK KE DALAM JARUM SUNTIK )

NN.GEBLOY : Pegangi yang kuat sloy….

NN. ASLOY : Sip….

NN.GEBLOY : Gwa kasih cairan penenang anjing gila lu…. Dasar orang miskin…. Udah gila masih aja nyusahin ….

NN. ASLOY : Gusti ! pantesan gede…

( GEBLOY MENYUNTIKAN SECARA DRAMATIS SUNTIKAN BUAT ANJING TERSEBUT, KEMUDIAN TERDENGARLAH SUARA PADUAN GEREJA YANG TERDENGAR LIRIS DAN MENYEDIHKAN )

( NN.GEBLOY MENYUNTIKKAN DENGAN PAKSA KE DALAM SALAH SATU LENGAN CUPLU, CUPLU SEGERA MELEMAS NAMUN SEMBARI PERLAHAN – LAHAN TETAP MENGUCAPKAN CERACAUNYA YANG PERLAHAN – LAHAN MENGHILANG LENYAP SEIRING KESADARANNYA YANG MENGHILANG )

CUPLU : Aku cinta rupiah, cinta pancasila ..cinta ….cin….

( KETIKA CUPLU TERKAPAR, MUSIK SEDIH GEREJA PUN MENGHILANG )

( NN.GEBLOY TAMPAK MEMANDANG DENGAN PENUH KEPUASAN JUGA RAUT KEMENANGAN )

NN.GEBLOY : Ha… ha… ha… Nyok, cabut sloy..

NN.ASLOY :Oh enya.. siap..bloy, hayu ah…

( CUPLU TERBARING TAK SADARKAN DIRI DI ATAS KURSI RODA, DENGAN POSISI YANG SANGAT MENGKHAWATIRKAN SEKALI, NAMUN KE DUA SUSTER TERSEBUT TIDAK BERUSAHA INGIN MEMPERBAIKINYA, DENGAN KASAR LALU MEREKA PUN KELUAR KE ARAH KIRI PANGGUNG )

( BOS MEMANDANG KEPERGIAN MEREKA DENGAN TATAP PANDANG YANG MENYAYAT JUGA SEDIH )

(NAMUN SETELAH BEBERAPA LAMA TIBA – TIBA BOS UTA MA – KAN TERINGAT PADA SESUATU)

( BOS TERINGAT PADA OBAT – OBATANNYA YANG BERSERAKAN DI SEKITAR CLOSET, DIA PUN MENJADI SENANG KEMBALI KARENA AKAN SEGERA TERSEMBUHKAN DARI PENYAKITNYA )

( DIA LALU MENGAMBIL SELURUH OBAT – OBATAN YANG TERGELETAK DAN JUGA BERSERAKAN DI SEKITAR CLOSET, BAHKAN ADA JUGA YANG MENGAMBANG DI DALAM LUBANG KAKUS DIA TIDAK PERDULI DIA AMBIL SEMUANYA )

( LALU CEPAT DIA BUKA SELURUH BUNGKUS – BUNGKUSAN OBAT TERSEBUT DAN DIA KUCURKAN SELURUH TABLET TERSEBUT KE DALAM MULUTNYA SEAKAN – AKAN MESES YANG GURIH )

( TAMPAK BOS SERET, TENGGOROKANNYA MAMPET TIDAK MAMPU MENELAN SELURUH JUMLAH TABLET OBAT YANG BERJEJALAN DI TENGGOROKANNYA )

( DENGAN GELAGAPAN DIA PUN MENEKAN TUAS PEMBANJUR TINJA )

( SUARA AIR BAH – BANJIR TERDENGAR )

( DENGAN CEPAT DIA AMBIL DAN TAMPUNG AIR KAKUS TERSEBUT DENGAN TANGANNYA, DIA MINUM AIR KUCURAN TERSEBUT DENGAN TELAPAK TANGANNYA, TIDAK CUKUP DENGAN ITU SAJA DIA PUN MENCEBURKAN KEPALANYA KE DALAM CLOSET UNTUK MERENGGUK AIR SEBANYAK – BANYAKNYA , DIA TEKAN KEMBALI TUAS PEMBANJUR TINJA, SUARA AIR BAH TERDENGAR KEMBALI, DIA MINUM LAGI AIR KAKUS, DIA TELAN LAGI TABLET OBAT SEBANYAK – BANYAKNYA, BEGITU SETERUSNYA )

( TIBA – TIBA DI SAAT BOS SEDANG ASYIK BERGUMUL DENGAN USAHANYA MENELAN OBAT – OBATAN )

( TERDENGAR SUARA BISING YANG BERSAHUTAN SEPERTI SUASANA DI JALAN RAYA YANG SANGAT BESAR, SUASANA MOBIL BERKELIBATAN, MOTOR, TRUK DAN BERBAGAI KLAKSON SERTA SUARA KHAS DI SEBUH JALAN RAYA )

( BOS TIDAK MENGHIRAUKANNYA )

( SUARA SEMAKIN KERAS, KLAKSON – KLAKSON BERSAHUTAN )

D

( KELUARLAH DARI ARAH KANAN PANGGUNG 3 ORANG OLAHRAGAWAN / ATLET SEPEDA )

( MEREKA MENYEBAR, BERPUTAR SEAKAN – AKAN SEDANG BERADA DALAM NUANSA JALAN YANG LARUT BERSAMA PENANDA MUSIK TERSEBUT )

( MEREKA BERCAKAP – CAKAP DENGAN LIHAI TANPA MENGHIRAUKAN BOS YANG SEDANG MELAKUKAN GERAKAN MENJIJIKAN TERSEBUT, MEREKA LARUT DALAM NUANSA KEELITAN PARA EKSEKUTIF MUDA YANG SEDANG BEROLAHRAGA )

( MUSIK NUANSA JALAN RAYA BERHENTI )

( PARA OLAHRAGAWAN TERTAWA ELEGAN )

JANTAN : Hei jantra, bagaimana produksi pabrik kedelai mu di cilegon ?

JANTRA : Menggairahkan begitu sehat dan terus menunjukkan peningkatan yang sunguh pesat, betul – betul memuaskan..

( SALAH SATU TEMANNYA YANG BERADA DI BELAKANG CLOSET, KEMUDIAN TURUN DARI SEPEDANYA, KEMUDIAN MENAIKI CLOSET BAGIAN ATAS, LALU KEMUDIAN DIA BERDIRI DENGAN BEGITU GAGAH SEAKAN – AKAN SEDANG MEMBERI MANDAT PADA BURUH – BURUH DI PABRIK )

JANTUNG : My friend coba perhatikan aku..

( MEMERAGAKAN DIRI BAK SEORANG MANDOR, YANG BERDIRI DI ATAS PODIUM )

JANTUNG : Hei… kalian ketiak – ketiak busuk, tapak hitam dan kulit aspal penuh keringat.. camkan ini baik – baik apabila dalam waktu satu jam, kalian tidak bisa membangun gedung ini..

( KE DUA TEMANNYA MEMPERHATIKAN, MENUNGGU PENASARAN KELANJUTAN KALIMAT ITU )

JANTUNG : perut anak istri kalian akan tergantung kering di atap – atap busuk rumah kalian…

( KE DUA TEMANNYA TERGELAK TERTAWA DENGAN KERAS )

JANTRA : Selalu perut, hahahha…. Rendah sekali mereka selalu berlomba – lomba demi… ( MENGGOYANG – GOYANGKAN PERUTNYA ) hanya demi ini…

Hahahahha….

JANTAN : Mereka tidak menggunakan otak, atau jangan – jangan mereka dicuci otaknya..

JANTRA : Dicuci oleh sekop, semen dan bau asap pabrik…

( KE TIGA EKSEKUTIF TERSEBUT TERBAHAK – BAHAK KEMBALI )

( TIBA – TIBA BOS UTA MA – KAN BERTERIAK, SEPERTINYA DIA MENGALAMI KOMPLIKASI DI PERUTNYA AKIBAT BERBAGAI MACAM OBAT YANG DIA LAHAP SEKALIGUS )

( EKSEKUTIF YANG TENGAH BERADA DI ATAS CLOSET MENJADI TERGUGAH / PENASARAN )

JANTUNG : Hei siapa dia..

( MELIHAT KE BAWAH CLOSET, DI MANA BOS MASIH MENGUNYAH – NGUNYAH OBAT – OBATAN TERSEBUT )

( SEMENTARA KE DUA TEMANNYA, MENDEKATI DARI ARAH KANAN, MENGEPUNG SI BOS DENGAN TATAPAN HERAN / BERTANYA – TANYA )

JANTRA : Pakaiannya seperti presiden..

JANTAN : Necis dan klimis bagaikan eksekutif..

JANTRA : Namun .. kelakuannya lebih hina dari seekor anjing..

JANTRA : Lebih hina dari Tikus..

JANTAN : Poli..

JANTRA : Tikus..

JANTAN & JANTRA : Politikus..

( TIBA – TIBA BOS BERTERIAK DENGAN BEGITU MELEDAK – LEDAK SEMBARI MEMEGANGI SISI – SISI CLOSET )

BOS UTA - MAKAN : Ahhhhhhhhhhrgghh…. Perutku sakit, berbagai komplikasi Negara ada di dalam sini, mereka memukul – memukul dari dalam, mereka memberontak, mencoba membuat referendum sendiri…

JANTAN : Dia bilang Negara ..

JANTRA : Dia bilang perut..

JANTAN & JANTRA : Negara perut..

BOS UTA - MAKAN : Arghhhhh…. Arggghhhh…..

