Selamat Datang di Blog Kobong Sastra Cipasung

Tampilkan postingan dengan label kumpulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan. Tampilkan semua postingan

Cerpen Annisa Zahraa


LAGU KEMATIAN
(Annisa Zahraa)


Aku tidak suka lagu, apalagi lagu kematian yang mendengung-dengung seperti ribuan tawon. Tapi kali ini otakku terganggu, lagu itu menyusup melalui indraku, mengalir bersama darah, melalui pembuluh menjalar ke batang otak menuju neuron.

Entah sejak kapan, aku memiliki ketajaman indra seperti ini. Ya! Aku ingat, mungkin sejak aku berjalan di koridor rumah sakit itu. Malam itu, benar aku masih ingat, malam Jumat, dan aku berlari sendiri di koridor rumah sakit tepat pukul sebelas. Rumah sakit, hanya salah satu dari sekian tempat umum, fasilitas umum. Aku mengira di sini tidak akan sesepi kuburan. Aktivitas kampus yang tak henti-henti yang membuatku terpaksa mengunjungi rumah tempat para pesakitan ini terbaring, dengan selarut ini.

Koridor-koridor tampak sepi dan gelap, maklum rumah sakit milik pemerintah ini tengah dibangun, sisi-sisi koridor disekat oleh seng. Seng itu digantungi sebuah tulisan dengan huruf besar-besar “Sedang ada pembangunan, maaf menganggu kenyamanan Anda”. Setiap pagi sepulang menginap di sini, aku membaca tulisan itu dengan jelas. Tentu saja tidak ada ketakutan sama sekali sebelum lagu-lagu itu mulai berdengung.
Aku tak habis pikir, tetanggaku yang sakit ini orang kaya. Mengapa memilih rumah sakit umum? Mengapa tidak ke rumah sakit swasta yang lebih berkelas? Bukankah ini rumah sakit untuk kaum miskin saja?

Bisa maklum setelah pemerintah meluncurkan program penjaminan kesehatan lewat BPJS nya, orang kaya (baru) berbondong pula ke rumah sakit ini, untuk mendapat pelayanan gratis. Jadi jika sekarang tengah dilakukan pembangunan, wajar saja! Uang yang diraup pemerintah lewat program asuransi ini dikembangkan dalam pembangunan-pembangunan. Untuk mendapat kualitas yang lebih baik, memang rumah sakit milik orang miskin ini perlu dibangun agar tolietnya yang lebih busuk dari mulut naga bisa sewangi taman bunga.
“Mengapa tidak di rumah sakit T?” tanyaku iseng. “Pelayanan di sana lebih bagus.” Aku ingin mengatakan, ada beberapa rumah sakit lain di kota ini, katakanlah rumah sakit T, J, dan I.

“Uang kami habis,” jawabnya. “Bunda dirawat bukan untuk satu hari dua hari,” katanya pasrah. Ya mungkin ada lebih dari satu rumah sakit di kota ini, tapi semua hanya milik orang-orang berduit, yang bisa menyewa kamar dengan ratusan bahkan jutaan per hari. Orang miskin, pas-pasan, dan orang setengah kaya selalu tidak ada tempat di sana, penuh. Kamar termurah selalu penuh. Aku pun tahu, Bunda telah tergolek selama sepuluh hari di ranjang putihnya tanpa kesadaran penuh. Bisa dibayangkan berapa juta yang habis untuk sewa kamar ini? Untuk sebuah kamar Sukapura 2, VVIP, selama sepuluh hari, Bung! Orang kaya bahkan mendadak tak mampu, apalagi si miskin, tentu saja sekarat, mati saja sebelum membayar.

Mati, mati, mati, mati, mati....

Di koridor rumah sakit malam ini, aku nyata-nyata mendengar kejanggalan. Apakah ini nyata? Sayup kudengar seseorang menangis, semakin jauh dan hilang, timbul tenggelam kembali menangis. Apakah ini suara si miskin yang tak siap membayar esok pagi? Aku mempercepat langkahku, berlari dalam bunyi debum yang kuciptakan sendiri. Bukankah ini satu-satunya cara menghibur diri? Menciptakan keramaian dalam takut yang harus kumenangkan? Sebesar apapun usaha pengusiran ini, toh tetap ada secuil asa yang mesti dibenarkan, aku aku aku merasa tidak lagi sendirian, ada seseorang dibelakang. Ah, aku sungguh tidak berani menoleh. Takut jika tiba-tiba saja, hal yang tidak diinginkan terjadi. Saat lagu-lagu kematian terdengar. Tidak, mohon jangan terdengar di sini. Tidak!
Mati, mati, mati, mati….

Kamar yang kutuju masih jauh, harus melewati satu koridor lurus, lalu belok kiri, sampai diruang wasrey, dan belok kiri lagi, baru sampai. Baiklah, tarik nafas dan kendalikan pikiran, itu yang kuperintahkan! Aku berusaha memfokuskan diriku pada hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian, sebanyak mungkin kubaca ayat-ayat yang bisa menenangkanku.

Mati, mati, mati…

Semakin jelas nyanyian bercampur tangisan itu, semakin dekat. Aku ingin-ingin-ingin berlari, sekecang-kencangnya. Sampai saat hasrat inginku begitu memuncak, aku tak bisa menggerakkan kedua kakiku. Kaku. Seseorang entah berwujud apa, menepuk pundakku, menyibak bulu kuduk, mendekat ke telinga, menyusup ke relungnya, lalu membisikkan tepat di gendangnya.

“Siapa kau?” teriakku memberanikan diri. “Pergi dan jangan ganggu hidupku.”

Dia, terkekeh, rupanya seorang perempuan.

“Siapa kau? Pergi!” bentakku.

Dia yang terkekeh kemudian sunyi terdiam. Apa pula ini? Aku merasakan dingin luar biasa pada kedua telingaku. Orang tua mengatakan rasa dingin ini terjadi jika sesuatu yang luar biasa berada di dekat kita. Apa pula ini? Aku masih berdiri tepat ditengah koridor saat lagi-lagi terdengar perempuan menangis tersedu, menyayat, mengucapkan nama-nama yang tak kukenal, lalu sumpah serapah pada pemerintah dan dendam kesumat.

“Siapa kau?” ulangku lebih tegar, tentu saja aku memenangkan pertarungan. Mungkin dia pasien yang sedang kesakitan dan menyebutkan nama-nama orang yang dicintainya. Ataukah dia siapa? Mengapa dia berani mengucap serapah pada pemerintah, mungkin dia seorang caleg gagal, atau politisi kekurangan modal? Lalu dendam kesumat itu ia tujukan pada siapa? Mengapa ia menghujat?

