Selamat Datang di Blog Kobong Sastra Cipasung

Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Cerpen Ayu

PEREMPUAN GILA DI UJUNG SENJA

Aku ingin pulang. Senja sudah menunggu. Aku tidak ingin membuatnya terlalu lama larut dalam penantian. Aku ingin melepasnya pergi, tapi tidak bisa membiarkan rengkuhannya lepas. Dia tahu semua tentangku. Kami sama-sama menanti di ujung hari. Bedanya, dia menanti sesuatu yang pasti. Sedangkan aku, kupikir semua orang akan menertawakanku jika mereka tahu, aku sedang menanti kemustahilan yang selalu kusemogakan. Aku ingin pulang. Duduk sendiri di balkon kamar, sambil menghitung burung perkutuk yang terbang berlarian. Atau sekadar berdiam diri di sana. Membiarkan tubuhku terbuai dalam rengkuhan kemustahilan itu. Mereka pikir aku gila. Padahal, aku hanya sedang bermain-main dengan semua kenangan itu. Tidakkah mereka bisa melihat siapa yang sedang duduk di samping kananku? Adalah dia. Kemustahilan itu. Atau hanya aku yang melihatnya? Apa aku memang gila? Entahlah. Biar kurenungkan lagi. Seharian aku dikurung dalam ruang pengap. Mengenakan baju biru tanpa motif. Berteriak pada setiap dinding yang menghalangi penglihatanku. Menangis ketika menyadari bahwa aku benar-benar kesepian.
          Ceritaku masih panjang. Perempuan berseragam putih masuk ke dalam ruangan sambil membawa sesuatu yang tajam menusuk kulitku setiap kali aku berteriak-teriak kencang. Dia menyuntikkannya di leher, kadang juga di lengan kanan, kadang juga di lengan kiri. Setelah itu semuanya terasa buram. Aku terdiam seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Perempuan itu selalu membuatku terkulai lemas. Itulah mengapa aku sangat membencinya. Kadang ketika ia lengah, kutarik rambutnya yang ikal, kadang juga kupukul punggungnya dengan tangan, atau pernah sekali ketika itu aku mencakar wajahnya dengan kuku jariku yang tidak pernah lagi dipotong hingga meninggalkan bekas. Aku mengenalinya dari bekas luka cakaran di pipi kanannya. Seperti luka cakaran kucing. Tapi itu hasil cakaranku.
          “Dasar perempuan gila!” Ia melangkah pergi setelah urusannya denganku selesai. Itu adalah kalimat yang selalu ia ucapkan ketika akan melangkah keluar. Aku bahkan menghapalnya di luar kepala.
          Semua orang menganggapku gila! Tapi aku merasa tidak benar-benar gila. Aku mengenali siapa saja yang pernah kukenal sebelumnya. Aku tidak pernah menganggap bahwa boneka adalah seorang bayi yang harus digendong. Aku tidak pernah berupaya melukai diriku sendiri dengan menggigit jari ataupun pergelangan tanganku sendiri. Aku makan dengan tangan kananku. Menangis apabila aku benar-benar merasa sedih. Aku tertawa untuk hal yang lucu, meskipun itu sangat jarang terjadi. Aku melakukan semua yang dilakukan oleh orang-orang normal. Tapi mereka menganggapku gila! Bagiku, musuh terbesarku adalah tembok ruangan yang mengurungku, perempuan berseragam putih yang selalu membuatku terkulai lemas, dan orang-orang yang membuatku berada di ruangan pengap ini. Mengingat mereka kadang membuatku sulit untuk bernapas.
          Aku ingin pulang!
***
          Aku berhasil membuatnya hidup kembali. Dia hadir ketika aku menyadari bahwa aku benar-benar kesepian. Dia hadir ketika aku memanggil namanya. Ketika perempuan berseragam putih itu keluar dari ruangan.  Ketika aku sudah terkulai lemas karena perempuan itu. Ketika tembok-tembok ruangan mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Kemustahilan itu hadir ketika aku benar-benar tidak ingin sendiri.
          “Kau ingin pulang?”
          “Iya. Aku benci tempat ini”
          “Kau ingin ikut denganku ke tempat dimana kau bisa bebas dari tembok-tembok ini?”
          “Bisakah kau membawaku pulang?”