(BOS KEMUDIAN MENGGELIAT HEBAT, RUPA – RUPANYA DIA MENGELUARKAN FESES KEMBALI)

BOS UTA – MAKAN : Mereka berontak lagi .. Arghhhh

BOS UTA – MAKAN : Mereka keluar lagi …. Arghhh

( BOS KEMUDIAN MEMEGANGI PANTATNYA, KEMUDIAN KEPALANYA MENOLEH KE BELAKANG TAMPAK WARNA KUNING BERCAMPUR MERAH DI CELANANYA SEMAKIN TERLIHAT KENTAL & TEBAL )

( KE 2 EKSEKUTIF KEMUDIAN TERGUGAH SECARA SPONTAN, MEREKA TERLIHAT MENJULURKAN KEPALA LEBIH DEKAT AGAR DAPAT MELIHAT ADA APA DENGAN PANTAT YANG DIPEGANG – PEGANG TERUS OLEH SI BOS )

JANTAN : Hah…. Tai..

JANTRA : Tikus..

JANTAN : Negara..

JANTRA : Tikus Negara tai..

( TIBA – TIBA JANTUNG YANG SEDARI TADI HANYA BERDIRI DI ATAS SEMBARI MELONGOK DAN MENGAMAT – NGAMATI LUBANG KAKUS, BERTERIAK KENCANG SEPERTI MENEMUKAN SESUATU YANG MENGGUGAH )

JANTUNG : Heiiiii.. !!

( KEDUA TEMANNYA TERHERAN DAN MELIHAT KE ARAHNYA )

JANTUNG : Lihatlah – lihatlah.. ada yang mengambang

JANTRA : Buruh mati di sungai ?

JANTUNG : Betul – betul itu..

JANTRA : Pasti sudah membusuk dan tidak ada biaya penguburan..

JANTUNG : Bukan..

JANTAN : Apa.. ?

JANTUNG : Cepat segera lihat saja..

( KE TIGA EKSEKUTIF TERSEBUT KEMUDIAN MELIHAT DALAM – DALAM KE LUBANG KAKUS, KEMUDIA MEREKA SEREMPAK TERKEJUT BERDIRI, SEMBARI BERKATA DENGAN RAMPAK )

KE TIGANYA : Burung garuda mengambang..

Bendera merah putih mengembang… Siap Grak !

( KEMUDIAN KETIGANYA CEPAT MEMBENTUK POSISI HORMAT NAMUN DENGAN KEPALA YANG TERTUNDUK PASRAH KE DALAM LUBANG KAKUS, POSISI BOS BERADA DI DEPAN DI ANTARA MEREKA DENGAN TETAP MEMAKANI SELURUH SISI OBAT )

( KEMUDIAN DENGAN KENCANG TERDENGARLAH SUARA LAGU INDONESIA RAYA TANPA TEKS, HANYA HARMONI NADANYA SAJA )

E

( LAMPU TIBA – TIBA MENYINARI SALAH SATU SISI PANGGUNG YANG SEDARI TADI TIDAK PERNAH TERLIHAT OLEH PENONTON )

( LAMPU MENYINARI SALAH SATU BAGIAN PANGGUNG YANG BERADA DI BELAKANG KIRI)

(PERLAHAN – LAHAN KITA DAPAT MELIHAT SERANGKAIAN MEJA YANG TERSUSUN MENYAMPING, MEMBENTUK RUANG TERSENDIRI )

( SUSUNAN MEJA TERSEBUT BERKESAN SEPERTI BERADA DI SEBUAH RESTORAN HIGH CLASS DENGAN STANDARISASI EROPA, BERSAMA TATA MEJANYA YANG BEGITU ELEGAN JUGA MEWAH, TERLIHAT LILIN – LILIN MEJA YANG BERKELINDAN, BESERTA DAFTAR MENU YANG TERPAMPANG BEGITU JELAS, NAMUN DAFTAR MENU TERSEBUT BERJUMLAH TIDAK WAJAR, SEHINGGA TAMPAKLAH SELURUH MEJA TERSEBUT TERISI PENUH OLEH DAFTAR MENU YANG TEGAP BERSERAKAN DENGAN POSISI YANG TIDAK TERATUR )

( HARMONI LAGU INDONESIA RAYA TETAP JELAS TERDENGAR )

( PERLAHAN – LAHAN MUNCULAH DARI BALIK MEJA TERSEBUT 4 ORANG MENTERI NEGARA )

( MEREKA BERPAKAIAN SEPERTI BAYI, DENGAN PAMPERS, DOT DAN JUGA PENUTUP KEPALA KHAS BAYI NAMUN MEREKA BEGITU GAYA DENGAN SEPATU PANTOFEL JUGA DASI YANG TERGANTUNG DI DEPAN BAJU BAYI MEREKA )

( MEREKA BERJALAN MENUJU ARAH MEJA DENGAN TANGAN KIRI MEMBAWA SEKOP DAN TANGAN KANAN MEMBAWA GARU ( TRISULA PEMISAH JERAMI )

( LALU MEREKA BERHENTI DI DEPAN MEJA, DAN MENGETUKAN BAGIAN BAWAH SEKOP SERTA GARU MEREKA KE PERMUKAAN MEJA )

( HENING SESAAT, SEAKAN SERIUS )

( TIBA – TIBA MEREKA MENANGIS SEJADI – JADINYA SEPERTI BAYI YANG DITINGGALKAN IBUNYA KETIKA SEDANG ASYIK MENYUSU )

( HARMONI INDONESIA RAYA PERLAHAN – LAHAN MENGHILANG )

( TIBA – TIBA PARA EKSEKUTIF YANG TENGAH MENGHORMAT KEPADA LUBANG KAKUS TERKEJUT MENDENGAR SUARA – SUARA TANGIS YANG BERSAHUTAN TERSEBUT )

JANTAN : Tangis apa itu…

JANTRA : Tangis dewan kah ? ..

JANTUNG : Tangis orang yang ingin makan kah ? ..

JANTAN : Tangis rakyat kah ?..

( MEREKA BERTIGA HENING SESAAT, MENCOBA MENGENALI LEBIH JELAS SUARA TANGIS TERSEBUT )

BERTIGA : Ahhh…. Rupanya.. Tangis dewan pemakan rakyat ! ..

( TIBA – TIBA TERDENGAR KONFIGURASI SUARA YANG BERDENTAM – DENTAM, HASIL DARI KETUKAN UJUNG SEKOP DAN GARU YANG DIHANTAMKAN BERULANG – ULANG KE LANTAI )

( PARA MENTERI BERHENTI MENANGIS )

( PERLAHAN – LAHAN BOS MULAI MENDONGAKAN MUKANYA )

( PARA EKSEKUTIF TIDAK LAGI MENGHORMATI KAKUS NAMUN KINI MEREKA SEPERTI MENCARI – CARI MAKANAN DI DALAM LUBANG KAKUS )

BOS UTA – MAKAN : Apa lagi yang kalian minta, apa lagi yang kalian inginkan…

SUKADUIT : Subsidi keluarga, subsidi makan siang, subsidi hajat dan pernikahan.. subsidi sudibyo…

JANTAN : Baso tahu.. Baso tahu

JANTRA : Sukiyaki, Zuppa – Zuppa..

SUKAPANTAT : Sumbangan idul fitri bagi keluarga pejabat dan sumbangan idul adha..

JANTUNG : Gule Kambing, Opor Ayam, Rendang si bundo..

BOS UTA – MAKAN : Apa kalian tidak peduli betapa banyak rakyat yang bahkan seumur hidup mereka belum pernah mencicipi daging…

JANTRA : Daging.. Daging..

JANTUNG : Daging.. bayar daging..

JANTAN : Hei… lihat banyak daging – daging mengambang…

( TIBA – TIBA SALAH SATU MENTERI MENGAMUK, NAMUN DENGAN POSISI YANG TEGAS BERDIRI, DIA MENGACUNGKAN GARUNYA KE ARAH BOS )

SUKAKAWIN : Berikan daging kekal, berikan kenikmatan. Daging perawan, daging wanita muda yang ranum merekah .. berikan..

( TIBA – TIBA JANTUNG YANG SEDARI TADI TERDUDUK DI ATAS CLOSET MENGEJANG – NGEJANG DENGAN HEBAT, DIA MENGGELIAT HEBAT BAGAI ULAR YANG HENDAK DICINCANG )

JANTUNG : Ahhhhhhh……

JANTRA : Ada Apa dengannya ?

JANTAN : Sok Teatrikal…

JANTRA : Memalukan…

JANTUNG : Argghhh… mereka tumbuh… banyak daging tumbuh dari dagingku.. ahh mereka tumbuh.. menjalar dan menggerogiti, ahh… daging - daging ini menggigiti dagingku..

JANTAN : Bahasanya ..

JANTRA : Absurd..

JANTAN : Memalukan…

( LALU JANTUNG MENGERANG DENGAN SANGAT KERAS, DAN AKHIRNYA TERJATUH TEPAT DI DEPAN CLOSET )

( BOS TERGUGAH , DIA MEMPERHATIKAN JANTUNG YANG MENGGELIAT – GELIAT KESAKITAN DI ATAS LANTAI )

BOS UTA – MAKAN : Berapa banyak hak perut – perut dari daging yang dia rebut..

JANTRA : Tak terhingga pa.. dia biasa mencabut jatah makan bagi karyawannya yang melakukan demonstrasi…

BOS UTA – MAKAN : Berapa perut yang melayang ?

JANTAN : Sebanyak mall – mall dan pertokoan yang telah dia bangun…

JANTRA : Dia biasa memotong jumlah gaji tetap dengan dalih kompensasi makan siang…

JANTAN : Hussss…

JANTRA : Loh memang begitu..

JANTAN : Dia yang memberikan anak istrimu makan..