“Kau bedebah, kau…,” ucapnya keras sekali, lalu terkekeh, sebentar-sebentar diselingi tangisan. Aku? Aku melihat diriku, mengapa aku? Apakah “kau” yang dimaksud dia adalah aku. Mengapa? Dosa apa aku? Aku hanya seorang mahasiswa kere, yang menutupi luka kehidupan sehari-hari dengan cerita-cerita yang kukirim ke media-media, walau tanpa imbalan sama sekali. Mungkin media yang kukirimi cerita-cerita ini, sama kerenya!

“Cerita apalagi yang sedang kau rangkai? Kebohongan macam apalagi yang sedang kau hidangkan!” suatu hari seorang teman menginterogasiku keras. Aku jelas tidak berbohong, aku mendengar sebuah lagu kematian. Aku tidak dusta, aku mendengar. Indraku sudah tak normal, aku mendengar setiap hari, orang-orang mati dengan sengaja, orang-orang di bunuh, membunuh, saling bunuh, bahkan membunuh dirinya. Betapa murahnya sebuah nyawa? Sedang banyak rumah sakit sangat mahal harus dibayar untuk menyelamatkan satu nyawa. Mengapa tidak ditukar saja, yang bosan hidup bertukar nyawa dengan yang sedang berjuang untuk hidup?

“Aku tidak berbohong, aku mendengar lagu kematian, setiap hari.”

“Mana ada, aku tak mendengar!” sanggah temanku.

Malam ini adalah puncaknya, dikoridor ini, aku mendengar nyanyian itu, jelas dari mulut seorang perempuan, yang memanggilku bedebah. Seinci pun aku tak ijinkan dia memanggilku begitu. Aku mahasiswa yang sehari-hari menulis untuk menutup luka kehidupan, mengapa harus “bedebah”. Apa salahku? Apa karena aku menyebut media itu kere, rumah sakit ini kere, pemerintah juga kere, terus saja kuras keringat tukang becak?

“Aku bukan bedebah!” teriakku.

Mati, mati….

Suaraku mati, perempuan itu datang tepat di hadapanku. Menunjukkan dirinya, betapa terperanjatnya, dadaku berdebar. Perempuan itu tersenyum dalam kesedihan yang kuyakini, itu tak dapat disembunyikan. Orang yang aku kutengok, orang yang biasa aku temani malam-malamnya untuk menjaga cairan infus tidak habis masuk ke pembuluh ditangannya, orang itu.

“Bunda…” kataku tercekat. Tanpa bicara kita berjalan beriringan menuju kamarnya. Aku masih tak mengerti mengapa saat itu aku tak lagi mempersoalkan infus yang tiada menemaninya, mengapa dia begitu kuat sehat, dan bisa berjalan di tengah malam?

Hujan kecil masih turun, dingin, aku tak melihat langit cerah. Awan hitam bergumul, sebentar lagi pasti hujan semakin deras, pasti semakin deras. Aku telah sampai dipintu kamar sukapura 2, no kamar B. Kudengar tangisan dari dalam, tangisan siapa lagi ini. Siapa?
Mati.


Annisa Zahraa Hanya seorang yang sedang menjadi orang lain, lalu berusaha menemukan dirinya kembali. Dikumpulan jerami sawah yang basah, ia berteriak pada tulisan di UPI Tasikmalaya, sebagai mahasiswa yang biasa saja.
Readmore

Sajak Saiful Anam Assyaibani


PEREMPUAN TUA DAN NASI BORAN

di pinggir malam di bawah tiang-tiang lampu trotoar
perempuan tua dan nasi boran berjejar menunggu
bayangan tubuhnya sendiri
di simpang lima jalanan yang menikung
dalam sepincuk nasi yang menggelinding
dihempas angin dan tetes waktu

selembar sapu tangan menyesap basah
keringat dan sisa percakapan embun
yang berayun di rimbun pohonan

lantas pagi seperti senja
hanya dingin dan kelam
dalam diam
seperti raut wajahmu
seperti kampungku
yang hujan
memintal debu
mengentalkan
malam
di tubuhmu
yang rapuh

tapi rindu
seperti berbisik
tentang batas dan ujung
perjalanan
karena sisa usia
terlalu berat menahan
panggul-panggul
mimpi di pundakmu
dari dan ke pangkuan
lelap.

Lamongan, 2013

 
RAHASIA ASIN TUBUHMU

kau mengingatkanku pada alkitab
saat tuhan menghentikan matahari
dan bulan dan membaginya
dalam ke dua matamu

kau mengingatkanku pada maria
ketika isa lahir di kandang domba
sementara kau mengandung seekor domba
dalam rahimmu tanpa gereja
tanpa seorang bapa

karena itulah sebabnya aku mencintaimu
seperti nuh mencintai perahunya
dan aku melayari tubuhmu
seperti khidir melayari lautan
dan menyimpan rahasia asin tubuhmu
menjadi tawar

maka izinkan aku merobek bajumu
memungut seekor domba dari rahimmu
dan kelak akan aku ajarkan kepadanya
tabir mimpi yang manusia tak sanggup
menafsirkannya

karena aku mengingatmu
seperti aku mengingat kesucian
maka ingatlah cintaku padamu
seprti cintanya adam dan hawa
muhammad dan khadijah
dan cinta ali kepada fatimah
karena aku mencintaimu
seperti zulaikha mencintai
yusuf.

Lamongan, 2013


NUBUAT

sebelum aku menjadi abu
aku adalah amsal
kidung agung gereja
kemudian menjelma gema
dari sebuah lonceng
dari sebuah menara

di sini, tuhan disalibkan
dalam bayang-bayang
dari sisa senyala lilin
di malam yang kudus

sebelum aku menjadi abu
aku adalah bilik pengakuan
penyucian dosa
dalam sujud dalam tafakur
yang luka

maka menyayilah
seperti kembala di malam natal
saat menggiring domba-domba
di penghujung desember
yang mencatatkan jejak
kelahiran yang disucikan
waktu.