          “Aku hanya bisa membawamu pergi”
          Dia selalu mengatakan hal yang sama setiap harinya. Kau ingin pulang? Tapi entah sudah berapa lama aku di sini. Dia masih diam di samping kananku, tidak beranjak sedikitpun. Kupikir dia ingin membawaku pergi. Terkadang kami kehilangan kata-kata. Jika sudah begitu mulutku akan terkatup, dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya terdengar siulan kecil yang memenuhi seisi ruangan. Aku tidak pernah merasakan embusan napasnya.
          “Kau ingin pergi bersamaku?” Dia mulai menemukan jejak kata yang sempat hilang tadi.
          “Ke mana?”
          “Kau harus jadi sepertiku dulu agar bisa ke sana,” tandasnya lagi. Kalau sudah begitu, mulutku kembali terkatup. Aku mungkin tidak segila itu.
          “Bukankah kau ingin pergi dari tempat ini?”
          “Aku hanya ingin pulang. Ke rumahku. Bukan ke rumahmu”
          Keesokan harinya, entah jam berapa aku tidak tahu. Perempuan berseragam putih itu masuk ke ruanganku. Kali ini tidak membawa jarum suntik, tapi makanan. Ia meletakkannya di hadapanku, kemudian setelah itu ia bergegas pergi. Kelihatan buru-buru. Hingga ia lupa mengatakan kaliamat yang selalu ia ucapkan ketika hendak keluar dari ruangan ini. ‘Dasar perempuan gila!’
          Makanan itu menganggur di hadapanku. Selera makanku sudah hilang semenjak tembok-tembok ini mengurungku. Mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar gila seperti yang selalu mereka katakan. Aku ini perempuan gila. Kalau sudah begitu, terkadang juga aku menyesali semua kejadian yang sudah berlalu. Kalau bukan karena kejadian setahun yang lalu, aku mungkin masih berada di balkon kamarku. Melihat burung perkutuk saling berkejaran, atau mengucap selamat tinggal pada senja di belakang rumah. Kenangan itu kembali berkejaran.
          “Kau di mana?”
          “Di rumah”
          “Aku ke sana”
          Setelah itu sambungan telpon terputus. Aku duduk di halaman belakang rumah. Sendiri. Hari sudah sore. Langit mulai jingga kemerah-merahan.
          “Kau di sini,” dia yang kutunggu sudah datang. Laki-laki yang tadi menelponku. Aku menunggunya mungkin sudah hampir setengah jam.
          “Ada apa?” Tanyaku. Mata coklatnya menatap tajam ke arahku. Aku mendapati sesuatu yang ganjil di balik itu.
          “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Penting,” ucapnya. Kulihat jakunnya bergerak ke bawah, kemudian ke atas.
          “Selama ini aku sudah salah karena tidak mengatakan semuanya dari awal. Harusnya aku tidak mengenalmu terlalu jauh, dan tidak membiarkanmu memelihara perasaan ini. Maafkan aku. Aku mungkin memiliki perasaan yang sama, tapi perasaanku terhadap ibuku jauh lebih besar,” ucapnya tanpa jeda. Kemudian berhenti sebentar untuk menarik napas panjang. Dia belum menyelesaikan kalimatnya. Sesuatu yang aneh mulai terasa di dadaku.
          “Dia memintaku menikahi Jessy,” lanjutnya. “Itu berarti kita sudah cukup sampai di sini.”
          Mendengar itu aku merasakan sesuatu bergejolak di dalam sini. Entah di mana tepatnya. Aku memalingkan wajahku darinya. Pikiranku langsung kacau. Entah ingin marah, menangis, atau pergi saja. Tapi belum selesai aku beragumen dengan perasaanku sendiri, kudengar suaranya yang khas. Laki-laki beraroma maskulin itu menyentuh bahuku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
          “Maafkan aku,” ucapnya, kemudian melangkah pergi. Aku melihat punggungnya menghilang di balik pintu.