JANTRA : Ahhhh…

( JANTRA MALU TAPI HANYA SESAAT )

BOS UTA – MAKAN : Apa agamanya ?

JANTRA : Modal dan Investasi..

JANTAN : Husss…

JANTAN : Memang benar begitu..

JANTRA : Dia yang memberimu mobil dan apartemen..

JANTAN : Ahhh…

( JANTRA MALU TAPI HANYA SESAAT )

BOS UTA – MAKAN : Aku tak tahu sepertinya dia akan mati..

JANTAN : Matinya masuk bank..

JANTRA : bertemu dengan pencabut investasi dan dept kolektor..

JANTRA & JANTAN : Heiiii….. dia yang memberi kita pekerjaan..

( KINI KE DUA EKSEKUTIF TERSEBUT TERSADARKAN BAHWA SESEORANG YANG AKAN SEGERA MATI TERSEBUT ADALAH ORANG YANG TELAH MEMBERI MEREKA PENGHIDUPAN )

( MEREKA MENJADI PANIK, BERLARIAN CEMAS TAK TERKENDALI BAGAI BOCAH IDIOT )

BOS UTA – MAKAN : Heiii… tenang – tenang ! lebih baik kalian telepon dokter..

( JANTAN DAN JANTRA TERHENTI SESAAT DARI KEPANIKANNYA )

JANTAN : Telepon.. telepon..

JANTRA : Kring.. kring… halo..

JANTAN : Ya passswordnya…

JANTAN : Jali – Jali……

( MEREKA KEMBALI BERTERIAK DAN BERLARI – LARI TIDAK WARAS )

BOS UTA – MAKAN : Bangsat, kalian telepon dulu….

( JANTAN DAN JANTRA TERHENTI KEMBALI )

BOS UTA – MAKAN : Hand Phone kalian..

( JANTAN MENGELUARKAN HAND PHONE NYA )

BOS UTA – MAKAN : Telepon dokter..

( JANTAN BUKANNYA MENELEPON DIA MALAH MELEMPARKAN HAND PHONE TERSEBUT KE ARAH KEPALA JANTUNG, YANG SEDANG MENGGELIAT – GELIAT KESAKITAN )

( LALU MEREKA BERDUA KEMBALI BERLARI - LARI PANIK NAMUN TERLIHAT BERSENANG - SENANG )

BOS UTA – MAKAN : Bangsat !

( BOS PUN AKHIRNYA MENGAMBIL TELEPON YANG TERGELETAK TERSEBUT, LALU AKHIRNYA DIA MENELEPON SENDIRI )

BOS UTA – MAKAN : Selamat siang… bisa berbicara dengan bapa dokter..

( TIBA – TIBA KE EMPAT MENTERI KINI MENGHANTAM – HANTAMKAN ALAT – ALAT YANG ADA DI TANGAN MEREKA SEMBARI BERTERIAK – TERIAK RAMPAK )

EMPAT MENTERI : Daging … daging… daging…. Daging… kami minta daging

( TERUS DIUCAPKAN DENGAN LANTANG DAN RAMPAK HINGGA BOS TAK BISA MENDENGAR DENGAN SESEORANG YANG SEDANG DITELEPONNYA )

BOS UTA – MAKAN : Bangsat diam..

EMPAT MENTERI : Kami minta daging yang tidak diam, kami minta daging bergerak, kami minta daging hidup, daging segar, bernyawa, berjantung, bernafas..

( LALU BOS MENDEKATI MEREKA DAN TANPA BERBICARA DIA MENGGERTAK EMPAT MENTERI TERSEBUT AGAR TERDIAM )

( MEREKA PUN BERHENTI BERBICARA )

BOS UTA – MAKAN : Ya, benar … ya ditunggu.. terimakasih.

( PERLAHAN – LAHAN TERDENGAR MUSIK SIRKUS BERGAUNG DENGAN HEBAT DI SAENTERO RUANG PERTUNJUKAN )

(PARA EKSEKUTIF YANG TELAH TIDAK WARAS TERSEBUT MENGIKUTI IRAMA MUSIK SIRKUS , MEREKA MENIKMATI MUSIK DAN MENAMBAH GILA GERAKAN – GERAKAN KEPANIKAN MEREKA)

( SEMENTARA JANTUNG TERUS SAJA MENGGELIAT – GELIAT KESAKITAN DENGAN HEBAT )

( PARA MENTERI KINI MULAI MENGHANTAM – HANTAMKAN KEMBALI SEKOP DAN GARUNYA KE PERMUKAAN LANTAI SECARA SEREMPAK )

( MUSIK SIRKUS SEPERTI MENJADI LATAR BAGI SEMUA ATRAKSI TERSEBUT )

( BOS UTA – MAKAN PERLAHAN – LAHAN TERDUDUK KEMBALI DI ATAS CLOSET )

( DIA MULAI STRESS )

( KEMUDIAN MUSIK SIRKUS PERLAHAN - LAHAN MENGHILANG )

( SEIRING MENGHILANGNYA MUSIK SIRKUS, TERDENGARLAH MUSIK ORKESTRA “ VIVAT ACADEMIA “ , YANG BIASA DIDENGARKAN KETIKA ACARA – ACARA WISUDA UNIVERSITAS SEDANG DILAKUKAN )

( LALU DARI ARAH PINTU BAR, BELAKANG PANGGUNG TAMPAK 2 KERANDA PASIEN RUMAH SAKIT MEMASUKI RUANG )

( TERLIHAT DOKTER ENCOK SEDANG TERDUDUK DI ATAS PEGANGAN KASUR SEMBARI BERGAYA LAYAKNYA SANG PEMIKIR, DENGAN DIDORONG OLEH SALAH SATU SUSTER )

(SEMENTARA SATU KASUR LAGI TAMPAK SEORANG CO – AS SEDANG BERDIRI DENGAN TEGAS, SEMBARI MEMEGANGI SEBUAH MAP, DENGAN DIDORONG OLEH SALAH SATU SUSTER LAINNYA)

( MEREKA BERTEMU DI TENGAH PANGGUNG )

( MUSIK ORKESTRA PERLAHAN – LAHAN MENGHILANG )

F

( DOKTER KEMUDIAN TURUN LEBIH DAHULU DARI ATAS KASUR, KEMUDIAN DIA MENGHAMPIRI KASUR RAHMA DAN DENGAN BEGITU ELEGAN DOKTER MENJULURKAN TANGANNYA AGAR RAHMA DAPAT TURUN DENGAN SELAMAT )

( KEMUDIAN MEREKA BERJALAN BERIRINGAN KE ARAH TABEL PENAMPANG ANATOMI PERUT MANUSIA )

DR. ENCOK : Suster, amankan para manusia itu.. sepertinya staf bagian syaraf akan kesibukan malam ini..

( PARA SUSTER MENGERTI MEREKA, BERPENCAR BERUSAHA MENANGKAP PARA EKSEKUTIF YANG TENGAH BERLARIAN KE SANA KEMARI )

NN. GEBLOY : Tangkap yang itu sloy..

NN. ASLOY : Oce bloy..

( NN. ASLOY DENGAN JANTRA SALING KEJAR MENGEJAR, NAMUN PADA AKHIRNYA JANTRA MALAH MENGAMBIL SEPEDANYA KEMUDIAN DIA ANGKUT DI ATAS PUNDAKNYA LALU DIA BERLARI DENGAN TERTAWA - TAWA KE ARAH BELAKANG PANGGUNG DAN MENGHILANG )

NN. ASLOY : Yah.. Kabur ! Hilang bloy… !

( TERLIHAT JANTAN BERLARI – LARI KECIL KEMUDIAN DIA MENGAMBIL SEPEDA JANTUNG, DIA BAWA MENDEKATI SEPEDANYA, KEMUDIAN DIA MEMAIN – MAINKAN KE DUA SEPEDA TERSEBUT SEPERTI ANAK KECIL MEMAINKAN MOBIL – MOBILAN )

NN. GEBLOY : Nah itu tuh masih ada sloy..

NN. ASLOY : Ha.. ha.. nu ieu ma gampang, katingalina boloho kitu…

( NN. ASLOY MENDEKATI JANTAN )

( JANTAN KETAKUTAN TERDIAM DAN MEMELUKI KE DUA SEPEDA TERSEBUT )

( NN. ASLOY MENDEKATI JANTAN KEMUDIAN DIA MENARIKNYA, JANTAN TIDAK MENOLAK NAMUN DIA MEMBAWA DAN MEMELUKI KE DUA SEPEDA TERSEBUT DINAIKKAN DI ATAS KASUR )

( JANTAN MENANGIS – NANGIS MANJA, SEPERTI ANAK KECIL YANG DIREBUT MAINANNYA DAN TIDAK MAU BERPISAH DENGAN MAINAN TERSEBUT )

( NN. ASLOY PUN MENDORONG KASUR DAN KELUAR PANGGUNG )

DR. ENCOK : Ha.. ha.. ha.. ha sudah puaskah kau pak presiden ?..

( BOS TAMPAK MASIH TERMANGU, MENEBAR PANDANG KOSONG KE ARAH PENONTON )

DR. ENCOK : Hei, rahma seperti apa ya ? lihatlah raut wajahnya..

( SEMBARI MENUNJUK KE ARAH BOS YANG TAK JELAS RAUT WAJAHNYA )

RAHMA : Filsuf em… namun lebih tepatnya seorang mistikus.. pa..

DR.ENCOK : Misterius kali ?

RAHMA : Mistikus, pa.. bener , kedalaman batin menuju tuhan..

DR. ENCOK : Ha.. ha, terlalu kau.. akhir – akhir ini kau sering membaca apa ?