Lamongan, 25-12-2012


PERJALANAN DI ATAS BUKIT

aku mungkin ada di sana
di atas bukit
ketika matahari
berhenti
di atas kepalamu

sebuah perjalanan
terpaksa menjadi
rahasia kudus
tentang sebongkah kayu
yang menyeret ingatan
pada jejak-jejak
tanpa warna
di antara kelopak
bunga berduri

sementara langit senja
perlahan menyusut
mengemas keabadian
dalam riuh ramai
kesunyatan

ini perjamuan terakhir
mengulas sajak-sajak pertaubatan
dari tubuhmu yang telanjang
dan aku memasuki rumahmu
sebagai jasad yang lelah
dalam jiwa dahaga
paling purba

di bukit itu
ketika waktu terhenti
kesunyian hanyalah
bayang-bayang
dari jarak ketiadaan
yang terus mengejar
dirimu dari diriku
yang kosong

sementara
kematian hanyalah kesementaaraan
yang menuntun ke jalan pulang
sebuah kiblat

dan gerimis menghapus dahaga sajak-sajakku
menuntaskan takdirnya yang luka
saat aku berdiri di atas bukit
menyaksikan diriku sendiri
disalibkan dalam doa
air mata yang sekarat
dalam tubuhmu yang jasad
seperti seekor domba
yang kelak koyak
dikorbankan

aku akan pulang ke kampung halamanmu
dari perjalanan di atas bukit
dari tempatmu
yang tinggi.

Lamongan, 09 -05-2013


Cerita Pendek Tentang Membaca Cakrawala
Pada Suatu Adegan Pementasan Teater

fragmen /1/
“siapa merobek buku bersampul bulan
purnama berwarna ungu” seru sebuah kata
dari balik huruf yang belum selesai ditenun
menjadi pintalan larik-larik puisi
mata pena seperti menyimpan tetes
gurat airmata yang hitam
hanya ia enggan menggoreskan jerit luka
ketika bayang-bayang perjalanan
pada sebuah rak buku yang tergeletak
kumal dalam setumpuk debu

“cakrawala akan sulit dituliskan” bisik
sunyi dalam hati.

fragmen /2/
MASIH SAJA AKU PANDANGI BUKU
YANG BERSERAK DI MEJA BELAJAR
SAMBIL MENERAWANG
MENATAP HAMPA MASA DEPAN
YANG SEMAKIN GEMETAR
MESKI KUTEMUKAN SAMAR CINTA
YANG TERSEMBUNYI
DI BALIK ARAH MATAAIR

“kemana timba akan menggali
sumur” tiba-tiba dadaku bergemuruh
seperti ombak, tapi aku
seperti terkubur sendiri
di bawah timbunan sekian buku
yang tak sanggup ku baca
kata demi katanya
meski agama
sejarah
teknologi
eksakta
filsafat
bahasa
dan sastra
senantiasa membuka
dirinya yang menyala.

fragmen /3/
sementara di sudut cakrawala
aku membaca ratap tangis:
“tak adakah sutradara yang datang
dan berbaik hati mengubah adegan ini
menjadi sekedar dongeng saja”

di akhir kisah
aku hanya sanggup menutup
lembaran cerita yang telah kurobek sendiri
aku tahu naskah lakon ini adalah
pementasan teater dari kurikulum
yang belum jadi;
seperti sebuah puisi
ini.

Jakarta, 27 Maret 2013



DI PERSIMPANGAN PUISI


membaca puisi dalam diri
di dalam diri
angin-angin menusuk telinga
adalah persimpangan
yang meneriaki perhentian

batu-batu mengutukku menjadi beku
seperti ruh dengan segala sadap
segala sunyi yang lapar
sepanjang sungai

setelah peristiwa itu
sungai-sungai menulis wajahku
melepasku dalam puisi
seperti kelebat seekor burung
menawarkan beribu rindu
melintas hening persimpangan

adalah perjalanan meretas jarak
pada kesederhanaan kata-kata
dan tak sanggup menyeka air
mata pada detak hati

kepada kemurnian matahari
kutengadah sebongkah jiwa
seumpama ular yang mendesis
menyelinap dalam syurga
dan menawar sebutir apel
dalam rahasia
keabadian
dalam nafas syahadat
yang tak lagi setia.

Lamongan, 2014


Saiful Anam Assyaibani Lahir di Lamongan 12 Maret 1983. Aktivitas keseniannya berada dalam Teater Roda, Kostela dan La Rose. Karya-karyanya terpublikasikan di berbagai media pusat dan daerah, seperti; Indupati, Jawa Pos, Kompas, Tempo, Republika, Bali Pos, Surya, Mimbar, Surabaya Pos, Horison, Kidung, Kalam, Sagang, Bongang, Sidogiri, Buletin Pawon, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Haluan dll.

Beberapa karyanya juga terdokumentasi secara komunal tak kurang dari 25 Antologi. Bukunya yang telah terbit adalah Syahadat Sukma, Tamasya Langit, The Lamongan Soul, dan buku pengayaan The Art of Theater.

Sekarang tinggal di Jl. Diponegoro No. 20 Simo Sungelebak 16/V Karanggeneng (62254) Lamongan.
Readmore

Sajak Dewi Nurjannah


Tersenyumlah


Tersenyumlah walau sedih
Berdirilah walau rapuh
Majulah walau sendu
melangkahlah walau pilu
Tertawalah walau menangis
Semangatlah walau meringis

Kuatkan hati meski retak
Tabahkan hati meski terdepak
Menangislah untuk bahagia
Teriaklah agar lega

Diam untuk redam amarah
Percaya untuk menerima amanah
Gapai mimpi untuk kenyataan
Raihlah cinta dalam keabadian
Rengkuhlah bintang pada rembulan
Raihlah semua kebahagiaan

Wujudkan mimpi ilahi
Mencapai ridha ilahi
Meraih mimpi sejati
Tetaplah bermimpi



Dewi Nurjannah Lahir di Pati bulan Juni1997 Pelajar SMK Annajah Kayen Pati

Readmore

Sajak Sonny H. Sayangbati


Rumahku
Oleh: Sonny H. Sayangbati
"Pria yang bijaksana, yang membangun rumahnya di atas batu."



Rumahku,
kubangun dia dari batu
yang kuambil dari gunung
kujejerkan dengan perekat
tanah liat bercampur lahar

Kisi-kisi dan sotohnya
kubuat dari kayu aras pilihan
atapnya dari ijuk hutan
satu demi satu kususun
sampai jadi
sebuah rumah
sederhana

Suatu hari
kupanggil penduduk kampung
kuundang mereka
bersantap malam
dengan cahaya api unggun
duduk berkeliling
dan kukatakan sesuatu
ini rumahku namun kosong
sudilah kiranya handai taulan
memberiku seorang gadis
untuk kujadikan kekasih selamanya
agar rumahku ramai dan bersemarak

Aku berikrar malam itu:
"Berilah kiranya saat ini kesempatan,
aku orang asing di sini,
ingin menetap dalam rumahku di sini."