          Setelah itu, dia bukan lagi milikku. Dia milik ibunya. Dan ibunya menyerahkannya kepada Jessy. Perempuan yang selalu menguntit kemana saja aku dan dia pergi. Penguntit itu akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan. David. Tapi hanya sebentar, mungkin beberapa menit saja. Setelah itu ia pergi untuk selama-lamanya. Laki-laki beraroma maskulin itu pergi setelah memberikan rasa sakit padaku. Sebuah tabrakan mobil tidak jauh dari rumahku mengubah skenario hidupku selanjutnya. Semenjak itu aku merasa tidak punya dunia. Rasanya lebih sakit dibanding ketika ia mengatakan kata pisah. Dan sekarang, giliranku untuk mengatakan kata pisah, ‘Selamat tinggal, David’
          Karena kejadian itu aku ada di sini. Ruangan pengap yang mengurungku. Tembok-tembok kokoh yang selalu mengancam untuk membunuhku dengan rasa sepi. Dan dia, laki-laki yang sedang duduk di sampingku, hanya aku yang bisa melihatnya. Dia adalah kemustahilan itu. Yang menyebabkan semua ini. Tapi bodohnya, justru aku menghadirkannya di ruangan pengap ini. Aku menghidupkannya lewat imajinasi.
          Pintu kembali terbuka. Perempuan berseragam putih itu masuk bersama dengan seorang wanita paruh baya. Aku mengenali wajahnya.
          “Kenapa dia masuh dikurung di sini?” Tanyanya kepada perempuan berseragam putih itu.
          “Karena dia terlalu bahaya jika dibiarkan bergabung dengan pasien lainnya,” jawab perempuan berseragam putih itu dengan tatapanya yang dingin mengarah kepadaku. Aku tidak terima ditatap seperti itu.
          Aku segera bangkit dari tempatku, lalu tanpa memberinya kesempatan untuk memberi perlawanan, aku langsung menjambak rambutnya. Dia berusaha melawan, tapi tenagaku jauh lebih kuat. Dia sedang tidak membawa alat suntik, jadi aku bisa selamat. Dia tidak bisa membuatku merasa lemas sekarang. Wanita baruh baya itu berusaha melerai. Aku tidak mempedulikannya. Rasa sakit hatiku yang sudah terlalu dalam padanya membuatku menjadi seperti orang gila. Menjambak rambut perempuan berseragam putih itu tanpa memberinya ampun, meskipun ia sudah menjerit-jerit kesakitan.
          “Sandra, sudah, nak! Sudah!” Perempuan paruh baya itu kembali mencoba untuk melerai.
          “Ibu tidak suka kamu seperti ini!” Lanjutnya lagi dengan intonasi suara yang tinggi. Aku tersentak, lalu perlahan-lahan melepaskan perempuan berseragam putih itu. Rambutnya terlihat berantakan sekarang.
          “Perempuan ini pantas mendapatkannya,” aku menunjuk ke arah perempuan berseragam putih dengan tatapan tajam.
          “Dia adalah penguntit itu, ibu,” lanjutku. Amarahku rasanya sudah sampai di ubun-ubun. Ibu terlihat kaget.
          “Apa maksudmu?”
          “Kau perempuan penguntit yang selalu mengikuti ke mana saja aku dan David pergi. Kau yang membujuk ibunya David agar meninggalkan aku. Kau juga yang sudah menyebabkan aku ada di sini. Sebenarnya kau yang gila! Bukan aku!”
          Perempuan berseragam putih itu menatap tajam ke arahku. Aku bisa melihat amarahnya meluap-luap di balik sorot matanya. Aku bersiap-siap memberikan bekas luka di wajahnya untuk yang kedua kalinya. Tanganku sudah membentuk sarung tinju. Tapi ibu segera menahannya. Dia memegang tanganku, lalu memelukku erat. Dia menyalurkan kehangatannya.
          “David sudah meninggal, Sandra,” ucap ibu lembut di telingaku.
          “Aku tahu, ibu. Aku tidak gila!”
          Kemudian sosok laki-laki itu muncul dari balik punggung perempuan berseragam putih. Ia tersenyum ke arahku, lalu melambaikan tangan. Kemudian ia melangkah keluar dari ruangan. Setelah itu, aku melihat sosoknya tiba-tiba menghilang. Aku berhenti berimajinasi tentang dia.
          Setelah kejadian itu ibu membawaku pulang dari rumah sakit jiwa. Aku akhirnya meninggalkan ruangan pengap. Sore ini, aku duduk sendiri di halaman belakang rumah. Menatap senja yang memancarkan warna jingga di langit.  Aku akhirnya pulang!