RAHMA : Dari Socrates hingga kuntilanak , karya : Tatang S

DR.ENCOK : Sangat menarik sekali rahma, baru ku dengar nama Tatang S, Filsuf baru ya ?

RAHMA : Betul pa… lahir di yunani tapi lama di tasikmalaya.

DR.ENCOK : hem,harus ku pinjam buku mu itu, euh… tapi coba lihatlah rahma lihatlah… ( MENCOBA MENUNJUKKAN KE ARAH BOS ) .. dia semakin semrawut.. apa kira – kira yang sedang ada di pikirannya..

RAHMA : Perutnya..

DR.ENCOK : Perutnya adalah pikirannya..

RAHMA : Berpikir untuk perut, perut..

( KEMUDIAN TERDENGARLAH SUARA – SUARA LALAT YANG BERDENGUNG, MEMEKIK MEMENUHI RUANG PERTUNJUKAN )

( DOKTER DAN CO – AS BERBICARA – BERBICARA DALAM BAHASA YANG LAMBAT TANPA SUARA, GERAK MEREKA MENJADI BEGITU PELAN DAN MENCIPTAKAN SUASANA NGILU TERSENDIRI )

( TIBA – TIBA LAMPU MENGEJANG – NGEJANG, DAN BOS TERLIHAT TERSIKSA SEMBARI MEMEGANGI KEPALANYA KEMUDIAN PERUTNYA, KEMUDIAN KEPALANYA, KEMUDIAN PERUTNYA, BEGITU SETERUSNYA )

( PARA MENTERI TERTAWA – TAWA, TANPA SUARA MEREKA TERBAHAK – BAHAK SUNYI BERSAMA KONFIGURASI LAMPU YANG MENGEJANG )

( TIBA – TIBA LAMPU KEMBALI NORMAL )

( SERENTAK PARA MENTERI MENGACUNGKAN KEMBALI GARU MEREKA KE ARAH BOS )

( SUARA LALAT MENGHILANG )

SUKAPANTAT : Kami adalah kebijakanmu, kami adalah ciptaanmu.. kami lapar dan terus memamah syahwat, tidak lain adalah cermin laku tingkahmu..

SUKAMABUK : Kami adalah setelah kau.. kau sebelum kami.. tidak akan hadir perut – perut yang lapar, apabila anggarannya tersedia..

PARA MENTERI : Apabila makanannya tersedia..

( TERDENGAR SUARA MUNTAH – MUNTAH DARI AUDIO DENGAN BEGITU HEBAT, SUARA MUNTAH – MUNTAH INI TERDENGAR BEGITU DAHSYAT )

PARA MENTERI : kami anugerah yang berikan, kami adalah titah yang kau perintahkan, kami adalah langkah – langkah yang membayangi mu..

(LAMPU KEMBALI MENGEJANG – NGEJANG,SUASANA MENJADI NGILU DENGAN KOMPOSISI ANTARA TERIAKAN MUNTAH – MUNTAH DAN LAMPU – LAMPU YANG MENGEJANG – NGEJANG)

( LALU KELUARLAH DALAM SUASANA SUARA MUNTAH – MUNTAH TERSEBUT BERBAGAI MACAM ORANG YANG TADI TELAH MENGISI RUANG )

( DARI BERBAGAI ARAH YANG TAK BERATURAN KELUARLAH PARA PASIEN SAKIT JIWA, KELUARLAH PASIEN – PASIEN YANG KELAPARAN, KELUARLAH PARA OLAHRAGAWAN GILA BERKELILING – KELILING, BERKELIARAN )

( DOKTER DAN CO – AS TIDAK MENGHIRAUKAN KEDATANGAN BEBAGAI MACAM ORANG DARI SEGALA PENJURU TERSEBUT, MEREKA TETAP BERBICARA & BERCAKAP - CAKAP DALAM KEBISUAN )

( BOS HANYA MEMANDANG KOSONG KE ARAH PENONTON )

( PARA MENTERI TETAP MENGACUNGKAN GARU MREKA DALAM POSISI DIAM KE ARAH BOS )

( SUASANA SEMAKIN RICUH DAN LIAR, SUARA MUNTAH – MUNTAH SEMAKIN HEBAT TERDENGAR DI DALAM RUANG PERTUNJUKAN SEMENTARA PARA AKTOR TERUS SAJA KELUAR – MASUK TIDAK TERKENDALI )

( TIBA – TIBA BOS BERTERIAK SANGAT TERTEKAN DENGAN BEGITU KUAT )

BOS UTA – MAKAN : Arghhhhhhhhh.. !!!!!

( LAMPU DAN SUARA MUNTAH – MUNTAH KEMBALI NORMAL )

( PARA MASSA AKTOR HILANG DARI PANGGUNG, BEGITU JUGA DOKTER DAN CO - AS )

G

( TIBA – TIBA DARI BELAKANG PANGGUNG TERDENGAR SUARA TERTAWA TERBAHAK – BAHAK )

( TAMPAK 4 ORANG GEMBEL RESTORAN TENGAH MENAIKI & MENCEKIK SERTA MERANGKULI PARA MENTERI DI BALIK MEJA RESTORANNYA, DENGAN PISAU RESTORAN YANG DITODONGKAN KE WAJAH )

( PARA GEMBEL TERSEBUT BERPAKAIAN SEPERTI BADUT – BADUT ANCOL, DARI SEGI MAKE UP ATUAPUN PAKAIANNYA HANYA SAJA MEREKA MEMAKAI CELANA JEANS LUSUH DAN SOBEK – SOBEKAN DI SANA – SINI YANG BEGITU KOTOR DAN KUMAL )

( TERLIHAT PULA PERUT MEREKA TIDAK BUNCIT SEPERTI BADUT – BADUT LAINNYA, HINGGA SABUK CELANA JEANS YANG SEHARUSNYA DIPASANGKAN DI POSISI PINGGANG, MEREKA NAIKKAN HINGGA MENCAPAI POSISI PERUT, MENGIKAT DAN BEGITU SESAK )

( YAH MEREKA ADALAH PARA BADUT BERTUBUH KURUS DAN KERONTANG )

PARA GEMBEL : Ha.. Ha… Ha… Ha…

( MEREKA TERTAWA SEREMPAK DAN SALING MENCEKIK JUGA MEMAKAN – MAKAN BAJU PARA MENTERI, SUASANA SEPERTI PARA MONYET YANG TENGAH MENAIKKI POHON PISANG DAN MENCABUTI PISANG - PISANG KEMUDIAN MEMAKANINYA )

PARA GEMBEL : Ha…ha…. Ini hak kita , ini hak kita….

( PARA MENTERI TIDAK BERGEMING, BERDIRI DENGAN KOKOH )

KIMUL : Ha… Ha setiap hari kita memunguti tulang – tulang di bawah meja restoran..

LEGI : Setiap hari kita berburu dengan tikus demi remah – remah roti..

PARA GEMBEL : Ha.. Ha.. Ha… Mantap saudara – saudara..

( LALU PARA GEMBEL MELONCAT DARI TUBUH – TUBUH PARA MENTERI, MEREKA MELONCAT KE ATAS MEJA RESTORAN )

( ADA YANG BERDIRI DENGAN BEGITU GAGAH, ADA YANG TERTIDUR SEPERTI BERBARING DI PANTAI, ADA YANG PULA YANG MENJAGAI PARA MENTERI AGAR TIDAK BERONTAK DENGAN PISAU DAPUR YANG TERACUNG NAMUN DIA PUN BERGERAK TERUS BERKELIARAN, ADA YANG SIBUK MELIHAT – LIHAT MENU MAKANAN )

JUMI : Ahh…. Kawan – kawan apa ini, Euh… Asparagus..

KELUM : Saudara jauhnya agus mungkin ?

( BOS LANGSUNG TERKIKIK MENDENGAR PERNYATAAN TERSEBUT, NAMUN DIA TAHAN SEBISA MUNGKIN, AKAN TETAPI TETAP SAJA TERDENGAR OLEH PARA GEMBEL ITU )

KIMUL : Bangsat, si gendut itu mentertawakan kita..

LEGI : Ayo kita potong saja perutnya yang besar itu, lalu kita berikan pada anjing – anjing liar..

JUMI : Sudah – sudah biarkan saja, mungkin memang kita lucu..

( JUMI MEMBERI TANDA AGAR TEMAN – TEMANNYA MELIHAT PAKAIAN MEREKA MASING – MASING, MEREKA PUN MELIHAT PAKAIAN MEREKA MASING – MASING )

KELUM : Aha, ha.. ha ya ya ya ! kita memang lelucon, kita memang bahan tertawaan…

LEGI : Kita adalah canda bagi mereka, bagi mereka( MENUNJUK KE ARAH PARA MENTERI JUGA BOS ) bagi mereka .. yang terbiasa menyeduh susu hangat dan roti keju di pagi hari…

JUMI : Dengan santai bermalas malas bersama istri simpanan…

KELUM : Di Villa..

LEGI : Hotel bintang 5..

JUMI : Eu.. di emper pertokoan…

PARA GEMBEL : Ha.. Ha… Ha… Ha…. !

KIMUL : Kita adalah badut bagi anjing - anjing berperut buncit..

( TAMPAK SALAH SATU MENTERI BERUSAHA MELAWAN, NAMUN DENGAN CEPAT DI GERTAK KEMBALI )

PARA GEMBEL : Kita Para badut, tanpa bola – bola warna - warni

KELUM : Tanpa trik – trik sulap

PARA GEMBEL : Dan tanpa perut membusung besar..