Tua-tua kampung mendengar,
katanya:

"Hai orang asing kami akan memberimu
seorang wanita yang cocok buatmu, jagalah dia
bangunlah rumah tanggamu di atas batu gunung kami,
kasihi dia seperti kami mengasihimu".

07 Mei 2013



Dua Gelas di Atas meja
Oleh: Sonny H. Sayangbati

Ada dua gelas di atas meja
setiap pagi tersedu
yang satu air teh melati manis panas
dan yang lain kopi hitam pekat panas

Jika senja tiba
dua gelas itu masih ada
tetap panas dan manis

Pada peraduan malam
yang manis dan panas
saling mengulum dan berpagut
dalam selimut hati
membara

06 Mei 2013


Sonny H. Sayangbati Kelahiran 14 Desember, tinggal di Jakarta dan suka menulis dan membaca puisi-puisi, puisi2nya terbit di media cetak dan media online, aktif menulis puisi di beberapa group puisi, pages, blog pribadi, halaman puisinya adalah Info For Us


Readmore

Sajak Lidya Rachmawati


Mantan Terindah
Oleh: Lidya Rachmawati


Dia yang masih terindah, dia yang masih terbaik
dia yang masih aku banggakan
Aku masih dapat melihat dia,
aku masih dapat mendengar suara dia
dan mungkin aku masih dapat dekat dengan dia

Namun inilah kenyataannya
kenyataan yang harus dapat aku terima
kenyataan yang tidak bisa aku pungkiri
Aku melihat dia disebrang sana bersamanya
dia tertawa, dia tersenyum terhadapnya
dia begitu bahagia kala bersama dengannya

Dia tau ada aku didekatnya
dia memberikan senyuman terhadap diriku seakan
dia mengisyaratkan telah bahagia bersamanya
dan seakan melupakanku

Benar hati ini sakit
sakit melihat dia bersamanya
namun aku harus dapat tegar
Tegar hidup tanpa dia dan
tegar hanya bisa hidup dengan bayang-bayang semu dia


Lidya Rachmawati Lahir 07 november 1994 Tengah belajar di perguruan tinggi swasta di jakarta jurusan Bahasa dan sastra Indonesia.


Twitter: @Lidyaarw
Readmore

Sajak Rifqiel 'Asyiq



Surat Untuk Langit


dalam sebuah temaram lilin yang hampir sirna
melirih nafas, hati hati sekali. lalu membuangnya lewat jendela
memeluk selimut embun
sambil menyibak ranting, berdetak desing

sekian juta detik ku menahan rindu pada alam pagi
nyatanya ini bukan rindu, hanya beku. Kelu
Ahh; tidak!!
kulayanglayangkan sebongkah tengadah
menmbus kristal megah nan mewah
mencumbui langit malam

ini malam ke berapa? . .
aku sentuh pelupuk lubukmu
untuk satu jibaku.


Cirebon, Februari 2013.

Readmore

Puisi Rifqil 'Asyiq


Izinkan Aku Panggilimu Dinda


izinkan aku panggilimu dinda, sayang, perempuan 'belah dagu'. bagiku kau adalah seutuh cantik nan anggun raga pada sudut elok bumi dengan serimpit hati putih. bukan, bukan bidadari. namun begitu aku melihatmu, mengingatkanku pada suatu hari ketika;

"pernah kau memintaku menyanyikan lagu pada malam haru
dan ku memilih melantunkan puisi pada hujan senja
aku tabu gemericiknya dengan haru
dan kau pun mengikuti dengan lugu

kau menari di atas panggung
dan ku kembali menulis puisi di atas punggung. ahh . .
bukan hanya terkadang, kita seserasi itu".

sesederhana itu saja, tetap indah ya sayang, semoga kau ingat.
tentang cerita lain;

bukankah kita memang senantiasa bercinta dengan alam?
mari sayang, dekatkan dirimu dengan air ini. tapi jangan sampai riaknya menghanyutkanmu. aku pegangi tanganmu.

beginikah percakapan kita ketika sedang marah*?
bukankah alam pun penuh dengan suara?
mari sayang, kita isi dengan nyanyian cinta dan puisi.
mari sayang, dekatkan lagi dadamu pagi bibir hatiku. namun jangan kau bawa nodanya.
bukankah dadaku hamparan warnamu, pada pelaminan hasrat bermusim. katamu.

nyatanya, padamu jua selalu kuluapkan janji. aku menambahi.
akan ku permainkan sebuah masyghul pada jelempah-jelempah luas dadamu. agar ku penuhi rindangnya dengan seutuh ta'wilku, untukmu saja. karena aku, seperti kau pernah mengulanginya bahwa; sekalipun aku tak pernah ingat bertemu denganmu, namun setiap pertemuan sungguh sulit terlupakan logikaku.

ada aku dan munajat rapat khidmat nan hikmat, sepi dan sebaris puisi disitu. dariku.

sehingga saat kau payungi puing, mendesir habis dalam pikiranku. itu indah, maha engkau pada selayak hatimu.

kini; aku suguhkan debu secangkir, dan kau menggantikanku dengan seutuh moka. itu kesukaanku, katamu.

sayang, ini bukan tentang dahaga, namun debu yang mengajari kita tentang sebuah kecil, sekecil kita. agar kerindangan hatimu semakin semai dengan seutuhmu.

Jakarta, 14 Januari 2013

***


WANITA PANTURA (yang aku ingat)


Perkenalkan, namaku
Martini. Gadis Yatim sejak umur 5 tahun
penyanyi jalanan, langganan
kopayu.. Sahabat.. Luragung Bhineka. menelusur sepanjang
Pantura Cirebon-Jakarta.

Ibuku pagi ini mengantri di TPA Gegesik Cirebon
mengaisi sisa makanan dari yang katanya "kaya"
bahkan berangkat pagi buta, semalam telah ada pesta.
barangkali daging kambingnya masih bersisa. tak tahu mengapa..
kalau semalaman aku tak hirup aroma parfum ibu,
pagi pagi begini ibu selalu ke TPA. cantik nian ibuku dengan malamnya,
yang aku ingat, ibu selalu pulang pagi dengan air mata.

kalau ayahku;
kata neng siti ayah di bacok karena ketahuan mencuri,
kata mang sungeb ayah kawin lagi dengan PSK dari Indramayu.
Nenek bilang, tak usah aku pusingkan ini. lupakan saja ayah bengismu!
seingatku, ayah selalu pulang dengan mata merah.
ayah pun pulang dengan bau mulut yang belakangan ini aku tahu namanya Alkohol.
selalu pulang dengan marah, kemudian tidur.

tak pernah aku dengar cerita tentang kakek.
yang pasti, nenekku setiap malam menyusuri sawah mencari bekal..
untuk berjualan rumba semanggen di Pasar Tegalgubug. katany;
agar aku tak menuruni ayah, dan ibuku.
yang aku ingat, ya begitu yang aku ingat.
untuk yang terahir, izinkan aku bertanya tentang sesuatu pada kalian
Haruskah aku menangisi ini, atau terbahak dengan gelak?