***



Readmore

Sajak Lidya Rachmawati


Mantan Terindah
Oleh: Lidya Rachmawati


Dia yang masih terindah, dia yang masih terbaik
dia yang masih aku banggakan
Aku masih dapat melihat dia,
aku masih dapat mendengar suara dia
dan mungkin aku masih dapat dekat dengan dia

Namun inilah kenyataannya
kenyataan yang harus dapat aku terima
kenyataan yang tidak bisa aku pungkiri
Aku melihat dia disebrang sana bersamanya
dia tertawa, dia tersenyum terhadapnya
dia begitu bahagia kala bersama dengannya

Dia tau ada aku didekatnya
dia memberikan senyuman terhadap diriku seakan
dia mengisyaratkan telah bahagia bersamanya
dan seakan melupakanku

Benar hati ini sakit
sakit melihat dia bersamanya
namun aku harus dapat tegar
Tegar hidup tanpa dia dan
tegar hanya bisa hidup dengan bayang-bayang semu dia


Lidya Rachmawati Lahir 07 november 1994 Tengah belajar di perguruan tinggi swasta di jakarta jurusan Bahasa dan sastra Indonesia.


Twitter: @Lidyaarw
Readmore

Sajak Rifqiel 'Asyiq



Surat Untuk Langit


dalam sebuah temaram lilin yang hampir sirna
melirih nafas, hati hati sekali. lalu membuangnya lewat jendela
memeluk selimut embun
sambil menyibak ranting, berdetak desing

sekian juta detik ku menahan rindu pada alam pagi
nyatanya ini bukan rindu, hanya beku. Kelu
Ahh; tidak!!
kulayanglayangkan sebongkah tengadah
menmbus kristal megah nan mewah
mencumbui langit malam

ini malam ke berapa? . .
aku sentuh pelupuk lubukmu
untuk satu jibaku.


Cirebon, Februari 2013.

Readmore

Puisi Rifqil 'Asyiq


Izinkan Aku Panggilimu Dinda


izinkan aku panggilimu dinda, sayang, perempuan 'belah dagu'. bagiku kau adalah seutuh cantik nan anggun raga pada sudut elok bumi dengan serimpit hati putih. bukan, bukan bidadari. namun begitu aku melihatmu, mengingatkanku pada suatu hari ketika;

"pernah kau memintaku menyanyikan lagu pada malam haru
dan ku memilih melantunkan puisi pada hujan senja
aku tabu gemericiknya dengan haru
dan kau pun mengikuti dengan lugu

kau menari di atas panggung
dan ku kembali menulis puisi di atas punggung. ahh . .
bukan hanya terkadang, kita seserasi itu".

sesederhana itu saja, tetap indah ya sayang, semoga kau ingat.
tentang cerita lain;

bukankah kita memang senantiasa bercinta dengan alam?
mari sayang, dekatkan dirimu dengan air ini. tapi jangan sampai riaknya menghanyutkanmu. aku pegangi tanganmu.

beginikah percakapan kita ketika sedang marah*?
bukankah alam pun penuh dengan suara?
mari sayang, kita isi dengan nyanyian cinta dan puisi.
mari sayang, dekatkan lagi dadamu pagi bibir hatiku. namun jangan kau bawa nodanya.
bukankah dadaku hamparan warnamu, pada pelaminan hasrat bermusim. katamu.

nyatanya, padamu jua selalu kuluapkan janji. aku menambahi.
akan ku permainkan sebuah masyghul pada jelempah-jelempah luas dadamu. agar ku penuhi rindangnya dengan seutuh ta'wilku, untukmu saja. karena aku, seperti kau pernah mengulanginya bahwa; sekalipun aku tak pernah ingat bertemu denganmu, namun setiap pertemuan sungguh sulit terlupakan logikaku.

ada aku dan munajat rapat khidmat nan hikmat, sepi dan sebaris puisi disitu. dariku.

sehingga saat kau payungi puing, mendesir habis dalam pikiranku. itu indah, maha engkau pada selayak hatimu.

kini; aku suguhkan debu secangkir, dan kau menggantikanku dengan seutuh moka. itu kesukaanku, katamu.

sayang, ini bukan tentang dahaga, namun debu yang mengajari kita tentang sebuah kecil, sekecil kita. agar kerindangan hatimu semakin semai dengan seutuhmu.

Jakarta, 14 Januari 2013

***


WANITA PANTURA (yang aku ingat)


Perkenalkan, namaku
Martini. Gadis Yatim sejak umur 5 tahun
penyanyi jalanan, langganan
kopayu.. Sahabat.. Luragung Bhineka. menelusur sepanjang
Pantura Cirebon-Jakarta.

Ibuku pagi ini mengantri di TPA Gegesik Cirebon
mengaisi sisa makanan dari yang katanya "kaya"
bahkan berangkat pagi buta, semalam telah ada pesta.
barangkali daging kambingnya masih bersisa. tak tahu mengapa..
kalau semalaman aku tak hirup aroma parfum ibu,
pagi pagi begini ibu selalu ke TPA. cantik nian ibuku dengan malamnya,
yang aku ingat, ibu selalu pulang pagi dengan air mata.

kalau ayahku;
kata neng siti ayah di bacok karena ketahuan mencuri,
kata mang sungeb ayah kawin lagi dengan PSK dari Indramayu.
Nenek bilang, tak usah aku pusingkan ini. lupakan saja ayah bengismu!
seingatku, ayah selalu pulang dengan mata merah.
ayah pun pulang dengan bau mulut yang belakangan ini aku tahu namanya Alkohol.
selalu pulang dengan marah, kemudian tidur.

tak pernah aku dengar cerita tentang kakek.
yang pasti, nenekku setiap malam menyusuri sawah mencari bekal..
untuk berjualan rumba semanggen di Pasar Tegalgubug. katany;
agar aku tak menuruni ayah, dan ibuku.
yang aku ingat, ya begitu yang aku ingat.
untuk yang terahir, izinkan aku bertanya tentang sesuatu pada kalian
Haruskah aku menangisi ini, atau terbahak dengan gelak?