JUMI : Ha… Ha…. Jangankan untuk membuat perut menjadi besar, membuat agar si bangsat ini ( MENGGOYANG – GOYANGKAN PERUTNYA ) tidak bunyi saja susahnya minta ampun…

PARA GEMBEL : Ha.. Ha… Ha !

LEGI : acungkan perut kalian dengan bangga , busungkan grak !!!!

( MEREKA PUN MEMBUSUNGKAN PERUT KEMPLANG MEREKA )

( TIBA – TIBA SALAH SATU MENTERI BERTERIAK )

SUKADUIT : Pelayan… Pelayan… Pelayan ! .. tolong singkirkan tikus – tikus ini..

( NAMUN PARA GEMBEL TERLIHAT TENANG – TENANG SAJA, ENTAH APA SEBABNYA )

SUKAKAWIN : Pelayan cepat.. pelayan singkirkan mereka ! ini restoran kelas atas yang tidak pantas bagi kulit – kulit miskin seperti mereka ! Pelayan ! kubayar kalian 100 kali lipat… Pelayan !

( TIBA – TIBA DARI BELAKANG PARA BOS MUNCULAH 4 PELAYAN RESTORAN YANG BERJALAN – JALAN MENGENDAP – NGENDAP TANPA MENGGUNAKAN SEPATU RODA DENGAN LANGKAH YANG SANGAT SUNYI JUGA MENCEKAM )

( TAMPAK MASING – MASING DARI MEREKA MEMBAWA CELEMEK RESTORAN YANG DISIAPKAN DALAM GERAKAN HENDAK MENCEKIK )

( SEMENTARA PARA GEMBEL TERLIHAT SENANG – SENANG DAN SANTAI )

SUKAMABUK : Bangsat… Pelayan… Pelayan… cepat, aku tidak suka dengan para gembel i…. Erghkk.. Erghkkkk..

( PARA MENTERI TIBA - TIBA TERCEKIK OLEH PARA PELAYAN YANG SEDARI TADI MENGINTAI DARI BELAKANG MEREKA )

( MEREKA TERCEKIK OLEH CELEMEK RESTORAN YANG SEDARI TADI DIPERSIAPKAN PARA PELAYAN YANG MENGINTAI DI BELAKANG MEREKA )

( PARA MENTERI SUNGGUH TERKEJUT, MEREKA BERTANYA – TANYA )

( PARA PELAYAN TERTAWA DENGAN SANGAT PUAS DAN BEGITU BAHAGIA )

PARA PELAYAN : Ha…. Ha… Ha… Ha…

( BOS DENGAN SEGERA BERINGSUT MENCIUT, DIA KETAKUTAN DENGAN SANGAT MELIHAT PEMBANTAIAN SECARA DINGIN TERSEBUT )

( BOS BERSEMBUNYI DI BALIK CLOSET, SEMBARI GEMETAR KETAKUTAN )

ENAK : Mampus, bangsat.. mampus..

ENEK : Kami akan hantarkan kalian menuju restoran abadi, restoran yang sesungguhnya..

ENOK : Restoran yang bermandikan madu dan dialiri air susu..

ENIK : Kebahagiaan tiada tara, katarsis tanpa akhir… hohohoho…

Ha… Ha.. kalian tidak usah lagi menyuruh pelayan .. memaki – maki pelayan lagi apalagi member tip. Kalian akan dilayani oleh para pelayan surga, para pelayan tuhan.. ohh. Terpuji tuhan.. Amen..

ENAK : Lihat omongannya sudah seperti rahib saja…

ENEK : Moso rahib nyuci piring.. ?

ENOK : Piring bekas koruptor lagi..

ENEK : Ha.. Ha… mari kawan, mari segera kita selesaikan canda ini…

( PARA MENTERI MEMOHON – MOHON DI AMBANG KEMATIANNYA )

SUKAKAWIN : Jangan … ingat kalian selalu kuberi tip.. ergkkkh..

( TERCEKIK HEBAT )

ENEK : Bangsat.. dengan cacian juga ludah panas di muka terlebih dahulu..

SUKAMABUK : Jangan .. jangan ingat kalian selalu ku beri sisa makanan dari.. piringku… ergkkhhh

ENOK : Anjing, keparat.. dia masih saja mengingat kita sebagai manusia pengumpul makanan….

(SALAH SATU GEMBEL MENDEKATI MENTERI DAN MENGELUSI WAJAHNYA PERLAHAN – LAHAN)

( LALU GEMBEL – GEMBEL LAINNYA MENGIKUTI MEREKA MULAI MENTEROR SECARA HALUS NAMUN MENCEKAM )

KIMUL : Ha… Ha… Ha..

LEGI : AH.. HA.. HA..

JUMI : Kami adalah hasil dari kebijakanmu, kami adalah olah dari gemericik perutmu yang berbuntal – buntal..

( MENDENGARKAN SALAH SATU PERUT MENTERI, SEPERTI ADA BAYI DI DALAM PERUT TERSEBUT )

KELUM : AH.. ah dengar … dengar aku mendengar .. hemm… teriak orang yang kesakitan… orang yang berada tepat di ajal kematiannya

( MEREKA MENGIKUTI )

LEGI : Ahh… jerit orang – orang kelaparan, jerit rakyat.. jerit kami.. jerit Indonesia..

KIMUL : Jerit warga.. jerit tetangga, jerit anak… jerit nenek.. jerit ibu dan bapa kami…

( MEREKA SEMUA SIAP MEMBUNUH )

( PARA GEMBEL DAN PELAYAN ADA YANG MEBUNGKAM MULUT,MENGELILINGI, ADA YANG MENGITARI DAN ADA JUGA YANG MASIH MENDENGARKAN PERUT MENTERI TERSEBUT SEMBARI MENGELUS – NGELUS DINGIN KE SELURUH BAGIAN PERUT MEREKA )

( SUASANA SEMAKIN MENGANCAM )

( SALAH SATU MENTERI BERUSAHA BERBICARA NAMUN MULUTNYA DIBUNGKAM OLEH PARA GEMBEL JUGA DICEKIK OLEH CELEMEK PARA PELAYAN, KINI DIA TERLIHAT BERUSAHA MENUNJUK – NUNJUK KE ARAH TEMPAT DI MANA BOS BERSEMBUNYI )

( TIBA – TIBA TERDENGAR SUARA CELLO LEMBUT MENGALUN )

( KIMUL ANGKAT PISAU TINGGI LALU BERTERIAK )

KIMUL : Akan ku kirim kalian ke surga dalam 19 irisan !!!!

( PARA MENTERI DISERET, DITIKAM, DICEKIK, DIIRIS, DIBANTAI DI BAWAH MEJA )

( LAMPU MENGHITAM, SUARA CELLO SEMAKIN SYAHDU TERDENGAR )

( PARA PELAYAN DAN GEMBEL MENCIPTAKAN KONFIGURASI GERAK JUGA TAWA YANG SANGAT MENGERIKAN )

( CELLO SEMAKIN MERDU KERAS TERDENGAR )

( LAMPU PADAM )

H

( LAMPU PERLAHAN – LAHAN MENYOROTI TEMPAT CLOSET )

( TERLIHAT BOS SEDANG TERDUDUK LESU , BERSELONJORAN DI BAWAHNYA )

BOS UTA – MAKAN : Aduh… aku lapar..

( LALU TERDENGARLAH IRAMA DAN NADA – NADA PERMAINAN TAMAN RIA , LONCENG – LONCENG JET COASTER JUGA KERLANG- KERLING MESIN UANG TAMAN HIBURAN )

( LAMPU MENYINARI RUANG LALU KELUARLAH 4 ORANG DENGAN MEMAKAI SEPATU RODA , MELUNCUR KE SANA KE MARI DENGAN MEMAKAI SEPATU RODA )

( MEREKA MEMBAWA NAMPAN ALUMUNIUM BERPENUTUP, GERAK MEREKA SUNGGUH BEGITU LUWES NAMUN MEWAH , ADA YANG MELEWATI BOS, ADA YANG MENYILANGI BOS, NAMUN SANG BOS TETAP MEMPERLIHATKAN RAUT SEDIH SESEORANG YANG SEDANG LAPAR )

( BOS BERTERIAK )

BOS UTA – MAKAN : Aku sungguh sungguh lapar… !!

( PARA PELAYAN AKHIRNYA PERLAHAN – LAHAN MENDEKATI . TERSUDUT DI SATU POSISI CLOSET )

( MUSIK TAMAN HIBURAN MENGHILANG )

( MEREKA SEREMPAK MEMBUKAKAN PENUTUP NAMPAN MEREKA )

( TERLIHATLAH DAGING – DAGING SEGAR DENGAN UKURAN YANG SANGAT BESAR SEKALI, DAGING MANUSIA YANG BEGITU MERAH, DAN DARAHNYA PUN TERLIHAT MENETES – NETES MEMBANJIRI TUMPAH DARI SISI - SISI NAMPAN TERSEBUT )

( BOS TIDAK MEMPERDULIKAN NYA DIA TAMPAK SANGAT KELAPARAN SEKALI )

ENAK : Silahkan pak.. daging istimewa. Sangat lembut dan berprotein tinggi…

ENIK : Diracik dengan Sembilan bumbu khas dari seluruh penjuru dunia….

( BOS MENJADI SEMAKIN TIDAK TAHAN )

ENOK : Uratnya begitu renyah juga kaldu dari darah ini menyimpan gizi tersendiri..

BOS UTA – MAKAN : Berikan …

( BOS MEMINTA GARPU )

ENIK : Silahkan bos, mohon dinikmati betul – betul…

( ENIK MENYODORKAN GARPUNYA )

BOS UTA – MAKAN : Bawa kemari semua, dekatkan padaku !