Tegalgubug, 09 Februari 2012

***


SYAHDU SANG LELAKI KECIL
(sebuah peta hidup yang sayang tak di kenang)


semalam ku coba sedikit memaksa untuk kembali
hendak memasuki kehidupan masa
dikala benarbenar kosong tanpa sama' bashar dan af'idah
sayang seribu sayang, memimpikannya pun
sangat sukar

ahirnya ada sedikit cerlang untuk satu kenang
aku coba tengok kembali taman sederhana
di belakang rumah,
tempat dimana ku ramai bermain dengan alam
masa mewarna dengan sesama
aku hanya melamun tanpa jeda

masih coba ku sayu setiap lirih dendang serenade
yang ku dengar hanya gemuruh kreta dari nun kejauhan

aku dengar kesiur melakon lambai
terisak, mendayu layu
ahh.. dulu disitu tempat aku menangis dulu
karena putus tali layanganku

tersandarlah aku di bawah pohon mahoni
melamuni kupukupu yang kian beranjak dewasa
ahh.. disini dulu tempatku sebagai kuli batubata
dengan upah 200 perak untuk 100 batubata yang terangkut
ya milik mang duloh, yang sekarang buka warung kecil.

kiranya air masih berriak
lantunanmu serasa ku dengar mengiringinya
sang perawan bersikat badan dengan kembennya
dan telanjangku berkecipuk dengan lugu tanpa malu

rimbun terselingkap syahdu menyembahkan lagu
di balik hikayah tentang sebuah basah bibirmu
ahh.. hayalku melayang menyundul pilu
walaupun aku tak pernah tahu, siapa dinda itu?..

dan hinggan kini,
saatnya mungkin aku menjemput teman hidup untuk satu kisah yang lebih nyana nyata dan nyaris sempurna.
walau jawabannya masih entah,


Cirebon, 11 Agustus 2012

***


PUISI 2,7 (baca; dua baris tujuh kata)


I. OH, NADA AUROD*

Melafal nada-nada, menyatukan rasa-rasa
Aku dan Allah.

Jakarta, 150213
*Aurod : kata jamak dari Wirid


II. CERITA ALAMKU

Pelangiku sejarah, bernyanyi;
Batas-batas lautan, mencari rindu.

Blok M, 140113


III. MABUK

suluk dewa cinta, letup
di pintu aksara

Jogja, 300113


IV. GADIS

Seperti tenggakan ikan;
izinkan, hanya aku pena'wilmu

Cirebon, 100612


V. TAHAJJUD JAHIL

Goooolll, semangat membara.
sekian kali, subuh membungkam.

Jakarta, 090113.

VI. KUBURAN MIDE**

Tanah basah membisikiku, sendiri;
Kematian memberi waktu

Cirebon, 110901
**Mide; panggilan untuk Nenek di Cirebon



Rifqil 'Asyiq, Mahasiswa dan Santri di sebuah Pesantren Cirebon
Readmore

Puisi Irham Kusuma


Jani


Dari suara-suara
Di antara langit
Dan tongkat
Disitulah
Sajakku bergeser sesenti.

Bergeser laun di atas hibu
Dan kelubung kering
Tiada henti merantai.

Biar angin gegap lelah
Seperti ketar lumbung dada
Yang bergerak.

Sebab menenggelamkan senyap
Serupa bocah
Ingin menjadi inang
Ke arah barat.

Dari kumpulan balasamina
Atau amsal bunyi
Yang ada
Dari ketiadaan
Menuliskan lagu-lagu.

2013



Sunyaruri


Bukan sekadar merekam kisah
Tentang doaku yang menancap
Tumpah bersama tajwid
Yang saling memandangi syahadat

Atau nisbahku yang berkibar
Terbang sendiri
Menentukan jati diri

Adalah ekaprawira menari
Yang menanam zaitun
Seperti hasrat kalbun
Mengitari jabal

Supaya puisi ini tak bingung
Dengan seribu kunang-kunang
Memburu semisal ke barat
Dan iringan batang rappe bait ketiga

2012



Menggoda Penyair


Mesti dengan rahasia apalagi
Yang harus aku sembunyikan.
Ini hanya sebuah angka saja
Bukankah kamu selalu menatap
Pada segala yang aku sajikan
Di antara ruang uap kopi dan
Basah kretek di ladang dengan
Puisi yang selalu berasap.

Tentang lenskap senja
Yang kamu kembalikan lagi
Kepadaku.
Selalu saja kamu memutuskan
Untuk melukis sawah
Untuk melukis ciuman
Tanpa lazuardi yang menaungi
Tanpa bulan yang menggantung.

Tentang subuh bergetar
Di pangkuan
Dan yang membuat lubang hujan
Yang bergerak ritmik
Menuju pangkal matamu.

Di sana kamu menetaskan kata
Dengan atau tidak berbahasa.
Menghitung segala ruhiyat
Sebagian musim alpukat.

Lamat-lamat kita menyecap
Acap menggugurkan daun-daun
Kamu tentu tidak merokok bukan?
Aku bakar bulan yang menggantung
Kamu siapkan lauk-pauk
: biar kita sama-sama jatuh cinta?

2013

 
* Tiga puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 13 Januari 2013



Di Gede Bage


Di seberang yang tua ini
jalan masih panjang
masih kutebas kalimat-kalimat
yang meretas tumpah berserakan.

Entah mengapa,
seribu langkah yang kuyakini
dan doa-doa di malam ini
seakan menjadi mimpiku yang panjang.

Mengakar sampai ke hulu
menggenang di tumpah hujan malam
Gede Bage.

Hanya ada dua kelokan puisi
panjangnya ke Cikapundung
di punggungku
ia membungkuk.

Aku berdiri
memandang jauh lurus
ada empat jalan
bahwa cinta tak tertapak jaraknya.

Dan anak-anak membawa kencringan
serupa kasih
yang ia bawa pulang
sebelum adiknya menangis
sebelum isya menjatuhkan air mata.