Tegalgubug, 09 Februari 2012

***


SYAHDU SANG LELAKI KECIL
(sebuah peta hidup yang sayang tak di kenang)


semalam ku coba sedikit memaksa untuk kembali
hendak memasuki kehidupan masa
dikala benarbenar kosong tanpa sama' bashar dan af'idah
sayang seribu sayang, memimpikannya pun
sangat sukar

ahirnya ada sedikit cerlang untuk satu kenang
aku coba tengok kembali taman sederhana
di belakang rumah,
tempat dimana ku ramai bermain dengan alam
masa mewarna dengan sesama
aku hanya melamun tanpa jeda

masih coba ku sayu setiap lirih dendang serenade
yang ku dengar hanya gemuruh kreta dari nun kejauhan

aku dengar kesiur melakon lambai
terisak, mendayu layu
ahh.. dulu disitu tempat aku menangis dulu
karena putus tali layanganku

tersandarlah aku di bawah pohon mahoni
melamuni kupukupu yang kian beranjak dewasa
ahh.. disini dulu tempatku sebagai kuli batubata
dengan upah 200 perak untuk 100 batubata yang terangkut
ya milik mang duloh, yang sekarang buka warung kecil.

kiranya air masih berriak
lantunanmu serasa ku dengar mengiringinya
sang perawan bersikat badan dengan kembennya
dan telanjangku berkecipuk dengan lugu tanpa malu

rimbun terselingkap syahdu menyembahkan lagu
di balik hikayah tentang sebuah basah bibirmu
ahh.. hayalku melayang menyundul pilu
walaupun aku tak pernah tahu, siapa dinda itu?..

dan hinggan kini,
saatnya mungkin aku menjemput teman hidup untuk satu kisah yang lebih nyana nyata dan nyaris sempurna.
walau jawabannya masih entah,


Cirebon, 11 Agustus 2012

***


PUISI 2,7 (baca; dua baris tujuh kata)


I. OH, NADA AUROD*

Melafal nada-nada, menyatukan rasa-rasa
Aku dan Allah.

Jakarta, 150213
*Aurod : kata jamak dari Wirid


II. CERITA ALAMKU

Pelangiku sejarah, bernyanyi;
Batas-batas lautan, mencari rindu.

Blok M, 140113


III. MABUK

suluk dewa cinta, letup
di pintu aksara

Jogja, 300113


IV. GADIS

Seperti tenggakan ikan;
izinkan, hanya aku pena'wilmu

Cirebon, 100612


V. TAHAJJUD JAHIL

Goooolll, semangat membara.
sekian kali, subuh membungkam.

Jakarta, 090113.

VI. KUBURAN MIDE**

Tanah basah membisikiku, sendiri;
Kematian memberi waktu

Cirebon, 110901
**Mide; panggilan untuk Nenek di Cirebon



Rifqil 'Asyiq, Mahasiswa dan Santri di sebuah Pesantren Cirebon
Readmore

Sajak Irham Kusuma




Phtalocyan

Oleh : Irham Kusuma

Ketebalan angin menyikat api
pelukis wanita ini menggulung
malam tembakau cokelat.
Aku butuh tulang rusukku
itu dilukisanmu.Lukisan susu,
tumbuh tanpa satu ibu.Sepersusuan.

Kalau ku tak perlu selendang
belajar rengut, berdendang
mendalami suara timbre, atau notasi
atau sasar.membilahlah kanvas
kalau ku tutup selendang tak berdebu.

di pusat kegelisahan gemulai tari kuasku
dari lirih, gemulaimu dari bongkah patung.

sebab di samping kita, putih nanar.
aku perlu pewarna, dengan segala hormat
tenggelam ke kanvas cakrawala; katamu suci.
di samping kita, sudah aku niatkan
hanyut mewarnai tanah di darahmu.

-Galeri 212-


***


Egaliter

Oleh : Irham Kusuma

Anggaplah aku sebagaimana kau suka
menjadi wanita atau
aku tak berharap juga pria.