( SELURUH PELAYAN MENYODORKAN NAMPANNYA DI DEPAN MUKA BOS )

( BOS DENGAN BUAS MENCABUTI GELONDONGAN DAGING MANUSIA SATU PERSATU DARI NAMPANNYA, DIA LAHAP DENGAN GANAS, TAMPAK DARAH – DARAH JATUH BERCUCURAN TUMPAH RUAH DI MULUT, BAJU JUGA LANTAI )

( TIBA – TIBA TERDENGAR TAWA MANUSIA DALAM IRAMA SLOW MOTION )

( LAMPU MENJADI BERDENYUT – DENYUT DENGAN WARNA – WARNA MENGERIKAN )

( PARA PELAYAN TERTAWA – TAWA DENGAN POSISI YANG SANGAT LAMBAT, BEGITU JUGA GERIK TUBUH MEREKA )

( NAMUN BOS TETAP UTUH MEMAKAN DENGAN GERAK SUAP YANG BEGITU CEPAT )

( PARA PELAYAN MULAI TERTAWA – TAWA DAN MENUNJUK – NUNJUKI BOS, MELEDEKINYA, TERPINGKAL – PINGKAL TANPA SUARA )

( MEREKA MELEMPARKAN NAMPAN – NAMPAN MEREKA DI SEKITAR CLOSET )

( PERLAHAN – LAHAN MEREKA BERJALAN MUNDUR, DENGAN GELAK TAWA YANG SUNGGUH BEGITU LAMBAT )

( SUARA TAWA SLOW MOTION SEMAKIN KERAS TERDENGAR, LAMPU BEGITU DRAMATIS DAN MENCEKAM )

( PARA PELAYAN TELAH HILANG DARI RUANGAN )

( SUARA MENGHILANG )

( LAMPU MEREMANG HITAM )

I

( LAMPU KEMBALI TERSUDUT MENYINARI POSISI CLOSET )

( TAMPAK RAUT BOS BEGITU SENANG KEKENYANGAN, BEGITU BAHAGIA, DIA PEGANGI PERUTNYA, DIA ELUSI PERUTNYA YANG SEMAKIN MEMBUNCIT, DARAH TERLIHAT BERCECERAN DAN MEMBALUTI SELURUH WAJAH JUGA BAJU BOS )

( BOS BEGITU KEKENYANGAN )

BOS UTA – MAKAN : Belum pernah.. hahahahah… sungguh belum pernah aku sebahagia ini, sekenyang ini… hahaha, para pelayan itu sungguh berbakat, mereka betul – betul menya…

( TIBA – TIBA BOS MUNTAH DENGAN SANGAT HEBAT )

( KELUARLAH DARAH DARI MULUTNYA DENGAN BEGITU DERAS BAGAIKAN BANJIR TSUNAMI )

( BOS MUNTAH HINGGA DIA TERCEKIK OLEH LEHERNYA SENDIRI, NAMUN TETAP SAJA DARAH INI TIDAK BERHENTI MENGALIR )

( TIBA TERDENGAR SAUT – SAUT TERPUTUS – PUTUS ORANG YANG MINTA TOLONG )

( TERDENGAR JUGA BUNYI – BUNYI SUASANA DEBAT DI SEBUAH PERSIDANGAN DEWAN )

( TERDENGAR LAGI ORANG YANG MINTA TOLONG, TERDENGAR LAGI BANTAH – BERBANTAH ORANG YANG SEDANG BERDEBAT DI SEBUAH RUANG SIDANG )

( BOS TERHENTI MUNTAHNYA )

( MUSIK BERHENTI )

( LALU DIA TERHENTI CAPE, KEMUDIAN MERASA GANJIL SESAAT DENGAN APA YANG SUDAH DIA MAKAN )

( BOS MELIHAT – LIHAT KE BAWAH TEMPAT DI MANA BANYAK NAMPAN – NAMPAN YANG BERSERAKAN, DIA AMATI LALU TIBA – TIBA DIA MELIHAT DASI, KERAH BAYI, BAJU BAYI, KAOS KAKI, CELANA DALAM, JUGA PANTOFEL 4 ANGGOTA DEWAN YANG PENUH BERLUMUR DARAH )

BOS UTA – MAKAN : Bangsat, anjing….

( BOS MULAI MENGANGKAT JUGA MENELISIK BARANG – BARANG ITU SATU PERSATU )

( BOS MULAI MENANGIS, SEMBARI MEMANDANGI DARI DEKAT BENDA – BENDA BERLUMUR DARAH TERSEBUT )

( TIBA – TIBA SUARA TERTAWA DENGAN NADA SLOW MOTION KEMBALI TERDENGAR )

( BOS TERUS MENANGIS SEMBARI MEMANDANGI SATU PERSATU BARANG YANG BERLUMUR DARAH TERSEBUT )

( KALI INI SUARA – SUARA ORANG MINTA TOLONG KEMBALI TERDENGAR )

( KELUARLAH PARA GEMBEL DARI BELAKANG PANGGUNG )

( KELUARLAH PARA PELAYAN RESTORAN MENDEKATI TABEL PENAMPANG, LALU MEREKA MENJILAT – JILATI SETIAP DINDING DAN SISI DARI TABEL ANATOMI TERSEBUT )

( PARA OLAHRAGAWAN GILA TAMPAK CELINGAK – CELINGUK DI BAWAH MEJA RESTORAN )

( PARA ORANG SAKIT TIBA – TIBA BERJALAN KE SANA KEMARI DENGAN LAGAK MENAKUT – NAKUTI ALA VAMPIR – VAMPIR CINA )

( PARA SUSTER DATANG DENGAN CENTIL DENGAN MEMBAWA KERANDA RUMAH SAKIT )

( NAMUN ANEHNYA TAMPAK KE 4 MENTERI DENGAN GAGAH BERDIRI DI ATAS KASUR RUMAH SAKIT, MALAH MEREKA BERSENDA GURAU DENGAN PARA GEMBEL RESTORAN JUGA PARA PELAYAN )

( DOKTER MALAH TERLIHAT BERGULING – GULING & MENGGELIAT SEPERTI CACING SAWAH )

( CO –AS BERLARIAN KE SANA KEMARI DENGAN MEMBAWA PENANGKAP KUPU – KUPU SEPERTI HENDAK MENANGKAP KUPU – KUPU )

( PARA GEMBEL RESTORAN MEMAINKAN DAGING – DAGING YANG BERGELANTUNGAN, ADA PULA YANG MEMBUKA – BUKA LACI KECIL )

( PARA PASIEN SAKIT JIWA TAMPAK BERSENANG – SENANG, BERKELILING KE SANA - KEMARI DENGAN MENGGUNAKAN SEPEDA MILIK PARA OLAHRAGAWAN )

( MEREKA BERGERAK KE SANA KEMARI , BISU TANPA SUARA )

( TERDENGAR SUARA TOLONG DAN TERTAWA – TAWA DALAM IRAMA LAMBAT BERTAMBAH KERAS )

( GERAKAN PARA AKTOR YANG MEMENUHI RUANG SEMAKIN LIAR DAN TIDAK TERKENDALI )

( HANYA TANGIS BOS YANG TERDENGAR MENIMPALI, DENGAN BEGITU SEDIH DIA TERUS MEMANDANGI SATU PERSATU BAJU PARA MENTERI YANG BERLUMURAN DARAH TERSEBUT )

( SUASANA SEMAKIN LIAR, MUSIK SEMAKIN MENGERAS )

( TANGIS BOS BEGITU MENYAYAT )

( TIBA – TIBA MUSIK BERHENTI )

( PERLAHAN - LAHAN TERDENGARLAH SAUT – SAUT TEMBANG REBANA BAGAI DESIR PESONA DARI PONDOK PESANTREN )

(DARI KIRI PANGGUNG KE LUARLAH 5 ORANG SANTRI YANG MEMBAWA REBANA )

PARA SANTRI ( KIRI ) : ( DINYANYIKAN ) Lebaran sebentar lagi … oh lebaran sebentar lagi… lebaran sebentar lagi… ououououououuuuo.. lebaran sebentar lagi..

( DARI KANAN PANGGUNG KELUAR JUGA 5 ORANG SANTRI DENGAN MEMBAWA REBANA )

PARA SANTRI ( KANAN ) : ( DINYANYIKAN ) Mari kita makan opor ayam… ououououo… mari kita makan kupat tahu… mari kita makan opr ayam…. Mari kita makan kupat tahu…

( DARI BELAKANG PANGGUNG KELUARLAH JUGA 5 ORANG DENGAN MEMBAWA REBANA )

PARA SANTRI ( BELAKANG ) : ( DINYANYIKAN ) Di mana rendangnya… di mana rendangnya… di mana dagingnya… di mana rendangnya… di mana dagingnya… oh rendang , oh daging, oh rendang , oh daging…

( PARA SANTRI TERSEBUT MEMAKAI SARUNG NAMUN DENGAN ATASAN BAJU KAOS TIPIS DAN MINI BERWARNA PINK MENYALA, DENGAN MASING – MASING RAMBUT MEREKA DIKEPANG DUA )

( PARA AKTOR YANG BERADA DI RUANGAN TERSEBUT TERHENTI SEJENAK MENYAKSIKAN ROMBONGAN INI )

( TIBA – TIBA DARI BELAKANG PANGGUNG MUNCULAH SEORANG RASUL YANG BEGITU GEMILANG DENGAN CAHAYA LAMPU YANG BERKELINDAN GEMERLAPAN MENYERANG DARI BELAKANG PANGGUNG MENUJU KE ARAHNYA)

( PARA MASSA AKTOR MENJADI SILAU AKAN CAHAYA YANG BEGITU KEMILAU TERSEBUT )