2012



Gerimis Di Tubuhku


Lambat membawa kesejukan
menghanyutkan tubuhku
pada genangan hujan bulan september di timur
disusunlah semua kepingan yang mencabuti semua waktu
lorong-lorong sempit, lalu berkedip dalam debu
bertaruh semua
tenaga, air mata
menjadi sungai di tengah bulu kuduk ku
untuk memandikan bayi tahun ini.

Di pohon-pohon kenanga
pasir di tengah takdir
pulau-pulau bernama baru
mungkin terlalu cepat kita terlahir
seperti hidup dalam pongah-pongah semacam liar
yang berdesir.

Tapi, tak juga kita menghangus
dibakar api hati
tergolak di subur mata air
yang kita injak sebagai cuaca basah
sampai jejak menjadi perdu
hutan
angin
air, semua disetubuhi waktu.

2012


* Dua puisi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat 28 oktober 2012

Irham Kusuma (17thn), lahir di Bandung. Banyak bekerja untuk menulis dan melukis. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan buku antologi puisi bersama. Saat ini masih berstatus sebagai Pelajar.
Readmore

Sajak Twitter Hanif


Karya ini adalah syair balada dalam status twitter yang dibatasi maksimal 140 karakter,  @flash_poem

Mistikus Cinta


Oleh: Hanif


Bercerita dengan cara tak biasa,
menyentuh hati lewat kata
bermakna, berteriak dan tetap
mempesona

Rintik hujan menawarkan cerita manis
sebelum tidur..membawa kembali
kenangan orang-orang terkasih..dan
membuka luka lama yang masih perih

Lewat satu purnama kulantunkan
serenade dengan petikan dawai gitarku
tepat di bawah jendela kamarmu..meski
kau tak pasti menerima cintaku

Bagiku kau adalah bintang di malam tak
berawan penunjuk arah kemana kaki
berjalan kasat mata tapi sulit
kuraih namun hati enggan beralih

Menunggumu di posko banjir..panik dan
galau seketika hadir..hatiku terlanjur
hanyut pada bayangmu..ku ungsikan
seluruh cintaku padamu

Kau warnai hidupku lebih dari tujuh warna
pelangi bermimpi kita sepasang penari
kugamit pinggangmu berputar menembus
ruang dan waktu

Bulan bulat penuh tertusuk ilalang..aku
berpeluh kau menggelinjang..malam
masih panjang bibir merah
menantang embun menetes pagi
menjelang

Cinta ini terasa hambar..kau tak
menawarkan keceriaan meski
kecantikan tak pudar kita bukan
sepasang merpati aku tak janji
sehidup semati

Selamat jalan dara manis tak ada lagi bahu
dan tissu kala kau menangis tegar dan capai
masa depan cerah tetap cantik dan terus
merekah

Selamat pagi semesta bening
awal hari mata air baru bagi semangat
mengering
tunas muda buat hati layu
awal bahagia untuk akhir yang pilu

***
Readmore

Sajak Irham Kusuma




Phtalocyan

Oleh : Irham Kusuma

Ketebalan angin menyikat api
pelukis wanita ini menggulung
malam tembakau cokelat.
Aku butuh tulang rusukku
itu dilukisanmu.Lukisan susu,
tumbuh tanpa satu ibu.Sepersusuan.

Kalau ku tak perlu selendang
belajar rengut, berdendang
mendalami suara timbre, atau notasi
atau sasar.membilahlah kanvas
kalau ku tutup selendang tak berdebu.

di pusat kegelisahan gemulai tari kuasku
dari lirih, gemulaimu dari bongkah patung.

sebab di samping kita, putih nanar.
aku perlu pewarna, dengan segala hormat
tenggelam ke kanvas cakrawala; katamu suci.
di samping kita, sudah aku niatkan
hanyut mewarnai tanah di darahmu.

-Galeri 212-


***


Egaliter

Oleh : Irham Kusuma

Anggaplah aku sebagaimana kau suka
menjadi wanita atau
aku tak berharap juga pria.

Dadaku terjepit, bunyi panjang
dan harum panggung berselip.
Masalah adalah sebuah perapian
berunggun jantung yang tepi dipilih.

Di antara hujan sempit
aku menentukan permainan
bertukar peran, seperti teriakan
bagi drama yang engkau ciptakan.

Air tanah mengintailah
dalam nomer-nomer revolusi
kesedihan langit jumat
dari mitos sebelum janus telah berputar
kembali ke para pendahulu.

Dan aku akan menuliskan doa mu, neng.
rambut panjangmu seperti sebuah jalan
yang aku kenali,
dimana aku akan bertanya
(meski kau tak menganggap sebagai wanita).

Teater CCL, 2012


***


Khoackk !

Oleh : Irham Kusuma

Langit ini dingin
semua dosa aku peluk
biar panas tubuhku ini
di jilat bagai lidah api.

Di balik selimutmu
aku menunggu
seorang anak akan memberi tisu
hidungku merah mencium bau ludah.

“Jangan khawatir,
  jaman sekarang,
  jaman ingusan.”

2012


***


Pada Suatu Makam I

Oleh : Irham Kusuma

Sepertinya telah menjadi doa
bagi setiap perjumpaan
dengan teriakan ringkik punggung
penziarah.seolah setiap langkah
menjadi jejak nubuat ;
langit berbekas kepanikan ruh
dari apa yang kita rumuskan
pada pertanyaan.karena jalan dan bunyi
telah ditanamkan dalam tubuh kita.

2012


***


Pada Suatu Makam II

Oleh : Irham Kusuma

Duduk di padang jemala
Kaki-kanan kumerah
Dihisap waktu yang jongkok
Tapi tidak juga terkorupsi
Laki-kiriku, nisan.

2012

Irham Kusuma » Masih menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah kejuruan di Kota Bandung. Puisinya pernah dimuat media seperti,Pikiran Rakyat "Khazanah"; Radar Bekasi; Jejak; Buletin Patriot ; koranbogor.com ; radarseni.com, dan beberapa buku antologi puisi bersama.Puisinya menjadi yang terbaik dari lomba yang diadakan oleh salah satu penerbit di kota Lampung (NBC) pada tahun 2012.
Readmore

Sajak Adnan


Kerinduanku Membuncah



seperti di sergap seribu tentara sejuta senjata

Mengigil di tengah siang,
tenggelam di tengah petang
Jauhkan secangkir risau,
atau berikan sedikit gula tanpa parau

Aaah.. wajahmu mendekurpun aku bergidik,
bagai musuh yang hendak dibidik
Bibirmu lentik,
kukumu antik..

tapi, kusuka bola matamu laksana bulan di tengah senja
sayu,
tapi indah,
tapiku suka..