Dadaku terjepit, bunyi panjang
dan harum panggung berselip.
Masalah adalah sebuah perapian
berunggun jantung yang tepi dipilih.

Di antara hujan sempit
aku menentukan permainan
bertukar peran, seperti teriakan
bagi drama yang engkau ciptakan.

Air tanah mengintailah
dalam nomer-nomer revolusi
kesedihan langit jumat
dari mitos sebelum janus telah berputar
kembali ke para pendahulu.

Dan aku akan menuliskan doa mu, neng.
rambut panjangmu seperti sebuah jalan
yang aku kenali,
dimana aku akan bertanya
(meski kau tak menganggap sebagai wanita).

Teater CCL, 2012


***


Khoackk !

Oleh : Irham Kusuma

Langit ini dingin
semua dosa aku peluk
biar panas tubuhku ini
di jilat bagai lidah api.

Di balik selimutmu
aku menunggu
seorang anak akan memberi tisu
hidungku merah mencium bau ludah.

“Jangan khawatir,
  jaman sekarang,
  jaman ingusan.”

2012


***


Pada Suatu Makam I

Oleh : Irham Kusuma

Sepertinya telah menjadi doa
bagi setiap perjumpaan
dengan teriakan ringkik punggung
penziarah.seolah setiap langkah
menjadi jejak nubuat ;
langit berbekas kepanikan ruh
dari apa yang kita rumuskan
pada pertanyaan.karena jalan dan bunyi
telah ditanamkan dalam tubuh kita.

2012


***


Pada Suatu Makam II

Oleh : Irham Kusuma

Duduk di padang jemala
Kaki-kanan kumerah
Dihisap waktu yang jongkok
Tapi tidak juga terkorupsi
Laki-kiriku, nisan.

2012

Irham Kusuma » Masih menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah kejuruan di Kota Bandung. Puisinya pernah dimuat media seperti,Pikiran Rakyat "Khazanah"; Radar Bekasi; Jejak; Buletin Patriot ; koranbogor.com ; radarseni.com, dan beberapa buku antologi puisi bersama.Puisinya menjadi yang terbaik dari lomba yang diadakan oleh salah satu penerbit di kota Lampung (NBC) pada tahun 2012.
Readmore

Upaya Pemberontakan Seorang Penyair


Oleh: Zulkifli Songyanan

Judul Buku: Tulisan pada Tembok
Penulis: Acep Zamzam Noor
Penerbit: Komodo Books
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-602-91-3710-1
Ukuran: 14,5 x 20,5 cm; 108 hlm
  
Kepenyairan Acep Zamzam Noor (AZN) membentang sejak awal 1980-an hingga hari ini. Dalam rentang waktu lebih dari tiga puluh tahun itu, sekitar 10 kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia telah lahir dari tangan AZN (i). Ditandai dengan Tamparlah Mukaku! (1982), secara tematik AZN muda mengawali kepenyairannya dengan menulis sajak-sajak ketuhanan (sufisme). Namun biarpun begitu, kumpulan puisi pertama AZN yang menghimpun 50 puisi itu, bicara juga ihwal keterasingan manusia, panorama alam, juga cinta dalam pengertiannya yang terbatas. Periode 1980-an merupakan periode yang subur bagi sajak-sajak ketuhanan. Dan bersama Emha Ainun Nadjib serta Ahmadun Yosi Herfanda (dua penyair yang juga menulis sajak-sajak ketuhanan), Harry Aveling menyebut AZN sebagai generasi kedua penulis Indonesia yang muncul di masa Orde Baru(ii).

Sebagai penulis yang tumbuh di masa Orde Baru, keputusan AZN untuk menulis sajak sosial bisa dibilang terlambat. Tentunya, hal itu bukan persoalan besar. Sebab bagi penyair, tema apapun yang ditulis, akan mempunyai makna jika ditunjang dengan kepekaan mengolah rasa (feeling) serta kemampuan memelihara bahasa. Dan bagi AZN sendiri, keputusannya untuk tidak menulis sajak sosial di awal kepenyairannya, lebih berhubungan dengan masalah teknis ketimbang masalah selera. "AZN menjanjikan akan menulis sajak sosial apabila telah menemukan bahasa" ungkap Beni Setia (iii).

Kini, 30 tahun setelah kelahiran Tamparlah Mukaku!, AZN telah tumbuh menjadi penyair dewasa, penyair mandiri: penyair yang telah menemukan bahasanya sendiri.