( MEREKA MENJADI BEGITU RIBUT DAN GADUH BERTANYA – TANYA )

( PARA SANTRI MENJADI 2 GRUP YANG MENGAPIT RASUL TERSEBUT )

( RASUL TERSEBUT BERJALAN KE DEPAN DENGAN BEGITU ANGGUN JUGA MULIA, KEMUDIAN DIA MENAIKI CLOSET SANG BOS )

( SETELAH MENAIKI DENGAN PAS DIA KEMUDIAN MEMBERIKAN ISYARAT TANGAN AGAR PARA MASSA YANG BERTENGKAR DAPAT TENANG )

( PARA AKTOR MENGGUNDUK DI DUA BELAH POSISI YANG BERLAWANAN, DENGAN POSISI BAGAI UMMAT ISA YANG HENDAK MENDENGARKAN CERAMAH NABINYA DI BUKIT GOLGOTA )

( SANG RASUL TERSEBUT, MEMAKAI TOPI PANJANG HITAM YAHUDI, GAMIS BERWARNA ABU – ABU LEMBUT NAMUN NGATUNG DI ATAS MATA KAKI, DAN CELEMEK DAPUR YANG MENJUNTAI)

( TAMPAK PULA DIA MEMAKAI KALUNG – KALUNG MELINGKARI LEHERNYA BERGELANTUNGAN BERMACAM – MACAM SENDOK DAN JUGA GARPU, DI TELINGANYA BERGELANTUNGAN ANTING SENDOK DAN ANTING GARPU, DI PERGELANGAN KAKINYA BERGELANTUNGAN RAFIA BERBAGAI MACAM WARNA YANG MENJULURKAN BERBAGAI MACAM SENDOK SEHINGGA APABILA DIA BERJALAN MAKA BERGEMERINCING LAH LANGKAHNYA DI LANTAI, BUNYI TERSEBUT SEMAKIN MENAMBAH KEKHUSUAN PARA JAMAAT YANG HADIR )

( GAMIS PANJANGNYA LEBIH MENGINGATKAN KITA AKAN PENYANYI GAEK AMA AIPHAMA, TAMPAK SANG RASUL TERSEBUT BERAMBUT GONDRONG BERIKAL – IKAL, BENAR – BENAR MENYIRATKAN SOSOK NABI ISA, NAMUN KETIKA TOPI YAHUDINYA DIA BUKA TAMPAK KEPALA DEPANNYA YANG BENAR – BENAR BOTAK LICIN TANPA SEHELAI BULU RAMBUT PUN, KETIKA TOPI TERSEBUT DIBUKA SALAH SATU LAMPU TERTUJU FOKUS KE ARAH JIDAT USTADZ, SEHINGGA BEGITU BERCAHAYALAH IA, BENAR – BENAR MULIA )

( SELURUH JAMAAH BERTAWAKAL DENGAN KHIDMAT )

PARA GEMBEL : Oh, Messiah kami… oh duhai.. duhai .. rindu kami padamu…

KELUM : Betapa lama kami menantikan anugerah ini… oh… oh…

LEGI : Dia yang datang dengan kasih sayang, datang dengan perlindungan bagi para masyarakat papa, oh… inilah takdir kami, inilah akhir penderitaan kami…

DR. ENCOK : Kalian sungguh tidak pantas, dia diutus bagi kaum cendekiawan.. dia diutus bagi para dokter, dan para ilmuwan.. kalian hanya kerak hina di bumi ini..

NN. GEBLOY : Bangsat, kami para suster pun mempunyai hak…

PARA PASIEN SAKIT JIWA : Oh, ampuni dia… ampuni dia yang bekata kasar, sungguh ampuni dia.., ampun, bakekok tu wa ga pat… ular panjangnya… olala bum.. bum olala bum … bum…

( PARA JAMAAH MENJADI LIAR, LALU TIBA – TIBA MEREKA BEREBUTAN SALING BERTABRAKAN INGIN MENCIUMI SENDOK – SENDOK YANG BERGELANTUNGAN DI KAKI SANG RASUL )

( PARA SANTRI KEMUDIAN MENENANGKAN KERICUHAN TERSEBUT DAN MENGEMBALIKAN MEREKA KE POSISI AWAL MEREKA )

( PARA SANTRI BERDENDANG )

PARA SANTRI : Damailah hai.. umat rasul… hei …. Hei damailah

Mari kita tawadhu oi… oi

Damailah dalam kasih sayang… oi oi oi oi…

Lapar adalah tanda cinta mu bagi sang rasul.. waw…. Waw…waw…

Mari kita berdoa di atas piring, waw… waw…. Waw..

PRAM : RASUL…. Tolong rasul… ahhh….

( PRAM BERTERIAK SEMBARI MEMEGANGI PERUTNYA YANG KESAKITAN )

( PARA JAMAAH TERTAWA )

PRAM : Kau sang pengampu mukjizat… duhai kau… duhai, aku telah menderita kelaparan yang sangat berat, sehingga penyakitku ini adalah selalu merasa lapar…

PARA SANTRI : Lapar adalah tanda cinta mu bagi sang rasul waw.. waw… waw..

( PARA JAMAAH TERTAWA – TAWA LAGI )

NN. ASLOY : Rasul BB itu apa ?

PASCAM : Rasul aku susah BAB..

PARA PELAYAN : Oh kami ingin dilayani ya rasul… bosan seumur hidup kami melayani orang makan… oh oh….sungguh tidak adil agama… sungguh oh.. oh .. oh ..

PARA MENTERI : Takdir mereka memang untuk melayani ! … melayani makan untuk mendapatkan makan ! terima takdir makan – memakan mu ! itu garis hidup kalian… uoi… uoi….. uoi….. uoi…..

PARA OLAHRAGAWAN : Kami ingin ini, ingin itu, ingin, ingin, banyak sekali…

( PARA JAMAAH MENJADI LIAR KEMBALI )

( MEREKA BEREBUTAN SALING BERTABRAKAN INGIN MENCIUMI SENDOK – SENDOK YANG BERGELANTUNGAN DI KAKI SANG RASUL, KALI INI MEREKA BERHASIL SALING MENGGIGIT, MENJILATI SENDOK – SENDOK YANG BERGELANTUNGAN DI KAKI RASUL )

( BEBERAPA SAAT MEREKA TERUS MENGGIGITI DAN MENGUNYAHI SENDOK – SENDOK YANG BERGELANTUNGAN DI KAKI RASUL )

( NAMUN AKHIRNYA MEREKA DIHALAU KEMBALI OLEH PARA SANTRI DAN MENGEMBALIKANNYA KE POSISI SEMULA )

( SUASANA MENJADI RICUH KEMBALI )

( TIBA – TIBA SANG RASUL BERKEPALA LICIN MENGANGAKAT TANGAN KANANNYA, DAN SUARA PELUIT SEPAK BOLA TIBA – TIBA BERBUNYI DENGAN SANGAT KERAS )

( PARA JAMAAH YANG SEDANG RICUH TIBA – TIBA TENANG DAN MEREKA SEGERA MENUNDUK DAN BERSUJUD )

(LAMPU TERUS MENYINARI BADAN SANG RASUL, SEMENTARA ITU ANGIN DARI BELAKANG MENYIBAK – NYIBAK GAMIS NGATUNG SANG RASUL MEMBUAT SUASANA BEGITU BERLEBIHAN)

SANG RASUL : Wahai kaumku.. wahai umat yang berkaca di atas piring,yang menumpahkan nafsu bersama denting sendok .. yang berdoa dengan nyala kompor yang membara… dengarkan firmanku… dengarkan…

( PARA JAMAAH BERSUJUD TURUN NAIK BAGAIKAN BERADA DALAM SEBUAH RITUS EKSTASE SEBUAH SEKTE AGAMA, MEREKA RICUH MENGUCAPKAN KOMAT - KAMIT PUJIAN – PUJIAN YANG TIDAK JELAS )

SANG RASUL : Sambutlah… sambutlah… wahai kaum lapar… sambutlah….. JURU MASAK mu telah tiba…

( PARA JAMAAH TIBA – TIBA MENJADI HEBOH DAN BERSUKA CITA )

SANG RASUL : HA… HA… HA.. HA….

PARA SANTRI : Sambutlah hei… hei… sambutlah hei…. Hei….

Dia telah datang… dia telah datang…. Dia telah datang..

Oi… oi… oi.. JURU MASAK telah tiba .. JURU MASAK telah tiba..

Dia datang menyelamtkan kaummnya, dia datang hei.. hei….

( PARA JAMAAH SEMAKIN BERTINDAK DENGAN BERLEBIHAN )

SANG RASUL : Tenang.. tenang wahai umatku tenang ! aku telah turun pada kalian, dan aku tidak akan meninggalkan kalian… ! aku telah membawa pedoman bagi kalian semua …

( PARA JAMAAH MENANTI HISTERIS )

( RASUL MENGELUARKAN DARI BELAKANG GAMISNYA SEBUAH CENTONG BERUKURAN SANGAT BESAR )

PARA JAMAAH : Ohhhhhhhhhhhhhhhh………………

( LALU RASUL MENGELUARKAN LAGI DARI SISI LAIN BELAKANG GAMISNYA SEBUAH KITAB YANG SANGAT BESAR DAN TEBAL, PARA PENONTON DAPAT MELIHAT TULISAN BUKU TERSEBUT BERJUDUL “ 1001 AYAT MEMASAK SANG RASUL “ )

PARA JAMAAH : Ohhhhhhhhhhhhhhhhh……………….