Tunjukkan senyummu niscaya malaikat tangkupkan sayapnya,
Tunjukan tawamu nicaya akan ada agama baru di dunia ini
Tunjukanlah dirimu nicaya itu pasti terjadi

Kulanjutkan menulis ini yang tertunda, dan aku terhenti-henti
Karnaku sastrawan gagal, bukan
Karna kau terlalu menawan jika hanya sekedar kata melukisnya


Readmore

Sajak Muhammad Rain


Kukirim Karam Laut Kuhidang

Oleh: Muhammad Rain


ombak api puisiku dari suara angin laut menari
mentari memuisi dengan perca awan putih di saat senja
menyelam ke dasar paling dalam mencipta kata
kapal layar menuju samudera
imaji pasir putih kukeruk jadi gedung
tiang-tiang tongkang menyusur kilo mil
tempat ikan-ikan kuganyang dengan jaring
kirimi jarak antara pulau dan keluasan

semburat mega mendung badai kuundang
sesiap tamu oleng kompas terhempas
luka tak kukenal tenang hanya bikin mati rasa
laju hidupku sumpal segala rayu angin mati
sebab dunia bukan penjara bukan suara sekedar
perahu nyanyian perahan kesepian di tepi pantai hidup
rela demi rela tanah basah darah tersirap
wangi kuhidang kehidupan bagi sanak sebangsa
sebab dalam dunia kata-kata
nyawa pun merdeka dari sekedar makna pengukungnya
kukirim karam laut kuhidang
membakar api sia-sia jaman kudera
lantang meneriakkan merdeka!

Banda Aceh 16 November 2012

Muhammad Rain, Penulis Puisi sekaligus Dosen dari Aceh, Ia Merupakan Satu dari Sekian Orang Muda yang Mencintai Sastra Sekaligus Mempelajari Sastra dengan Serius Lewat Pendidikan Formal Maupun Nonformal.
Readmore

Upaya Pemberontakan Seorang Penyair


Oleh: Zulkifli Songyanan

Judul Buku: Tulisan pada Tembok
Penulis: Acep Zamzam Noor
Penerbit: Komodo Books
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-602-91-3710-1
Ukuran: 14,5 x 20,5 cm; 108 hlm
  
Kepenyairan Acep Zamzam Noor (AZN) membentang sejak awal 1980-an hingga hari ini. Dalam rentang waktu lebih dari tiga puluh tahun itu, sekitar 10 kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia telah lahir dari tangan AZN (i). Ditandai dengan Tamparlah Mukaku! (1982), secara tematik AZN muda mengawali kepenyairannya dengan menulis sajak-sajak ketuhanan (sufisme). Namun biarpun begitu, kumpulan puisi pertama AZN yang menghimpun 50 puisi itu, bicara juga ihwal keterasingan manusia, panorama alam, juga cinta dalam pengertiannya yang terbatas. Periode 1980-an merupakan periode yang subur bagi sajak-sajak ketuhanan. Dan bersama Emha Ainun Nadjib serta Ahmadun Yosi Herfanda (dua penyair yang juga menulis sajak-sajak ketuhanan), Harry Aveling menyebut AZN sebagai generasi kedua penulis Indonesia yang muncul di masa Orde Baru(ii).

Sebagai penulis yang tumbuh di masa Orde Baru, keputusan AZN untuk menulis sajak sosial bisa dibilang terlambat. Tentunya, hal itu bukan persoalan besar. Sebab bagi penyair, tema apapun yang ditulis, akan mempunyai makna jika ditunjang dengan kepekaan mengolah rasa (feeling) serta kemampuan memelihara bahasa. Dan bagi AZN sendiri, keputusannya untuk tidak menulis sajak sosial di awal kepenyairannya, lebih berhubungan dengan masalah teknis ketimbang masalah selera. "AZN menjanjikan akan menulis sajak sosial apabila telah menemukan bahasa" ungkap Beni Setia (iii).

Kini, 30 tahun setelah kelahiran Tamparlah Mukaku!, AZN telah tumbuh menjadi penyair dewasa, penyair mandiri: penyair yang telah menemukan bahasanya sendiri.

***

Tulisan pada Tembok menghimpun 87 puisi yang ditulis AZN antara tahun 1979-1989. Dalam catatan pembukanya, AZN menyebutkan bahwa sebagian besar puisi dalam antologi ini pernah dimuat dalam antologi lain, koran, majalah, dan jurnal. Sementara sebagian  lainnya belum dipublikasikan sama sekali. Sejumlah puisi yang dihimpun dalam antologi ini telah mengalami perubahan: huruf, kata, frasa, serta judul, namun tidak sampai mengganggu isi, bentuk, maupun suasana keseluruhan. Bagi saya sebagai pembaca, buku ini menjadi menarik justru lantaran perubahan itu.

Mengubah atau merombak puisi yang sebelumnya pernah termaktub dalam sejumlah buku, koran, maupun jurnal, bukanlah perkara baru dalam kesusastraan Indonesia. Sejumlah nama besar, seperti Chairil Anwar dan Afrizal Malna (untuk menyebut dua nama) tercatat pernah melakukan perombakan dalam puisi-puisinya. Dari fenomena demikian, pembaca memiliki hak untuk menilai apakah puisi-puisi yang sudah dirombak adalah puisi baru, atau sekedar apologi dari puisi sebelumnya yang dinilai belum matang dan memiliki cela? Apapun penilaian itu, puisi yang dirombak sudah dihadirkan penyair ke tengah pembaca. Dan dengan begitu, puisi-puisi tersebut telah menjadi milik khalayak yang patut diapresiasi, bagaimanapun caranya.
   
Secara filosofis, tulisan pada tembok (dalam pengertian yang sebenarnya) bisa diartikan sebagai sarana untuk berontak terhadap hal-hal yang dianggap mapan. Grafiti serta jenis tulisan/coretan lain pada tembok, umumnya mengisyaratkan ekspresi ketidakpuasan terhadap suatu hal yang sifatnya personal maupun komunal. Beranjak dari asumsi tersebut, saya menduga bahwa keputusan AZN menjadikan Tulisan pada Tembok sebagai judul kumpulan antologi puisi terbarunya, didasari oleh kehendak AZN untuk berontak terhadap karyanya sendiri. Dalam esainya "Sekitar Proses Kreatif Saya"(iv), AZN menyatakan ketidakpuasannya terhadap kumpulan puisi pertamanya. Ketidakpuasan AZN tidak semata karena cetakan bukunya yang jelek dan banyak kesalahan. Lebih jauh, AZN merasa dirinya belum mendapatkan pencapaian berarti dari kumpulan puisi pertamanya itu.