***

Tulisan pada Tembok menghimpun 87 puisi yang ditulis AZN antara tahun 1979-1989. Dalam catatan pembukanya, AZN menyebutkan bahwa sebagian besar puisi dalam antologi ini pernah dimuat dalam antologi lain, koran, majalah, dan jurnal. Sementara sebagian  lainnya belum dipublikasikan sama sekali. Sejumlah puisi yang dihimpun dalam antologi ini telah mengalami perubahan: huruf, kata, frasa, serta judul, namun tidak sampai mengganggu isi, bentuk, maupun suasana keseluruhan. Bagi saya sebagai pembaca, buku ini menjadi menarik justru lantaran perubahan itu.

Mengubah atau merombak puisi yang sebelumnya pernah termaktub dalam sejumlah buku, koran, maupun jurnal, bukanlah perkara baru dalam kesusastraan Indonesia. Sejumlah nama besar, seperti Chairil Anwar dan Afrizal Malna (untuk menyebut dua nama) tercatat pernah melakukan perombakan dalam puisi-puisinya. Dari fenomena demikian, pembaca memiliki hak untuk menilai apakah puisi-puisi yang sudah dirombak adalah puisi baru, atau sekedar apologi dari puisi sebelumnya yang dinilai belum matang dan memiliki cela? Apapun penilaian itu, puisi yang dirombak sudah dihadirkan penyair ke tengah pembaca. Dan dengan begitu, puisi-puisi tersebut telah menjadi milik khalayak yang patut diapresiasi, bagaimanapun caranya.
   
Secara filosofis, tulisan pada tembok (dalam pengertian yang sebenarnya) bisa diartikan sebagai sarana untuk berontak terhadap hal-hal yang dianggap mapan. Grafiti serta jenis tulisan/coretan lain pada tembok, umumnya mengisyaratkan ekspresi ketidakpuasan terhadap suatu hal yang sifatnya personal maupun komunal. Beranjak dari asumsi tersebut, saya menduga bahwa keputusan AZN menjadikan Tulisan pada Tembok sebagai judul kumpulan antologi puisi terbarunya, didasari oleh kehendak AZN untuk berontak terhadap karyanya sendiri. Dalam esainya "Sekitar Proses Kreatif Saya"(iv), AZN menyatakan ketidakpuasannya terhadap kumpulan puisi pertamanya. Ketidakpuasan AZN tidak semata karena cetakan bukunya yang jelek dan banyak kesalahan. Lebih jauh, AZN merasa dirinya belum mendapatkan pencapaian berarti dari kumpulan puisi pertamanya itu.

Pencapaian yang dimaksud AZN adalah pencapaian berbahasa, pencapaian untuk menaklukan kata-kata. Gaya ucap AZN di awal kepenyairannya, masih dipengaruhi gaya ucap para penyair pendahulunya. Pula, apa yang dituliskan AZN saat itu umumnya masih bersifat artifisial: puisi yang dituliskannya masih berkutat di wilayah permukaan dan belum sampai pada ungkapan simbolik yang lebih sublim maknanya.
   
Dalam "Mengapa Selalu Kutulis Sajak" (1982:10) misalnya, AZN mengawali puisinya dengan bait berikut:
   
Mengapa selalu kutulis sajak/Apabila kerinduan tiba-tiba menyerbuku/Mengapa harus sajak, Tuhanku, mengapa harus ia/Yang mampu kupersembahkan kepadaMu//
   
Apa yang dituliskan AZN di atas, memperlihatkan batasan antara aku-lirik sebagai makhluk dengan Engkau-lirik sebagai Khalik. Gaya ucap demikian, tentunya malah menutup kemungkinan lain yang mesti diperoleh pembaca seusai membaca sebuah puisi. Simak bait "Mengapa Selalu Kutulis Sajak" (2011, 29) berikut:
   
Mengapa selalu kutulis sajak/Apabila kerinduan tiba-tiba menyerbuku/Mengapa harus sajak, kekasihku, mengapa harus ia/Yang mampu kupersembahkan kepadamu//

Pada bait di atas, aku-lirik terlihat lebih dewasa. Aku-lirik telah sampai pada suatu maqam di mana persoalan transenden pada wilayah tata bahasa, tidak selamanya mesti disikapi secara normatif. Dengan demikian, penafsiran terhadap sebuah puisi relijius, tidak melulu berujung pada hubungan antara Tuhan dan hamba. Pada puisi di atas, unsur ambiguitas menemukan relevansinya. Dengan kata lain, meminjam ungkapan Beni Setia, ada tarikan ketuhanan dan kewanitaan, yang bisa ditafsirkan pembaca.