( RASUL MEMAMER – MAMERKAN KITAB TERSEBUT KE SELURUH JAMAAH AGAR DAPAT MELIHATNYA)

( PARA JAMAAH BERDESAKAN INGIN MELIHAT KITAB TERSEBUT )

PARA JAMAAH ( KANAN ) : Tuntun kami, tuntun kami… wahai Rasul… tuntun kami…

PARA JAMAAH ( KIRI ) : Keluarkan kami dari kelaparan ini wahai sang rasul, keluarkan kami wahai rasul…

PARA JAMAAH ( SEMUA ) : Tunjukkan pada kami mukjizatmu… tunjukkan pada kami mukjizatmu…. Wahai Rasul… Tunjukkan….. !!!!

SANG RASUL : Aha… Ha.. ha… ha .. ha…

( SANG RASUL MEMBUKA SALAH SATU HALAMAN KITAB, BERKOMAT – MAKIT BAGAI DUKUN LALU TIBA – TIBA DENGAN CEPAT DIA MENGACUNGKAN CENTONG KE ARAH LANGIT )

SANG RASUL : Turunlah kau RASKIN…….

( PARA JAMAAH MELIHAT KE ARAH ATAS DI MANA CENTONG ITU TERACUNG )

( TIBA – TIBA MENGUCURLAH BUTIR – BUTIR BERAS DARI ARAH ATAS TEMPAT CLOSET RASUL BERDIRI, PERLAHAN – LAHAN BERAS ITU TERUS BERCUCURAN SATU ARAH TEPAT DI ATAS KEPALA SANG RASUL)

SANG RASUL : Ahahahahah…. HAHAHAHA…. Hahahahha !!!!!

( PARA JAMAAH TEPUKAU SANGAT HEBAT, DENGAN SEGERA MEREKA MERAPAT DI SEKITAR CLOSET, MEREKA SEGERA MEMBUKA MULUT MEREKA DAN MENENGADAHKANNYA AGAR BUTIR – BUTIR BERAS TERSEBUT MASUK KE MULUT MEREKA )

SANG RASUL : HA…. HA…. HA… HA….

( SANG RASUL MULAI BERKOMAT – KAMIT MEMBACA AYAT – AYAT DI KITAB TERSEBUT, LALU DIA MEMUTAR BADAN BERSIAP MENURUNI CLOSET )

PARA JAMAAH : Terpuji wahai sang Rasul… terpuji wahai sang Rasul…. Terpuji wahai sang Rasul…. !!!

( PARA SANTRI MULAI BERMAIN REBANA KEMBALI )

( SANG RASUL MENURUNI CLOSET, PARA SANTRI BERADA DI SISI – SISI LUAR PARA JAMAAH )

( SANG RASUL MULAI BERJALAN KE LUAR BELAKANG PANGGUNG, SEMBARI TERUS TERTAWA- TAWA )

( PARA JAMAAH BERJALAN JONGKOK MENGIKUTI RASUL , BAGAI MONYET MENGIKUTI ARAH INDUK MONYET PERGI, MEREKA TERUS MENGUCAPKAN KOMAT – KAMIT PUJI – PUJIAN )

( SANG RASUL TERUS TERTAWA – TAWA )

( BERAS TETAP MENGUCUR )

( PERLAHAN – LAHAN MEREKA KELUAR DARI PANGGUNG )

( LAMPU MULAI MEREDUP )

( SAYUP – SAYUP SUARA MENGHILANG )

( LAMPU KEMBALI TERTUJU MENYINARI CLOSET )

J

( TAMPAK BERAS TERUS MENGUCUR DAN SANG BOS TERDUDUK DENGAN PANDANGAN LELAH JUGA PIKIRAN YANG MENERAWANG )

( BERAS TERSEBUT MENGUCUR KE BAHU BOS YANG TERUDUDUK DALAM POSISI SEPERTI SEDANG BAB )

BOS UTA – MAKAN : Kini agama mengambil alih, para nabi – nabi menjadi patron bagi rakyat – rakyatku… tidak ada lagi harapan di sini… surga begitu menggiurkan, menjajikan … membuat lapar… oh …….

( BOS PERLAHAN – LAHAN MELIHAT KE ATAS ARAH BERAS TERSEBUT, KEMUDIAN DIA AMATI , DIA PANDANGI, RAUTNYA TAMPAK HERAN )

( AKHIRNYA DIA ANTUSIAS )

( LALU AKHIRNYA BOS MENGGAPAI – GAPAI BERAS – BERAS YANG BERCUCURAN ITU, DIA MELONCAT – LONCAT, BERUSAHA MENGGENGGAM BUTIR – BUTIR BERAS TERSEBUT DI TELAPAK TANGANNYA, LALU DIA MAKAN , BEGITU SETERUSNYA BEGITU LAHAP DAN KELAPARAN )

( TIBA – TIBA BERAS - BERAS ITU PERLAHAN BERHENTI MENGUCUR )

( TENTU BOS MELONCAT – LONCAT LEBIH TINGGI )

( TIBA – TIBA TERDENGAR MUSIK PEKUBURAN YANG SANGAT MENGERIKAN )

( KELUARLAH DARI BERBAGAI MACAM ARAH MASUK PANGGGUNG, BERBAGAI AKTOR YANG TELAH HADIR )

( NAMUN KALI INI MEREKA BERJALAN DENGAN SATU TUJUAN KELAPARAN )

( PARA GEMBEL BERJALAN MERANGKAK SEMBARI MENGGAPAI – GAPAI LALU KELUAR KE SISI PANGGUNG )

( PARA PASIEN SAKIT JIWA BERJALAN TERHUYUNG – HUYUNG KELAPARAN )

( DOKTER DIGENDONG OLEH SUSTER )

( PARA PEMAIN REBANA HILIR MUDIK – KELUAR MASUK )

( PARA MENTERI BERJALAN MUNDUR )

( SANG RASUL DIKEJAR – KEJAR OLEH PARA OLAHRAGAWAN )

( PARA PASIEN TAMPAK MAKAN ROTI SEMBARI BERJALAN KODOK )

( SUSTER TAMPAK MEMBAWA KERANDA DAN DINAIKI OLEH TEMANNYA SENDIRI )

( MEREKA HILIR MUDIK, KELUAR – MASUK PANGGUNG )

( MUSIK PEKUBURAN TERUS MENYAYAT HATI )

( BOS MENATAP HILIR MUDIK PARA AKTOR DENGAN TATAPAN MENYEDIHKAN )

( TIBA – TIBA MEREMBES LAH DARAH DARI ARAH KANAN KIRI DAN BELAKANG PANGGUNG )

( PARA AKTOR MERANGKAK, TERJONGKOK – JONGKOK, BERLARI – LARI DI ATAS GENANGAN DARAH )

( ADA YANG TERPELESET BERKALI – KALI AKIBAT DARAH YANG MEMENUHI SELURUH LANTAI PANGGUNG )

( ADA PULA YANG SEPERTI BERENANG – RENANG DI ATAS GENANGAN DARAH TERSEBUT )

( MUSIK PEKUBURAN SEMAKIN TERDENGAR MENYAYAT, KALI INI SUARA MUNTAH – MUNTAH TERDENGAR, KEMUDIAN SUARA ORANG YANG MENANGIS, KEMUDIAN DILANJUTI OLEH SUARA TERIAK, JERIT, ORANG YANG MINTA TOLONG, SALING SAUT MENYAHUT MEMBAUR DALAM SATU KESATUAN SUARA , MENGERIKAN DAN MENCEKAM )

( DARAH SEMAKIN DERAS MENGGENANGI LANTAI PANGGUNG, PARA AKTOR SEMAKIN TAK TERKENDALI )

( MUSIK SEMAKIN KERAS )

( PERLAHAN – LAHAN MUSIK MENGHILANG )

( PARA AKTOR MENGHILANG )

( TERDENGAR LONCENG GEREJA YANG BEGITU PELAN DAN MENYAYAT )

( BOS TERDUDUK DI ATAS CLOSET DENGAN PANDANGAN KOSONG KE ARAH PENONTON )

( KEMUDIAN MUNCULLAH DARI ARAH KANAN DAN KIRI NN. ASLOY DAN NN. GEBLOY MENDORONG 2 KERANDA DORONG TEMPAT TIDUR RUMAH SAKIT DENGAN 3 TELEVISI MASING - MASING DI ATASNYA, TELEVISI TERSEBUT BERMACAM – MACAM BENTUKNYA )

( MEREKA MENDORONG KERANDA TERSEBUT BEGITU PERLAHAN, SEAKAN BERSATU DENGAN DETAK LONCENG GEREJA )

( KEMUDIAN MEREKA MENYIMPAN KERANDA TERSEBUT DI KANAN & KIRI CLOSET MENGAPIT BOS YANG BERADA DITENGAH – TENGAH NYA )

( KEMUDIAN MEREKA MUNDUR KE BELAKANG, TAMPAK RAUT MEREKA SEPERTI ZOMBIE YANG DINGIN TANPA EKSPRESI )

( SUARA LONCENG GEREJA MENGHILANG )

( SUSTER MEMBUKA TANGAN MEREKA SEAKAN MEMPERSEMBAHKAN TELEVISI – TELEVISI YANG ADA DI DEPAN MEREKA )

BERDUA : Terimalah…

NN. ASLOY : Untuk negeri ini…

NN. GEBLOY : Untuk perut para rakyat…

Bandung, 10 Desember 1989 / Sekolah Tinggi Seni Indonesia. Bandung /


RIYADHUS SHALIHIN, Menulis teks teater, monolog, esai seni pertunjukan/teater, sastra, prosa, puisi, membuat grafis/gambar.
Readmore
Next Next




 

Copyright @ 2011 By. KSC