Pencapaian yang dimaksud AZN adalah pencapaian berbahasa, pencapaian untuk menaklukan kata-kata. Gaya ucap AZN di awal kepenyairannya, masih dipengaruhi gaya ucap para penyair pendahulunya. Pula, apa yang dituliskan AZN saat itu umumnya masih bersifat artifisial: puisi yang dituliskannya masih berkutat di wilayah permukaan dan belum sampai pada ungkapan simbolik yang lebih sublim maknanya.
   
Dalam "Mengapa Selalu Kutulis Sajak" (1982:10) misalnya, AZN mengawali puisinya dengan bait berikut:
   
Mengapa selalu kutulis sajak/Apabila kerinduan tiba-tiba menyerbuku/Mengapa harus sajak, Tuhanku, mengapa harus ia/Yang mampu kupersembahkan kepadaMu//
   
Apa yang dituliskan AZN di atas, memperlihatkan batasan antara aku-lirik sebagai makhluk dengan Engkau-lirik sebagai Khalik. Gaya ucap demikian, tentunya malah menutup kemungkinan lain yang mesti diperoleh pembaca seusai membaca sebuah puisi. Simak bait "Mengapa Selalu Kutulis Sajak" (2011, 29) berikut:
   
Mengapa selalu kutulis sajak/Apabila kerinduan tiba-tiba menyerbuku/Mengapa harus sajak, kekasihku, mengapa harus ia/Yang mampu kupersembahkan kepadamu//

Pada bait di atas, aku-lirik terlihat lebih dewasa. Aku-lirik telah sampai pada suatu maqam di mana persoalan transenden pada wilayah tata bahasa, tidak selamanya mesti disikapi secara normatif. Dengan demikian, penafsiran terhadap sebuah puisi relijius, tidak melulu berujung pada hubungan antara Tuhan dan hamba. Pada puisi di atas, unsur ambiguitas menemukan relevansinya. Dengan kata lain, meminjam ungkapan Beni Setia, ada tarikan ketuhanan dan kewanitaan, yang bisa ditafsirkan pembaca.

Selain urusan batiniah (urusan makna), urusan lahiriah pada Tulisan pada Tembok kiranya cukup penting juga untuk diapresiasi. Pada dua antologi sebelumnya (Jalan Menuju Rumahmu dan Menjadi Penyair Lagi), puisi-puisi AZN umumnya hadir dengan tipografi melebar ke samping dan larik-larik yang cenderung prosais. Sementara dalam antologi terbarunya, AZN terlihat sangat tertib dalam mempertimbangkan struktur rancang bangun puisi: tipografi puisi menjadi lebih ramping dan efektifitas gaya ucap, unsur rima serta pola kwatrin yang perlahan mulai ditinggalkan penyair angkatan 80-an, malah tampak dominan dalam kumpulan puisi AZN.

Ketika lembar hari luruh/Kabutmu jatuh/Mengaca di bukit-bukit jauh//Gerimis yang turun/Firmanmu yang ngungun/Kudengar lembut mengalun (Lanskap, hal: 36)

   
Tulisan pada Tembok tidak sepenuhnya terhindar dari keberadaan puisi-puisi prosais. Beberapa puisi masih memperlihatkan gejala demikian, termasuk puisi yang menjadi judul antologi ini, "Tulisan pada Tembok" (hal: 65)

Semuanya belum juga menepi. Kapal-kapal di samudera/Pesawat-pesawat di udara, panser-panser di jalanan/Di medan-medan pertikaian. Dan abad-abad yang bergulir/Tahun-tahun yang mengalir, musim-musim yang anyir/Entah kapan berakhir. "Dilarang kencing!" seekor anjing/Menyalak pada dunia. Langit nampak masih membara/Hujan bom di mana-mana. Terdengar tangis bayi/Jerit para pengungsi. Tak henti-henti -/Bukankah seratus Hadiah Nobel telah diobral/Dan seribu perundingan digelar? Tapi di manakah/Perdamaian? Masih adakah perdamaian itu? Semuanya/Belum mau menepi, belum mau melabuhkan diri//
   
   
Puisi yang sebelumnya terhimpun dalam jurnal Perang, Kata dan Rupa (Komunitas Salihara, 2009) itu, mungkin satu-satunya puisi dalam antologi terbaru AZN yang secara tegas bicara (protes) soal tema sosial. Sementara puisi-puisi lainnya, selain bicara soal ketuhanan dan cinta dalam pengertiannya yang luas, juga bicara soal sikap AZN dalam memaknai puisi sebagai pilihan hidupnya.

Seandainya sebuah kutukan/Maka kuterima ia sebagai kutukan/Akan kujalani dengan penuh ketulusan/Seandainya sebuah peleburan/Telah lama kurelakan seluruh hidupku/Menjadi sekedar debu di bawah telapak kakimu// (Mengapa Selalu Kutulis Sajak: hal 29).

Tema apa pun yang ditulis, juga panjang-pendeknya larik dan baris sebuah puisi, pada akhirnya tidak bermakna apa-apa jika berangkat dari ruang hampa. Puisi AZN tentu bukan puisi yang berangkat dari ruang demikian. Ada ruh kata-kata yang senantiasa terpancar dari puisi-puisinya. Dan Tulisan pada Tembok menjadi penting untuk dibaca, tidak semata lantaran kita akan menemukan benang merah 30 tahun kepenyairan AZN di dalamnya. Lebih dari itu, melalui buku kumpulan puisi dengan sampul yang menarik ini, AZN telah membuktikan bahwa puisi yang terus dihidupi, senantiasa memiliki tenaga untuk menggetarkan "suara lain" di dalam kesadaran manusia. *


(i) Tamparlah Mukaku! (1982), Aku Kini Doa (1986), Kasidah Sunyi (1989), Dari Kota Hujan (1996), Di Luar Kata (1996), Di Atas Umbria (1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (2001), Jalan Menuju Rumahmu (2004), Menjadi Penyair Lagi (2007), dan Tulisan pada Tembok (2011).
(ii) Lihat: Harry Aveling, Rahasia Membutuhkan Kata (2003): 162-163.
(iii) Tulisan pada Tembok (2011:2).
(iv) Lihat: kumpulan esai Acep Zamzam Noor, Puisi dan Bulu Kuduk (2011) hal:254-273.



Zulkifli Songyanan, lahir di Tasikmalaya 02 Juni 1990. Menulis puisi dan esai. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra dan Sanggar Sastra Tasik. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata (MPP), Universitas Pendidikan Indonesia.
Readmore
Next Next




 

Copyright @ 2011 By. KSC