Selain urusan batiniah (urusan makna), urusan lahiriah pada Tulisan pada Tembok kiranya cukup penting juga untuk diapresiasi. Pada dua antologi sebelumnya (Jalan Menuju Rumahmu dan Menjadi Penyair Lagi), puisi-puisi AZN umumnya hadir dengan tipografi melebar ke samping dan larik-larik yang cenderung prosais. Sementara dalam antologi terbarunya, AZN terlihat sangat tertib dalam mempertimbangkan struktur rancang bangun puisi: tipografi puisi menjadi lebih ramping dan efektifitas gaya ucap, unsur rima serta pola kwatrin yang perlahan mulai ditinggalkan penyair angkatan 80-an, malah tampak dominan dalam kumpulan puisi AZN.

Ketika lembar hari luruh/Kabutmu jatuh/Mengaca di bukit-bukit jauh//Gerimis yang turun/Firmanmu yang ngungun/Kudengar lembut mengalun (Lanskap, hal: 36)

   
Tulisan pada Tembok tidak sepenuhnya terhindar dari keberadaan puisi-puisi prosais. Beberapa puisi masih memperlihatkan gejala demikian, termasuk puisi yang menjadi judul antologi ini, "Tulisan pada Tembok" (hal: 65)

Semuanya belum juga menepi. Kapal-kapal di samudera/Pesawat-pesawat di udara, panser-panser di jalanan/Di medan-medan pertikaian. Dan abad-abad yang bergulir/Tahun-tahun yang mengalir, musim-musim yang anyir/Entah kapan berakhir. "Dilarang kencing!" seekor anjing/Menyalak pada dunia. Langit nampak masih membara/Hujan bom di mana-mana. Terdengar tangis bayi/Jerit para pengungsi. Tak henti-henti -/Bukankah seratus Hadiah Nobel telah diobral/Dan seribu perundingan digelar? Tapi di manakah/Perdamaian? Masih adakah perdamaian itu? Semuanya/Belum mau menepi, belum mau melabuhkan diri//
   
   
Puisi yang sebelumnya terhimpun dalam jurnal Perang, Kata dan Rupa (Komunitas Salihara, 2009) itu, mungkin satu-satunya puisi dalam antologi terbaru AZN yang secara tegas bicara (protes) soal tema sosial. Sementara puisi-puisi lainnya, selain bicara soal ketuhanan dan cinta dalam pengertiannya yang luas, juga bicara soal sikap AZN dalam memaknai puisi sebagai pilihan hidupnya.

Seandainya sebuah kutukan/Maka kuterima ia sebagai kutukan/Akan kujalani dengan penuh ketulusan/Seandainya sebuah peleburan/Telah lama kurelakan seluruh hidupku/Menjadi sekedar debu di bawah telapak kakimu// (Mengapa Selalu Kutulis Sajak: hal 29).

Tema apa pun yang ditulis, juga panjang-pendeknya larik dan baris sebuah puisi, pada akhirnya tidak bermakna apa-apa jika berangkat dari ruang hampa. Puisi AZN tentu bukan puisi yang berangkat dari ruang demikian. Ada ruh kata-kata yang senantiasa terpancar dari puisi-puisinya. Dan Tulisan pada Tembok menjadi penting untuk dibaca, tidak semata lantaran kita akan menemukan benang merah 30 tahun kepenyairan AZN di dalamnya. Lebih dari itu, melalui buku kumpulan puisi dengan sampul yang menarik ini, AZN telah membuktikan bahwa puisi yang terus dihidupi, senantiasa memiliki tenaga untuk menggetarkan "suara lain" di dalam kesadaran manusia. *


(i) Tamparlah Mukaku! (1982), Aku Kini Doa (1986), Kasidah Sunyi (1989), Dari Kota Hujan (1996), Di Luar Kata (1996), Di Atas Umbria (1999), Dongeng Dari Negeri Sembako (2001), Jalan Menuju Rumahmu (2004), Menjadi Penyair Lagi (2007), dan Tulisan pada Tembok (2011).
(ii) Lihat: Harry Aveling, Rahasia Membutuhkan Kata (2003): 162-163.
(iii) Tulisan pada Tembok (2011:2).
(iv) Lihat: kumpulan esai Acep Zamzam Noor, Puisi dan Bulu Kuduk (2011) hal:254-273.



Zulkifli Songyanan, lahir di Tasikmalaya 02 Juni 1990. Menulis puisi dan esai. Bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra dan Sanggar Sastra Tasik. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata (MPP), Universitas Pendidikan Indonesia.
Readmore
Next Next




 

Copyright @ 2011 By. KSC